17

1479 Words

Tak mudah mengembalikan harga diri Kang Handi sebab ketidakmampuannya menunaikan kewajiban, sepenuhnya aku mengerti, meski sekeras apa pun aku berusaha melakukannya. Kata-kata hiburan tak cukup membantu, apa pun yang kuucapkan seolah selalu salah, selalu menjadi celah untuk membuatnya semakin terpuruk. Ia kembali digelayuti bayang-bayang keputusasaan. “Ayo, makan, Kang. Aku sudah masak makanan enak,” bujukku. Seperti orang tua yang membujuk anak kecil. Muram wajahnya, tak sedikit pun menunjukkan riak bahagia melihat makanan kesukaannya telah tersaji di depannya. “Kalau Akang tidak mau makan, nanti sakit. Aku tidak bisa meninggalkan Akang kalau sakit.” “Akang memang hanya bisa menjadi beban hidupmu, Dek,” keluhnya. “Jangan pikirkan Akang, mau sakit atau tidak, Dek pergi saja tidak perlu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD