Sebotol air mineral dibelinya dari pedagang asongan, netraku mengikuti setiap pergerakannya. Ia merogoh saku roknya yang sudah pantas dijadikan keset kaki—bahkan keset kaki di rumahku tidak seburuk itu—lantas mengeluarkan selembar kumal lima ribuan. Menatapnya lama sebelum menyerahkannya pada pedangang. Tersebab sikapnya, kuyakini uang itu merupakan satu-satunya sisa yang dimiliknya.
Apakah kehidupan rakyat jelata sememprihatinkan itu?
Berbalik, kupikir ia akan pergi dan tidak mengacuhkanku lagi setelah kehilangan berkas-berkas yang dicarinya. Namun, lagi-lagi aku keliru, perempuan itu berbalik, netranya yang sendu bertabrakan dengan tatapku. Tipis, kedua sudut bibirnya tersenyum, lantas berjalan menghampiriku.
“Bapak baik-baik saja?” tanyanya, sebuah tanya yang sudah ia lontarkan sebelumnya. Dan lagi aku menjawabnya dengan anggukan kepala.
Senyumnya begitu tipis, enggan melebarkan tarikan bibirnya lebih banyak lagi, seolah senyum tidak termasuk bagian dari kehidupannya yang pelik sebagai orang miskin.
Namun, tarikan tipis kedua sudut bibirnya itu sudah cukup menampakkan kilau yang sebelumnya tak ada. Aku melihatnya bak berlian yang belum digosok, meski belum kelihatan kilaunya, tapi ia berharga.
Jika sana ia didandani dan diberi pakaian yang layak, pakaian lusuhnya diganti dengan gaun rancangan desainer terkenal, rambutnya disentuh tangan-tangan profesional, wajahnya dipoles tipis untuk menghilangkan kesan berat beban derita yang diembannya, aku yakin perempuan itu akan berubah cantik, kilaunya akan terpancar keluar dan menyilaukan.
Terulur, ia menyodorkan sebotol air mineral yang dibawanya, aku berkedip, nyaris tidak mempercayai penglihatannya. Untuk apa ia memberiku minuman yang lebih dibutuhkan olehnya?
“Bapak pasti haus, minumlah.”
“Kamu membelinya untukku?” Ia mengangguk, ekor kudanya turut bergerak. Sederhana, tapi tampak bermakna. Ketulusan. Hatiku mendadak berdenyut aneh.
“Apakah kaki Bapak baik-baik saja?”
“Sakit, sepertinya terkilir,” jawabku tersendat.
Tenggorokanku mendadak kelu disebabkan oleh perasaan aneh yang muncul begitu saja. Kulihat jemariku pun bergetar mana kala menerima botol air mineral yang dibelinya menggunakan kucel lima ribuan.
Tanganku kesulitan membuka tutup botol yang masih tersegel sebab gemetar, perempuan itu menyadari dan segera membantu. Rakus, bak orang yang telah sekian lama tak menemukan air, kuteguk berkali-kali isi dalam botol, tak sudi menyisakannya setetes pun, seolah air itu adalah harta berharga yang tak ada duanya.
“Bapak sendirian?”
“Kamu melihatku ada teman?” balasku, terengah usai menghabiskan seluruh isi botol tanpa sisa. Ia menggeleng ragu.
“Kalau begitu, apakah ada teman atau kenalan yang bisa kuhubungi?”
“Untuk apa?”
“Untuk dimintai tolong menjemput Bapak.”
Dimintai tolong? Sinis kuulang kata itu di dalam hati. Tidak ada teman, tidak ada orang yang dimintai tolong. Orang-orang yang bersedia mendekat hanya sebab aku banya uang, bukan karena ingin berteman. Tidak ada istilah tolong, mereka tunduk dan bersedia melakukan perintahku karena aku membayarnya.
“Tidak ada.” Kurasakan nada suaraku berubah menjadi dingin.
Panjang, perempuan itu menghela napas, menoleh ke sekeliling sebelum kemudian kembali menatapku. “Di mana rumah Bapak? Biar kuantar pulang.”
Apakah perempuan itu tahu aku seorang pria kaya raya yang kesepian, lantas mencoba bersikap baik untuk mengambil hatiku?
Kurasa tidak. Menilik dari segala yang kukanakan, tak ada satu pun yang dapat menunjukkan identitas diri sebagai orang banyak uang. Celana pudar yang sudah puluhan tahun nganggur di gudang, hoodie kebesaran yang juga sama lusuhnya. Aku terlihat seperti pria miskin yang menyedihkan.
“Apakah kamu terbiasa menawarkan hal seperti ini pada setiap pria yang mengalami kesulitan?” tanyaku, tajam. Dari balik tudung hoodie, kulihat ia menggeleng. “Kamu tidak takut aku akan menculik dan memperkosamu?”
Alih-alih resah, redup netranya menujukkan sorot geli. “Untuk berjalan saja Bapak mengalami kesulitan, bagaimana mungkin Bapak berniat menculikku?”
Benar, kakiku sangat sakit. Mungkin terkilir, atau yang terparah mengalami patah tulang. Namun, terlalu naif menganggap sepele hal tersebut dan nekat menawarkan diri untuk mengantar pulang seorang pria tak dikenal.
“Apakah kamu butuh uang? Kuberitahu, aku miskin, aku tidak punya uang. Jadi, sia-sia saja usahamu mengantarkanku jika kamu mengharapkan imbalan.”
Alih-alih tersinggung, perempuan itu tersenyum pahit. Sorot gelinya berubah getir. Helaan napasnya terlihat begitu berat, seolah memang beban berat sedang dipikulnya di kedua bahu.
“Apakah kelihatan sekali kalau aku tidak punya uang, Pak?” Aku terperangah mendengarnya. “Aku memang miskin, tapi bukan berarti harus menjual rasa empati. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Mari, kubantu.”
Aku terdiam, merasa tertampar. Dapat kurasakan, melalui pancaran netra sendunya, aku yakin perkataannya murni. Ia bukan para penjilat bergincu tebal, perkataannya tulus dari hati.
“Lagi pula, jika memang aku mengharapkan imbalan, aku akan memilih membantu orang yang terlihat kaya, bukan Bapak yang tak punya apa-apa,” lanjutnya sembari tertawa kecil.
Benar, untuk apa membantu seorang pria mengenaskan yang bahkan tidak punya apa pun sepertinya? Rupanya, penampilan gembelku sukses mengelabui perempuan itu.
“Kamu sungguh mau membantuku?” Ia mengangguk. Kuhela napas sebelum kemudian melanjutkan. “Kulihat kamu membawa map, boleh tahu untuk apa?”
“Melamar kerja.”
“Dan kamu kehilangan berkas-berkasmu.”
“Berkas-berkas itusudah tidak penting lagi,” ia mengibaskan tangan, menganggap hal itu bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan. “Hari ini aku sudah mengalami 20 kali penolakan, tapi memang tidak mudah mencari pekerjaan di kota besar, apa lagi dengan pendidikan rendah.”
“Mungkin, bagian yang kamu inginkan sedang tidak ada lowongan.”
Perempuan itu tertawa kecil, jenis tawa ringan yang tak mengandung beban. Berbanding terbalik dengan sendu dan kuyu wajahnya. “Tidak pantas seorang tamatan SMP melamar di bagian-bagian yang diinginkan. Aku melamar di toko pakaian hingga toko sembako, kalaupun jadi buruh cuci tidak mengapa.”
“Mungkin aku bisa membantumu.”
Netra redup itu membulat, menatapku dengan sorot bercampur antara tidak percaya dan terharu. Kurogoh dompet kulit asli yang sangat mahal dari balik saku celana lusuhku, terlihat sangat kontras, tapi aku tak peduli, lantas kukeluarkan sebuah benda kecil dan menyerahkannya pada perempuan itu.
“Ini kartu nama bosku, kamu hubungi nomornya, siapa tahu masih memiliki lowongan. Entah di rumahnya atau di perusahaannya. Bilang saja, Amin yang memberikan kartu nama itu padamu,” ujarku, menyebut nama sopir di rumahku.
Nanar ia menatapku dan benda kecil di tangannya secara bergantian, beberapa kali menelan ludah dengan susah payah, ekspresinya menunjukkan keharuan yang begitu dalam.
“Ja—jadi, namamu Amin?”
Aku tak menjawab, kuangkat b****g dari trotoar tempatku duduk, lantas tertatih-tatih berjalan meninggalkannya terpaku di tempat.
Bersambung …