BAB 1

1554 Words
"Lo harus diet Nay!" "Lo gendutan ga sih?" "Dek, kamu diet sana! Menuh-menuhin kasur!" "Naya, kamu harus diet, biar langsing, jerawat kamu hilang, putih dan cantik kaya anaknya tante Mayang." "Naya, coba kamu lihat di kaca, papa lihat kamu kaya udah obesitas, stop makan coklat, udah bulat begitu." Semua kalimat itu teriang di pikiran Naya seolah sudah menjadi mimpi buruknya setiap hari, gadis berusia lima belas tahun itu sedang murung di kamarnya, mengingat semua kalimat itu. Teman, sahabat, ayah dan ibunya menyuruh dia untuk diet. Beratnya menjadi perempuan itu cuma satu, dinilai secara fisik, musuh bebuyutannya di timbangan. Aku mau tinggal di MARS!!!!!!!!!! Biar beratku jadi 50 kilo!!!! Naya selalu berteriak seperti itu dalam hatinya, rasanya berat menjalani diet, semua sudah Naya coba, dari OCD, diet mayo, diet Keto, diet GM. Semuanya gak enak! Semuanya bikin Naya stress! Belum lagi kalau dipaksa papanya jogging, dia sengaja lari di belakang biar bisa mampir minum es degan cak Tri. Rasanya menaikkan berat badan itu mudah, tetapi menurunkannya susah. Naya memiliki berat sembilan puluh sembilan kilogram, dengan tingginya yang hanya seratus lima puluh lima. Secara fisik, Naya memang terlihat pendek dan bulat, persis seperti yang ayahnya katakan. Pagi yang cerah untuk olahraga, tetapi Naya sudah sibuk dengan permen coklat dan novel romansa kesukaannya sembari berbaring. Telinganya memakai headset, sengaja agar tidak terganggu dengan suara gedoran pintu kamarnya. Bastian, kakak laki-laki Naya sedari tadi sudah mengetuk pintu Naya dengan emosi, sampai tangannya memerah, bibirnya tak henti memanggil Naya. "NAYA! NAYA BANGUN!!" teriak Bastian, Naya masih tak bergeming, dia malah mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan musik. Bastian sudah habis kesabarannya, niatnya mengajak Naya untuk jogging pagi hari, tetapi tidak ada respon dari Naya. Dia memilih jalan pintas, menuju balkon dan membuka paksa jendela kamar Naya. Seperti sudah ahli, hanya bermodal obeng Bastian bisa membuka pintu kamar Naya. Rasanya dia kesal sekali dengan sikap Naya yang susah diatur. Bastian memang tidak menginginkan Naya lebih berat lagi, Naya harus diet demi kesehatannya, kemarin semenjak Bastian membaca artikel online ada wanita obsesitas yang meninggal karena serangan jantung membuat Bastian was-was. Dia sangat menyayangi Naya, dua tahun kuliah di Amerika mengambil gelar S2 membuat Bastian menjadi jauh dengan Naya, namun semenjak dia kembali ke Indonesia dua minggu yang lalu, dia terkejut melihat keadaan Naya. Setidaknya dia mau melihat Naya memiliki badan yang sehat. Setelah mencongkel dengan mudahnya, Bastian menyibakkan gorden dan melompat masuk. Dia menghela napasnya, pantas saja Naya tidak mendengarnya, headset terpasang rapat di telinga Naya. "NAYA!" Bastian melompat ke kasur Naya dan memaksa melepas headset Naya. Adiknya cemberut menatap Bastian kesal. "Astaga apaan sih kak?!" ucap Naya kesal dan gemas. "Ikut gue JOGGING!" bentak Bastian. Dia menarik tangan Naya dan memaksa adiknya untuk bangun, coba kalian tebak apa yang terjadi? Bastian malah terpental menatap lemari ketika menarik adiknya, apalagi dorongan Naya sangat kuat. Bastian meringis kesakitan memegang pingganya dan memelototi Naya. "Woi! Tega lo ya sama abang sendiri! Bangun! Jogging! Atau gue laporin ke Mama lo ngabisin duit cuma buat jajan beginian doang," ucap Bastian. Ancaman Bastian seolah mengiris perasaan Naya, tidak bisa berkutik lagi kalau Bastian akan mengadu tentang ini semua. Naya akhirnya mengalah, daripada ibunya marah, bisa menjadi masalah baginya. Dia mendorong Bastian keluar kamar. "Tunggu di bawah, gue ganti baju." Bastian tersenyum sumringah mendengar Naya yang akhirnya mau menurutinya, dia menunggu Naya di bawah. Sedangkan Naya masih sibuk mencari baju dan trainingnya. Tangannya memilah-milah mana yang akan dia pakai, pilihannya jatuh pada training pink dan baju putih favoritnya. Sayangnya baru saja dia memakai sampai betis, kini training itu tak lagi muat. Terlalu lama memakai daster setiap hari membuat Naya tidak menyadari pakaiannya sudah tak muat lagi. "OH GOD! Yaampun kok gak cukup sih!!!" teriak Naya yang membuat seluruh penghuni rumah terkejut. *** "Naya, kamu kenapa teriak-teriak gitu? Lihat nih! Lipstik Mama jadi kecoret sampai pipi kan!" ucap Rosa, ibu Naya yang sedang menggunakan make up tetapi berantakan karena Naya. "Maaa!! Masa training sama baju aku udah enggak cukup lagi? Lihat deh Ma cuma sampai sini!" Naya mengucapkan dengan wajah murung, dia sangat kesal dan gemas dengan apa yang terjadi. "Kan Mama udah suruh kamu diet, tapi kamu malah—" Ucapan ibunya terhenti ketika melihat laci meja di samping tempat tidur Naya yang terbuka dan terlihat penuh ada begitu banyak makanan coklat manis di sana. "NAYA!! INI APA-APAAN?Astaga Arabella Anaya!! Kamu ngapain beli cemilan sebanyak ini Nak?" Ibunya lalu mengambil semua camilan itu dan membuangnya ke sampah. Semua camilan itu seharga ratusan ribu, melihat camilannya yang dibuang begitu saja oleh ibunya membuat Naya terduduk lemas. "Ma, kenapa sih harus dibuang? Itu aku belinya pakai uang gaji aku sendiri. Dosa juga lo Ma buang-buang makanan, kan sayang," ucap Naya menunduk, air mukanya berubah menjadi sedih, hampir saja akan menangis. "Sekali lagi Mama lihat kamu beli camilan, uang gaji kamu Mama yang pegang, harusnya kamu sadar Naya! Lihat di kaca, kamu udah gendut gak berbentuk badannya, jadi udah stop makan-makanan manis ini!" Anaya hendak membuka suara lagi, tapi ibunya sudah pergi menutup kamar.  "Mama berangkat mau arisan dulu," ucap ibunya sebelum menjauh dari pintu kamar Anaya. Naya berjalan lemas dan memunguti camilannya yang masih utuh, untung tempat sampahnya masih bersih, dia menyimpan semua camilan itu ke dalam kantung plastik. Setidaknya jika camilan ini tidak masuk perutnya, dia berniat memberikan kepada bocah-bocah yang suka bermain di lapangan kompleks. Naya akhirnya turun menggunakan daster dan kaus kaki, dia tidak memiliki baju lain yang cukup selain daster ini, bahkan kemeja Naya sudah tidak ada yang cukup. Naya kembali ke kamarnya, dia duduk di pinggir tempat tidur berpikir sejenak, dia lalu mencari kardus dan memasukkan baju-bajunya yang sudah tidak cukup lagi. Semua, hampir semua baju kemeja yang bagus sudah tidak cukup, niatnya dia akan memberikan ini ke yayasan yatim piatu. Naya kembali turun setelah selesai, membawa kantung plastik berisi camilan dengan kardus pakaiannya. "Loh lo kenapa masih pake daster? Ayo jogging Nay," ucap Bastian. "Iya gue bawa ini sekalian, mau gue sumbangin." Bastian tidak bertanya lagi, dia sudah melihat isi kardus dan plastik itu. Sejenak Bastian tersenyum, dia senang Naya mau berubah. "Trus lo lari mau pake daster?" tanya Bastian. "Iyalah mau pake apalagi? Gaada yang cukup." Naya menjawab dengan cuek Bastian lalu menggunakan sepatu olahraganya. Tidak peduli dengan Bastian yang menertawakannya. "Sini, gue bawain. Lo jogging duluan, sampai lapangan kompleks, lo berhenti, tungguin gue." Naya tidak menjawab, dia hanya mengangguk, bekerja sebaga freelancer design grafis membuat dia hanya duduk dan memandangi laptob sembari memakan cemilan. Tanpa dia sadari kini berat badannya berlebih. Padahal setahun yang lalu, Naya masih tidak segemuk ini. "Naya? Lo Naya kan?" Sapa seorang perempuan di tengah Naya asik jogging dengan daster bermotif beruang. "Iya, lo Sita kan?" "Iya ini gue, Sita. Oh My God ternyata lo tinggal di sini? Gue baru pindah kemarin. Apa kabar lo? Makin subur deh kayanya. Lo hobby jogging juga? Yaudah bareng yuk," tawar Sita. Naya tersenyum dan mengangguk, meski dulu saat berteman di bangku SMP Sita tidak terlalu dekat dengan Naya, tetapi entah kenapa Naya merasa lebih akrab dengan Sita yang ramah saat ini. "Wih gila lemaknya goyang semua." "Yaampun gede banget si badannya, gue jadi ngeri." Naya menghentikan langkahnya, menatap ibu-ibu yang asik membeli sayur tetapi menggosipinya. Naya gemas hendak marah, namun Sita mencegahnya. "Ngapain lo marah? Kan emang kenyataannya gitu? Lo emang gendut sekarang Nay, yaudah gapapa, lanjutin aja joggingnya," ucap Sita. Dia berlari duluan meninggalkan Naya dengan kesal. Naya menghela napasnya, dia kira Sita akan bisa menjadi teman baiknya, tetapi keyataannya tidak. Sita tetaplah Sita, gadis manja yang suka menilai orang secara fisik. Dari dulu SMP dia tidak pernah berubah. Naya berjalan dan duduk di pinggir lapangan, tak lama Bastian duduk di sampingnya. Wajah Naya terlihat murung, seperti kesal tetapo dia tidak bisa melampiaskannya. "Kenapa lagi lo? Tuh bocil-bocil pada ngumpul, nih bagiin Nay," ucap Bastian memberikan kantung plastik berisi camilan Naya yang masih utuh. Naya lalu beranjak dan memberikan kepada anak-anak itu, kebanyakan dari mereka lelaki, hanya ada dua perempuan. "Dek, ini aku punya jajan, ambil ya," ucap Naya. "Weee ada gajah lewat!! Awass minggirr!!" ucap salah satu anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh tahun itu. "Babon ini bukan gajah!" "Kuda nil yang bener!" Karena dia semua ikut mengejek Naya. Naya tidak tahan dengan mereka, dia menghela napas dan meletakkan begitu saja kantung plastik berisi camilannya pada keranjang sepeda salah satu gerombolan bocah itu. Dia lalu menghentakkan kakinya dan berbalik. Naya menunduk lemas, kenapa semua orang tega mengejeknya. Dia duduk kembali di pinggir lapangan, entah kemana perginya Bastian, kakaknya juga tidak ada di sini. Naya menoleh ke arah belakang, dia memincingkan matanya, pantas saja kakaknya pergi, dia melihat kakaknya berbincang dengan Tasya, perempuan yang sebaya dengan kakaknya teman masa kecil Bastian. Naya memberengut kesal dia lalu mengambil kardus pakaiannya dan membawanya ke panti asuhan yang tidak jauh. "Loh Mbak, bajunya masih bagus, kenapa di sumbangkan semua?" tanya mbak penjaga yayasan yatim piatu. "Iya, udah enggak cukup." Naya menjawab dengan tersenyum sebaik mungkin, menyembunyikam rasa kesalnya hari ini. "Kenapa ga disimpan aja Mbak? Kan bisa dipakai lagi kalau ... sudah kurus." Naya benci tatapan orang itu, menatapnya rendah, menilai tubuhnya dari atas sampai bawah. "Enggak Mbak, saya sumbangin aja." Naya kembali pulang sembari menunduk, dia memeluk tubuhnya sendiri menyilangkan tangannya dan menyentuh lengannya. Semuanya memang besar dan terlihat berlemak, tapi apa itu berarti aku tidak berhak hidup di dunia ini? Kenapa semua orang menyakitiku? Batin Naya tersiksa, tetapi dia hanya bisa diam menunduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD