Marsha sudah berada di rumahnya kembali. Dia benar-benar malu dan kesal.Baru saja kemarin pernikahannya batal. Sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri siri cowok bloon menyebalkan.
Yaah masih mending sih, dari pada lo jadi istri sirinya Mamat Nani, Ca. Udah punya anak dua masih belum diaku juga. Liat noh Siluman Jameela, badan sampai gering kaya gitu. Lagian Arsjad juga lumayan, Ca. Setia pula, delapan tahun naksir cewek, ditolak tapi masih nunggu sampai sekarang.
Marsha menghela napas berat. "Iya sih, Setia sama gagal move on bedanya tipis, setipis iman orang dibulan puasa yang gak tahan godaan es cendol pas panas-panas." Gumamnya pelan.
Malas-malasan Marsha mendekati kedua orang tuanya yang tengah berdiskusi di sofa besar di ruang keluarga yang terlihat mewah dan besar. Semua perabotan yang terpajang di sana berasal dari merk-merk terkenal.
"Coba kamu hubungi temen-temen kamu, Ca. Cari pinjeman gitu,"
Mendengar ucapan Burhan Marsha menjadi terusik. Seketika lamunannya berhenti, kedua bola matanya yang indah mendadak berubah tajam, memandangi ayahnya.
"Kenapa Caca yang di suruh? Emang Papa pikir, Caca masih punya muka buat ketemu mereka?!"
"Coba kamu usahain bantu Papa. Kampus kamu kan banyak orang kayanya, masa gak ada yg deket dan bisa dipinjemin. Jangan sampai rumah kita disita, Ca." Burhan masih berusaha membujuk anaknya.
"Males! Tau sendiri orang kaya biasanya pelit. Kaya papa aja, dulu gimana, nih kaya gini!" Marsha menunjukkan tangannya yang tergenggam, menyindir papanya.
Malas berbicara dengan Burhan, Marsha meninggalkan orang tuanya begitu saja. Gadis itu berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Marsha melemparkan diri ke ranjang yang besar dan mewah. Kedua tangannya saling meremas. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dia kembali meraba-raba jari manisnya. Gadis itu memekik sendiri ketika menyadari cincin pemberian Barry sudah tidak ada.
****
Arsjad sedang kebingungan di kamarnya. Niat baiknya mencegah Marsha berbuat nekat, malah membuatnya harus menikahi gadis urakan itu.
Pemuda itu berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya ketika teringat dengan Corry. Beruntung ibunya melarang Gadis gila itu ikut pulang ke rumah kakeknya.
Sebenarnya ia ingin mengajukan talak hari itu juga, tapi ia tidak tega. Bayangkan gagal menikah aja tingkahnya seperti itu, apalagi di talak sehari setelah gagal menikah. Bisa-bisa gadis itu kesurupan.
Arsjad memutuskan untuk gosok gigi sebelum tidur. Ketika ia tengah menyikat gigi sampai mulutnya dipenuhi busa, samar-samar ia mendengar suara dari dinding di sebelahnya. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu merasa bulu kuduknya meremang dan sesaat terdiam, berusaha mendengarkan suara itu lebih jelas.
Arsjad memutar matanya ke sana kemari dan menatap pintu kamar mandi. Ia kemudian meletakkan sikat giginya dengan kasar di wastafel lalu keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Melewati kamar yang kemarin ditempati Marsha bulu kuduknya kembali merinding, karena sumber suara berisik tadi dari sini. Namun, kamar ini sekarang terlihat tenang.
Ketika berada di depan kamarnya, suara berisik dan gumaman kecil kembali terdengar. Penasaran sekaligus takut ,Arsjad membuka pintu kamar dan melihat seorang gadis sedang membungkuk dengan pantatnya yang bulat dan remes-able menghadap ke arah pintu.
Arsjad menahan napas, dia mulai percaya kalau caption dan kuote Mario teguh selama ini hanya hoax. Terutama caption, "kalau ada orang mengatakan belum melihat bidadari pasti belum melihat istri saya". Karena bidadari yang pastinya bukan istri Mario teguh itu, sekarang berada di kamarnya.
"Ca...ngapain lo di sini?" Arsjad yang sudah lepas dari pesona bagian belakang tubuh Marsha mengeluarkan suaranya yang di buat sedatar mungkin.
Mendengar suara Arsjad otomatis Marsha berdiri. "Kok elo tau ini gue?" Tanya Marsha penasaran, karena dia merasa penyamarannya sudah sempurna.
"Dari bau prengusnya juga, udah ketauan kalau itu elo! Ngapain lo di sini?" Arsjad menelisik penampilan ajaib Marsha. Jilbab panjang dan cadar, tapi bawahannya celana super pendek yang memperlihatkan kakinya yang putih. Atas rapi simpatik, bawah binal erotik.
Marsha menekuk wajahnya, mendengar ucapan Arsjad yang menyamakan wangi tubuhnya yang memakai minyak wangi produk selebriti dengan kambing. "Gue lagi nyari cincin, pasti ada ama elo. Mana balikin!"
"Cincin apaan? Kita aja nikah di kantor SATPOL PP, pake nanya cincin, bukannya..." Tiba-tiba, kepala Arsjad terasa sakit seiring dengan bunyi 'buk'. Tinju yang dilayangkan oleh Marsha ke dagunya membuat kepala Arsjad berputar dengan bintang-bintang berhamburan di matanya. Ia merasa kepala yang sudah menempel selama 28 tahun melayang ke luar angkasa bersama bintang. Arsjad merasa kepalanya kosong. Ia tidak dapat menggerakkan dagunya dan meneruskan kalimatnya.
"Makanya orang lagi serius jangan di ajak bercanda!" Ucap Marsha saat melihat Arsjad mengusap-usap dagunya.
Arsjad tidak dapat berpikir. Ia tidak menyangka tonjokan perempuan mungil seperti gadis itu tenyata sangat pedas.
"Kelakuan kaya gini, pantes ditinggal calon suami," guman Arsjad yang tak luput dari pendengaran tajam Marsha.
"Kelakuan yang mana, hah! Sok tau banget, kaya tau aja kelakuan gue kaya gimana!" Marsha yang sedang sensitif tersinggung dengan perkataan Arsjad yang menyinggung kegagalan perkawinannya.
Marsha kembali mengobrak-abrik kamar Arsjad. Namun hasilnya nihil, cincin pemberian Barry tidak juga ditemukan. Tatapan Marsha tertumbuk pada foto yang berada di meja yang sepertinya bekas meja belajar Arsjad.
Tanpa sepengetahuan laki-laki itu, Marsha mengambil foto tersebut dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Ayo ikut!" Perintah Marsha sambil menarik tangan suami sirinya.
"Eh, mau kemana?" Protes Arsjad, tapi tetap mengikuti Marsha.
"Kita cari cincin di tempat semalem!"
"Tapi baju gue, Ca."
Marsha memperhatikan pakaian Arsjad. Celana kolor sedengkul yang warnanya mulai pudar dan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan dadanya yang bidang.
Marsha memperhatikan s**********n Arsjad dengan seksama,
"Arsjad, lo gak pake sempak ya?" Tanya Marsha tiba-tiba.
Pertanyaan Marsha yang tidak pakai sensor membuat Arsjad salah tingkah, dan wajahnya memerah. Dengan gerakan cepat ia berbalik berniat kembali masuk ke dalam rumah.
Dengan sigap Marsha menahan lengan Arsjad dan mendorong laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, kemudian meninggalkan halaman rumah Nazar.
"Seenggaknya kasih gue kesempatan ganti celana, kek!" Gerutu Arsjad yang kesal dengan sikap egois gadis itu.
"Kelamaan! Keburu ditemuin orang cincinnya. Lagian gak jauh ini." Jawab Marsha cuek.
Sampai di depan Convient store, mereka kembali mencari cincin tersebut. Lagi-lagi hasilnya nol. Marsha mulai putus asa dan hampir menangis. Gadis itu berniat mengembalikan cincin seharga satu mobil Avanza itu, untuk menjaga harga dirinya yang sudah tiarap.
Marsha kembali menarik tangan Arsjad yang sedang istirahat, karena hampir satu jam membungkuk mencari cincin yang tidak ia ketahui bentuknya. Sesampainya di mobil ia mengambil pena dan menulis nomor teleponnya dengan angka besar-besar di lengan laki-laki itu.
"Udah, lo pulang sana. Cari cincinnya sekali lagi di rumah. Kalau udah dapat telepon gue ya!" Kata Marsha asal.
Arsjad yang mulai kesal karena Marsha yang tidak sopan, yang asal memanggilnya dengan sebutan 'lo' membantah permintaan gadis itu.
"Kenapa gue mesti peduli sama urusan lo?! Cari aja sana sendiri." Ucap Arsjad datar.
Marsha melotot, Arsjad mengkeret. Laki-laki itu terpaksa diam demi melihat tangan gadis itu yang terkepal
"Liat aja, kalau gak mau bantuin nyari, " gadis itu mengambil foto dalam tasnya dan sedikit terkejut, saat mengetahui kalau itu foto Corry, kakaknya saat SMA. "Gue bakal bilang ke cewek ini, kalau kita udah nikah. Namanya Amanda Coreyna, kan?"
Tiba-tiba, mata Arsjad membesar. "Apa? Lo jangan macem-macem ya, Ca!"
"Kalau lo janji mau nyariin, gue akan diem!" Marsha membuat gerakan menutup mulutnya dengan tangan.
"Ketempelan sial gue," kata Arsjad dengan ekspresi yang seperti baru menelan batu.
"Maksudnya, sialnya bukan gue kan?"
"Emang kenapa kalau yang sial itu elo? Seharusnya elo minta di ruwat sana, ganti nama jadi 'Susi sriwedhari' atau siapa kek! Biar jin sial pergi dari badan lo!" Arsjad menghempaskan punggungnya ke sandaran mobil.
Marsha kembali membelalakkan matanya. "Iya nanti kalau gue di ruwat elo ikut. Biar jinnya gue suruh pindahin ke punuk elo, biar sial terus elonya. Udah keluar dari sini!"
"Keluar dari mana?" Arsjad memandang Marsha dengan mata penuh ketidakpercayaan.
Marsha keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang. Dengan susah payah ia menarik Arsjad keluar, setelah berhasil ia kembali duduk di tempatnya, menyalakan mesin dan meninggalkan Arsjad begitu saja.
"Arghhh! Gadis itu benar-benar!" Arsjad berteriak kesal karena ditinggalkan begitu saja. Kedua tangannya berada di kepala dan meremas-remas rambutnya kasar.
****
Tbc