Bukan hanya penghuninya yang sangat misterius, keanehan-keanehan di dalam rumah megah itu semakin banyak kurasakan, terutama di dalam kamarku. Dimulai jendela kamar yang hampir selalu terbuka setiap malam, hingga bayangan-bayangan yang kerap kalimewarnai mimpi-mimpiku. Kalau orang desa bilang, rep-repan, antara mimpi dan nyata.
Meski berlatar belakang wong ndeso, tapi aku tidak percaya dengan hal-hal mistis. Aku tidak mudah ditakut-takuti dengan Candik Olo, memedi yang sangat terkenal di desaku, keluar setiap magrib untuk memangsa anak-anak yang bandel tidak mau diajak masuk rumah.
Aku tidak percaya pada memedi alias makhluk jadi-jadian, mereka sengaja diciptakan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anaknya. Nyatanya, hingga 23 tahun hidupku, tak sekalipun aku pernah bertemu dengan mereka.
Bagiku, vampir, gondorwo, kuntilanak, dan macam-macam jenis dedemit lainnya hanya ada di dalam film. Kalaupun sebenarnya ada, mereka memiliki alam yang berbeda dengan manusia, tidak bisa saling bertemu. Terlalu konyol ketakutan akan keberadaannya melebihi ketakutan kepada Sang Pencipta.
Namun, perasaan cemas itu tak urung datang kala aku mulai merasakan banyak ketidak nyamanan di dalam kamarku. Akutidak lagi bisa berpura-pura masa bodoh, mencoba mengabaikan kejadian pada beberapa malam terakhir.
Hampir setiap kali aku terbangun, kurasakan aroma wangi itu semerbak memenuhi inderaku, aroma wangi yang kukenali dari mimpi, terbawa ke alam nyata seolah-olah memang nyata adanya. Hidungku tidak bisa dibohongi. Aku seperti merasakan kehadiran orang lain di kamarku, entah nyata atau tidak karena sejatinya memang tidak ada siapa-siapa selain aku. Sementara itu, keesokan harinya aku pasti akan mendapati jendela kamar dalam keadaan tidak terkunci.
Sebagaimana rumah megahnya yang bakistana, kamar-kamar pembantu di rumah ini pun tergolong mewah—tentunya mewah bagiku yang tinggal di kontrakan sempit dengan segala keterbatasannya, bersama Kang Handi, meski untuk pembantu sekalipun.
Aku dan Mbok Nah tidak sekamar, kami memiliki kamar masing-masing yang saling bersisian. Sebenarnya ada tiga kamar yang dikhususkan untuk para pembantu di rumah itu, sementara hanya ada aku dan Mbok Nah yang menetap, sehingga satu ruangan yang paling besar terbiar dan hanya digunakan sebagai penyimpanan barang-barang tak terpakai.
Kamar yang kutempati lumayan luas, terletak di belakang dengan pemandangan taman bagian belakang yang luas dipenuhi pepohonan hijau dan bebungaan indah, dilengkapi satu set lemari pakaian besar dan meja rias ukir, serta sebuah kursi kayu dan meja bulat di sisinya sebagai nakas. Sudah mirip kamar-kamar milik orang kaya di desaku, hanya saja minus kamar mandi dalam.
Menurut Mbok Nah, dulu di rumah ini memiliki banyak pembantu. Namun, kini hanya perempuan paruh baya itu saja yang bertahan mengabdi kepada keluarga Erlando.
“Nyonya itu sangat senang dilayani, Neng, asisten pribadi yang khusus memotong dan mempercantik kuku-kuku jarinya saja ada sendiri. Pembantu di rumah ini ada banyak, tapi sejak Nyonya meninggalkan rumah ini, Pak Simon memecat semua pembantu, hanya Simbok yang disisakan,” ungkapnya suatu ketika.
“Memang ke mana Nyonya, Mbok? Cerai?”
“Begitulah, Neng,” katanya sembari menghela napas. Perempuan paruh baya itu mendadak memelankan suaranya kala mengucapkan kalimat selanjutnya. “Nyonya berselingkuh, kemudian rumah ini menjadi seperti neraka.”
“Neraka?”beoku.
“Ah, lupakan saja,” ujar Mbok Nah, buru-buru mengibaskan tangan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dapat kusimpulkan, Nyonya yang dimaksud Mbok Nah mungkin mantan istri Simon. Namun, kenyataan itu sama sekali tidak penting untukku, bukan hal itu yang membuatku begitu waspada dan memutuskan untuk meronda di dalam kamar sendiri.
Kupastikan jendela lebar di kamarku benar-benar telah terkunci, gorden kutarik hingga menutupi sepenuhnya, lantasberanjak duduk bersila di atas tempat tidur.
Setelah mengalami hal-hal kurang mengenakkan, aku mulai waspada, menolak tidur dan memaksa mataku yang mengantuk untuk tetap terjaga. Aku tidak ingin kembali rep-repan seperti yang kualami pada malam-malam sebelumnya.
Seseorang mendatangiku, menatapku bak seekor singa hendak menerkam mangsanya. Ia akan meninggalkan aroma wangi yang membuat bulu romaku meremang. Aku tidak yakin dengan perasaanku, mungkin itu hanyalah sebuah mimpi, akan tetapi tidak ada salahnya waspada dan berjaga-jaga.
Bukan takut, hanya merasa khawatir ternyata ada orang jahat diam-diam masuk melalui kamarku untuk merampok rumah megah ini. Kecemasanku sedikit berhasil mendistrak pikiranku akan keinginanku yang sangat besar untuk pulang bertemu Kang Handi.
Di atas tempat tidur, aku menghela napas dalam-dalam. Kerinduan itu kembali muncul kala aku sendirian, tidak sedang disibukkan dengan pekerjaan sehari-hariku mengurus rumah besar ini.
Sudah hampir tengah malam, mungkin Kang Handi sudah tidur. Hatiku menangis membayangkan ia tengah meringkuk seorang diri di atas kasur lipat kami yang telah mulai tipis dimakan usia.
Teh Yuni berkenan membantunya banyak hal, akan tetapi janda tanpa anak itu tidak mungkin 24 jam menemani suamiku. Pada jam selarut ini Kang Handi pasti sendirian, sementara Teh Yuni tidur di kontrakannya. Bagaimana kalau suamiku yang malang itu butuh sesuatu, lapar tengah malam misalnya, atau kehausan sementara air galon di kontrakan pas kebetulan habis?
Besar keinginanku untuk pulang melihatnya, tetapi aku sadar aku membutuhkan pekerjaan ini. Aku meninggalkan suamiku juga demi untuknya. Jadi, sebesar apa pun keinginanku untuk pulang, mati-matian kutahan. Aku tidak bisa nekad seperti dalam mimpiku beberapa hariyang lalu.
Detik demi detik berlalu, aku masih menahan diri untuk tidak memejamkan mata, meski kelopakku terasa berat. Kuabaikan rasa lelah setelah melakukan tugasku mengurus rumah ini seharian penuh, aku begadang untuk memastikan kecemasanku tidak benar, memastikan keanehan-keanehan yang terjadi malam ini hanyalah mimpi untuk memuaskan kelegaanku.
Waktu merambat begitu lambat, detik demi detik berganti terasa sangat lama. Tepat pukul 12 malam, aku mendengar suara telepon interkom berbunyi, seketika aku melonjak, mengangkat benda tersebut.
Jantungku berdetak kencang, berharap mendengar suara Simon. Namun, rupanya dari satpam yang bertugas di gardu depan.
“Neng Wina, tolong dibukakan pintu, ada tamu untuk Pak Simon,” katanya.
Tamu?
Aku mengerutkan kening. Aneh sekali, tamu macam apa yang datang tepat tengah malam begini? Jangan-jangan Simon memang sejenis dedemit, selain tak pernah menampakkan sosoknya, tamu yangdatang kepadanya pun sama anehnya.
Tak membiarkan hal itu mempengaruhiku, aku bergegas keluar dari kamar sembari melemparkan pada jendela kamarku yang tertutu, lantas berjalan menyusuri keremangan ruangan yang sangat luas menuju ruang depan.
Meraih handel panjang pintu ruang depan yang besar dan tinggi menjulang, aku memutar kunci, lantas membukakannya, seketika terperangah melihat sosok yang berdiri di depanku.
Bersambung …