4

1236 Words
Hidup dalam kesederhanaan orang desa sepanjang 23 tahun hidupku, baru pertama kali ini aku melihat kemewahan yang luar biasa. Namun, alih-alih takjub dan terkagum-kagum, aku justru merasa takut. Memet atau pesugihan merupakan kerjasama manusia dengan setan, jin, atau demit dan sebangsanya. Para makhluk tak kasat mata memberi kekayaan yang luar biasa dan tak wajar, dan sebagai balasan, makhluk-makhluk itu meminta tumbal. Hal tersebut masih sangat kental dan dipercaya di kehidupan orang desa, bahkan menjadi topik yang paling laris, meski aku sendiri tidak yakin akan kebenarannya. Dan segala kemewahan di rumah bak istana ini mengingatkanku akan memet yang kerap dijadikan bahan obrolan Ibu dan para tetangga. Mendadak bulu roma di sekujur tubuhku meremang, aku merasa ketakutan. Semewah-mewahnya rumah Juragan Nano—orang terkaya di desaku—masih belum ada apa-apanya dibanding dengan kemewahan dan kemegahan rumah milik Simon Erlando ini. Padahal, saking kayanya, Juragan Nano sampai diisukan memet tuyul, setiap ada pekerjanya yang mendadak mati pasti akan dikait-kaitkan dengan tumbal kekayaannya. Namun, tetap saja, kemewahan rumahnya masih ada yang mengalahkan. Mewah saja tidak cukup, rumah Simon Erlanda bahkan terlihat sangat indah. Rumah bernuansa putih ini terlihat bersih, berbagai perabotan tertata rapi seolah penempatannya pun didesain sedemikian rupa agar enak dipandang. Sementara di rumah Juragan Nano, banyak perbotan yang tampak mahal, seperti guci-guci antik dan lukisan-lukisan yang konon harganya mencapai puluhan juta, tetapi benda-benda mahal itu ditempatkan asal saja, yang penting orang yang datang ke rumahnya bisa melihat, memuaskan dahaga pamernya. Sementara di rumah Simon, segalanya tampak indah. Ruang tamu yang sangat luas berisi perbotan elegan. Sebuah patung dewa Yunani terletak di dekat ruang tamu super luas, seolah di sana ia ditugaskan untuk menyapa para tamu yang datang, membiarkan mereka mengagumi pahatannya yang sempurna. Seperangkat kursi bellagio dengan sisi-sisi berukir bak singasana raja menjadi tempat untuk menerima para tamu. Masih berdiri, aku bahkan tidak berani menduduki kursi tersebut. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru, netraku menabrak pemandangan di seberang yang tak kalah indahnya. Dari balik sebuah jendela super besar dibingkai gorden abu-abu yang menggantung setinggi lebih dari tiga meter, menampakkan pemandangan di baliknya. Sebuah taman luas dengan air terjun buatan. Namun, keindahan-keindahan ini sama sekali tidak bisa kunikmati, perasaanku justru cemas dan waswas. Butuh berapa tumbal untuk menghasilkan kekayaan yang demikian besar? Sejujurnya aku tidak begitu mempercayai mitos-mitos yang beredar di desa. Bagiku, selain memang karena pintu rejeki yang dibuka lebar oleh Allah, kekayaan juga dihasilkan dari kerja keras, memet hanyalah mitos yang entah dibuat oleh siapa hingga dipercaya dari generasi ke generasi. Buktinya, hingga 23 tahun hidupku, tak sekalipun aku melihat makhluk-makhluk gaib yang katanya banyak yang keluar kala magrib menjelang. Namun, di sini, melihat kemewahan rumah Simon yang luar biasa, mampu menyugesti otakku akan mitos-mitos yang sering kudengar. “Neng yang nyari Pak Simon?” tanya sebuah suara, mampu mengejutkanku hingga debaran jantungku meningkat tajam. Kupikir kuntilanak yang berusaha mengganguku. Tersenyum, kuhela napas untuk mentralkan debar jantungku, pikiranku yang berkelana segera kembali. Seorang perempuan tua balas tersenyum ramah, ia mengenakan pakaian serba putih yang kuyakini merupakan seragam wajib asisten rumah tangga di sini. “Betul, Bu.” “Panggil saja Mbok Nah, pembantunya Pak Simon.” Kujabat uluran tangan tua itu, lantas menciumnya. Perempuan itu terperangah, mendadak matanya berkaca-kaca kala menatapku. “Wina, Mbok, Pak Simon memintaku datang untuk wawancara kerja.” “Neng Wina sudah nikah?” todongnya tiba-tiba. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Entah mengapa, kulihat wajahnya berubah menjadi lega. “Ayo, Mbok antarkan pada Pak Simon.” Mengekori Mbok Nah, langkahku masuk semakin dalam, meninggalkan kemegahan ruang tamu dan menyusuri ruang-ruang lain yang tak kalah mewahnya. Rumah yang begitu luas tampak lengang, sangat sepi. Sepanjang penglihatanku, selain seorang satpam di gardu depan, hanya Mbak Nah yang kujumpai. Tak ada orang lain atau asisten rumah tangga yang lain yang berkeliaraan di sini. Mungkinkah, rumah sebesar ini hanya memiliki satu pembantu? “Masuk, Neng, tunggu di dama saja,” kata Mbok Nah, mendorong sebuah pintu besar dan mempersilakanku masuk. “Simbok tinggal, mau buat minum dulu.” Seorang diri, aku masuk dan celingukan di dalam ruangan tersebut. Menilik dari perabotannya, kuasumsikan ruangan tersebut merupakan ruang baca. Tidak seluas ruangan-ruangan lain yang kulihat sebelumnya, di dalam ruangan ini hanya ada sebuah lemari yang penuh buku-buku, satu set meja kerja yang juga penuh buku-buku, dan sebuah sofa panjang yang menghadap cermin besar. Memutuskan duduk, hati-hati aku meletakkan pantanku di sofa berbahan kulit. Menatap lurus ke depan, kulihat wajahku sendiri dalam cermin besar. Aku tampak gugup. Nyaris terlonjak, mana kala tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Aku celingukan, mencari sosoknya di dalam ruangan tersebut, tetapi nihil. Tak ada siapa pun di dalam sana selain aku. “Sudah siap melakukan wawancara kerja?” Suaranya terdengar, tapi sosoknya tak kelihatan. Berat dan dalam suaranya terdengar familiar, seolah pernah mendengar sebelumnya. Namun, entah, aku tidak yakin. Di mana pria itu? Kelu tenggorokanku, tak mampu mengeluarkan suara, aku hanya menganggukkan kepala sembari terus berusaha mencari sosoknya. “Fokus dan tidak perlu mencari saya. Saya ada di ruangan lain, tapi bisa melihatmu,” lanjutnya, tentunya melihat sikapku yang celingukan ke sana-kemari. Bagaimana mungkin? Namun, lagi-lagi aku hanya mengangguk, menyimpan tanda tanya seorang diri di dalam kepala. Ini mungkin bagian dari kecanggihan teknologi, tidak ada kaitannya dengan hal-hal mistis, batinku meyakinkan. Menghela napas, aku menenangkan diri dan bersikap lebih santai. “Siapa namamu?” “Wina.” “Nama panjang?” “Dwina Syahrini.” “Posisi pekerjaan apa yang kamu inginkan?” “Apa saja, aku tidak akan memilah-milih. Menjadi asisten rumah tangga pun tidak apa-apa.” “Status?” “Sudah menikah.” Sejenak ia terdiam, hanya terdengar dehamannya beberapa kali. Aku menunggu kelanjutan kalimatnya. “Suami mengijinkan kerja?” “Mengijinkan, Pak.” “Termasuk kalaupun harus menginap di rumah ini dan meninggalkan suamimu?” Kali ini aku yang terdiam, sama sekali tidak terpikirkan sejauh itu. Kalau aku menginap, bagaimana dengan Handi? Siapa yang akan mengurus suamiku? Jika saja suamiku adalah seorang pria normal, mungkin aku tidak akan mencemaskannya. Ia bisa melakukan banyak hal sendiri selagi kutinggal kerja, hanya saja Handi kehilangan kedua kakinya, pria itu butuh bantuanku sekedar untuk ke kamar mandi. Namun, di sisi lain aku sangat butuh pekerjaan ini untuk menyambung hidupku dan suamiku. Jika aku tidak berhasil mendapatkannya, aku tidak yakin bisa kembali mendapat kesempatan kerja di tempat lain dalam waktu dekat. Dilema, aku tak kunjung menjawab. Resah, mataku berkelana ke sana-kemari sembari menggigiti jari. Dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, membuatku ingin menangis. Aku tidak bisa memilih salah satunya, sebab dua-duanya sangat penting. “Dua menit kamu membuang waktu saya. Jawab sekarang, atau silakan tinggalkan tempat ini dan jangan kembali lagi!” tandas suara Simon, kali ini terdengar dingin. Aku menelan ludah, tak dapat berpikir ulang, segera kuanggukkan kepala. Bergetar suaraku mana kala mengucapkan kesediaan, mataku memanas, air mata sudah bergumul di pelupuk mata dan siap tumpah memikirkan nasib suamiku sendirian di dalam kost yang sempit. Namun, kecemasanku sedikit teralihkan mana kala calon majikanku mulai bicara soal gaji. Cukup besar untuk ukuran seorang pembantu. Mendadak timbul harapan yang begitu besar untuk kelangsungan hidupku bersama Handi. “Pengacaraku akan datang sebentar lagi untuk mengantarkan perjanjian kontrak, kamu harus menandatanganinya sebelum mulai kerja. Selanjutnya dia yang akan menjelaskan banyak hal padamu.” Suara itu seketika hilang sebelum aku sempat mengatakan apa pun, sepertinya pria itu telah mematikan microfon. Aku celingukan, tepat ketika itu pintu terbuka dan menampilkan sosok Mbok Nah. Perempuan tua itu tersenyum sembari membawa nampan berisi segelas minuman. “Selamat datang, Neng Wina,” katanya. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD