Bugg...
Tubuh mungil Ara nyaris terpental, saat sesosok tubuh jangkung yang berjalan sempoyongan menubruknya.
"Heh..! Kuntilanak minggir Lo...!" Bentak sosok jangkung itu.
"Astagfirullah..., Ma... Maaf bang..". Kaget Ara.
"Abang...!? Lo fikir gua Abang baso hah?!" Bentak si jangkung dengan sorot mata yang hilang fokus, mengacungkan telunjuknya yang juga hilang fokusnya ke muka Ara.
"Ada juga kuntilanak gentayangan manggil gua Abang. Iiih.." Gumam pemuda jangkung itu bergidik sambil berlalu dari hadapan Ara, lanjutkan langkah sempoyongannya.
Gadis berjilbab putih itu pun berdecak. Lanjutkan langkahnya menuju pondok Al- Kahfi. Seperti biasanya saat dini hari.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka menyempatkan shalat tahajud bersama. Kemudian melanjutkan tadarus dan membahas materi singkat seputar tajwid. Hingga adzan subuh berkumandang.
***
Di lain tempat keriuhan pun terjadi.
"Buka..! Gua balik..!" Teriak pemuda jangkung, menubruk pintu rumahnya, sambil menggedor keras- keras.
"Astagfirullah Araz...?! Kenapa kamu nak?! Kenapa anak Ambu teh?! Bangun kasep..., Bangun.., Abah...! Abah...! Araz Bah...!" Teriak Ambu yang tengah memeluk tubuh jangkung itu histeris. Mendapati anak lelakinya ambruk tersungkur di depan pintu. Tepat di hadapannya.
Abah Romli yang baru saja selesai witir segera memburu istrinya.
"Ck... Mabok dia Ambu..!" Geram Abah Romli. Namun tak urung memapah anak bujangnya itu ke kamar. Di tahannya sesak dalam dadanya.
Pikirnya, tak ada gunanya ceramahi orang yang tengah tidak waras. Sehingga ia biarkan dulu kondisi anak bujangnya itu membaik.
" Abah.., salah apa atuh kita teh..? Kenapa Aras jadi kaya gini?!" Ambu tergugu, masih di depan pintu rumahnya.
"Shuutt... Sudah atuh Ambu.., kita teh mesti tenang... Abah yakin pasti Allah beri jalan keluarnya..." Abah Romli memapah tubuh renta kekasih halalnya itu, dan mendudukkannya di kursi ruang tamu.
Menarik tubuh renta itu kedalam pelukannya, mengelus punggungnya. Coba salurkan ketenangan ke dalam relung kalbunya.
Sejenak menghela nafas berat.
"Entah kenapa kelakuan anak itu berubah, Ck.., dan makin hari makin menjadi... Abah juga bingung., gimana lagi cara nasehatin anak itu... Nanti Abah ngomong sama Araz.. " Gumam Abah Romli. Sementara Ambu masih larut dalam tangisan.
Tak bisa dipungkiri. Ia pun rasakan hal yang sama dengan istrinya. Namun apa boleh buat, tak mungkin ia pun ikut menangis tergugu. Mengingat bahwa ia kepala keluarga yang harusnya bisa mengayomi anak dan istrinya.
Merasa gagal?
Mungkin itu yang dirasakan Abah Romli sekarang.
"Sudah..., sudah Ambu...,kita harus tenang. Anggap ini ujian atau mungkin teguran dari Allah. Kita mohon ampunan-Nya. Ambu belum witir kan..?" Lirih Abah Romli. Menangkup wajah sang istri. Ambu pun mengangguk.
"Ayo ambil wudhu lagi, lanjut witir. Abah juga mau ke pondok, sebentar lagi subuh. Kita sama- sama mohon petunjuk Allah buat anak kita.." Gagas Abah yang di angguki Ambu.
Ambu beranjak, laksanakan titah Abah.
---
Sementara di dalam kamar, di atas tempat tidur yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung dua manusia dewasa. Saat ini tengah terbaring sosok jangkung. Asanya mengawang- ngawang entah dimana. Wajahnya tampannya semakin hari nampak semakin tirus. Dari mulutnya tetcium aroma tajam yang menusuk indera penciuman. Penampilannya benar- benar berantakan.
Alam Permana Al Firaz, akrab disapa dengan nama Araz. Lelaki tampan berusia cukup matang untuk membangun rumah tangga. 27 tahun usianya saat ini.
Saat ini ia mengelola sebuah usaha dibidang farmasi di kotanya. Terbilang cukup mapan untuk standar keluarga rata- rata di desanya.
Sebenarnya ia pemuda yang baik. Karena memang Abah dan Ambu mendidiknya sedari kecil dengan bekal pondasi agama yang kuat.
Namun semua itu seolah berubah begitu saja saat hadirnya sosok wanita metropolis diperusahaannya. Tepatnya sebagai sekretarisnya.
Anggun Paramita namanya. Gadis cantik yang berhasil memikat hati Araz. Yang telah mengubah dunia Araz seketika. Mengenalkan dunia malam, dan berbagai macam budaya ibu kota.
Sementara Araz yang jatuh cinta pada pandangan pertama tak lagi berfikir panjang. Mengikuti semua kehendak Anggun. Dengan dalih bahwa ia telah cukup dewasa dan bisa menjaga diri. Tak ia sadari bahwa setan punya lebih dari seribu cara untuk menariknya.
Keluar masuk club malam kini sudah menjadi hal lumrah baginya, meski tak sampai meneguk cairan haram. Sekedar habiskan waktu bersama sang kekasih tercinta. Kerap pulang tengah malam. Meski Abah dan Ambunya kian protes. 'Ada kerjaan' itu alasan yang kerap diberikannya.
Alam Permana Al- Firaz POV
"Sorry guys, gua ke toilet bentar.." Pamit Araz, setelah sebelumnya berbisik pamit pada Anggun.
"Yo'i Coy..." Sahut Revan. Acungkan kedua jempol tangannya.
Revan melompat ke sisi anggun, begitu Araz tak lagi terlihat. Ditelan kerumunan para pencari kesenangan dunia malam.
"Kapan kita main lagi Yang.." Bisik Revan s*****l di telinga Anggun.
"Apaan sih. Ketauan Araz nanti.." Sahut Anggun, mendorong d**a Revan.
"Aku kangen banget nih main sama kamu.." Aku Revan merayu.
"Sudahlah Van, lupakan..! itu cuma ONS, oke. Anggap malam itu gak pernah ada.." jawab Anggun.
Araz telah selesai dengan hajatnya, menyaksikan interaksi ke duanya dari jauh. Keningnya berlipat saksikan pemandangan yang menurutnya tak lazim itu. Meski tak menangkap apa yang mereka bicarakan.
"Sorry Bro.., Anggun milik gua. Dan Lo karib gua..." Ujar Araz dengan nada candaan, kembali duduk di antara Anggun dan Revan. Seketika Anggun pias. Khawatir jika Araz melihat interaksinya dengan Revan tadi. Adegan dewasa yang tak pantas dilakukan di depan umum.
"Tenang aja Bro. Mana mungkin gue nusuk lo dari belakang.. Secara Lo sohib gue man.." Ujar Revan yang dah kuasai keadaan.
Anggun tersenyum lega. Melihat Revan berhasil kelabui Araz.
---
"b******k Lo! Sohib macam apa Lo?! Tega makan tulang kawan! Lo tau kan, Anggun itu cewek gua?! Ngapain Lo?! " Teriak Araz murka, menarik tubuh tegap Revan yang tengah memeluk kekasihnya. Mendaratkan pukulan bertubi- tubi diwajah Revan.
Araz datang dan mendapati Anggun dan Revan tenggah berada dalam setuasi yang cukup intim, di rumah kontrakan Anggun. Hanya berdua saja.
Niatnya memberikan kejutan untuk sang kekasih, malah jadi sebaiknya. Araz yang terkejut dengan fakta yang di dapatnya.
Padahal saat itu Araz telah menyiapkan segalanya untuk melamar Anggun menjadi istrinya.
Rencananya Araz akan mengajak Anggun berkeliling menikmati pemandangan kota. Menunjukkan rumah sederhana yang telah dipersiapkan untuk mereka tempati setelah menikah nanti. Makan malam romantis. Dan sebuah cin- cin indah yang telah disiapkannya sebagai pelengkap dari rencana kejutannya itu.
"A... Araz..., ka.. Kamu.." lirih Anggun yang menyadari kehadiran kekasihnya. Terperanjat dari posisinya.
"A... Aku bi.. Bisa jelasin.. I.. Ini cuman salah faham.. Ka.. Kamu.. " Anggun terbata.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Bahkan ia hanya mematung saksikan Revan babak belur di tangan Araz.
"Cuman kamu bilang?! Cuman?!" Teriak Araz. Murka. Berbalik ke arah Anggun.
"Ta..tapi Raz gu--" Revan coba angkat bicara. Menghapus darah di sudut bibirnya.
"Stop! Gua bukan anak kecil yang gak faham apa yang kalian perbuat" Potong Araz. Dengan isyarat tangannya. Beranjak tinggalkan tempat itu.
"Raz..., Araz..! Tunggu..! Aku cinta kamu Raz.." Anggun coba hentikan langkah Araz. Namun hasilnya nihil.
"Gue cinta Lo Raz..!" teriak Anggun. Gerakannya yang hendak mengejar Araz terhenti. Mengingat kondisinya saat ini.
---
Sebenarnya Araz kerap mendengar desas desus kabar hubungan Anggun dengan Revan dari staf-nya di kantor. Namun selalu ia acuhkan. Karena faktanya Anggun adalah kekasihnya.
Namun kali ini dia menyaksikan langsung adegan yang cukup membuatnya menarik kesimpulan, hubungan apa yang terjalin di antara Anggun dan Revan, sahabatnya.
Hatinya memanas, pikirannya kacau. Bayangan tertang kejadian yang baru saja didapatinya terus berputar di benaknya.
"Ahhhkk b******k!" Teriak Araz menghantam dinding dihadannya dengan tinju.
Sekarang ia tengah berada di rumah barunya. Bagian dari kejutan yang akan ia berikan pada Anggun.