3

1292 Words
Orang bilang, nama adalah doa, dalam sebuah nama terselip doa-doa dan harapan. Mungkin, ketika memberiku nama Syahrini, kedua orang tuaku berharap nasibku seperti penyanyi cantik yang identik dengan kemewahan. Bukan hanya banyak harta dan sukses berkarir, tetapi juga beruntung dalam hal jodoh, demikian anggapan orang-orang akan sosok penyanyi Syahrini, termasuk kedua orang tuaku. Dwina Syahrini, anak nomor dua yang diharapkan mampu menjadi seorang perempuan yang tangguh dan sukses dunia akhirat, menjadi kebanggaan keluarga, senantiasa menjaga kehormatannya, dan menjadi seorang istri yang salehah, demikian doa-doa yang kerap kali dipanjatkan oleh Ibu. Bukan Syahrini aku dipanggil, melainkan Wina, sebuah panggilan yang cocok untuk perempuan desa yang tegar dan kuat menghadapi kenyataan hidup yang tak sesuai ekspektasi. Menyandang nama Syahrini, rupanya tidak menjadikanku semujur penyanyi sukses Syahrini. Nasibku justru berbanding terbalik dengannya. Bukan seorang penyanyi terkenal, aku hanya gadis desa yang mendambakan cinta sejati, ketulusan dan kasih sayang dari seorang pria yang mencintaiku. Kala itu usiaku baru 19 tahun ketika pertama kalinya mengenal cinta. Namanya Handi, pria terkeren di desa yang disukai banyak perempuan. Bukan hanya gadis-gadis yang menggilainya, tapi juga para janda dan ibu-ibu yang menginginkannya menjadi menantu. Bukan hanya memiliki paras yang mampu memikat kaum hawa, Handi juga memiliki perangai yang sangat baik. Tutur katanya halus dan sopan, pintar menyenangkan orang lain, dan sangat dermawan. Satu hal yang paling penting, meski Handi adalah paket komplit dari seorang pria yang diinginkan perempuan, tapi ia sama sekali tidak memanfaatkannya untuk mendekati gadis-gadis dan mengencaninya. Lurus, tujuan hidupnya hanya untuk menyenangkan orang tua satu-satunya yang ia punya. Bekerja sebagai satpam di ibukota, tapi Handi memiliki hari libur yang tak umum. Hampir dalam setiap bulan ia sering bolak-balik pulang kampung, membagi-bagikan oleh-oleh untuk para tetangga, termasuk keluargaku ikut kebagian. Aku sering curi-curi pandang setiap ia datang, lama-lama mengobrol dengan Kang Umar, kakakku, di teras rumah. Handi berkawan dekat dengan Kang Umar, mereka sebaya dan kerap kali mampir untuk mengobrol setiap kali pulang kampung. Kesempatan tersebut kugunakan untuk mengagumi ketampanannya secara diam-diam. Ia memiliki senyum yang memikat, tubuhnya atletis, mendekati berotot, dan yang paling membuaku kagum adalah sikapnya. Handi akan mengangguk sopan padaku ketika ia menangkap aku sedang memperhatikannya diam-diam. Menjadi sebuah keberuntungan, ketika rasa kagumku ternyata berbalas. Suatu hari pria itu datang, serius menyampakian keinginannya untuk melamarku. Sontak permintaan itu diterima oleh Bapak dan Ibu dengan senang hati. Kang Umar pun menyambutnya dengan gembira. “Akang janji akan segera menikahimu, Dik,” katanya. Malu-malu kami saling bertatapan, salah tingkah sebab ini adalah untuk pertama kalinya saling bicara. “Tunggu setahun lagi, Akang akan bekerja keras agar bisa membawamu ke pelamina.” Sebuah janji yang begitu manis. Aku menantinya dengan d**a meletup-letup oleh rasa bahagia. Bukan hanya berhasil menggaet hati seorang pemuda tertampan di desa, tapi aku juga sukses membuat para gadis iri. Handi pamit untuk kembali ke Jakarta, tak lupa kembali menegaskan janjinya dan memintaku menunggu. Setahun ia tidak pernah pulang, membuktikan ucapannya bahwa ia serius bekerja keras untuk menikahinya. Menjadi gadis paling bahagia di desa, ketika pujaan hatiku akhirnya pulang. Ia menepati janjinya, menikahiku dengan pesta sederhana yang digelar selama dua hari sebagaimana yang berlaku di desa. Senyumanku tak pernah lepas selama duduk di pelamina, demikian pula dengan Handi. Bibirnya mengulas senyum madu yang begitu menawan, sementara tangan kami saling bergenggaman. Setahun pertama pernikahan kami berjalan dengan sangat bahagia. Handi merupakan seorang suami yang sangat bertanggung jawab, hanya seminggu setelah pernikahan kami, ia berangkat ke Jakarta untuk kembali bekerja. Setiap bulan uang kirimannya selalu datang tepat waktu, mempercayakan keuangannya sepenuhnya padaku agar mengaturnya dengan keuangan. Memasuki bulan ke enam pernikahan kami, Handi mengajakku untuk tinggal di Jakarta, pria itu mengaku tidak tahan berlama-lama jauh dariku. Handi menyewa sebuah kamar kost untuk tinggal berdua, meski ia lebih sering menghabiskan waktunya di tempat kerja. Tak lagi hubungan jarak jauh, kebahagiaan kami terasa semakin besar. Ekonomi sama sekali tidak menjadi masalah dalam rumah tangga kami. Aku mampu mengatur keungan dengan sangat baik, bahkan menyisakannya untuk dibelikan emas sebagai tabungan. Namun, bencana itu datang memasuki tahun kedua usia pernikahan. Tidak ada yang tahu pasti yang terjadi padanya, tetapi tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa suamiku berada di rumah sakit dengan kondisi kritis. Aku ingin menjerit melihat kondisinya. Kedua kakinya hancur dan harus menjalani operasi amputasi. Lemas, aku menangis di sisinya, tersedu-sedu meratapi kemalangan nasib suamiku. Apa salahnya, mengapa pria sebaik suamiku diberi cobaan yang begitu berat dan menyakitkan? Hari-hari berlalu penuh dengan kemurungan. Sejak kehilangan kedua kakinya, Handi berubah menjadi pria pemarah dan putus asa, ia sering menangis sendirian di atas kursi roda. Terlebih ia kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber keuangan rumah tangga kami. Sejak saat itu, tidak ada lagi ketenangan dalam kost sempit yang kami tinggali. Aku harus banting tulang bekerja apa saja demi sesuap nasi. Handi menolak pulang kampung, pria itu mendadak keras kepala, merasa malu kepada para tetangga sebab selama ini pamornya sebagai pemuda terkeren mendadak harus menjadi seorang pria cacat, aku memahami dan memilih berjuang seorang diri di kota besar. Bekerja sebagai buruh cuci para tetangga kostan hasilnya tak seberapa, untuk biaya makan pun kadang masih kurang, apa lagi untuk biaya kontrakan. Aku harus memutar otak mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Menggadaikan emas hasil tabungan, nekat aku membuka warung makan di depan kost-kostan. Ramai, daganganku laris dan selalu habis. Selama setahun ke depan, aku mengandalkan penghasilan dari warung makan sederhana. Namun, usaha tidak selamanya ramai. Melihat daganganku yang ramai, orang-orang mulai berpikir untuk membuka warung yang sama. Pesaing mulai berdatangan, yang semula hanya aku mendadak banyak warung makan di sekitar sana. Dagangaku mulai sepi pembeli, bukannya untung justru mengalami kerugian. Lambat laun modalku habis, emas simpanan pun tak lagi tersisa, terpaksa aku harus menutup warung dan mencari penghasilan dengan jalan lain. Sayangnya, mencari pekerjaan dengan ijazah SMP sangatlah sulit, terlebih di ibukota di mana persaingan sangat ketat. Lelah, berhari-hari aku berjalan ke sana-kemari melamar pekerjaan, tak satu pun yang bersedia menerima begitu tahu aku hanya tamatan SMP. “Maafkan Akang, Dik,” keluh suamiku, termangu duduk di atas kursi roda dengan wajah murah. “Kamu terpaksa banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.” “Aku akan berusaha lebih keras lagi, Kang,” janjiku. Kuusap lengannya sembari tersenyum manis. “Doakan aku, ya, Kang. Besok aku akan mencoba melamar-lamar lagi.” Seberat apa pun hari-hari yang kulalui, tak boleh aku mengeluhkannya di depan suamiku. Aku tak ingin ia meratapi kemalangannya, menyalahkan takdir, lantas marah-marah. Perangainya berubah sejak kecelakaan yang merenggut kedua kakinya. Setelah berhari-hari hanya mendapat penolakan, hari itu Allah mempertemukanku dengan pria aneh yang justru mengantarkanku pada sebuah pekerjaan yang sangat kubutuhkan. Di sinilah aku berada, di depan sebuah pintu gerbang yang menjulang setinggi tiga meter. Menatap terkagum-kagum bangunan tiga lantai bak istana megah dengan pilar-pilar tinggi yang terkesan mengintimidasi. Kulihat kembali kartu nama hitam bertuliskan nama Simon Erlando dengan tinta berwarna emas, sekali lagi memastikan alamat yang kutuju benar. Sesuai pesan pemberi kartu nama itu, aku meminjam ponsel tetangga kost dan menelepon nomor yang tertera di kartu nama. Pria bernama Simon itu memintaku datang ke alamat rumahnya. “Cari siapa, Mbak?” tanya seorang priaberpakaian serba hitam dari balik pintu gerbang. “Ng—anu, saya nyari Pak Simon, Pak,” ujarku sembari menunjukkan kartu namanya. “Beliau memintaku datang kemari untuk wawancara kerja.” Pria berpakaian serba hitam itu mengangguk-anggukkan kepala, lantas kembali ke gardu dan menelepon. Tak lama kemudian ia kembali datang dan membukakan pintu gerbang untukku. “Pak Simon sudah menunggu di dalam, silakan masuk, Mbak.” “Terima kasih, Pak.” Mendadak aku berdebar. Hari ini menjadi hari pertamaku melakukan wawancara kerja, ada rasa cemas, khawatir akan kembali mengalami penolakan. Menelan ludah, kugebah d**a beberapa kali guna mengurangi debaran kencang yang meletup-letup di dalam sana. Kakiku goyah mana kala menginjak teras rumah berlantaikan marmer. “Kang Handi, doakan aku agar keterima kerja di sini,” bisikku seorang diri. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD