Para pelayan dan keamanan yang melihat Savian dan sang Tuan Muda berlarian dengan panik ikut berlari ke arah kemana Savian dan Hansel berlarian karena mengira ada sesuatu yang berbahaya.
"Cepat! buka!" pekik Hansel pada Savian yang dengan tangan gemetar menekan password pintu itu.
"Iisssh, awas!" Tanpa sadar Hansel mendorong begitu kuat Savian karena merasa kesal pada sang asisten yang menekan password dengan salah.
Namun, begitu pintu berhasil dibuka oleh Hansel. Yang menerobos masuk ke dalam lebih dahulu adalah Savian, barulah Hansel menyusul.
Akan tetapi saat kedua pria tampan itu sudah berada didalam, mata mereka tidak melihat Alea yang mereka tinggal di sofa semalam.
"Dia kemana?" tanya Hansel khawatir.
Lantas Savian segera mencari ke toilet tapi tidak ada Alea di sana.
"Kalian kenapa?" tanya seseorang tiba-tiba dari arah samping, maka Hansel dan Savian segera menoleh.
"Kau?" Savian dan Hansel bersuara berbarengan.
Ya, Alea di sana, tepatnya didepan pintu kaca yang akan membawa siapapun menuju pemandangan yang sangat indah, perkebunan strawberry.
"Bagaimana Tuan, apa ada hal yang harus kami urus?" pertanyaan itu terlontar dari seorang yang bekerja sebagai keamanan di sana.
Savian menoleh dan memberikan isyarat untuk mereka pergi dari sana karena tidak ada hal yang serius.
"Savian, bukankah pintu itu terkunci?"
"Entahlah, saya juga lupa, Tuan."
Hansel memicing pada Alea yang berisi tanpa merasa bersalah karena membuat kedua pria tampan itu panik.
"Hei, kau! bukankah pintu itu terkunci?" tanya Hansel penasaran.
Alea menoleh kearah pintu itu, seingatnya tadi ia membuka pintu tidak terkunci. "Tidak, pintunya tidak terkunci."
"Ah, sudahlah. Yang penting dia baik-baik saja, Tuan," ujar Savian dan Hansel pun mengangguk.
"Oh ya, aku petik beberapa. Kalian mau?" Alea menunjukkan strawberry yang dia petik pada kedua pria itu.
"Kau makanlah sendiri. Cepat bersiaplah' Hari ini kita akan pergi ke rumah kakekku. Savian, urus dia!"
Hansel pun berlalu pergi meninggalkan Savian dan Alea berduaan di ruang kerjanya.
Savian memandang Alea dari ujung sepatu sampai ujung rambutnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya 'Dia baru bangun tidur 'kan? kenapa masih terlihat cantik.' Tanpa sadar dari lubuk hatinya, Savian malah memuji Alea yang ia rasa tidak bisa jelek.
"Kamu sudah mandi?" tanya Savian tanpa formal.
"Ehehe, belum. Bau ya?" Alea mengendus-endus badannya sendiri, mengira pertanyaan dari Savian karena menghirup aroma tubuhnya.
"Oh bukan, aku hanya bertanya saja. Ayo ku antar ke kamar mu, di sana ada pakaian yang bisa kamu kenakan. Lagipula hari ini, hari Minggu." Alea mengangguk dan berjalan mengikuti Savian setelah menyambar tas ranselnya.
Alea memperhatikan Savian dari belakang. Pria itu memiliki kaki yang jenjang, bahu yang lebar dan siapapun akan tahu kalau pria yang berjalan di depannya ini adalah, pria tampan. Bahkan Alea merasa Savian lebih baik dari Hansel, Savian lebih ramah berbeda dengan Hansel yang bicara padanya hanya dengan nada yang sama, ketus.
"Tuan Savian. Anda sudah lama bekerja dengannya?" tanya Alea memulai pembicaraan, dan kini mereka berjalan sejajar.
Savian menoleh dan tersenyum sedikit. "Panggil aku Savian, tidak perlu menggunakan 'Tuan'. Kita bisa menjadi teman. Jadi, kalau tidak ada dia, bicaralah sesantai mungkin padaku, bisa?"
Alea tersenyum senang mendengarnya, sesuai dugaannya, kalau Savian memang lebih baik ketimbang Hansel.
"Tapi usia kita?"
"Apalah arti usia, Lea. Emm ... aku tebak, pasti usia mu 18 tahun 'kan?"
Alea memicing lalu menggelengkan kepalanya. "Kamu salah, usia ku 19 tahun, tahun ini."
"Itu berarti usia kita hanya berbeda 9 tahun. Jadi, tidak masalah panggil aku, Savian."
"9 tahun hanya? kalau gitu aku panggil kamu, Kakak. Bagaimana?"
"Terserah kamu saja, kalau kamu nyaman, silahkan." Sungguh, Alea benar-benar terkesan dengan keramahan Savian padanya. Yang memang berbanding terbalik dengan sikap acuh dan ketus Hansel.
Tibalah mereka di depan pintu kamar, yang katanya akan di peruntukan untuk Alea. Semula Alea berpikir memang kamar itu hanyalah kamar tamu, tetapi ketika Savian membuka pintunya mata Alea justru seolah-olah akan melompat dari tempatnya.
Kamar yang dia kira adalah kamar tamu justru terlihat sangat mewah dan cantik dengan nuansa warna favoritnya, ungu.
"Ini kamar tamu?" tanya Alea pelan.
"Siapa bilang, ini kamar mu, Lea." Alea tertegun mendengarnya, matanya tak henti menjelajahi setiap inci kamar itu.
"Kamar ku?" Savian mengangguk dengan senyuman yang membuat Alea mengerling beberapa kali.
"Masuklah, dan bersiap. Tuan Hansel sudah menunggumu." Savian menepuk pundak Alea lalu pergi meninggalkan Alea ya g masih saja berdiri di ambang pintu kamar yang menjadi kamarnya.
Dengan langkah perlahan, Alea mulai memasuki kamarnya, menutup pintunya dan menjelajah kamar. "Astaga, ini kamar impian ku, tapi dari mana mereka tahu kalau aku menyukai warna ini?" gumam Alea.
Teringat perkataan Savian, Alea pun segera bersiap-siap, tapi sebelum itu ia mencari baju ganti yang ternyata bajunya sudah disiapkan diatas tempat tidur sana. Pakaian yang sangat pas di tubuhnya, ukuran dan warnanya sangat cocok untuknya. Tidak mau ambil pusing, Alea segera bergegas ke kamar mandi.
Di ruangan tengah, Hansel yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh ketika mendengar suara langkah kaki Savian yang menuju kepadanya, tanpa Alea.
"Di mana dia?" tanya Hansel.
"Nona sedang bersiap-siap, Tuan."
Hansel berdecak kesal, sudah terlalu lama ia menunggu, karena memang dia tidak suka menunggu apapun.
"Apa kau sudah menyiapkan uang untuknya?" tanya Hansel.
"Sudah, Tuan. Namun, berhubung membawa uang cash beresiko. Saya akan meminta nomor rekening bank Nona."
"Em, terserah kau saja. Yang penting kau sudah mengajarkan dia berakting di depan kakek." Mata Savian terbelalak, karena memang dia tidak mengatakan apapun pada Alea tadi, mereka hanya mengobrol tentang usia mereka.
"Maaf Tuan, saya tidak mengatakan apapun padanya." Savian membungkuk merasa bersalah. Lantas Hansel pun mendengus kesal.
"Apa aku yang akan mengajarinya, Savian?! Astaga, aku tidak menyangka akan melakukan ini," gerutu Hansel dan tak berselang lama suara langkah kaki terdengar menggema, membuat semua orang menoleh kearah asal suara tersebut.
Alea, yang kali ini tidak menggunakan seragam sekolahnya, seakan bukan lagi Alea gadis remaja yang memakai seragam melainkan menjelma menjadi seorang wanita cantik yang terlihat modis dan manis.
Tidak mau terlalu terhanyut, Hansel segera menggelengkan kepalanya. Berbeda dengan Savian yang matanya tidak sama sekali teralihkan dari Alea.
"Apa yang kau lihat!" Hansel melemparkan bantal sofa pada Savian, entah kenapa ia merasa kesal dengan asistennya yang terlalu lama memandang Alea.
"Maaf, Tuan."
"Hai, aku sudah siap. Kemana kita akan pergi?" tanya Alea dengan riang. Namun, Hansel tidak sama sekali peduli dengan pertanyaannya, ia justru bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
"Haish! kenapa wajahku panas begini?" gumam Hansel.