7

978 Words
Jantungku berpacu begitu cepat, degupnya bak gong yang dipukul bertalu-talu, seolah hendak lepas dan melompat keluar dari dalam dadaku saking kencangnya. Keringat dingin membasahi beberapa bagian tubuhku, aku merasa basah dan lengket karenanya. Tubuhku bergetar dilanda ketakutan. Entah pukul berapa, dunia di sekelilingku terasa hitam dan misterius. Dalam keremangan cahaya istana megah nan dingin itu, aku berjalan mengendap-endap, berusaha pergi secara diam-diam. Kecewa sebab tak kunjung berhasil menemui Simon Erlando, aku tak tahan lagi. Malam itu juga, aku memutuskan kabur. Rasa rinduku tak terbendung, kecemasanku akan Kang Handi membuatku tak tenang. Aku tidak bisa bertahan lama-lama dengan perasaan cemas seperti ini. Masabodoh akan kehilangan pekerjaan, aku sudah tidak peduli lagi. Sepi sebagaimana hari-hari biasa, terlebih kala malam hari. Di luar hujan deras turun disertai kilat petir dan angin yang bertiup kencang disertai desauannya yang meniup vitrase gorden hingga membuat kain putih yang menggantung tinggi itu bergoyang-goyang dalam keremangan. Aku menolak takut. Tak ada siapa pun di sini. Mbok Nah sudah nyenyak dalam buaian mimpi di kamar, kurasa Simon pun demikian. Aku bisa keluar dari rumah besar ini tanpa ketahuan siapa pun, selanjutnya hanya perlu meyakinkan satpam di depan untuk membukakan pintu gerbang dan pulang ke rumah bertemu Kang Handi. Memasuki ruang tengah, suasana kian gelap. Satu-satunya cahaya dari lampu lantai tak cukup untuk memberi penerangan ke seluruh ruangan yang begitu luas. Pelan, kuayunkan langkah berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun untuk berjaga-jaga, khawatir Simon ternyata belum tidur dan muncul sewaktu-waktu, mengingat keberadaan pria itu tak pernah jelas. Kencang debar jantungku terasa seperti hendak berhenti berdetak, mana kala dalam kegelapan kulihat sebuah bayangan menuruni anak tangga. Tubuhku seketika kaku, kakiku bak dipasung ke dalam bumi, sukar digerakkan. Bayangan itu terus bergerak, menapaki satu demi satu anak tangga hingga tiba di lantai satu. Siluetnya hitam dan tinggi, sejenak diam di bawah anak tangga terakhir. Ya Tuhan, ia melihat ke arahku! Tidak mungkin ia melihatku bukan? Rasa takut itu hadir, begitu kuat rasanya hingga aku ingin berteriak sekuat tenaga, menjeritkan permintaan tolong kepada Mbok Nah yang tengah nyenyak di balik selimut. Namun, tenggorokanku kelu, tak ada suara apa pun yang berhasil kukeluarkan. Aku hanya melotot dengan tubuh gemetar ketakutan mana kala bayangan itu mendekatiku secara perlahan. Ia cukup tinggi, tubuhnya besardalam balutan serba hitam. Kepalanya tertutup tudung hingga tak menampakkan sosoknya secara jelas selain siluetnya saja. Kakiku gemetar hebat, tubuhku seperti hendak rubuh. Ia berdiri menjulang tepat di depanku, mengingatkanku akan pilar-pilar besar nan dingin di rumah ini. Dari balik tudungnya seolah iat engah menatapku buas. Siapakah gerangan? Terpaku, mataku tak berhasil menembus kegelapan sekedar untuk melihat sosok di balik tudung hitam itu. Aku tak berani bergerak sedikit pun. Apakah ia makhluk halus penunggu rumah megah ini? Atau jangan-jangan Simon sendiri, majikannya yang sangat misterius ternyata seorang vampir penghisap darah seperti dalam film-film yang sering ditontong Teh Yuni di kontrakannya, dan aku adalah calon korbannya malam ini? Kakiku gemetar dan goyah,rasa-rasanya tak mampu menopang berat tubuhku dan dalam waktu singkat akan segera ambruk, keringat dingin semakin deras keluar membasahi tubuhku kala ia menunduk tepat di atas kepalaku, aku memejamkan mata bersiap jika ia hendak menyedot habis darahku. “Jangan coba-coba kabur dari rumah ini,” bisiknya, tepat di atas kepalaku, suaranya terdengar berat dan dalam terasa familiar di telingaku. Aku terhenyak, bukan sebab suaranya yang terasa familiar di telingaku, melainkan pada embusan napasnya yang hangat dan beraroma mint, ditambah aroma wangi yangmenguar dari tubuhnya samar-samar menerpa inderaku, seperti wangi parfum yang segar. Tidakmungkin vampir yang gemar menghisap darah memiliki aroma napas mint dan bau tubuh wangi, bukan? “Ka—kamu si—siapa?” gagapku, ia masih berdiri menjulang. Aku menengadahkan kepala tinggi-tinggi, berusaha mencari lihat wajahnya yang berada di atas kepalaku, cukup tinggi. “Ada denda besar yang harus kamu bayar kalau sampai berani melanggar kontrak,” bisiknya kembali. Aku terperangah, ketakutanku seketika lenyap. Aku yakin sekali, pria itu adalah Simon, majikanku yang sangat misterius. Hanya pria itu yang tahu isi kontrak yang kutandatangani. “Pa—pak Simon?” Bayangan itu memutar denga cepat, lantas meninggalkanku dengan langkah-langkah lebarnya yang begitu cepat. “Pak Simon, tunggu!” seruku. “Aku butuh bicara!” Ia tak mengacuhkanku, bayangannya dengan cepat menghilang dalam kegelapan. Aku memanggil-manggilnya sembari mencarinya ke sana-kemari, tetapi ia tetap tak muncul kembali. “Pak Simon, kumohon,” isakku frustasi, tak berhasil menemukannya. Aku ingin pergi, menemui Kang Handi sekedar untuk melihat kondisinya secara langsung. “Kumohon, Pak, aku butuh bicara. Tolong, beri aku kesempatan pulang.” “Neng, apa yang terjadi? Neng Wina baik-baik saja?” Suara Mbok Nah memanggil-manggil namaku disertai gedoran pintu. Aku segera terbangun sambil terisak-isak. Mengusap air mata, aku sadar semuanya hanyalah mimpi. Kuhela napas dalam-dalam, lantas menghembuskannya secara perlahan. Mendadak aku tersentak, begitu inderaku mencium aroma segar yang kukenali. Masa aroma dalam mimpi bisa terbawa ke alam nyata? Samar-samar, inderaku mencium aroma parfum pria misterius dalam mimpiku. Aku mengendus-endus tidak yakin. Ah, mungkin hanya perasaanku saja, gelengku meyakinkan diri. “Aku baik-baik saja, Mbok!” seruku, turun dari ranjang dan bergerak membukakan pintu kamar. Kulihat Mbok Nah di luar menatapku cemas. “Simbok mau ke toilet, tidak sengaja dengar Ning Wina teriak-teriak sambil nangis daridalam.” “Mimpi buruk, Mbok” jawabnya sembari menghela napas panjang. “Makanya, Neng, kalau mau tidur jangan lupa doa dulu supaya dijaga sama malaikat, dijauhkan dari godaan setan. Ya, sudah, Neng Wina kembali tidur saja, masih jam 2. Simbok lanjut ke toilet.” “Baik, Mbok.” Kembali masuk ke dalam kamar, aku menghembuskan napas kasar. Terlalu merindukan Kang Handi dan mengkhawatirkannya membuatku sampai mimpi kabur dari rumah ini. Kututup pintu kamar dan kembali naik ke atas pembaringan. Namun, aku segera turun kembali begitu melihat gorden jendela kamarku bergerak-gerak ditiup angin. Jendelanya terbuka. Aku mengerutkan kening, perasaan sebelum tidur aku sudah menutup dan menguncinya? Entahlah, mungkin juga bagian dari mimpi. Segera kututup jendela dan kembali naik ke atas tempat tidur untuk melanjutkan tidur. Bersambung …..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD