Bab 6. Kemarahan Pitaloka

1064 Words
"Dok, Anda alergi udang?" tanya Wulan dengan pupil melebar. "Cepat telepon ambulans!" perintah Nathan di antara napasnya yang masih tersengal. Wulan pun bergegas meraih ponselnya yang ada di kamar dan menghubungi ambulans. Tak lama kemudian, ambulans datang dan Nathan segera dibawa ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Wulan terus berdoa agar tidak terjadi hal buruk kepada sang suami. Perempuan itu juga menghubungi Mikaila untuk datang ke rumah sakit, setelah Wulan sampai di pelayanan kesehatan tersebut. Dia menunggu dengan pikiran dan hati kacau di depan IGD. Gadis itu mondar-mandir di lorong sambil terus menggigit kuku jemarinya. Tak lama berselang terdengar derap langkah kaki yang mendekat. Ketika menoleh, tepat di hadapannya sudah ada Mikaila, Pitaloka dan juga Nathalia. "Gimana, Mbak kondisi Mas Nathan?" tanya Mikaila sambil menatap sendu kakak iparnya itu. "Aku belum tahu, sejak tadi dokter dan perawat belum keluar dari sana." Suara Wulan bergetar di antara isak tangisnya. Tiba-tiba Pitaloka maju, sehingga Mikaila memberikan jalan kepada ibunya itu. Perempuan tersebut menatap tajam ke arah Wulan. Wulan menunduk karena merasa tak sopan jika ikut menatap mata mertuanya itu. Namun, tanpa Wulan duga kini sebuah tamparan mendarat tepat di pipinya. Rasa panas kini menyebar hampir di setengah bagian wajahnya. Hatinya merasa begitu nyeri karena mendapatkan perlakuan kasar dari Pitaloka. Jika diingat-ingat, ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang ibu mertua sejak dia berstatus sebagai istri Nathan. Wulan terus menunduk dengan air mata yang membanjiri wajah. Mikaila mendekat dan memeluk tubuh mungil Wulan yang kini gemetar. "Gara-gara kamu, alerginya kambuh! Istri macam apa kamu? Bisa-bisanya menempatkan suami sendiri dalam bahaya! Memang terdengar sepele! Tapi hal ini bisa saja mengancam nyawa Nathan!" teriak Pitaloka. "Maaf, Bu. Tapi, aku benar-benar nggak tahu kalau Dokter Nathan ...." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Pitaloka memotong perkataan sang menantu. "Makanya cari tahu! Cari tahu dan pahami semua tentang Nathan! Menjadi tugas istri untuk melayani suaminya dengan baik! Kamu harus memantaskan diri untuk menjadi istri seorang dokter spesialis terkenal seperti putraku! Lihat saja penampilanmu sekarang! Aura babu sungguh kental terasa dari jarak jauh!" seru Pitaloka. Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Pitaloka, tanpa memedulikan perasaan Wulan. Sementara Wulan hanya bisa tertunduk lesu. Memang jelas sekali dia dan Nathan sangat memiliki strata sosial yang sangat jauh. "Bu, jangan bicara begitu! Ibu sudah menyakiti hati anak perempuan orang! Memangnya ibu mau aku sama Mbak Nathalia direndahkan dengan cara yang sama seperti ibu memperlakukan Mbak Wulan?" Mikaila berusaha mengingatkan sang ibu yang sudah keterlaluan terhadap kakak iparnya tersebut. "Nggak mungkinlah! kamu itu wanita berpendidikan tinggi! Kita juga keluarga terpandang! Nggak mungkin kita setara dengan Wulan! Nggak mungkin anak-anak ibu direndahkan! Lagi pula ibu nggak merendahkan Wulan! Ibu hanya menghadapkannya pada kenyataan agar menjadi wanita yang lebih baik!" ujar Pitaloka sambil menata sinis sang menantu yang masih menangis tergugu di dalam dekapan putri bungsunya itu. "Bu, jangan lupa akan hukum karma! Terlebih, kita hidup itu seperti roda berputar. Ibu juga Jangan melupakan satu hal. Di atas langit, masih ada langit!" Mikaila membetulkan letak kacamatanya ketika mengakhiri kalimat. Mikaila membawa Wula untuk duduk di salah satu bangku yang ada di depan IGD. Dia menatap tajam sang ibu sekilas kemudian berusaha menenangkan sang kakak ipar. Pitaloka berdecap dan masuk ke ruang IGD karena seorang perawat keluar dan memanggil keluarga pasien. Mikaila hanya bisa menggeleng sambil menatap sang ibu yang sudah masuk ke ruang IGD bersama Nathalia. Kini Mikaila menatap Wulan sambil memegang kedua lengan atas kakak iparnya tersebut. Mikaila tersenyum tipis, lantas menghapus air mata Wulan. "Abaikan saja ucapan ibu, Mbak. Dia lagi emosi aja. Soalnya Mas Nathan memang anak laki-laki satu-satunya dan menggantikan ayah sejak beliau meninggal. Yang sabar menghadapi ibu, ya, Mbak. Ibu memang bermulut pedas. Dia tipe wanita paling realistis di dunia." Mikaila tersenyum tipis ketika teringat bagaimana dia dulu juga sempat bermusuhan dengan sang ibu karena terlalu sering bermain game konsol. "Begini, Mbak. Ibu itu tipe wanita yang harus melihat sebuah pembuktian baru bisa percaya. Jadi, Mika harap Mbak bisa membuktikan kalau bisa jadi istri yang pantas buat Mas Nathan. Ya?" Mikaila menggenggam erat jemari sang kakak ipar sambil tersenyum lembut. "Tapi, gimana caranya? Aku memang wanita miskin yang tak berpendidikan! Aku juga dulu cuma kerja sebagai ART, Mika. Giana? Bagaimana caranya aku bisa menaikkan levelku sebagai seorang menantu yang pantas buat ibu dan istri yang setara sama Dokter Nathan?" Sura Wulan bergetar ketika mengucapkan kalimat tersebut. "Bukannya Mbak Wulan lagi ada pendidikan kejar paket C? Lanjutin sampai tamat, habis itu Mbak Wulan kuliah! Mbak Wulan suka apa? Tekuni saja! Aku dulu juga dilarang ibu karena selalu main game!" Mata Mikaila berkilat ketika hendak menceritakan pengalaman pribadinya dalam menghadapi sang ibu. "Tapi, suatu hari aku pulang dengan ujang puluhan juta karena menang turnamen main game! Baru sejak itu ibu mendukung aku yang suka main game! Dari sana aku juga direstui ambil kuliah software engineering." Mikaila tersenyum lebar karena puas dengan hasil kerjanya sendiri. Mendengar cerita dan motivasi yang diberikan oleh Mikaila membuat Wulan sedikit lebih semangat. Dia mulai bertekat untuk membuktikan bahwa bisa menjadi istri dan menantu yang terbaik untuk keluarga Nathan. Dia akhirnya menghapus air mata dan perlahan tersenyum lebar. "Yuk, kita ikut masuk buat jenguk Mas Nathan. Dia pasti butuh kamu, Mbak!" ujar Mikaila sambil berdiri. Gadis tersebut mengulurkan tangan kepada sang kakak ipar. Awalnya Wulan hanya menatap lengan Mikaila yang hanya menggantung di udara. Namun, akhirnya dia mengikuti langkah Mikaila karena gadis tersebut menarik lengannya. Sesampainya di dalam IGD, terlihat Pitaloka dan Nathalia tengah melemparkan tatapan tajam ke arah Wulan. Hal itu membuat nyali Wulan menciut. Mikaila yang menyadari hal itu langsung pasang badan. Mikaila berdiri di depan sang kakak ipar dan mulai menggandeng tangan Wulan untuk mendekati brankar Nathan. Pitaloka dan Nathalia masih terus menatap tajam Wulan yang masih tertunduk menatap kakinya yang terus melangkah mendekati brankar sang suami. "Ibu bisa keluar dulu nggak? Kamu juga, Mbak! Biarkan Mbak Wulan dan Mas Nathan menyelesaikan masalah mereka dulu. Semua berawal dari ketidaktahuan Mbak Wulan." Mikaila menatap tajam sang ibu dan kakak perempuannya itu agar mau pergi dari ruangan tersebut. "Nggak! Kami harus ada di sini!" Pitaloka melipat lengan di depan d**a kemudian membuang muka. "Biar aku saja yang pergi, Mika. Aku nggak bisa ada di sini kalau kalian nggak menginginkan aku." Wulan masih tertunduk lesu dengan hati yang masih terasa begitu nyeri. "Iya, kamu pergi dari sini saja! Melihat kamu membuat napasku menjadi semakin sesak!" ujar Nathan. "Mas Nathan! Kamu itu ngomong apa?" Mikaila berteriak kepada sang kakak yang masih tergolek di atas brankar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD