BIG FAMILY AND THE FIRST KISS

1981 Words
PART 4 - BIG FAMILY & 1st KISS "Awas kamu Keenan!" maki Anya dengan ekspresi marah. Keenan hanya menanggapinya dengan terkekeh dan meraih tangan Anya dengan tangan kirinya. Menggandengnya sampai ke lobi rumah sakit. Senyum Keenan juga belum hilang membayangkan mata Anya yang tadi terpejam dan berharap ia menciumnya. That was really cute, batin Keenan. Kemudian sebuah mobil Mercedez Benz berhenti di depan lobi dan seorang pria keluar dari pintu supir menghampiri Keenan. "Selamat siang Mr. Keenan" "Siang Romi!" sahut Keenan dan mempersilakan Anya untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil, kemudian Keenan menyusul. "To the Ranch Rom" perintah Keenan pada supirnya. Romi mengangguk dan matanya kembali fokus ke jalan raya. Tangan kiri Keenan kembali menggenggam tangan Anya dan dengan seenaknya meletakkan pautan tangan mereka di atas paha Keenan. Kemudian Keenan mendekatkan tubuhnya pada Anya dan lagi-lagi dengan santainya menyandarkan kepalanya di bahu Anya yang mungil. "Aku pinjam bahu kamu ya" ujar Keenan. Anya terlihat akan protes tapi tidak jadi. Keenan tersenyum dalam hati. Keenan sedang memainkan jemari Anya dengan satu tangannya, "Aku mau kamu jadi istriku, Anya" ujar Keenan tiba-tiba bak petir menyambar di siang bolong bagi Anya. Anya terbatuk hampir tersedak mendengar pernyataan Keenan barusan. Ini Anya yang baper tingkat tinggi atau gimana? Kalau benar tadi Keenan yang ngomong Anya menganggap Keenan benar-benar cowok ganteng yang gila! Lebih gila dari Mike! Ganteng-ganteng gila dong?! Pikir Anya. Anya mendelik menatap Keenan yang dihempaskan begitu saja dari bahunya, dan bila ditilik dari kalimatnya tadi itu seperti perintah bukan lamaran atau pertanyaan. Jantung Anya berdentum keras setelah berhasil mencerna kata-kata Keenan. Sumpah ya nih orang, bisa bikin jantung orang istirahat sebentar enggak sih? Batin Anya mendumal. "Kamu setress ya?! Kamu mau aku jadi istri kamu, dalam semalam??" Anya histeris, "cowok gendeng!" tukas Anya sambil memalingkan wajahnya dari Keenan. Ia tidak mau terhipnotis lagi oleh pesona Keenan, baik tatapan matanya atau senyumnya. "Yes, I'm crazy over you!" seru Keenan, "dan iya! Kita memang baru bertemu semalam, tapi aku tahu kalau kamu itu memang diciptakan untukku, Anya. Coz my heart beating so fast when i see you and thats never happened before! " ujarnya lagi. "Bayangan kamu juga enggak mau pergi dari kepalaku sejak aku bertemu kamu tadi malam" tambahnya. "Itulah kenapa aku mau kamu jadi istri aku!" ujar Keenan tegas. Anya menghela napasnya berat. Mendengar sesuatu mengarah dan berbau pernikahan untuk dirinya membuat dadanya sesak. Baru saja ia berencana memulai sebuah hubungan dengan seorang pria, tanpa terpikir pernikahan lebih dulu tentunya. Anya baru ingin mencoba mengenal Keenan lebih dekat lagi. Dan kenyataannya sekarang Keenan malah memintanya menjadi istrinya, kenal saja belum sudah mengajak menikah? Mike yang sudah lama dikenalnya saja ia tolak, sekarang Keenan melakukan hal yang sama. Walaupun reaksi tubuhnya dalam merespon Keenan berbeda dari Mike, tapi tetap saja Anya baru semalam mengenal Keenan! Hati Anya sangat resah sekarang. "Kita belum saling mengenal Keenan! Enggak mungkin aku jadi istri kamu!" sahut Anya. "Pacaran aja belum tentu aku mau---" "Aku juga enggak mau pacaran, aku maunya kamu langsung jadi istri aku!" tukas Keenan memotongnya. Anya menggelengkan kepalanya masih berpikir Keenan pria stress. "Maaf Keenan aku enggak mau! Aku belum kenal kamu dan keluarga kamu. Yang aku tahu kalau mau menjalani hubungan serius itu diawali dengan berkenalan dulu sama keluarga" ujar Anya. Keenan memicingkan matanya ke arah Anya, "Ya, kamu benar. Tentu saja kamu harus kenal keluarga aku, karena itu kita akan bertemu mereka sebentar lagi" ujar Keenan sambil melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, "dalam satu jam kurang lebih" ujarnya santai. Mata Anya mendelik seperti mau keluar dari tempatnya, "Hah? Maksud kamu apa Keenan?" tanya Anya dengan nada cemas, ia berharap apa yang ada di pikirannya sekarang bukanlah yang terjadi. Tapi melihat Keenan yang mengangguk sambil menyeringai, Anya bisa membaca apa yang ada di kepala Keenan. "KEENAAAN!!" sembur Anya keras, Romi sampai melonjak kaget mendengarnya. Anya terlihat marah sekarang. "Hiighh!!" Anya memukul bahu Keenan. "Bisa enggak sih kamu itu tanya pendapat aku dulu kalau mau melakukan sesuatu?! Diskusi dulu! Jangan selalu memutuskan sendiri! Dan kamu enggak menyinggung kalau kita mau bertemu keluarga kamu hari ini kan?! Kamu cuma bilang kalau kamu mau ajak aku nge-date. AND THIS IS OUR 1ST DATE, FOR GOD'S SAKE!!" Anya mengempaskan kepalanya ke kursi tanda bahwa dia benar-benar kesal. Keenan membiarkan Anya melampiaskan marahnya lebih dulu. "My Mom was very happy to y you, and you will be glad to meet them and otherwise, I promise" Keenan meraih tangan Anya. "Anya, I want you to know that I do not accept rejection" ujar Keenan. "Terserah!" gumam Anya keras. Selanjutnya Anya hanya diam tidak mengindahkan Keenan. "Kita sudah sampai Mr. Keenan" Romi menginformasikan sudah tiba di tujuan dan ia turun dari mobil, kemudian membuka pintu belakang dan menunggu Keenan turun, kemudian Keenan dengan sabar menunggu Anya turun. Ranch-nya sangat luas. Anya bisa melihat hamparan bukit rumput yang hijau dan sejuk di sekitarnya, seketika Anya melupakan masalah lamaran Keenan tadi. Jadi ini rumah keluarga Keenan? Hati Anya menciut. Di tengahnya terdapat mansion keluarga Keenan yang berdiri megah. Rumah besar berwarna putih biru bergaya eropa dengan banyak jendela pada badan rumahnya.  PIntu utama rumah itu terbuka dan keluarlah seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik karena merawat tubuhnya. Ia setengah berlari menghampiri Keenan dan memeluknya. "Keenan..." suara lemah lembut itu menenangkan telinga Anya, wanita itu menatap tangan Keenan yang disanggah. "Kamu tidak apa-apa kan? Coba mom lihat, aduh, kenapa kamu bisa sampai begini sih?" Monica mengusap tangan kanan Keenan yang diperban dan mencium pipinya dengan penuh cinta dan kasih sayang, pemandangan itu membuat Anya terharu sekaligus iri, keluarga Keenan kelihatannya sangat happy dan saling menyayangi. Mata Keenan beralih lagi pada Anya, "Mom, I want you to meet my woman, Anya. And Anya this is my lovely Mom, Monica!" Keenan memperkenalkan Anya dengan Ibunya, kemudian Monica menatap ke arah Anya dan tersenyum ramah. Monica menghampiri Anya, "Selamat datang, Anya! Aku mendengar cerita tentangmu semalam, dan akhirnya Mom tahu, kalau kamu yang membuat Keenan tidak bisa tidur semalaman tadi" Monica memeluk Anya dengan erat. Aku bikin Keenan enggak bisa tidur semalaman? Gumam Anya dalam hati. Keenan hanya menyeringai jahil ke arahnya. Ck! "Ayo masuk Keenan, Anya! Mom sudah masak enak buat kalian semua, mari kita makan dulu" ajak Monica seraya berjalan ke arah halaman belakang. Keenan merangkulkan tangan kirinya ke pundak Anya dan membimbingnya menuju halaman belakang yang luas. Anya terhenyak ketika melihat meja makan besar yang penuh dengan makanan di atasnya, beralaskan rumput dan beratapkan langit yang luar biasa cantiknya siang itu, angin sejuk berhembus lembut menggoyangkan rambut Anya dan menyapu wajahnya. Namun tidak menghilangkan rasa terkejutnya ketika melihat banyak orang yang mengelilingi meja makan besar tersebut. Lagi-lagi jantung Anya terguncang hebat, matanya membelalak melihat ke arah meja makan yang nyatanya adalah keluarga besar Keenan. Anya berharap ia bisa menghilang sekarang, karena semua mata serempak menatapnya. Ia menghela napasnya panjang menatap geram ke arah Keenan. Keenan malah meraih tangannya, menggenggamnya dan membawanya mendekat ke keluarga besarnya. "Relax Anya" ujar Keenan memberikan supportnya. Disambut delikan mata Anya yang kesal padanya. Dasar Cowok gila! Main bawa ke rumah dan ketemu keluarga besarnya? Baru juga kenal dia semalam, dan disinilah aku sekarang! Batin Anya frustrasi. "Hallo Anya!" suara berat ini pastilah Papanya Keenan, dan dia menyapa Anya seakan-akan Anya itu adalah bagian keluarganya. Keenan memeluk Theo, ayahnya. "And Anya, meet my handsome father, Theo" Theo juga memeluk Anya sebagai sapaannya. Keenan jelas mewarisi wajah Ayahnya, karena terlihat jelas sisa-sisa ketampanannya pada wajah Theo. Kemudian selanjutnya Keenan memperkenalkan Anya kepada seluruh keluarga besarnya. Anya hanya bisa pasrah dan mencoba mengikuti permainan Keenan. Setelah beberapa saat Anya merasa gugup dengan semuanya, pada akhirnya kegelisahan Anya berganti dengan kesenangan, ia merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga besar Keenan. Ia tidak pernah punya keluarga besar sebelumnya. Jadi Anya benar-benar menikmati kehangatannya. Ditambah sepupu Keenan yang juga suka bercanda, mereka bergantian menggoda Keenan yang ternyata sangat posesif. Jantung Anya kembali tidak beraturan ketika melihat Keenan berdiri, "Hi everyone listen up!" Oh Tuhan! Pekik Anya dalam hati. Keenan melanjutkan pengumumannya ketika semua perhatian sudah tertuju padanya."Aku dan Anya akan menikah dalam waktu dekat, dan kami mengharapkan restu dari kalian semua, aku senang hari ini kita bisa berkumpul di sini dan kalian bisa bertemu juga berkenalan dengan Anya, my future wife" ujar Keenan dengan santai seraya memalingkan wajahnya ke Anya yang menatapnya tajam dengan ekspresi geram. Sekarang semua mata memandang ke arah Anya dan terus terang hal itu membuat Anya gugup bukan kepalang. Keenan benar-benar keterlaluan! Menyampaikan pada keluarga besarnya perihal keinginannya menikah padahal baru tadi malam bertemu dengannya. Ini yang gila siapa ya? Aku atau Keenan? Eeerrgh, pria gilak! Maki Anya dalam hati. Lamunan Anya buyar ketika Monica menghampirinya dan memberikan ucapan selamat. "Honey, Anya! Congratulation! I'm really happy to hear that" Monica memeluk Anya dari belakang dan mencium pipinya, sepertinya sekeluarga gila semua! Pikir Anya. Senyumnya kecut ketika kemudian semua orang bertepuk tangan menyatakan kebahagiaannya sambil bernyanyi "congratulation and celebration!" dan bergantian memberi selamat buat Anya dan Keenan. Nanti Keenan, nanti! Geram Anya dalam hati. Keenan menatap Anya dengan senyuman mautnya. Tapi kemarahan Anya membentengi pesonanya. Mata Anya masih membesar dan menyimpan dendam pada Keenan. Sorry Anya, there is no other way. I want to make you are mine! As soon as possible and I know deep inside you want it too, batin Keenan. Kemudian Anya mendekatkan dirinya pada Keenan dan berbisik, "Kita harus bicara, se-ka-rang!" tegasnya. Keenan menahan dirinya untuk tidak mencium Anya di depan keluarganya sekarang ini. "Kamu cantik!" ujarnya menanggapi kemarahan Anya. "Kamu makin cantik kalau marah!" tambahnya. Anya menggeleng, mengendalikan diri agar tetap fokus pada marahnya. Agar tidak terpengaruh pada kata-kata manis Keenan. "Jangan mengalihkan topik!" sembur Anya seraya menarik tangan Keenan untuk menjauh dari keluarganya. Anya mengajaknya masuk ke dalam mansion, tapi karena melihat Anya kebingungan Keenan mengambil alih dan mengajaknya ke tempat yang lebih pribadi. Dan kemana lagi kalau bukan ke kamarnya? "Kita bisa bicara di sini, privately" goda Keenan dan membuat Anya melayangkan tangannya memukul bahu Keenan. "Jangan berpikir m***m!" ujar Anya. Matanya berkeliling mengamati ruangan cukup besar ini. "Jadi, ini kamar kamu? " ia bertanya. "Yes, and will be yours too, soon!" jawab Keenan dan membuat pipi Anya merah padam. Oh I love that cheek, batin Keenan. Anya melihat-lihat kamar Keenan yang luas, wajahnya tidak setegang tadi, sekarang lebih relax. Tiba-tiba Keenan menghampirinya, "Anya, can I kiss you? I want to kiss you, badly!" Keenan bertanya ketika merasa dadanya bergemuruh hampir meledak merasakan kedekatan dengan Anya dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Anya termangu kaget, "Ha? Kamu bilang apa?" tanyanya. Keenan menangkup wajah Anya dengan satu tangannya, dan tanpa menunggu persetujuan atau jawaban Anya bibir Keenan sudah mendarat di bibir Anya yang lembut, yes I need to kiss her now, otherwise I could explode, batin Keenan. Awalnya Anya tidak mau membuka mulutnya tapi kelamaan Anya menyerah juga. Anya membuka sedikit mulutnya dan membiarkan Keenan melumat habis bibirnya lebih keras. Anya mengeluarkan erangan lembut dari mulutnya dan membuat Keenan semakin liar dan b*******h. "I know you will give in to me, Anya" gumam Keenan. Dengan perlahan Anya melingkarkan tangannya di leher Keenan dan tangan kiri Keenan berpindah ke pinggul Anya untuk menariknya lebih dekat lagi. Bibir Anya terasa manis dan lembut, Anya melepaskan ciumannya hanya untuk mengambil napas, tapi matanya tidak lepas dari mata Keenan dan beralih lagi ke bibirnya. Kemudian Anya mendekatkan lagi bibirnya  pada Keenan menuntut lebih. Tentu saja Keenan tidak menolaknya, even I know this will never be enough, batin Keenan bahagia. "Keenan------mmpht----" lirih Anya di sela-sela kegiatannya dengan napasnya yang tersengal. Anya melepaskan bibirnya, ia tertunduk malu, "Ini pertama kalinya buatku..." Pernyataan itu malah membuat d**a Keenan membuncah dengan kebahagiaan. I am proud to be the first  and the last for Anya, pikirnya. "Aku senang bisa menjadi yang pertama untuk kamu, Anya" ujar Keenan tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Kalau saja bukan karena Anya kehabisan napas Keenan tidak akan berhenti mencium Anya. Keenan melihat bibir Anya yang membengkak bekas ciumannya dan Anya terlihat makin menggairahkan.          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD