Angin besar menerpa wajahnya. Dia berada di lantai paling atas perusahaan milik ayahnya. Tatapannya kosong memandang hiruk pikuk keramaian ibu kota di bawah sana. Dia suka tempat ini, dimana ia bisa menatap orang-orang di bawah sana, sedangkan mereka tidak akan bisa melihatnya. Ia tersenyum getir, dia benci terhadap dirinya sendiri yang lemah. Dia benci selalu menjadi bahan olok-olokan, ia benci tidak bisa melawan mereka yang melukainya. Hanya karena satu kelemahannya dia selalu tampak tak berdaya. Tangannya menggengam sebuah cutter berkarat yang ia temukan di tempat ini. Apa tidak ada sedikit kebahagian yang Tuhan janjikan seperti orang-orang bilang padanya? Salah satu kebahagiannya yang ia percaya akan selalu menjadi pertahanannya sekarang bahkan perlahan meninggalkan

