Setelah liburan semester, inilah saatnya Naya kembali ke sekolah untuk memulai ‘perang’nya kembali, bagi Naya memasuki kawasan SMA Garuda Nusa membuat dia jantungan setengah mati. Bagaimana tidak, hampir semua mata tertuju padanya, sudah pasti karena tubuhnya yang mulai membesar.
“Lo Naya?” sapa salah seorang temannya menepuk pundak Naya, memperhatikan Naya dari atas sampai bawah. Tatapan itu, menjengkelkan! Membuat Naya kesal, memberengutkan wajahnya.
“Iya, gue Naya.”
Langkah kaki Naya terhenti di koridor sekolah, meladeni Rifka—teman sebangkunya yang mulai menginterograsi Naya sebelum masuk ke kelas.
“Gila! Lo ngapain Nay sampai bengkak gini? Astaga gue kira lo siapa coba, Oh God lo gede banget loh, lo sakit? Kena kanker?” tanya Rifka
Spontan Naya menepuk pipi Rifka pelan dan berkata, “Sembarangan lo kalau ngomong! Amit-amit gue kena kanker!”
Rifka tertawa puas melihat reaksi Naya, tangan kanannya menggamit Naya mengajaknya masuk ke kelas. Meski mereka bersahabat, tetapi Rifka selalu blak-blak an dan easy going dengan Naya seolah Naya tidak tersinggung dengan setiap ucapan Rifka.
Naya duduk di samping Rifka, dia masih sebal menatap teman-temannya yang melihatnya dengan tatapan aneh seperti itu.
“Gue gendut banget ya emang?”
Pertanyaan Naya tidak seharusnya dia lontarkan, jelas saja dia gemuk, semalam saja dia menghebohkan satu rumah untuk mencari seragam baru untuk sekolah. Ukurannya naik tiga kali lipat.
“Iyalah Nay, lo dulu itu ga segini tau! Lo dulu seringan kapas, kenapa sekarang seberat karung beras gini?” ucap Rifka.
Naya hanya mendengkus, dia merebahkan kepalanya ke atas meja, menelungkupkan wajahnya, perasaannya campur aduk, antara malu dan kesal. Yasudahlah, mau bagaimana lagi? Naya hanya bisa pasrah.
Rifka masih heran dengan sahabatnya, dia memperhatikan Naya dari atas sampai bawah, dia benar tidak menyangka jika Naya sangat gemuk seperti sekarang.
“Nay, bangun, guru udah masuk.”
Naya mengucek matanya sebentar dan menatap ke depan, guru Fisika mereka telah datang.
“Selamat pagi semuanya, selamat belajar kembali setelah liburan semester, hari ini kita kedatangan teman baru, ibu harap kalian bisa berteman dengan baik.”
Sontak semua murid segera menghadap ke depan, mereka penasaran dengan siapa yang menjadi murid baru. Naya pun begitu, dia mendogak, matanya ingin mencari tau siapa teman barunya kali ini.
“Leo, silahkan masuk.”
Saat itu juga terlihat seorang lelaki tegap dengan sepatu fantofelnya yang hitam mengkilat, rambut hitam legamnya dan iris mata biru terang, hidungnya mancung, dan alisnya tebal. Tampan, menawan. Leo Arthur, siswa blasteran German-Indonesia yang baru saja pindah.
Semua mata tertuju padanya, tidak ada mata yang bisa mengalihkan pandangan dari Leo.
“Selamat pagi, nama saya Leo Arthur, saya siswa asal Lawrence Academy. Semoga teman-teman bisa berteman baik dengan saya.”
Leo mengucapkan bahasa Indonesia dengan fasih, dia lalu duduk tepat di bangku seberang milik Naya.
“Nay, bule tuh.”
“Iya, gue juga tau,” balas Naya cepat, dia memalingkan wajahnya saat Leo menatapnya. Mata Naya kembali fokus dengan papan tulis di hadapannya.
Dua jam kemudian, bel istirahat berbunyi, ini dia waktu yang ditunggu-tunggu Naya, waktu yang pas mengisi perutnya, saatnya dia untuk memulai makan bakso pak Salam yang nikmat. Selama liburan bakso pak Salam selalu menjadi angan-angannya saat masuk sekolah.
“Rif, gas yuk.” Naya mengajak Rifka sambil menaikkan alisnya.
“Lo yakin? Ini lemak nambah ntar,” ucap Rifka sambil mencubit-cubit gemas lengan Naya dengan gemas.
“Ish biarin, yang penting bakso pak Salam! Lets go!”
Rifka hanya tertawa kecil melihat temannya yang begitu bersemangat soal makanan. Rifka sebenarnya tau kenapa Naya seperti ini, Naya berubah sejak peristiwa itu, dia lebih memikirkan makanan dan cuek dengan lelaki manapun.
“Nay, liat tuh antriannya panjang banget.”
Rifka menatap antrian bakso pak Salam yang panjang, sungguh dia enggan mengantri saat ini, justru warung mie ayam masih lenggang.
“Nay, mie ayam aja gimana?” tanya Rifka.
Naya menggeleng, dia hanya mau bakso, sekarang juga. Dia tidak mau yang lain. Hanya bakso pak Salam.
“Enggak mau Rif, lo aja, gue cuma mau bakso.”
Naya lalu mengantri, demi dua mangkuk bakso, dia rela untuk mengantri panjang. Beberapa siswa lainnya yang mengantri tak hentinya menatap Naya. Entah mereka berbisik apa, Naya tidak tau, tapi yang jelas Naya tau mereka memperhatikan bentuk tubuh Naya. Sungguh keterlaluan, Naya menjadi kesal dibuatnya. Dia menghentakkan kaki lalu pergi dari barisan antrian. Moodnya kian memburuk.
Langkah kaki Naya beralih menuju perpustakaan, entah kenapa dia hanya ingin ke sana. Sebelum Naya masuk, dia melihat ada banyak siswi sedang mengintip dari luar perpustakaan. Sepertinya ada pemandangan yang mencolok sampai banyak sekali yang mengintip.
“Nay! Tungguin gue!” teriak Rifka dengan napas tersengalnya mengejar Naya.
“Lo sih lama, udah makan mie ayamnya?” tanya Naya.
“Udah, kenyang gue, porsinya ditambahin sama Pak Soleh.”
Naya hanya mengangguk, mengajak Rifka masuk ke dalam perpus, pantas saja banyak gadis yang mengintip di luar, ternyata ada Leo di sini, siswa baru tampan. Lain halnya dengan gadis lainnya, Naya lebih cuek, dia sama sekali tidak memperhatikan Leo, bagi Naya Leo memang tampan, sangat tampan, tetapi tidak cukup memikat hatinya. Ada satu lelaki dalam pikiran Naya yang selalu menghantuinya.
Revaldo, teman SMPnya dulu yang dia sukai sekaligus cinta pertamanya, siswa X IPS 3 sekaligus ketua OSIS SMA Garuda Nusa. Naya dulu pernah mengira bahwa mereka berdua adalah takdir ketika masuk di SMA yang sama. Ternyata semua itu salah, saat Naya dengan percaya dirinya, dia mendekati Revaldo tanpa henti, mengungkapkan perasaannya secara langsung, namun Revaldo menolaknya mentah-mentah. Semenjak itu Naya tidak pernah mau lagi mengejar lelaki, keberaniannya menciut dan dia lebih pendiam.
“Nay? Lo cari buku apa di sini?” tanya Rifka.
“Entah.”
Leo sengaja menjulurkan kakinya, tak tau kenapa saat ini dia ingin menjahili Naya. Benar saja, Naya tersandung dan jatuh tersungkur. Sontak semua yang di perpustakaan melihat Naya tertawa lebar. Naya menatap Leo dengan kesal dan berdiri.
“Eh bule gapunya sopan santun! Lo ngapain sih cari gara-gara?!” bentak Naya langsung.
Kegaduhan itu membuat guru penjaga perpus datang dan melerai mereka. Leo tak menjawab, hanya menaikkan alisnya dan pergi dari perpustakaan.
“Dia kenapa sih? Anak baru tapi jahil banget tiba-tiba.”
Naya merasa heran dengan sikap Leo, mereka belum kenalan sama sekali, tetapi Leo malah ‘menyapa’ Naya dengan cara yang unik.
“Udah Nay, sabar orang ganteng mah bebas,” ucap Rifka.
Naya hanya mendengkus sebal, mengembalikan buku dan kembali ke kelas sebelum bel berbunyi, dia menatap Leo yang sedang tidur menelungkupkan wajahnya. Naya berdiri tepat di samping Leo dan menjambak rambut Leo.
“Ouch! It’s hurt!” bentak Leo. Naya tak peduli dengan Leo yang meringis kesakitan. Dia belum melepaskan jambakannya dari kepala Leo, sampai teman-teman perempuan sekelasnya membantu melepaskan sekuat tenaga.
“Lo ngapain sih Nay!”
“Astaga Naya! Lo brutal banget! Sakit kan tuh si Leo!”
“Nay! Udah Nay lepasin Leo!”
Naya akhirnya melepaskan jambakannya, dia melihat satu persatu teman sekelasnya, semua membela Leo yang tampan, semua tidak ada satupun yang membela Naya termasuk sahabatnya sendiri—Rifka yang ikut memarahinya. Naya kesal, dia memberengutkan wajahnya dan duduk di bangkunya.
“Lo ngapain sih Nay kaya tadi? Childish banget tau enggak? Lo mau bales dendam sama Leo? Dia itu ga sengaja kali jegal lo waktu di perpus, udahlah, cuma masalah kecil ngapain sih diperbesar.”
Ucapan Rifka itu membuat Naya semakin kesal karena malah membela Leo. Naya menghela napasnya kasar dan menatap Rifka tajam.
“Gue yang jatuh! Gue jelas-jelas lihat dia itu sengaja Rif!” bentak Naya.
“Enggak, gue gak sengaja kok, lo aja yang sensi,” sahut Leo.
Naya tak tau harus membalas sahutan apalagi, dia bangkit membereskan semuanya dan membawa tasnya untuk pulang lebih awal.
“Kalian semua busuk!” ucap Naya sebelum meninggalkan kelasnya.
Dulu Naya gadis yang ceria dan memiliki banyak teman, saat pertama kali masuk SMA Garuda Nusa, Naya memiliki empat sahabat, Rifka, Reza, Farah dan Rio. Persahabatan mereka baik-baik saja sampai Naya menyatakan cintanya pada Revaldo tapi ditolak, kejadian itu membuat peretengkaran dan persahabatan mereka pecah, belum lagi Reza, Farah dan Rio kini hanya mau berteman dengan siswa yang populer saja. Saat melihat fisik Naya yang berubah, mereka tidak mau lagi berteman dengan Naya, masih tersisa Rifka, tapi kini Rifka pun sama saja, tidak membela Naya sedikit pun, padahal jelas-jelas Leo yang jahil dan salah.
Naya berlari sampai depan gerbang sekolah, sayangnya masih dikunci, satpam pun tak memperbolehkan Naya untuk pulang saat ini.
“Belum waktunya pulang neng,” ucap satpam itu ketika Naya memaksa untuk keluar.
“Bukain Pak! Nanti saya belikan bapak rokok deh,” ucap Naya.
“Enggak boleh neng, udah sana masuk.”
Naya kesal dibuatnya, dia akhirnya menuju gerbang belakang, niatnya ingin memanjat pagar tinggi namun dia malah bertemu dengan kakak kelas yang sedang merokok. Begitu melihat Naya datang, dia langsung membuang rokoknya padahal masih panjang. Naya mendekat dan menginjak rokok itu.
“Woi lo ngapain nginjek rokok gue?”
Naya melihat sekilas nama yang ada di seragamnya, Alan Gardian dan bed kelasnya XII IPS 2
“Di sekolah ga boleh ngerokok.”
Naya menjawab singkat lalu berniat memanjat pagar, namun baru saja satu pijakan naik, Alan mencegahnya.
“Bolos itu juga gaboleh.”
“Gue mau pulang,” ucap Naya.
“Lo percuma juga naikin itu pagar, gak bakalan bisa, badan lo tuh kegedean,” ucap Alan.
Naya lalu turun dan menatap Alan. Memperhatikan setiap inchi wajah Alan, dari wajahnya saja sudah terlihat seperti preman dan suka membuat masalah, dan Naya terperangkap menjadi bagian masalah hidup Alan.
“Lo bantuin gue naik, gue beliin rokok. Gimana?” tawar Naya sembari menaikkan alisnya.
“Boleh, gue sekalian bolos kalau gitu.”