9

1409 Words
Mana mungkin suamiku.. Pulang ke rumahmuuuuu... Tanpa kau suguhkan... tanpa kau hidangkan Gulaaa...gulaaa...gulaaa...gulaaa...gulaaa...gulaaa...gulaaa...gulaaa Yang maniiiiiiiiisssssss.... Arsjad melangkahkan kakinya ke arah dapur, ketika mendengar suara ibunya yang lebih terdengar seperti orang yang menggerutu daripada menyanyikan sebuah rangkaian nada yang harmonis. "Kayanya lagi seneng banget, Bu." "Eh kutil kurap eeehh!" Dengan tidak sengaja Martini menjatuhkan terung ungu yang ia lempar dari tangan kanan tangan kiri sebagai pengganti mic biar lebih mirip dengan penyanyi kesukaannya, Elpih Sukaesih. "Duhh anak ganteng, ngagetin ibu aja. Udah lapar kamu?"  Martini menaruh terungnya, kemudian menuang SKM untuk anaknya. Arsjad menggeleng, kemudian duduk di balai-balai yang ada di dapur. Walaupun terletak di lokasi strategis dan memiliki tanah yang harga jualnya tinggi, rumah Nazar di bangun dengan gaya sederhana. Martini memiliki dapur besar yang memiliki tungku untuk memasak air. Lupakan Aqua yang menambah daya konsentrasi otak atau Le Mineralle yang ada manis-manisnya. Apalagi air isi ulang seharga lima ribu segalon dengan embel-embel tulisan air pegunungan murni, padahal aslinya air sumur bor. Nazar tidak mau minum itu semua, dia lebih suka minum air yang direbus dengan tungku yang menggunakan bahan bakar kayu yang menghasilkan sensasi rasa ada sangit-sangitnya. Terkadang Martini bingung juga dengan sikap mertuanya yang tidak mau mengikuti arus modernisasi di era gombalisasi, yang bilang harga beras sekilo sepuluh ribu itu sangat mahal, tapi harga kuota internet 12Gb dua puluh ribu untuk paket tengah malam di bilang sangat murah. Emang situ mau chatting sama demit? Tidak dipungkiri, sikap mertuanya memberi dampak positif untuk keluarga, terutama dirinya. Di saat teman-teman sebayanya disibukkan mengurus mertua -yang bukannya insyaf- tetapi semakin galak dan cerewet padahal mulutnya sudah merot-merot karena stroke. Nazar mertuanya masih bisa bekerja dan memiliki uang untuk kebutuhannya sendiri atau kebutuhan dapur. Di waktu teman-teman sebayanya yang sudah tidak memiliki mertua, sibuk perawatan ini-itu. Tanam benang, setrika wajah, pake cream ini itu agar kulit kencang dan awet muda serta mengkonsumsi herbalife biar tetep langsing. Martini sudah mendapatkannya dengan gratis akibat pola hidupnya yang 'terpaksa' sehat. Bagaimana tidak sehat coba? Hampir separuh hidupnya sejak menjadi menantu Nazar dia hanya mengkonsumsi, tahu, tempe, sayur dan lalapan. "Kalau mau makan tunggu ya, Ar. Ibu lagi masakin makanan spesial buat kamu." Terlihat binar di mata wanita berkulit putih bersih itu. "Tumben, emang dalam rangka apa?" "Iya,  mumpung kakek kamu gak ada. Duhh kalau ada itu aki-aki mana bisa ibu belanja kaya gini," Martini menunjukkan potongan iga dan ayam yang sudah ia bersihkan. "Emamg kakek kemana?" "Tadi subuh-subuh pergi, katanya ada sedikit urusan. Gak ngerti urusan apa. Arsjad,  kamu udah urus surat talak belum?" Arsjad menyesap susunya sebelum dia menjawab pertanyaan ibunya. "Gimana mau di urus, itu anak susah banget ketangkepnya." "Lah... yang kemarin barter pake cincin, gak jadi?" Tanya Martini keheranan. Wanita itu menarik napas saat melihat gelengan lemah putranya. "Buruan diurus jangan lama-lama, duhh ibu gak kebayang punya mantu kaya dia. Bisa becek nih ibu kebanyakan makan timun." "Apa hubungannya, Marsha, becek sama timun?" "Ya adalah...ngadepin istri kamu sejam aja tensi ibu naik, mesti konsumsi  satu atau dua timun biar turun. Bayangin kalau kamu tetep nikah ama dia? Musti berapa banyak ibu makan timun? Apa enggak...ah udahlah. Kamu gak bakal ngerti juga." Martini mengibaskan tangannya kemudian lanjut menghaluskan bumbu. Arsjad hanya mengedikkan bahu tanda tidak mengerti ucapan ibunya. Setelah susunya habis dia berdiri kemudian mencuci cangkirnya. "Senin besok Ar udah kerja, Bu." "Beneran? Alhamdulillah." Martini menengadahkan tangan kemudian mengusap wajahnya yang penuh binar kebanggaan. "Ar, nanti kalau udah kerja kamu mesti cari istri yang baik dan berpendidikan, biar ibu cepet nimang cucu." Arsjad tersenyum mendengar ucapan ibunya. Sepertinya Corry adalah menantu yang pantas untuk ibunya. **** "Kamu mau pesan apa, Cor?" Tanya Arsjad sambil membolak-balik buku menu. Hari ini ia sedang senang, setelah berkali-kali ditolak akhirnya dia berhasil mengajak Corry keluar. Yaahh... walau sekadar makan bakso, tapi itu sudah satu kemajuan buatnya. "Yang ringan ajalah, kalau makan yang berat jam segini nanti ngantuk" Corry menjawab cepat. Arsjad mengangguk, setelah beberapa kali membalik buku menu dia memutuskan. "Mbak, pesan bakso satu, pempek kapal selam dua, minumnya lemon tea-nya dua sama es teler satu ya." "Saya ulangi ya mas, bakso satu, pempek kapal selam dua, lemon tea dua, es teler satu. Ada lagi?" "Eh iya, baksonya yang kecil aja yang baso halus, kuahnya sedikit jangan pakai daun seledri ya." Permintaan Arsjad hanya dijawab dengan anggukan oleh pelayan. Corry memandang Arsjad dengan takjub, setelah sekian lama laki-laki ini masih mengingat kebiasaannya kalau makan bakso. Arsjad mendongakkan kepalanya matanya bertemu dengan mata Corry. Tiba-tiba pemuda itu jadi salah tingkah. "Kok lo tau sih makanan kesukaan gue?" Corry memecah kecanggungan Arsjad. "Apa sih yang enggak aku tau tentang kamu, dari mulai nilai, hobi, makanan kesukaan sampai golongan darah aku juga tau. Yang gak tau cuma alamat rumah sama nama bapak." "Buat apa nama bapak?" Corry mengernyit heran. "Buat ijab kabul nanti." Gurau Arsjad. "Ada-ada aja, Lo. Ini bercanda kan?" "Bercanda boleh, serius Alhamdulillah," Makanan pesanan mereka datang, dengan sedikit grogi Arsjad memotong pempeknya dan memberikan kepada Corry untuk di campur ke baksonya. Corry terdiam, satu lagi kesukaannya yang tidak diketahui orang tapi di ketahui oleh pemuda itu. Dia lebih suka memakan pempek dengan kuah bakso dari pada cuko. Diam-diam Corry memperhatikan Arsjad. Dia semakin tampan sekarang, rambutnya yang dulu diponi ala kangen band kini dipotong model jabrik. Wajahnya yang dulu berminyak dan berjerawat kini bersih, kacamata tebal yang setia nangkring di batang hidungnya kini sudah tidak ada. Secara keseluruhan perubahan Arsjad goals yang sempurna. "Bian, elo banyak berubah ya. Dapet pacar bule apa?" Arsjad tersenyum, dia selalu menyukai cara Corry memanggil nama tengahnya. diantara semua teman semasa SMA hanya Corry satu-satunya orang yang memanggilnya Bian, artinya dia mendapat tempat spesial di hati wanita itu bukan? "Pasti kamu mau bilang tambah cakep ya? Kamu suka gak?" pertanyaan Arsjad membuat Corry tertegun. "Corry," "Bian" Arsjad dan Corry bicara berbarengan. "Kamu dulu deh," ujar Arsjad canggung. Corry berdehem, wanita itu sudah menghafalkan ucapannya sejak Arsjad mengajaknya makan siang. Entah kenapa melihat muka pemuda di depannya dia menjadi tidak tega. "Bi, bukannya gue kepedean. Tapi gue tau maksud lo ngajak gue keluar. Jawaban gue masih kaya yang dulu, gue cuma anggap elo sebagai teman gak lebih. Jadi maaf ya, Bi. Gue minta lo gak berharap lagi sama gue." "Glek!" Arsjad tersedak, pempek yang sedang setengah jalan menuju perutnya seperti kena razia, ditilang polisi. Semua berhenti, bola mata Arsjad membesar. "Tapi kenapa selama ini, Kamu..." ucapan Arsjad yang di ujung lidah terputus oleh ucapan wanita yang ia sukai. "Selama ini gue nyaman sama elo sebagai teman. Lagipula... gue udah punya pacar, Bi. Kami mau nikah setelah dia menyelesaikan sedikit masalah." "Jadi udah gak ada kesempatan?" Arsjad mencoba meyakinkan Corry. "Sorry, tapi dari dulu emang gak pernah ada kesempatan buat elo." Corry berdiri dari tempat duduknya. Bersamaan dengan itu, Marsha yang sejak tadi melihat mereka berbalik kemudian meninggalkan keduanya. **** Arsjad pulang dengan membawa sakit hatinya. Marsha yang berniat menemui kakaknya untuk menanyakan nasib rumah mereka,  diam-diam memperhatikan laki-laki itu. Dia merasa iba sekaligus menyesal karena selama ini sering mem-bully Arsjad. Sesampainya di rumah, Arsjad yang masih lesu karena di tolak langsung memasuki kamarnya. Martini merasa khawatir, ia mengetuk pintu kamar Arsjad yang hanya di jawab kalau putranya itu ingin istirahat. "Arsjad...makan dulu, Nak." Jam tujuh malam ia kembali mengetuk pintu kamar anaknya. Ogah-ogahan dia menyeret kakinya ke ruang makan dimana Ubay dan Martini sudah menunggunya. "Sini, Ar. Kita makan enak. Perbaikan gizi, mumpung gak ada kakek!" Dengan wajah semringah Ubay menyapa anaknya. Setelah kemarin makan siang dengan sup iga dan kacang merah, makan malam dengan ayam goreng mentega. Kini Martini memasak sop bakso halus, bakwab jagung dan sambal goreng udang yang diberi pete. Melihat bakso, Arsjad kembali terngiang dengan penolakan Corry. "Heh! Kenapa bengong? Ayo dimakan, ibu masak pas buat bertiga, takut kakek kamu tiba-tiba dateng." "Emang kakek kapan pulangnya? Lagian ibu juga dari kemarin masak yang enak-enak mulu. Kolesterol nanti." Ubay bersiap mengisi piringnya dengan nasi, air liurnya  sudah menetes sejak tadi. "Udah nikmatin dulu, ibu kamu kemarin dapat arisan." "Gak kolesterol deh, ibu kan masak tanpa micin atau penyedap. Kamu taukan yg bikin kolesterol ya dua bumbu itu." Ujar Martini sok tahu. Mereka bertiga bersiap menyantap hidangannya ketika tiba-tiba terdengar ucapan salam. "Assallamualiakum..." "Ibu mertuaaa...Ayah mertuaaa... Caca dateng nih." Martini, Ubay dan Arsjad menoleh di sana sudah ada Nazar dan Marsha yang menggeret dua buah koper besar berwarna merah dan biru. Marsha menaruh kopernya begitu saja, dengan lincah ia berjalan ke arah meja makan. Matanya berbinar melihat lauk yang terhidang di atas meja. "Waaaahhhh... Ibu tau aja sih, Caca mau dateng sampai mau repot masak makanan kesukaan Caca. Kakek, sini deh kita makan yuuuuk," Marsha mengajak Nazar duduk. Dengan cuek dia mengambil piring dan menikmati hidangan di depannya. Pasangan suami istri dan anak mereka memperhatikan raut wajah Nazar yang herannya terlihat senang walau menantunya memasak makanan yang tergolong mewah. Diam-diam Martini mengembuskan napas lega. Pandangan Martini beralih ke arah Caca. Sepertinya tidak perlu micin, penyedap atau makan daging domba pun kolesterolnya akan naik. **** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD