Bab 1. Terpikat Malaikat Bercadar
“Benci aku sesukamu, Aisha. Setidaknya, rasa benci itu membuat matamu hanya tertuju padaku,” ujar Arian dalam hati. Ego dan obsesinya bertabrakan di dalam d**a saat ia menatap wanita di hadapannya yang baru saja menggoreskan pena di atas kertas bermaterai.
“Kau sudah masuk ke duniaku malam itu, dan kau tidak akan bisa lari ke mana pun lagi. Mulai besok, kau berada di rumahku, di bawah kewenanganku. Dan perlahan, aku bersumpah akan membuatmu menyerahkan hatimu padaku, sama seperti kau menyerahkan kebebasanmu di atas kertas ini.”
Aisha Rahma menarik kembali tangannya dengan tubuh yang sedikit bergetar. Di bawah lampu ruang kerja Vance Group yang dingin, ia menatap lembar pernikahan kontrak yang kini telah sah secara hukum. Dadanya sesak. Ia merasa baru saja menandatangani surat penyerahan diri kepada iblis.
Aisha mengalihkan sepasang mata bulatnya yang jernih, menatap Arian Vance, CEO tiran yang berdiri tegap di depannya dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan. Aisha membenci pria ini. Sangat membencinya. Pria inilah yang tega mengancam akan meratakan panti asuhan dan tanah warga Gang Angin jika Aisha tidak mau tunduk dalam pernikahan sandiwara ini.
Aisha mengepalkan tangan di balik gamis longgarnya, menahan air mata kehancuran yang mendesak keluar. Ia mengira dirinya sedang berkorban demi warga. Ia tidak pernah tahu, pernikahan ini bukanlah hukuman atas kelancangannya menentang proyek triliunan milik Vance Group.
Pernikahan ini adalah jebakan murni yang dirancang dengan sangat rapi oleh sang tiran... sejak malam berdarah tiga minggu yang lalu.
Tiga Minggu Sebelumnya...
Satu peluru berhasil menembus lengan kanannya.
Arian Vance mendesis, bersandar pada dinding bata yang lembap di ujung Gang Angin yang buntu. Cairan kental berwarna merah pekat merembes di sela-sela jarinya, menodai kemeja sutra putihnya. Namun, yang paling mencolok malam itu adalah topeng pesta logam hitam legam berukir emas yang masih melekat erat, menyembunyikan identitasnya.
"Sialan," umpat Arian dengan suara bariton yang serak. Matanya yang sewarna elang berkilat tajam di tengah kegelapan.
Sebagai pemimpin tertinggi sindikat mafia keluarga Vance, yang menyembunyikan taringnya di balik jubah CEO korporasi, ia tidak menyangka akan dijebak oleh klan saingan malam ini. Ajudannya terpisah, ia kehilangan banyak darah, dan kini empat pembunuh bayaran berjaket tudung hitam telah mengepungnya dengan belati dan pistol berperedam.
"Jangan biarkan dia lolos hidup-hidup!"
Arian tersenyum sinis, menertawakan takdirnya. Pandangannya mulai mengabur akibat syok dan kehilangan darah. Tepat ketika salah seorang pria membidikkan senjata ke arahnya, sebuah bayangan hitam melesat turun dari atas atap seng dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Wush! KRAK!
Sebelum musuh sempat menyadari apa yang terjadi, sosok misterius itu bergerak bagai angin malam. Hanya dalam hitungan detik, tendangan presisi dan sapuan kaki yang mematikan terdengar beruntun diiringi suara tulang yang bergeser dan erangan kesakitan.
Empat pembunuh bayaran profesional itu tumbang ke atas aspal basah dalam sekejap mata. Tanpa darah, tanpa suara tembakan balasan.
Arian terpaku. Rasa sakit di lengannya lenyap, digantikan oleh rasa takjub yang menghentak dadanya. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah melihat seseorang bertarung dengan kombinasi keindahan dan efisiensi yang begitu mematikan. Gamis longgarnya yang berkibar membuat wanita itu tampak seperti malaikat maut yang dikirim dari kegelapan.
Suasana kembali sunyi saat wanita itu melangkah mendekati ceruk dinding tempat Arian bersandar.
Seketika, aroma minyak zaitun yang bersih berbaur dengan keharuman mawar yang lembut merasuk ke indra penciuman Arian. Aroma yang begitu menenangkan, sangat kontras dengan bau anyir darah di gang tersebut.
Wanita itu berlutut di depannya. Sepasang mata mereka bertemu dalam jarak dekat.
"Anda terluka parah," suara wanita itu terdengar lembut, bening seperti gemercik air, namun memiliki nada otoritas yang kuat.
Arian tidak menjawab. Ia tetap mengatupkan bibir tipisnya rapat-rapat, menahan erangan sakit sekaligus enggan mengeluarkan suara yang bisa menjadi petunjuk identitasnya di wilayah kumuh ini. Rahang tegasnya mengeras, matanya yang sewarna elang hanya menatap dalam-dalam wanita di hadapannya.
Wanita itu tidak mempedulikan kebungkamannya. Dengan gerakan cekatan, ia merobek ujung gamis hitamnya sendiri dan membebat luka tembak Arian dengan kuat untuk menghentikan pendarahan. Sentuhan tangannya yang dilapisi sarung tangan kain tipis terasa hangat di kulit Arian yang mendingin.
"Pendarahannya sudah berkurang, tapi pelurunya harus segera dikeluarkan. Bertahanlah," ucap wanita itu lagi.
Tiba-tiba, lampu sorot mobil yang terang membelah kegelapan gang, disusul suara decitan ban. Leo, ajudan kepercayaan Arian, melompat keluar bersama belasan pria berjas hitam dengan senjata lengkap.
“Tuan!”
Melihat bantuan untuk pria asing bertopeng ini telah tiba, wanita bercadar itu tahu tugasnya selesai.
"Ajudan Anda sudah datang. Anda aman," bisik wanita itu pelan.
Ia langsung berdiri, berbalik, dan melompat menghilang di balik dinding rumah tua sebelum orang-orang itu mendekat.
Sebelum Arian sempat meraih jemarinya atau menahan kain gamisnya, wanita itu sudah bergerak mundur. Dengan kelincahan yang menakjubkan, ia melompat ke atas tumpukan peti kayu, memanjat pagar beton tinggi, dan lenyap ditelan kegelapan malam serta rintik hujan yang kian menderas.
Arian terengah. Tangannya yang gemetar terulur ke udara kosong, hanya menangkap sisa keharuman mawar yang ditinggalkan wanita itu.
"Tuan Besar! Demi Tuhan, Anda terluka!" Leo berlari mendekat dengan wajah pucat pasi. "Maafkan saya, Tuan. Jalanan diblokir oleh klan saingan, kami terlambat—"
"Diam, Leo," potong Arian dingin.
Ia perlahan melepas topeng logam hitam-emas dari wajahnya, lalu melemparkannya ke aspal basah. Leo seketika membungkam mulut saat tatapannya turun, menyadari empat pembunuh bayaran profesional di sekitar mereka telah terkapar dengan tulang rahang dan d**a yang remuk.
"Tuan... siapa yang melakukan semua ini?" tanya Leo dengan dahi berkerut ngeri.
Arian tidak menjawab. Sambil membiarkan tubuhnya dipapah masuk ke dalam kabin Rolls-Royce hitam miliknya, matanya terus terpaku pada dinding tempat wanita bercadar itu menghilang. Rasa penasaran yang membakar dan ego yang terusik memicu obsesi baru yang berbahaya di dalam dadanya.
"Gali seluruh sudut kota ini, Leo," perintah Arian, sepasang mata elangnya berkilat tajam di tengah temaram kabin mobil. "Aku tidak peduli berapa banyak mata-mata yang harus kau bayar. Cari wanita bergamis dan bercadar hitam yang baru saja melompati dinding itu."
Leo tersentak bingung. “Wanita? Wanita yang mana, Tuan?”
Napas Arian kian berat saat kesadarannya perlahan mulai menipis akibat kehilangan terlalu banyak darah. Tapi dia tidak menghiraukan pertanyaan yang keluar dari bibir tangan kanannya tersebut.
"Gunakan seluruh jaringan dunia bawah dan jalur legal kita. Aku ingin tahu siapa nama di balik cadar itu. Jangan kembali sebelum kau menemukannya."
"Baik, Tuan Besar. Segera," jawab Leo patuh, meski batinnya terguncang melihat sang pemimpin tiran begitu terobsesi pada wanita asing yang bahkan tidak diketahui wajahnya.
Mobil mewah itu melesat membelah malam, meninggalkan Gang Angin yang kembali sunyi.
Arian Vance, dalam sisa kesadarannya yang meredup, tidak pernah tahu bahwa malaikat pelindung beraroma mawar yang tengah dicarinya adalah Aisha Rahma. Wanita pembangkang yang paling lantang memimpin ratusan warga untuk menolak proyek mega-resort miliknya.
Wanita yang wilayah areanya akan ia ratakan dengan tanah tanpa ampun esok hari.