Senyumnya yang rapuh terukir penuh haru kala menyongsong kedatanganku. Bibirnya bergetar menyebut namaku, matanya yang dipenuhi kerinduan tampak berkaca-kaca. Aku berteriak memanggilnya sembari berlari menghambur dan memeluknya. “Dek,” katanya, suaranya tercekat. Aku memeluknya erat-erat. “Kamu pulang?” “Maafkan aku, Kang, aku baru bisa pulang sekarang,” bisikku di telinganya. Kang Handi balas memeluk kepalaku, sesekali membelainya pelan. Sebulan terasa begitu lama, akhirnya aku bertemu dengan sosok malang yang belakangan sangat kurindukan ini. Kang Handi sedang duduk di atas kursi rodanya, berjemur di teras kontrakan, mungkin kebiasaan baru yang dilakukannya selama aku tak ada. “Akang yang harus minta maaf, Dek, kamu jadi harus bekerja keras karena kondisi Akang,” sesalnya. “Andai k

