Sendu, kutatap sosok yang bukan hanya kehilangan kedua kaki, tapi juga ketampanan dan tubuh atletisnya yang dikagumi banyak perempuan. Dalam setahun terakhir, Handi tampak jauh berbeda.
Sejak kecelakaan yang menimpanya, ia berubah menjadi pria yang pahit dan putus asa. Wajahnya tirus, tulang pipinya menonjol saking banyaknya kehilangan berat badan.
Tidak ada lagi pemuda tampan yang memikat dengan senyum patennya.
Sungguh aku tak tega harus meninggalkannya, tetapi ia sendiri tampak begitu tegar dengan senyuman tipisnya yang tampak putus asa.
Bukan sebab akan ditinggal istrinya untuk bekerja, tetapi lebih kepada putus asa sebab tak berdaya melihat istrinya yang harus banting tulang menggantikannya mencari nafkah.
Aku meminta maaf, membuat keputusan secara sepihak tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu dengannya, menerima untuk tinggal di rumah calon majikanku, padahal aku memiliki Handi yang membutuhkanku setiap saat.
Tak mampu berpikir dua kali, keputusan itu meluncur begitu saja. Kini, bahkan aku telah menandatangani kontrak kerja. Betapa desakan kebutuhan telah membuatku mengambil keputusan secara gegabah.
“Tidak apa-apa, Dik, Akang bisa jaga diri baik-baik.”
Erat kugenggam dan kuciumi tangannya yang semakin kurus, aku ingin menangis oleh ijinnya, tetapi mati-matian kutahan. Aku tahu, Handi juga sama tidak berdayanya. Menahan sama saja dengan menghalangiku mencari nafkah. Namun, bagaimana kalau ia butuh sesuatu?
“Kalau Akang mau ke kamar mandi bagaimana?”
Ia mengelus punggung tanganku yang menggenggam sebelah tangannya, senyumnya mengembang sendu, sesendu tatapku padanya.
“Akang bisa sendiri, jangan terus-terusan memperlakukan Akang seperti orang cacat, Dik. Akang akan semakin sedih.”
“Tapi, Kang—“
“Percayalah, Akang bisa melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuanmu. Pergilah, tujuanmu bekerja untuk menghidupi Akang, terlalu tidak tahu diri kalau Akang egois menahanmu hanya karena tidak mau ditinggal sendirian dengan kedua kaki buntung.”
“Aku akan bernegosiasi dengan Pak Simon agar diberi kesempatan untuk pulang setiap hari, Kang. Aku janji akan mengusahakannya.”
Pagi itu, dengan berat hati aku membawa beberapa pakaianku, mengepak dalam sebuah tas dan bersiap meninggalkan petakan yang selama setahun setengah lebih menjadi tempat tinggalku.
“Pergilah, jangan ragu-ragu, Dik, belum tentu kamu bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji seperti yang ditawarkan Pak Simon,” kata Handi. Aku kian berat meninggalkannya.
“Aku sudah minta tolong pada Teh Yuni, Kang, beliau siap membantu Akang sewaktu-waktu.”
Sebab tidak mungkin meninggalkannya sendirian, aku menitipkan Handi pada tetangga kost. Teh Yuni sangat baik, perempuan Sunda itu yang sering menolongku setiap mengalami kesulitan uang. Kadang meminjami uang, tak jarang memberi makanan secara cuma-cuma.
Teh Yuni tidak keberatan dimintai tolong untuk menjaga suamiku, sesekali. Sekedar memastikan makanannya setiap hari. Aku sedikit lebih lega, tetapi tak sepenuhnya lega selama belum meminta keringanan pada majikanku.
Aku bisa saja bekerja ekstra keras, asal Pak Simon mengijinkanku pulang setiap sore agak bisa selalu melihat dan memantau keadaan suamiku.
Perasaan bersalah menderaku ketika selesai menandatangani kontrak, tanpa pikir panjang aku menyetujui permintaan pria itu untuk menginap di rumahnya, meninggalkan suamiku seorang diri dalam keadaan cacat dan butuh bantuan.
“Maafkan aku, ya, Kang.”
Entah, itu permintaan maaf ke berapa yang kuucapkan. Seribu kalipun aku mengatakannya, sepertinya tidak mampu menebus rasa bersalahku.
“Berhenti meminta maaf, Dik. Pergilah, kamu tidak bisa lama-lama di sini, nanti majikanmu marah dan langsung memecatmu sebelum kamu sempat kerja.”
“Baiklah, Kang.” Aku mengangguk, meraih tangan Handi dan menciumnya lama. “Aku mencintai Akang, kalau butuh apa-apa, katakan saja pada Teh Yuni, ya, Kang. Aku sudah berpesan banyak padanya.”
“Jangan mencemaskan Akang!”
Handi melepasku sampai di teras kostan, melambaikan tangan dari kursi rodanya. Mati-matian aku menahan air mata, rasanya begitu berat meninggalkan suamiku, mustika ampalku yang telah menjadi separuh jiwaku.
Jika saja dalam keadaan sehat, mungkin tidak akan seberat ini. Hatiku nelangsa melihat sendu wajahnya dan redup netranya yang kehilangan cahaya.
