Bukan pekerjaan berat yang membuatku tersiksa, bukan pula majikan galak yang banyak menuntut hingga aku tak betah tinggal di istana dingin nan suram ini. Majikanku justru tidak pernah menuntut apa-apa. Bagaimana akan menuntut, sedang ia tak pernah menampakkan diri.
Simon bak siluman, ia ada, tapi tak pernah kuketahui keberadaannya. Di dalam rumahnya yang luar biasa besar dan megah ini, seolah hanya dihuni aku dan Mbok Nah, jarang tampak orang lain di sana.
Ada tukang kebun, sopir yang lebih banyak menganggur, hanya menjalankan pekerjaannya ketika Mbok Nah hendak belanja, dan dua orang satpam yang bertugas secara gantian. Namun, mereka bertugas di luar rumah, tidak pernah masuk keluyuran ke dalam. Hanya petugas kebersihan yang datang setiap pagi, kemudian akan pergi begitu pekerjaan selesai, selebihnya hanya aku dan Mbok Nah yang menetap.
Suram, semakin membuatku merindukan kontrakan kecil yang telah bertahun-tahun menjadi tempatku tinggal, di sana ada Kang Handi yang kucintai, pria yang memberiku alasa untuk tetap berjuang di tengah segala keterbatasan. Berpisah—walau dengan alasan bekerja—darinya membuat hari-hariku terasa begitu berat.
“Neng, Simbok mau belanja dulu, ya. Neng Wina tidak apa-apa sendirian di rumah?”
Tentu saja tidak apa-apa, aku tidak punya pilihan lain. Aku bukan anak majikan yang bisa merengek untuk ikut bepergian seenaknya, di sini aku adalah pembantu yang bertugas mengurus segala kebutuhan majikanku.
“Tidak apa-apa, Mbok.”
“Simbok agak lama, Neng, hari ini sudah waktunya belanja bulanan. Kalau Bapak butuh sesuatu, layani seperti biasa, ya.”
Letakkan kebutuhan majikannya di dalam ruangan seperti biasa, lantas tinggal. Seperti itulah cara mereka melayani Simon ‘Siluman Misterius’ Erlando. Baik kopi, sarapan, makan siang, hingga makan malam, semuanya dilakukan di dalam ruang abu-abu—demikian aku menyebut ruangan yang digunakan untuk mewawancaraiku kerja, sebab ruangannya yang didominasi warna abu-abu. Mungkin, di sanalah ia melakukan segalanya tanpa pernah keluar sekedar untuk mengelilingi istananya yang megah.
“Baik, Mbok,” jawabku sembari menghela napas berat.
“Ingat, ya, Neng, kalau sudah meletakkan kebutuhan Pak Simon, langsung keluar,” kata Mbok Nah mewanti-wanti. Melalui Mbok Nah, aku tahu, Simon tidak suka orang lain berada di ruangannya, ruangan yang mungkin menjadi satu-satunya tempat persembunyiannya.
Entah, jenis makhluk apa majikanku itu. Ia makan dan melakukan berbagai macam aktivitas di dalam ruangan tersebut, tak pernah sekali pun kujumpai sosoknya—atau mungkin ia sering keluar bergentayangan di rumah megahnya, hanya saja aku yang tidak melihatnya.
Lebih tepat kalau mengatainya siluman, memang sosoknya misterius seperti siluman.
Menghela napas panjang, sejujurnya aku tidak peduli akan keberadaan Simon, masa bodoh ia tinggal bergelantungan di atas pohon macam Mbak Kunti, atau menghuni pohon beringin seperti Gondorwo, kalau saja aku tidak membutuhkan keberadaanya untuk ijin pulang menengok suamiku.
Malam-malam kuhabiskan dalam kenelangsaan, hampir aku tak pernah bisa memejamkan mata, pikirku melayang membayangkan suamiku sendirian di dalam petak kontrakan kami yang sempit. Tak hanya merindukannya, aku juga mencemaskan Kang Handi.
Suamiku yang malang, ia sendirian dengan kondisi yang tak berdaya di atas kursi roda. Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya walau Teh Yuni sudah beberapa kali menelepon, mengabarkan Kang Handi baik-baik saja.
Ingin sekali aku kabur dari sini, pergi diam-diam untuk melihat suamiku kalau saja tidak ingat pada kebutuhan hidup. Aku terpaksa bertahan dengan hati gelisah, makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Setiap saat pikirku hanya terisi Kang handi. Sepasang netranya yang redup, senyumnya yang sarat keputusasaan, hingga tubuhnya yang tampak tulang menonjol di mana-mana.
Tak ada yang dapat kulakukan selain diam-diam menitikkan air mata. Tak ada yang dapat membantuku bertemu secara langsung dengan Simon, meminta pengertian pria itu. Pak Mahdi—pengacara Simon yang mengurus segalanya—pun tak dapat membantu.
Pria berkepala setengah botak itu tersenyum meminta maaf, tidak dapat mempertemukanku dengan Simon meski aku memohon, ia hanya berjanji akan menyampaikan permintaanku padanya. Namun, hingga seminggu kemudian, tak ada kabar apa pun dari Pak Mahdi.
Terlonjak, nyaring suara telepon interkom mengejutkanku dari lamunan. Aku segera mengangkat gagangnya, segera terdengar suara berat dan dalam majikanku—satu-satunya yang kukenali darinya—memberi perintah, “Buatkan secangkir kopi!”
Aku terbengong, belum sempat mengucapkan apa pun, suaranya sudah hilang. Pria itu ada di rumah! Haruskah aku nguber, mencarinya ke segala penjuru rumah untuk menemukannya demi Kang Handi?
Satu lagi keanehan pria itu, pikirku, alih-alih memberi perintah secara langsung, ia lebih senang memasang banyak telepon interkom di rumahnya untuk memberi perintah para pembantunya.
Aku sudah hafal jenis kopi yang biasa kubuatkan untuknya. Tanpa banyak bicara, segera kulaksanakan perintahnya. Secangkir kopi hitam kental tanpa gula kuletakkan di atas baki marmer yang berat, lantas kuangkat dan kubawa ke dalam ruangan abu-abu, dalam hati berharap menemukan pria itu di sana.
Bersambung ….