Sekuat apapun usaha Araz untuk menjauh dan lupakan Anggun. Nyatanya tak membuahkan hasil. Faktanya ia lemah. Cintanya pada Anggun teramat dalam.
Katakan saja dia bodoh, d***u atau apapun itu. Karena pada akhirnya hubungan mereka kembali terjalin.
Saat ini Araz bahkan mengulangi lagi rencananya yang sempat gagal tempo hari. Melangkah pasti menuju rumah sang kekasih hati.
Seperti biasa Anggun selalu saja lupa mmengunci pintu.
"Anggun... Anggun... Kebiasaan kamu.." Gumam Araz. Masuk ke dalam rumah.
Di tebarkan pandangannya mencari sosok sang kekasih. Hingga sebuah isakkan di teras belakang menarik perhatiannya. Diam dan perlahan Araz menuju tempat itu.
"Tapi Van gue hamil.." Lirih Anggun.
Deg..
Kalimat itu serasa menghujam jantung Araz.
"Hei.., gue gak lagi ulang tahun g*n. Gak perlu nge-frank segala.." Jawab Revan, meneguk santai minuman di depannya.
"Gue gak lagi becanda Van, Gue serius.."
"Maksud Lo..? Jadi Lo beneran...Ha--?"
"Iya Van. Gue beneran HAMIL, dan ini ANAK LO REVAN PRAWIRA!" suara Anggun pelan tapi penuh penekanan.
"Gak.., gak mungkin..., Lo pasti salah! Bukan cuma gue yang main sama Lo. Lo pasti salah..., bahkan Lo dah gak Virgin saat pertama kali kita main. Sorry sebaiknya Lo cari cowok lain buat jadi bapaknya". Revan munjuk perut rata Anggun. Mulai siap beranjak.
"Tega Lo Van. Lo tau gue cuman lakuin itu sama Lo. Gak ada yang lain. Dan janin ini ANAK Lo!" Anggun mencekal tangan Revan, mulai berteriak.
"Kalo gitu..., GUGURIN!" tegas Revan.
"Apa?..." Lirih Anggun.
"Lo gugurin anak itu..! Gue belum siap jadi Bapak. Karier gue masih panjang. Ngerti Lo!" Bentak Revan. Benar- benar beranjak.
"Heh b******k! Lo denger! Sebejat- bejatnya gue, gak pernah gue mikir buat bunuh darah daging gue sendiri. Ingat itu!" Langkah Revan terhenti. Berbalik.
"Hei.., jaga mulut Lo..! Kalo gue b******k, lantas apa sebutan yang pantes buat JALANG macem Lo Hah?!" Tangan besar Revan mencengkram pipi Anggun. Lantas menghempaskannya begitu saja. Kali ini Revan benar- benar pergi.
"Jadi ini maksud jalang itu 'masalah penting' Cih" Gumam Revan yang masih bisa tertangkap telinga Araz. Tak menyadari keberadaan Araz.
Anggun kini bukan lagi terisak. Air matanya begitu deras, membanjiri pipi mulusnya. Tangis penyesalan tak dapat terelakkan lagi.
Hatinya hancur, dunianya serasa runtuh. Di remasnya surat hasil pemeriksaan dokter di tangannya.
Sayang seribu kali sayang, penyesalannya sudah terlambat, air matanya nyatanya tak mampu merubah apapun.
Kini telah ada kehidupan di dalam rahimnya. Meski hadir dengan cara yang tidak tepat, namun jiwa keibuannya tumbuh begitu saja. Hingga tak sanggup berfikir untuk enyahkan kehidupan baru yang bahkan belum sempat menikmati indahnya mentari terbit itu.
Anggun makin larut dalam kesedihan.
Araz yang menyaksikan semua itu, merasakan sesak dalam dadanya. Entah karena tangis Anggun, entah karena penghianatan Anggun, entah karena asanya yang lagi- lagi patah. Entahlah...
Perlahan menampakkan diri, melangkah ke arah Anggun. Di usapnya kepala yang tengah tertunduk itu.
"Revan Ka--.., Araz..?" Araz mengangguk, seolah membenarkan tanya di hati Anggun.
Segera Anggun menghapus kasar jejak air mata di pipinya. Meskipun itu percuma saja. Bulir bening itu kembali luruh susul- menyusul satu dan lainnya.
"Araz.., ka.. Kamu.. Hiks.. A.. Aku.. Hiks..." kalimat Anggun tak tuntas. Tertahan tangisan yang begitu dahsyat. Hingga tubuh mungil itu bergetar hebat.
"Shuuttt.., sudah...." Araz tenggelamkan wanita cantik itu kedalam d**a bidangnya. Membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
Araz menghela nafas berat. Tatapannya tertuju pada kotak beludru merah di tangannya. Benda yang telah ia siapkan jauh- jauh hari untuk melamar wanita dalam dekapannya. Namun kini ceritanya berbeda.
Meski berulang kali Anggun melakukan kesalahan, berulang kali pula Araz memaafkan, berharap Anggun, wanita yang dicintainya tanpa syarat itu akan berubah menjadi lebih baik.
Namun kali ini kondisinya berbeda. Kali ini ada buah dari kesalahan Anggun dalam rahimnya. Tak bisa ia ambil keputusan semudah itu.
Cukup lama Anggun tenggelam dalam tangisnya. Araz pun masih tak juga beranjak dari posisinya.
Mereka masih terduduk di lantai teras halaman belakang rumah kontrakan Anggun. Sejak Revan hempaskan tubuhnya, Anggun tak beranjak dari sana.
Ada yang lebih sakit dari sekedar tubuh menghantam lantai. Di sana. Di dadanya. Jauh dari permukaan kulitnya. Bukan pula pada bagian organ yang di sebut hati. Tapi jauh lebih dalam dari itu. Karena faktanya organ hati hanya berfungsi sebagai liver.
Berarti sakit yang dirasakannya jauh lebih dalam dari itu.
Batinnya. Ya Batinnya yang sakit dan terluka. Tergambar dari tangisnya yang begitu memilukan.
Perlahan tangis pilu itu mereda. Bulir yang turun tak sederas tadi. Namun nafasnya masih tersengal, matanya sembab, hidungnya memerah, bibirnya dan pipinya pucat pasi. Tanpa rona seperti biasanya.
"Raz... A.. A.. Aku.. Hiks.... A.. Aku.. Ha.. Ham... Hamil..." Anggun terbataa di sela isak tangisnya.
'Aku tau Gun.. Dan ayah dari janin itu adalah si b******k Revan..!' Geram Araz dalam hati.
"Maafin aku Raz.. Hiks.. Ma.. Maafin aku.." Lirih Anggun. Lantas tak sadarkan diri.
***
"Pertanggung jawabkan benih Lo b******k!!" todong Araz tanpa basa basi, saat berpapasan dengan Revan di pantri, atau tepatnya Araz mencari Revan di sana.
"Apa maksud Lo Bro..?" Tanya Revan berlagak tak faham.
Bugg..
Araz memukuli Revan membabi buta.
"Anak dalam perut Anggun. Itu anak Lo b******k!!"
"Itu bu.. Bukan anak gua Raz.." elak Revan di sela nafasnya.
"b******k Lo..! Masih brani ngomong Lo! b******n!" nampaknya Araz masih enggan berhenti menghujani Revan dengan tinjunya.
"Pak sudah.. Anda bisa membunuhnya jika seperti ini..". Seorang sekuriti melerai pergulatan itu.
"Lo tanggung jawab atau Gue buat Lo membusuk di penjara!" Pungkas Araz. Beranjak dari tempat itu.
Revan bangkit, dengan langkah terhuyung. Lantas menyeka ujung bibirnya yang pecah karena hantaman tinju Araz.
***
Jangan fikir kejadian itu tidak membuat Araz hancur. Karena faktanya kejadian itu bahkan membuatnya tidak fokus dengan apapun. Pekerjaan di biarkan menumpuk begitu saja. Bahkan hingga ia meninggalkan ruangan itu.
Disinilah ia sekarang, club malam yang sering ia datangi bersama Anggun. Bedanya saat ini ia telah menyentuh cairan memabukan itu.
"Sudah boz.. Lo ga biasa minum ginian. Lo mabok.." Ujar si bartender menasihati.
"Mana cewek yang biasa bareng Lo ma kekasihnya?"
"Gue.. Gue.. Kekasihnya. Itu cewek gue.. Dan... Si Revan b******k itu dah hamilin cewek gue... Hiks..." jeda Araz sedikit terisak
"Ta.. Tapi gue gue pastikan. Si b******k itu bayar lunas penghianatannya itu.. Itu janji gue.." Araz menyerahkan beberapa lembar ratus ribuan dan beranjak pergi.
"Aneh.. Padahal mereka berdua yang lebih sering datang ke mari dari pada cowok itu. Tapi dia ngomong tadi.. Hah... Bodo amat.." bartender itu tak mau ambil pusing untuk masalah yang sama sekali bukan urusannya.
Araz bahkan melupakan mobilnya. Ia berjalan tak tentu arah. Dengan separuh kesadarannya. Fikirannya melayang kemana- mana.
Kadang ia tertawa, kadang ia menangis tergugu. Kemudian kembali bangkit meraba- raba jalan yang dikenalinya sebagai arah pulang.
Malam semakin larut, bahkan mulai merangkak ke arah pagi. Tapi entah Araz rasakan rasa dinginnya atau tidak. Pria jangkung itu masih asyik dengan dunianya sendiri.
Hingga...
Bugg...
Tubuh jangkung itu menabrak tubuh mungil, hingga hampir terpental.
***