Ada ruang tamu luas di sini, tetapi ketika sosok yang mengaku sebagai tamu Simon, tentunya hanya bisa menemui di ruangan abu-abu di mana aku sering membawakan segala kebutuhannya. Tak canggung, seolah sudah biasa, ia masuk begitu saja tanpa diminta, melewatiku dengan langkah-langkahnya yang panjang, seolah hal seperti ini sudah biasa terjadi. Semerbak parfumnya yang sangat tajam hampir membuatku bersin-bersin. Pilihan parfum yang cukup buruk, mengingatkankan akan perempuan-perempuan nakal yang senang mengundang lawannya dengan aroma parfum yang menyengat. “Gelap sekali, nyalakan lampunya,” katanya dengan nada memerintah. Tak banyak bicara, segera kulakukan tugasku. Dalam sekali tekan, ruangan berubah terang-benderang. Aku terkesip, sosok perempuan itu kini jelas dalam pandangan. Tanpa

