Bab 5. Perselisihan Pertama

1065 Words
Nathan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena seharian bekerja. Lelaki itu memilih untuk menepikan mobil di depan apartemen sebelum masuk area parkir. Bayangan harus kembali bertemu dengan Wulan terlintas di benaknya sehingga membuat perasaan lelaki tersebut semakin memburuk. Entah mengapa rasa bersalah yang dirasakan oleh Nathan justru kini berganti dengan kekesalan. Dia seakan menyesali pernikahan yang sudah terlanjur terjadi itu. Dia kini mulai berpikir seharusnya menunggu saja sampai Wulan hamil, baru menikahinya seperti yang dikatakan oleh Pitaloka. Namun, semua sudah terjadi. Ini juga merupakan bagian dari keputusannya. Dia harus menelan semua risiko karena keputusan yang diambil, termasuk terjadi kerenggangan hubungan antara dirinya dengan sang ibu. "Wulan?" Nathan tiba-tiba melihat sosok Wulan yang kini ada di gerbang masuk apartemen. Istrinya itu turun dari atas motor bersama mantan rekan kerjanya. Nathan menatap Wulan dengan tatapan tajam. Tanpa dia sadari, jemarinya mengepal kuat pada roda kemudi. Nathan memilih untuk memperhatikan keduanya dari dalam mobil. Dia baru mengemudikan mobilnya ketika Wulan beranjak dari tempat tersebut. Setelah memarkirkan mobil pada lantai bawah tanah, Nathan bergegas memasuki elevator yang ada di sana. Nathan bernapas lega ketika bisa masuk ke unit apartemennya lebih cepat daripada Wulan. Dia sengaja berdiri di depan pintu sambil menatap arloji yang melingkar pada pergelangan tangan. Nathan menarik napas panjang dan mulai berhitung. "Satu ... dua ... tiga!" Benar saja, pada hitungan ke-tiga terdengar suara kunci digital yang berdering. Nathan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia langsung melemparkan tatapan tajam kepada sang istri yang terlihat panik ketika menyadari keberadaannya di depan pintu. "Kamu dari mana?" tanya Nathan dengan suara sedingin es. "Saya baru saja pulang kerja, Dok. Maaf, saya lelah, Bisa berikan saya jalan? Saya mau membersihkan diri dan segera istirahat." Nathan tetap berdiri di tempatnya tanpa memedulikan permintaan sang istri. Kini lelaki tersebut mengeluarkan tangannya dan mulai melipat lengan di depan d**a. Wulan menunduk karena sebenarnya dia sangat takut kepada Nathan yang bersikap dingin. "Kamu barusan pulang naik apa?" tanya Nathan sambil terus menatap sang istri. "Saya naik motor sama Ridwan, Dok." "Kenapa kamu nggak bohong! Kenapa kamu nggak bohong saja kalau naik ojek atau taksi! Seharusnya kamu bohong karena sudah pergi sama pria lain, jadi aku bisa menudingmu telah berselingkuh atau semacamnya!" teriak Nathan frustrasi kemudian meninggalkan Wulan begitu saja dan masuk ke kamarnya. Wulan yang melihat sang suami mengamuk hanya bisa mengedipkan mata beberapa kali sambil melongo. Dia tersentak saat mendengar pintu dibanting kasar oleh Nathan. Gadis itu memiringkan kepala seraya menatap pintu yang kini tertutup rapat. "Dokter Nathan kenapa, ya? Bukannya seharusnya dia lega karena aku sudah bicara jujur?" Wulan menggeleng sambil berdecap kemudian masuk ke kamarnya. Sejak malam itu, Nathan lebih banyak berinteraksi dengan Wulan. Namun, Wulan hanya menerima perkataan yang kasar dan kurang menyenangkan. Nathan lebih terkesan mencari-cari kesalahan Wulan ketika sedang berkomunikasi. Tugas Wulan mulai bertambah. Kini dia harus menyiapkan sarapan dan makan malam untuk sang suami. Tidak seperti ucapan awal Nathan yang tidak mewajibkan itu semua. "Sudah selesai! Aku harus bersiap untuk berangkat!" ujar Wulan sambil melepaskan celemek dari tubuhnya. Perempuan itu bersiap dan sudah dalam kondisi rapi dalam waktu kurang dari 15 menit. Ketika hendak keluar dari kamar, dia terpaksa mengurungkan niat. Kini Nathan sudah keluar dari kamar dan mulai mendekati meja makan. Lelaki tersebut tampak mengamati makanan yang sudah Wulan siapkan. Di atas meja sudah terhidang semangkuk sop ayam dengan perkedel jagung serta telur dadar. Nathan meraih mangkok berisi sop ayam dan mulai mengendusnya. "Kira-kira dikasih racun atau zat berbahaya lainnya nggak, ya?" gumam Nathan. Meski hanya sebuah gumaman, Wulan bisa mendengar dengan jelas perkataan sang suami. Dia menggaruk kepalanya karena tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala sang suami. Wulan masih berdiri di tempatnya sambil terus mengamati Nathan. Nathan memang memintanya untuk menyiapkan makanan. Akan tetapi, dia tetap tidak ingin melihat Wulan secara sengaja. Jadi, istrinya itu terus bersembunyi dan menjauh dari pandangan Nathan sebisa mungkin. Nathan perlahan mulai menyeruput kuah sop ayam buatan Wulan. Pupil matanya melebar. Setelah itu, dia mulai memasukkan potongan ayam ke dalam mulutnya. "Lembut! Bagaimana dia bisa memasak makanan seenak ini? Apa sebenarnya dia koki yang menyamar menjadi gadis biasa sok polos?" Nathan pun mulai menyantap sarapannya dengan lahap. Wulan tersenyum di balik pintu sambil terus mengamati suaminya itu. Ada rasa puas tersendiri ketika dia mendapati Nathan makan dengan lahap. Setelah selesai makan, Nathan langsung membersihkan meja makan dan meletakkan semua alat makan ke bak cuci piring. Tak hanya sampai di sana. Bahkan Nathan juga mencuci piring-piring itu sendiri, menandakan kalau Nathan bukanlah seorang penganut patriarki. Setelah selesai, Nathan masuk ke kamarnya. Barulah Wulan bisa pergi dari tempat itu dengan tenang. Hari itu Wulan memutuskan untuk mengambil sif normal dan pulang lebih awal untuk bisa menyiapkan makan malam sang suami. *** Sore itu Wulan menyiapkan capcai, ayam goreng tepung, dan sambal tomat untuk sang suami. Dia terus tersenyum ketika memasak semua makanan tersebut. Meski sikap Nathan dingin dan menyebalkan, Wulan terus mengingat bagaimana Nathan menghabiskan masakannya dengan lahap. Sesekali Wulan bersenandung dan mulai memindahkan makanan yang sudah matang ke atas piring. Dia menatanya dengan rapi ke atas meja makan. Setelah selesai, tak lama kemudian terdengar suara kunci pintu yang ditekan. Wulan mengambil langah cepat untuk masuk ke kamarnya. Dia berdiri di balik pintu seperti biasa dan mengamati aktivitas Nathan dari celah pintu. Suaminya itu tidak segera makan, Nathan masuk ke kamarnya lebih dulu. "Semoga kali ini dia juga makan dengan lahap!" ujar Wulan sambil tersenyum lebar. Setelah itu, Wulan langsung menutup rapat pintunya. Dia mulai membuka ponsel untuk mengikuti kelas secara daring. Perempuan itu menjeda materi yang dibagikan karena mendengar suara tudung saji dibuka. Wulan langsung berjingkat-jingkat mendekati pintu, lantas membuka benda tersebut. Wulan hanya membuka sedikit agar ada celah untuk mengintip. Nathan mulai mengisi piring dengan nasi putih dan menuangkan capcai ke atasnya. Lelaki tersebut menyuapkan sesendok nasi disusul dengan potongan sayur, kemudian menggigit ayam goreng tepung. Namun, sebuah keanehan perlahan muncul. Ketika baru menelan suapan pertama, tiba-tiba Nathan mulai menggaruk tubuhnya. Dia terlihat sangat tidak nyaman. Semakin lama, Nathan semakin menggaruk tubuhnya lebih keras. "Wulan!" teriak Nathan sambil menatap pintu kamar Wulan. Perempuan itu bergegas keluar dari kamar dan menghampiri Nathan. Lelaki itu terlihat mulai mengatur napasnya. Wajahnya tampak berubah menjadi merah dengan tubuh yang terlihat bentol-bentol. "Apa yang kamu masukkan ke dalam makanan ini?" tanya Nathan setengah berteriak di antara napasnya yang tersengal. "Sa-saya nggak memasukkan hal yang aneh dan membahayakan, Dok. Saya hanya memasak capcai itu dengan ....” Wulan terbelalak ketika menyadari kesalahannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD