Bab 7. Tatapan Tajam

1097 Words
Wulan terdiam seketika. Dia sadar betul kalau sudah melakukan kesalahan. Wajar saja jika Nathan semarah itu kepadanya. Akan tetapi, hati Wulan tetap saja merasa sakit mendengar Nathan mengusirnya. Bahkan suaminya kini enggan untuk menatap dirinya. Wulan hanya bisa tertunduk lesu menatap ujung jarinya. Wulan perlahan balik kanan dan mulai melangkah keluar dari ruangan tersebut. Bahunya merosot dengan d**a yang terasa begitu sesak. Air mata perlahan menetes membasahi wajah cantiknya yang sangat polos. "Mas, kamu keterlaluan!" ujar Mikaila sambil menatap tajam sang kakak. Mikaila pun kini melangkah cepat mendekati Wulan. Dia menggandeng kakak iparnya itu. Mikaila berniat untuk mengantar Wulan kembali ke apartemennya. "Jangan dipikirkan. Mas Nathan terkadang juga bicara dengan nada dingin dan kasar. Tapi, sebenarnya dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya." Mikaila terus menggandeng kakak iparnya itu sampai ke tempat parkir. "Aku pantas mendapatkannya, Mika. Aku memang tidak memahami dirinya. Aku tidak tahu apa pun tentang dokter Nathan. Aku ....." Mikaila sontak menghentikan langkahnya. Dia memegang bahu sang kakak ipar dan menatapnya sambil tersenyum. Jemari lentik gadis itu perlahan mengusap air mata Wulan. "Maka tanyakan apa pun tentang Mas Nathan kepadaku! Daripada ibu dan Mbak Nathalia, aku lebih paham soal Mas Nathan!" Kini Mikaila mengangkat dagu seraya menepuk d**a jemawa. "Boleh begitu?" "Tentu saja boleh!" ujar Mikaila sambil tersenyum lebar. "Jadi, mohon bantuannya. Aku ingin memantaskan diri menjadi istri seorang dokter Nathan!" Wulan sedikit mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. "Jadi, tetap lanjutkan sekolahmu! Aku akan membantu jika memang kesulitan belajar!" ujar Mikaila sambil menggandeng lengan sang kakak ipar. Hari berikutnya Wulan kembali mencoba menjenguk Nathan. Dia datang ke rumah sakit dengan penampilan sederhana seperti biasa. Langkahnya ringan ketika berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Beberapa perawat yang lewat saling berbisik dan menatap sinis perempuan tersebut. Wulan tersenyum tipis dan mengangguk untuk menyapa mereka. Namun, dia hanya mendapatkan tatapan sinis dan senyuman miring. Wulan akhirnya menelan kembali senyumnya. Dia berhenti di depan pintu kamar Natan dan menarik napas panjang sebelum akhirnya memutar tuas pintu. Ketika melangkah masuk, Wulan mendapati sang suami masih terlelap dengan cungkup oksigen menempel pada hidung dan mulutnya. "Mas," panggil Wulan untuk memastikan suaminya itu tidak pura-pura tidur. Namun, Nathan tindak memberikan respons. Suaminya itu ini balik badan dan memunggungi Wulan. Dari sana justru perempuan itu paham kalau sang suami sedang berpura-pura tidur. Wulan berusaha membesarkan hatinya dan terus bersabar. Dia meletakkan kotak makan yang dia bawa ke atas meja. Wulan berjalan ke arah jendela dan membuka jendela agar udara pagi bisa masuk ke ruangan itu. Wulan tak lupa juga mematikan pendingin ruangan. Setelah selesai, Wulan menyiapkan makanan untuk sang suami. Dia menatanya ke atas nampan dan mulai berjalan ke arah brankar. "Dok, Mika bilang kamu nggak mau makan menu rumah sakit. Jadi, aku ke sini dengan membawakanmu bubur kacang hijau. Aku mencari dari internet kalau kacang-kacangan bisa membuat tubuh lekas pulih dari reaksi alergi." Wulan meletakkan nampan ke atas nakas, lalu menarik kursi yang ada di samping brankar. Nathan masih bergeming. Akan tetapi, sekarang dai tak lagi berpura-pura tidur. Lelaki tersebut mulai membuka mata dan menatap jendela dengan pemandangan kota di hadapannya. Wulan menarik napas panjang dan mulai mengembuskannya perlahan. Perempuan tersebut menatap nanar punggung sang suami yang begitu kokoh layaknya batu karang. "Dok, aku tahu aku tidak ... ah, maksudku aku belum pantas menjadi istrimu. Aku akan berusaha untuk menyetarakan diri denganmu meski sulit, Dok. Bukankah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah nasib menjadi lebih baik?" Wulan tersenyum kecut kemudian mulai mengangkat nampan dari atas nakas. "Ayo makan, Dok. Atau mau aku suapin?" goda Wulan sambil berusaha menyentuh tubuh sang suami. "Pergi!" teriak Nathan sambil mengayunkan lengannya ke arah Wulan. Tanpa sengaja kini nampan dalam genggaman Wulan terbalik. Mangkok tempat dia menyajikan bubur kacang hijau pun ikut terbalik. Sontak bubur tersebut kini tumpah ke badan Wulan. "Aduh!" ujar Wulan sambil menghindar agar tidak terluka lebih banyak. Rasa panas yang menyengat kini membakar bagian depan tubuh wanita tersebut. Suara mangkok yang terbentur ke atas lantai membuat Nathan menoleh. Pupil mata Nathan melebar ketika menyadari perbuatannya telah melukai Wulan. Wulan langsung berjongkok untuk memunguti pecahan mangkok dari atas lantai. Jarinya terluka karena tergores dengan pecahan keramik tersebut, tetapi Nathan yang awalnya melihat justru membuang muka ketika Wulan mendongak dengan mata berkaca-kaca. Wulan mengedarkan pandangannya untuk mencari kain yang bisa digunakan untuk membersihkan lantai. Akhirnya Wulan mulai melepaskan jaket rajutnya untuk mengelap lantai, tetapi tindakannya itu dicegah oleh seseorang yang masuk ke ruangan tersebut. Lelaki yang juga memakai jas dokter itu mencegah Wulan melepas jaketnya dengan menggeleng. Dia menarik lengan atas Wulan untuk membantunya berdiri. "Biar aku panggil petugas kebersihan untuk membersihkan lantai. Kamu terluka. Sebaiknya segera diobati sebelum luka bakarnya makin parah." Lelaki yang belum diketahui namanya oleh Wulan itu berjalan ke arah pintu dan membuka benda tersebut. Dia keluar dan kembali bersama dengan seorang perawat dan satu petugas kebersihan. Perawat mengajak Wulan keluar dari ruangan itu dan membawanya ke ruangan perawat. "Bu, bisa basuh dulu bagian tubuh yang terkena bubur panas, ya. Lalu keringkan perlahan menggunakan handuk ini." Perawat bernama Amel itu menyodorkan sebuah handuk kecil dengan permukaan lembut. "Pas mengeringkan luka, jangan digosok, Bu. Cukup ditekan lembut pada permukaan kulit agar tidak mengelupas dan memperparah luka bakar." Amel tersenyum lembut kepada Wulan. Wulan pun mengangguk dan berjalan ke arah toilet yang ditunjukkan oleh Amel. Dia membersihkan tubuhnya yang kini tampak berubah kemerahan. Rasa panas dan nyeri yang dialami membuat Wulan meringis dan sesekali mendesis layaknya ular. Setelah selesai, Wulan kembali mendatangi Amel. Perawat cantik itu menggenggam sebuah salep pada tagan dan meminta Wulan duduk di hadapannya. Amel membuka sedikit baju Wulan untuk melihat kondisi kulitnya yang mengalami luka bakar. "Kalau seandainya hal serupa terjadi di rumah, jangan sekali-kali mengoleskan odol, ya, Bu. Odol justru bisa memperparah kondisi. Kalau ada, lebih baik gunakan petroleum jelly atau biasanya dijual bebas dengan merek V. Zat yang terkandung di dalamnya bisa mengurangi rasa panas atau terbakar pada bawah permukaan kulit." Amel menjelaskan hal itu kepada Wulan yang memang tidak mengerti apa pun tentang pertolongan pertama medis. "Baik," ucap Wulan sambil mengangguk. "Mau dibantu oles salep ini atau mau oles sendiri?" tanya Amel sambil menunjukkan salep yang masih ada dalam genggamannya. Amel menawarkan pilihan tersebut karena takut Wulan merasa tidak nyaman jika tubuhnya disentuh oleh orang lain. Akhirnya Wulan memutuskan untuk mengoleskan salep itu secara mandiri. Bukan karena malu, tetapi lebih merasa sungkan. "" Ngomong-omong, ketika aku berjalan sepanjang koridor, kenapa para perawat menatapku sinis dan tampak nggak suka melihatku mengunjungi suamiku sendiri?" Mendengar pertanyaan Wulan membuat Amel terbelalak. Dia terlihat membuang muka beberapa kali dengan jemari yang kini meremas satu sama lain. Wulan mengerutkan dahi ketika melihat ekspresi Amel yang mendadak berubah. "Sebenarnya ada apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD