Bab 8

1028 Words
Marsha berjalan dengan lincah ke rumah Arsjad. Setelah hampir dua minggu mencari akhirnya laki-laki itu meneleponnya dan mengatakan cincinnya sudah ketemu. Arsjad bersedia mengembalikan cincin tersebut, tidak gratis tentunya karena Marsha harus mau menandatangani surat cerai mereka. "Kakeeek!" Dengan manja  Marsha memanggil Nazar dan mencium tangan laki-laki keriput itu. "Kamu sendirian, Ca?" Tanya Ubay ketika melihat menantunya. "Mau sama siapa lagi?" Bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya. "Makanya kamu tuh cepet-cepet pindah ke sini. Masa suami istri tinggalnya sendiri-sendiri!" Marsha meringis mendengar saran Nazar. Yakali dia pindah kesini, mendengar dia meneriakkan salam dari depan pagar saja, Martini langsung terbirit-b***t bawa sapu pura-pura ngusir ayam padahal dia yang diusir. Beruntung ada kakek Nazar yang selalu membelanya. Setelah berbasa-basi sebentar, Marsha melangkahkan kakinya ke dalam rumah. "Mana cincinnya?" Todong Marsha dengan gaya menyebalkan. Arsjad menggeram melihat kelakuan tidak sopan gadis itu. "Bisa gak sih jadi cewek lebih sopan?" Marsha menggedikkan bahu, dia tidak peduli dengan perkataan Arsjad, yang ia pedulikan cincinnya kembali dengan utuh. "Tanda tangan dulu nih!" Arsjad menyodorkan kertas pernyataan yang sudah di tempel materai. Marsha menggeleng. "Gak! Gue liat cincinnya dulu." Dengan gerakan lambat Arsjad mengeluarkan cincin dari sakunya. Mata Marsha menatap dengan nyalang, bagai predator yang siap menerkam mangsanya. Begitu cincin tersebut berada dihadapannya. HAP!! Dalam sekedipan mata, cincin itu berpindah ke tangan Marsha. "Eh, Ca. Lo jangan curang dong! Perjanjiannya kan gak gitu. Lo mesti tanda tangan dulu!" "Yaelaah, nanti aja tanda tangannya. Selama gue jomblo jangan harap lo bisa jadi duda. Byeee!" Marsha memeletkan lidahnya, kemudian pergi dengan santai. Meninggalkan Arsjad yang keki karena lagi-lagi di bodohi oleh gadis kecil itu. Mau mengejarpun dia tidak bisa, kalau sampai kakeknya tahu dia berencana menceraikan Marsha bisa khatam sekarang juga hidupnya. **** Marsha menggigiti kukunya dengan gelisah. Bagaimana tidak, cincin yang sudah susah payah ia cari ternyata di jual oleh orang tuanya. Lebih sial lagi, bukannya membayar hutang. Mereka malah pergi berlibur ke Maldive dan memamerkan fotonya di i********:. Karuan saja para kreditur berdatangan ke rumahnya. Kalau cuma satu atau dua orang ia bisa mengatasi, tapi ini jumlahnya lebih dari dua puluh orang. Dari pakaiannya, Marsha sangat yakin kalau mereka benar-benar kreditur dari Bank atau leasing, bukan pasukan nasi bungkus yang sering muncul tiap ada keramaian. Menghela napas panjang, gadis itu memutuskan untuk putar balik. Sepertinya dia harus menebalkan muka dan menghubungi seorang teman yang dulu pernah ia tolak untuk pinjam uang. Marsha membuang mukanya ketika tanpa sengaja ia bertemu Arsjad. Sepertinya, Jakarta memang selebar kolor bapak yang melar karena sering di cuci pakai mesin. Gadis itu bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh pemuda itu di hotel milik keluarga Barry. "Ca! Ngapain kamu?" Arsjad menepuk bahu Marsha. Membuat gadis itu terlonjak "Ngapain sih pake negor segala?! Bisa kacau nih urusan gue kalau ada elo?" Marsha meninggalkan Arsjad yang kebingungan dengan tingkah laku gadis itu. Marsha menghempaskan bokongnya di depan seorang pemuda yang usianya tidak jauh darinya. Arsjad yang duduk tidak jauh dari situ diam-diam memperhatikan keduanya. Bibirnya terkatup rapat saat melihat pemuda itu memandang lekuk tubuh Marsha dengan tatapan lapar. Arsjad menajamkan telinganya untuk mendengarkan percakapan pasangan itu. Akan tetapi, orang yang ia tunggu sudah datang jadi ia tidak terlalu konsentrasi mendengarkan percakapan mereka. "Jadi apa yang bisa gue bantu nih?" Pemuda itu meletakkan cangkir kopi dengan gaya anggun. Marsha memilin-milin tissue di tangannya. Dia merasa gugup sekaligus takut, mengingat dia selalu menghina pemuda di depannya sewaktu mereka masih sekolah. "Lo pasti udah dengerkan kalau keluarga gue bangkrut? Kalau boleh sih, gue mau pinjem duit buat bayar cicilan rumah sama--" "Nanti gimana cara bayarnya?" Marsha mengerjap mendengar pertanyaan pemuda itu. "Gue pebisnis, Marsha bukan dinas sosial. Semua uang yang gue keluarkan harus ada hitung-hitungan untung dan rugi. Kalau elo gak ada jaminan pasti, gue gak bisa kasih elo pinjaman begitu aja. Kecuali..." "Kecuali apa?!" "Kacuali elo mau jadi pacar... ah bukan jadi simpenan gue. Elo gak perlu pinjem uang karena materi lo akan gue penuhi. Elo cukup siap saat gue butuh. Gimana?" Malu,marah dan kesal campur aduk jadi satu mendengar ucapan temannya. Dengan kasar ia mendorong kursinya dan menampar pemuda itu. "Sialan lo! Kalau emang gak mau bantu cukup bilang gak gak bisa. Jangan mentang-mentang gue miskin Elo bisa hina gue seenaknya!" "Gak usah jual mahal, Sha. Otak lo gak secerdas kakak lo, tapi elo punya aset yang bagus. Kenapa gak dimanfaatin? Elo cukup bertekuk lutut dan berbuka paha, duit datang sendiri. Lagian gue yakin lo pacaran sama Barry gak cuma pegangan tangan!" "Kayanya mulut dan titit lo sama-sama kotor ya. Saran gue elo pulang deh buru-buru bersihin sama tanah tujuh kali sebelum lo mati masih dalam keadan najis." Dengan emosi Marsha meninggalkan pemuda itu. Marsha meninggalkan pemuda itu dengan kepala yang di angkat tinggi. Sampai di luar, pertahanannya jebol sudah ia menangis tersedu-sedu di pinggir jalan. Arsjad yang khawatir dengan keadaan Marsha meninggalkan sesi wawancaranya begitu saja. Setengah berlari ia mencari keberadaan istrinya Tidak berhasil menemukan Marsha, Arsjad memutuskan untuk pulang. Ia melihat Marsha yang duduk sendirian sambil menangis dan jadi tontonan beberapa orang yang lewat. Iba dengan keadaan gadis itu, ia memutuskan menghampirinya. Eh, Bocah! Emang gak malu nangis sendirian? Gue temani deh biar gak dikira orang gila!" Arsjad mengambil tempat di samping gadis itu. Marsha yang sedang kesal dan malu semakin menundukkan wajahnya. Ia mendorong Arsjad agar menjauh, tetapi ia butuh sandaran, untuk saat ini bahu Arsjad lah yang tersedia. Marsha mengetatkan pelukannya di lengan Arsjad menumpahkan semua airmatanya. Arsjad sendiri memilih untuk diam. Ia tidak tau kenapa melakukan ini untuk Marsha "Pulang, yuk!' Arsjad sudah berdiri dan kini mengulurkan tangannya. Marsha melirik jam di tangan kiri kemudian memijit pangkal hidungnya. Gadis itu bingung mau pulang kemana karena rumahnya di penuhi oleh para penagih hutang "Gue ambil mobil dulu deh," Marsha menyambut uluran tangan Arsjad. Marsha berjalan sendiri ke tempat parkir yang letaknya di belakang. Pada saat ia membuka pintu mobil, ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang mencekal tangan kirinya. "Bisa bicara sebentar?" Marsha menyipitkan pandangannya. "Bicara apa? Gak ada yang perlu kita bicarakan, Bar!" Sahut Marsha dengan nada tinggi. "Sha, denger! Aku minta maaf udah ninggalin kamu kemarin, aku sadar kalau aku salah, aku cuma minta kamu nunggu. Setelah masalah ini selesai aku akan jemput kamu." Barry mengusap pipi Marsha kemudian memeluk gadis itu. Arsjad mengepalkan tangannya. Emosi tidak terkontrol melihat Marsha yang berpelukan dengan laki-laki yang tidak ia ketahui siapa. Sial! Katanya mau ngambil mobil, gak taunya malah mesra-mesraan. Tau begitu gue langsung pulang! Ia mengusap wajahnya kasar, kemudian meninggalkan tempat itu dengan langkah panjang. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD