PART 5 – AFTER THE FIRST KISS
Dasar Keenan b******k! Kenapa dia tiba-tiba mencium bibirku? Dan kenapa harus bertanya kalau tidak perlu jawaban? Dasar pria m***m sok ganteng, narsis! Anya masih terus memaki Keenan dalam hatinya, walaupun ia tidak menampik berciuman dengan Keenan sempat membayang di kepalanya saat melihatnya pertama kali. Untung saja Keenan tidak bisa membaca pikirannya, kalau sebaliknya Anya tidak tahu harus ia simpan di mana mukanya sekarang. Dentuman jantungnya masih belum lelah berdetak dengan keras, bahkan tadi terasa ingin keluar dari biliknya. Ya, efek sentuhan Keenan bisa seperti itu padanya. Padahal ia juga sering bersentuhan dengan Mike, tapi tidak sampai membuatnya seperti itu.
Benteng pertahanan yang sudah Anya bangun selama ini diruntuhkan begitu saja oleh pria pemaksa yang ada di depannya saat ini. Runtuh sudah! Sepertinya ia bisa ikut gila kalau mengikuti permainan Keenan ini. Ciuman dan lamaran di kencan pertama? Setelah pertemuan singkat dalam satu malam? Keenan yang tidak waras atau dia yang gila? Ya ampun Anya, mimpi apa semalam sampai dia harus terjebak dalam situasi aneh seperti ini. Anya masih tertegun karena shock dengan kejadian tadi. Untuk pertama kalinya ada pria yang berani menyentuh bibirnya. Dan sekarang ia merasa kacau, tidak tahu harus bagaimana.
PLAAKK!!
Kemudian tangannya reflek melayang ke pipi Keenan. Keenan termangu memegangi pipinya. "Jangan pernah melakukan itu lagi!" seru Anya marah.
Keenan terpaku menatapnya, "Tapi, tadi kamu kan membalas ciumanku? Ya walaupun masih terasa amatiran tapi setidakknya kau menikmatinya kan?" sahut Keenan.
Anya makin mendelik menatapnya. Tapi ia terdiam, ya memang ia menikmati lumatan bibir Keenan tadi, tapi itu kan karena ia merasa shock dan mabuk bersamaan. Habis bibir Keenan itu lembut, hangat dan manis. Hussh! Anya menggeleng berusaha menepiskan pikiran tersebut dari kepalanya. Tetap saja Keenan sudah merampas ciuman pertamanya, dan Anya menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Apa anggapan Keenan sekarang? Ia w************n yang mudah terpedaya oleh pesonanya? Oh ya ampun, Anya berusaha menyembunyikan rona wajahnya.
Keenan masih menatapnya dengan ekspresi tidak percaya karena Anya sudah menamparnya karena ciuman tadi.
"Apaa?" Anya berusaha menantangnya dengan menatap balik Keenan, matanya membulat penuh.
"Ck!" Keenan menggeleng.
"Aku memang terkesan menikmatinya, tapi padahal enggak sama sekali" dalihnya seraya memalingkan wajah dari Keenan.
"Liar!" sahut Keenan dalam bahasa inggris.
"Issh sudahlah!"
"Anya" Keenan menarik pinggang Anya ke pelukannya lagi. Jantungnya kembali berdebar kencang. Sentuhan Keenan membuat jantungnya bekerja keras memompa darahnya yang berdesir cepat akibat sentuhan Keenan di area-area pribadi Anya.
"Keenan! Lepasin!" jerit Anya.
Alis Keenan naik sebelah sehingga keningnya ikut berkerut, ia memicingkan matanya menatap Anya, "Katakan kalau kamu tidak suka ciumanku" ujarnya menantang Anya.
Bukan itu! Pekik Anya dalam hati. Untung saja hanya dalam hati. "Aku-tidak-su---mmmppth!" Keenan menyumpal mulut Anya dengan bibirnya. Ia kembali melumatnya keras dan dalam. Tangan Anya yang berada di d**a Keenan berusaha sekuat tenaga mendorongnya agar menjauh, tapi lama kelamaan tenaganya berkurang dan kembali hilang sama sekali. Ia menyerah lagi, pada Keenan! Pria yang baru dikenalnya semalam. Oh Tuhan, ini fixed Anya yang gila!
Keenan melepaskan pagutan bibir mereka lebih dulu, "Bagaimana yang sekarang? Apa kau suka?" tanyanya lagi.
Dan Keenan tidak waras! Pikir Anya. Ia memilih tidak menjawabnya dan malah mundur untuk berbalik memunggungi Keenan bergegas keluar dari kamar. Tadinya ia bermaksud mau marah-marah. Tapi tidak akan berhasil kalau cara Keenan seperti ini, alias menggunakan cara tidak waras begini. Keenan mengejarnya dan menyamai langkahnya keluar kamar.
Anya merasa berkumpul bersama keluarga Keenan di luar lebih aman, dibanding ia harus berduaan dengan Keenan di kamarnya. Anya berjalan dengan kesal, suara hentakan kakinya juga terdengar ketika ia melangkahkan kakinya yang jenjang itu.
"Anya" suara Keenan ia abaikan. Anya terus berjalan menuju ke taman belakang, tempat keluarga Keenan berkumpul.
"Anya!" Keenan memanggilnya lagi dan kali ini ia berhenti mengikuti Anya. Anya juga berhenti ketika menyadari bahwa Keenan tidak lagi mengikutinya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Keenan berada kira-kira tiga meter di belakangnya. "Kau mau kemana?" tanyanya.
"Ke tempat tadi!" tukas Anya kesal.
Keenan menggeleng, "Tapi tempat kita makan tadi ada di sebelah sana" ujar Keenan tenang sambil mengarahkan tangannya ke arah belakang dia.
Jadi Anya salah arah? Padahal instingnya mengatakan ia sudah di jalan yang benar. Ck, tapi memang instingnya lebih sering salah sih. Anya membesarkan matanya ke arah Keenan dan berbisik ketika melewatinya, "Kenapa semua hampir kelihatan sama sih???" desisnya sambil berjalan tergesa sehingga suara sepatunya sangat nyaring terdengar.
Keenan membuntutinya lagi, "It's OK, Anya, bilang saja apa yang kamu rasakan, kalau kamu suka, tidak perlu malu mengatakannya!" ujarnya, "karena aku juga sangat suka bibir kamu" ujarnya santai, dan kembali d**a Anya yang blingsatan. Kelihatannya hanya dia yang resah gelisah. Ya tentu saja, karena Keenan pasti sudah terbiasa berciuman dengan banyak wanita, sedangkan bibirnya masih belum terjamah siapapun! Darah Anya mendidih jadinya mengingat hal itu. Ia tiba-tiba berhenti dan Keenan menabraknya. Ia sengaja menabraknya.
Anya berbalik menghadap Keenan, ia menjauh sedikit dan menghela napasnya sekali. "Buat apa kamu tadi mengumumkan kita mau menikah segala?! Memangnya kamu sudah tanya aku? Menikah itu butuh dua orang yang setuju!" akhirnya amarah Anya keluar juga.
Keenan mengerutkan dahinya hingga alisnya hampir menyatu, "Memangnya kalau aku bertanya, kamu mau jawab apa?" Keenan malah balik bertanya.
Sekarang giliran Anya yang dahinya berkerut, "Ya, wanita itu biasanya kalau ditanya akan berpikir dulu, apalagi buat yang baru kenal. Aku pasti akan lihat dulu kamu dan keluarga kamu seperti apa, keluarga aku melihat kamu juga seperti bagaimana?" Anya spontan menjawab seperti ini.
Keenan menganggukkan kepalanya, "Lalu setelah itu apa?" tanyanya.
"Baru setelah melewati itu semua aku bisa memutuskan mau menikah sama kamu atau enggak!" sahutnya.
Keenan menggeleng, "Nope! Aku tidak suka jawaban TIDAK. Jadi sudah pasti jawabannya harus YA. Dan kalau memang jawabannya YA untuk apa aku harus menunggu lama?" jawabnya seperti biasa dengan ekspresi datar dan tenang.
Huh? Prinsip apaan itu? Pikir Anya. Ia menatap Keenan tidak percaya. Apa memang ada di dunia ini pria keras kepala dan seegois ini? "Ck! Percuma aku capek-capek menjelaskan alasannya juga"
"Itulah kenapa aku tidak bertanya"---"aku tidak mau membuatmu capek berpikir" ujarnya lagi. Dan Anya termangu shock.
"Keenan, semua hubungan itu biasanya ada prosesnya, kenalan, dating, pacaran, melamar, tunangan, baru setelah itu menikah! Seperti itu kan biasanya?" ujar Anya hampir putus asa.
Keenan menggelengkan kepalanya lagi. "And sorry to say, I am not an ordinary, Anya."
Anya menatap Keenan dengan ekspresi yang sulit terbaca. Ia sedang berpikir, terbuat dari apa pria di depannya ini. Begitu berprinsip, tapi prinsip yang egois sekali! Anya menggeleng malas meladeni, dan ia berniat melanjutkan langkahnya. Dari arah berlawanan ia melihat Monica yang berjalan ke arahnya, mendekat. "Anya?" tegur Monica dan ia juga melihat ke belakang Anya, "Keenan? Kalian berdua mau kemana?" tanya Monica.
"Mau ke taman belakang Mom" sahut Anya.
Monica mengerutkan dahinya, dia menoleh ke belakangnya dan berpaling lagi ke Anya. "Tapi taman belakang ke arah sana" ujarnya menunjuk arah sebaliknya dari Anya. Anya mendelik dan ia menoleh ke belakangnya di mana Keenan tersenyum simpul mematikan.
Sialan! Anya mengumpat. "Tapi----Keenan membohongiku Mom!" ujar Anya tidak bermaksud mengadu. Tapi kemudian Monica meraih pinggang Anya dan mengajaknya ke arah yang tadi Anya lewati.
"Mom berharap kalian menginap di sini" ujar Monica. Keenan menghampiri Monica di kursi makannya dan mencium pipinya, "tentu Mom, kami akan menginap" Dan Anya berhasil menghela napasnya setelah tadi sempat hampir berhenti mendadak. Entah keputusan apalagi berikutnya yang akan disampaikan sepihak oleh Keenan, Anya hanya berharap bisa menahan diri untuk tidak menendang alat vitalnya itu.
Namun melihat Monica begitu bahagia mendengar jawaban Keenan, membuat hati Anya sedikit cair. Bisa jadi Monica memang sangat merindukan anaknya itu. Dan berharap ia bisa lebih lama melihat wajah anaknya tersebut. Tapi Anya kan tidak bawa pakaian ganti?
"Terima kasih son" ujar Theo mewakili Monica. "Anya" lanjutnya dan membuat Anya gelagapan. Jadi ia hanya tersenyum dan mengangguk. Rasanya tidak sabar Anya ingin membenamkan wajah Keenan di pasir.
Ketika semua kerabat dan keluarga besar Keenan sudah pulang, Keenan pamit untuk membawa Anya melihat-lihat sekitar mansionnya. Monica dan Theo mengangguk. Keenan menggamit tangan Anya dan menariknya. Entah ke mana.
"Astaga Keenan! Kenapa kamu bilang kalau kita akan menginap?" pekik Anya setelah cukup jauh dari Monica dan Theo yang masih berbincang di meja makan tadi. Keenan menjawabnya dengan senyuman mautnya itu. b******k! Gumam Anya dalam hati. Sepertinya dia sangat paham kalau efek dari senyumnya itu bisa melemahkan syaraf wanita manapun.
"Ya, tidak ada salahnya membuat orang lain happy kan?" katanya sok innocent. Tentu saja bukan di sana letak salahnya, yang salah itu tidak ada konfirmasi dulu sama orang yang akan diajaknya menginap. Ampun Dewaa!
Anya diajak menaiki tangga berputar yang temaram, kalau ia sendirian pasti ia akan menjerit ketakutan berada di tempat begini malam-malam. Setelah kurang lebih seribu lima ratus anak tangga, tunggu sepertinya itu berlebihan. Tapi tangganya memang tinggi. Di anak tangga ke sepuluh ternyata ada lift yang membawanya ke lantai entah ke berapa. Ketika Anya keluar lift ia masih harus naik tangga lagi sekitar tiga anak tangga saja. Keenan membuka pintunya dan angin dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Bukan itu yang menarik perhatian Anya, tapi pemandangan di depannya. Hamparan kota penuh lampu berwarna-warni yang sangat indah yang membuatnya tertegun. Kolaborasi hamparan langit biru kelam bertabur bintang dan lampu kota itu ternyata begini indahnya dan romantis? Eeh Romantis, apa dia baru saja berpikir ini suatu yang romantis? Tidak!
Anya memeluk dirinya sendiri seraya maju lebih ke depan, ia merasa benar-benar seperti sedang berada di puncak gunung yang tinggi. Bintang serasa tidak jauh darinya, ingin ia gapai. Ah kenapa ia jadi melankolis begini. Tiba-tiba ia merasa kehangatan menjalari tubuhnya dari belakang. Ternyata Keenan memeluknya dari belakang dengan satu tangannya melingkar di pinggangnya. Anya terkesiap sesaat, namun ia merasa nyaman. APA? Nyaman? Ya ampun benar saja ia sudah gila. Tapi Anya memang merasa kedinginan tadi.
Ia membiarkannya beberapa saat. Sebentar saja. Sedikit lagi. Sampai sejam berlalu hanya memandangi taburan bintang dan lampu kota.
.
.
.
"Change yours with this one!" ujar Keenan menyodorkan sebuah kaus oblong pada Anya.
Anya menghela napasnya, "Aku tidak bilang setuju mau menginap Keenan!"
"Jadi kamu mau pulang sendiri? Karena tanganku masih sakit" tukasnya dan menunjukkan tangannya yang sakit.
"Aku bisa naik taksi"
"Kemarin ada korban perkosaan dan pembunuhan di taksi" ujar Keenan tenang.
Anya melotot. "Jangan bicara sembarangan Keenan!" sembur Anya.
Keenan hanya mengedikkan bahunya. "Terserah kalau kamu mau coba" lanjutnya.
Anya menatapnya horor, tapi ia yakin Keenan hanya menakutinya saja. Ia meraih tasnya dan bergegas melangkah keluar kamar, namun gerakan Keenan ternyata lebih cepat darinya. Ia sudah berdiri dengan megahnya menghalangi pintu "Touch me, and I will kiss you madly!!" ancaman Keenan membuat jantung Anya berdegup cepat sekali. Benar-benar pria m***m gila! Umpat Anya dalam hati.
Mata Anya membesar menatap Keenan, ia mundur dan berbalik menuju sofa dengan perasaan putus asa. Dia merasa sudah dijebak oleh seorang psychopat. Seketika Anya merasa merinding. Anya merogoh ponselnya dan membuka aplikasi chat-nya.
"Kenapa senyum senyum sendiri?! Chat sama siapa?" tiba-tiba Keenan sudah berdiri di depan Anya dan dengan cepat merebut ponselnya.
Anya mendelik ketika Keenan dengan santainya membaca group chat dengan teman-temannya.
Mateee!