“Titip Akang, ya, Teh,” pamitku pada Teh Yuni. Perempuan baik hati itu menganggukkan kepala.
“Jangan khawatirkan Kang Handi, Win. Di rumah majikanmu pasti ada telepon, kamu bisa meneleponku sewaktu-waktu untuk menanyakan kondisi Kang Handi.”
“Baik, Teh. Terima kasih banyak. Aku tidak bisa membalas kebaikan-kebaikan Teteh.”
***
Menemui majikanku ternyata tidak semudah yang kuduga. Kopi paginya selalu tersedia, sarapannya tidak pernah telat berada di meja ruang kerjanya, tetapi tidak dengan orangnya.
Di hari pertama aku masih menyabarkan diri meski kecewa. Aku butuh bicara dengannya, bernegosiasi untuk meminta keringanan diperbolehkan pulang. Namun, jangankan sosoknya, bayangannya pun sulit sekali kujumpai.
Sekali lagi, kuamati ruangan yang sangat luas tersebut sembari mendekap nampan ke d**a, berharap Simon muncul dan aku bisa bicara padanya. Di sinilah pria itu menghabiskan hari-harinya, demikian kata Mbok Nah, bukan hanya untuk bekerja, tapi juga makan selalu diantarkan kemari.
Meja makannya yang luar biasa mewah sama sekali tidak pernah digunakannya. Simon lebih suka mendekam di balik ruangannya, sibuk dengan seperangkat komputer di meja kerjanya dan ratusan buku-buku yang tertata memenuhi rak-rak besar hingga menyentuh langit-langit ruangan.
Ada beberapa pintu di ruangan tersebut, aku ingin membukanya satu persatu untuk mencari keberadaannya. Namun, mati-matian menahan diri, aku tidak boleh lancang melakukannya.
Selain ada beberapa CCTV yang dipasang di ruangan tersebut, rasanya tidak etis membuka-buka privasi majikanku.
Menurut Mboh Nah, kami tidak bisa sembarangan masuk kemari. Ada jadwal-jadwal tertuntu seperti mengantarkan kopi dan sarapan, mengantarkan makan siang, dan makan malam. Selebihnya Mbok Nah memperingatkan agar tidak sembarangan masuk ke sana sewaktu-waktu jika tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Menghela napas panjang, meski kecewa dan masih berharap dapat bertemu dengannya, pada akhirnya aku memutuskan keluar sembari membawa nampan setelah pria itu tak juga memunculkan diri.
“Kenapa, sih, Mbok, susah sekali menemui Pak Simon?” keluhku.
Mbok Nah makan dengan lahap, sementara aku sama sekali tak berselera, hanya menatap menu sarapanku di sini yang menurutku sangat mewah. Mbok Nah memasak nasi biryani lengkap dengan daging kambing, acar, dan sambal, menu yang belum pernah kucoba selama 23 tahun hidupku.
Selonjoran, kami duduk di lantai dapur yang bersih mengkilat. Semewah apa pun hidangan yang ada di hadapanku, aku tak bisa menelannya sementara pikiranku penuh oleh Handi.
Makan apa suamiku di kostan yang sempit?
Di sini aku bergelimang makanan, sementara suamiku kekurangan. Aku merasa nelangsa memikirkannya, semakin nelangsa oleh rasa bersalah sebab belum berhasil bertemu majikanku untuk meminta keringanan pulang.
Baru semalam tinggal di sini, aku merasa tidak betah. Tempat ini sangat indah, bahkan kamar tidur pembantu pun sepuluh kali lebih bagus dibanding kamar kost yang kusewa bersama Handi.
Namun, sebagus-bagusnya rumah ini, masih terasa nyaman berada di kost sempit yang telah setahun lebih kutinggali. Semalam suntuk aku nyaris tidak bisa tidur memikirkan suamiku. Aku ingin pulang, bertemu dengan suamiku, memeluk tubuhnya yang semakin ringkih.
“Pak Simon memang jarang menampakkan diri.”
“Menampakkan diri? Memangnya dia ini makhluk tak kasat mata, Mbok? Di rumahnya sendiri masa susah sekali ditemui.”
Mbok Nah menghela napas, terdengar berat sebagaimana perubahan ekspresinya. “Sudah setahun setengah, dia memang begitu, Neng. Menghilang di rumahnya sendiri dan enggan ditemui. Dalam waktu itu pun Simbok nyaris tidak pernah bertemu dengannya.”
“Masa, sih?”
“Kalau kita butuh apa-apa, pengacara Pak Simon yang turun tangan, namanya Pak Mahdi, gaji para pegawai di rumah ini pun Pak Mahdi yang membayarkannya. Pak Simon tidak pernah turun tangan langsung.”
“Aneh, deh,” gumamku.
“Tidak ada yang aneh. Pak Simon memang tidak suka ketemu orang, kita tidak perlu mengusiknya. Kalau Neng Wina perlu sesuatu, nanti sampaikan saja pada Pak Mahdi.”
Tak suka ketemu orang?
Aku mengerutkan kening, heran. Pria seperti apa Simon itu, mengapa ada manusia yang tidak suka ketemu sesama manusia?
Bersambung ….