"Serius, Bu Wulan nggak tahu?" tanya Amel degan mata yang masih terbelalak.
Wulan yang memang tidak tahu apa pun hanya bisa menggeleng. Kini Amel mulai mendekatkan bibirnya pada telinga Wulan untuk membisikkan sesuatu. Kali ini pupil mata Wulan melebar.
"Mereka nggak suka aku menikah dengan Dokter Nathan? Dan mereka menudingku sengaja menjebaknya?" seru Wulan dengan nada tinggi.
Kini beberapa perawat yang ada di ruangan itu menoleh ke arah mereka. Amel menepuk dahinya, lantas menempelkan telunjuk ada permukaan bibir. Wulan kini menarik ujung bibirnya ke bawah.
"Kok bisa mereka berpikiran seperti itu? Jika bisa memilih aku tidak ingin kejadian ini terjadi kepadaku. Aku masih ingin bersenang-senang di masa muda karena diberi kesempatan bagus sama Bu Nadira." Wulan mulai mengeluarkan air matanya dengan suara isak tangis yang perlahan keluar dari bibirnya.
"Halah, pembohong!" Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara tidak menyenangkan itu.
Amel memutar bola mata ketika mengetahui siapa yang kini datang menghampiri mereka. Dia adalah Rika seorang perawat senior yang memang suka mengejar-ngejar dokter Nathan. Dia menjadi lebih gencar mendekati dokter tampan itu sejak dokter Puspa pergi dari Bali.
"Ngapain, sih, kamu, Mbak! Nggak diajak nimbrung kok ngikut-ikut!" Amel mulai beranjak dari kursi kemudian menarik lengan Wulan.
"Ayo kita pergi, Bu. Bisa ketularan penyakit hati Mbak Rika nanti!" ejek Amel sambil menatap sinis seniornya itu.
Wulan hanya bisa mengikuti langkah Amel yang hendak meninggalkan ruangan tersebut. Akan tetapi, mereka terpaksa menghentikan langkah karena Rika menghadang keduanya. Dia menggeser tubuh sehingga menutupi pintu ruang perawat.
"Heh, Wulan. Kamu jangan terlalu PD! Kalau nggak ada akibat buruk karena perbuatan dokter Nathan malam itu, terus kamu nggak hamil, pasti nanti kamu diceraikan! Jadi, jangan pernah berharap lebih sama dokter Nathan untuk bisa menyukaimu! Kamu itu nggak pantas buat lelaki seperti dia!" ujar Rika seraya tersenyum miring.
Wulan melepaskan lengannya dari genggaman tangan Amel. Dia kini mendekati Rika. Sebuah tatapan dingin diberikan Wulan kepada lawan bicaranya itu.
"Lalu, wanita seperti apa yang pantas menjadi istri dokter Nathan?' tanya Wulan tanpa melepaskan tatapannya pada Rika.
"Ya ... ya ...." Rika sedikit gugup karena melihat keberanian Wulan yang seakan hendak mengintimidasinya.
"Ya pokoknya yang cantik! Berpendidikan! Ya, minimal perawat kayak kami!" ujar Rika sambil menggerakkan hampir seluruh tubuhnya.
"Oh, jadi begitu, ya?" Kini sebuah senyuman lebar terukir di bibir Wulan.
"Maka aku akan mencoba belajar untuk memperbaiki penampilan dan belajar lebih tekun! Aku akan jadi perawat suatu hari nanti!" ujar Wulan dengan wajah polos penuh senyum lugunya itu.
Mendengar ucapan Wulan membuat Rika melongo. Bahkan Amel menepuk dahinya karena tak habis pikir dengan isi kepala Wulan. Justru sekarang Wulan menggenggam jemari Rika sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih masukannya, Mbak! Aku jadi tahu tipe wanita yang setara dengan dokter Nathan! Aku akan berjanji untuk memperbaiki diri buat bisa meraih hati dan setara dengannya! Ngomong-omong ...." Wulan kini mendekatkan wajahnya sambil menatap Rika dengan pupil mata melebar.
"Bagaimana cara membuat garis di kelopak mata seperti Mbak Rika? Bisa ajari aku?" tanya Wulan dengan polosnya seraya mengedipkan kedua mata.
Amel yang takut Rika meledak karena tingkah Wulan yang kelewat polos, akhirnya menarik lengan gadis lugu tersebut. Keduanya berlari menyusuri lorong dan berhenti tepat di depan kamar Nathan. Napas keduanya tersengal sehingga harus membuat mereka mengatur napas sebelum kembali bicara.
"Makasih, sudah bantu rawat lukaku. Tapi, bisa minta plester luka? Jariku juga tergores sedikit tadi," pinta Wulan sambil menunjukkan jarinya yang masih mengeluarkan darah.
"Ah, nanti aku ambilkan, Bu. Bu Wulan masuk aja dulu."
"Aku nggak mau masuk lagi. Sepertinya dokter Nathan butuh waktu untuk sendiri. Dia kayaknya marah banget sama aku." Wulan tersenyum kecut sambil menunduk dan mengikis kukunya sendiri menggunakan ujung jari.
"Kalau begitu tunggu di sini sebentar, Bu. Aku akan mengambilkan obat dan kain kasa untuk lukamu." Amel berlari kembali ke arah ruang perawat.
Tak membutuhkan waktu lama untuk gadis itu menghampiri Wulan lagi. Kini di tangannya ada cairan iodin serta kain kasa. Dia menggunakan kain untuk membebat luka ada jari Wulan.
"Kalau begitu aku pamit, Mbak." Wulan tersenyum lembut kemudian berjalan gontai menyusuri koridor.
Perempuan itu masih tidak menyangka bahwa berita tentang insiden malam itu menyebar begitu cepat di rumah sakit. Dia menjadi sedikit berkecil hari karena setiap orang yang dia temui selalu menganggap remeh karena tidak berpendidikan. Entah siapa yang tega menyebarkan rumor kurang menyenangkan itu.
***
Sudah tiga hari Nathan dirawat dan belum kembali ke rumah. Sore itu Wulan pulang ke apartemen diantar oleh Ridwan untuk ke-sekian kalinya. Ridwan seakan sudah tahu kapan dia pulang dan kapan berangkat.
"Bang, tolong ini yang terakhir kalinya mengantarku pulang. Aku takut kalau sampai menimbulkan kesalahpahaman. Aku sudah bersuami. Ini terlalu janggal jika dianggap sebuah kebetulan." Wulan melepaskan helm dan menyerahkannya kepada Ridan.
"Kebetulan bisa saja terjadi setiap hari karena sebuah kebiasaan yang terus beruang, Lan. Sudah sana masuk. Aku juga nggak tiap hari nganter karena memang bekerja secara sif. Kebetulan aja hari ini jam kerja kita sama dan kafe tempatku bekerja nggak jauh dari kafe Bu Dira. Sekalian aku antar kamu pulang."
"Nggak, nggak bisa terus begini. Ini yang terakhir kalinya dan lain kali, aku akan menolaknya." Wulan tersenyum kecut kemudian berjalan masuk ke arah lobi apartemen.
Sebuah kejutan kini ada di hadapan mata Wulan. Kini unit apartemen sang suami didatangi oleh Pitaloka dan Nathalia. Saat pintu terbuka, keduanya menatap tajam Wulan yang masih berdiri di depan pintu sambil melongo.
"Bu, kok ada di sini?'
"Emangnya salah kalau aku berkunjung ke rumah anakku?" Pitaloka tersenyum miring.
Wanita tersebut berjalan ke arah Wulan dan menatap sinis menantunya itu. Dia mengamati penampilan Wulan dari ujung kaki hingga puncak kepala. Setelahnya perempuan itu mengembuskan napas kasar dan berdecap sambil menggeleng.
"Pantasnya memang jadi babu, sih!" ejek Pitaloka.
Pitaloka balik kanan kemudian menyusuri pandangan ke setiap sudut ruangan tersebut. Dia tersenyum miring, lalu melipat lengan di depan d**a. Tak lama kemudian, Pita kembali balik badan dan menatap Wulan dengan menyipitkan matanya.
"Kerja bagus! Kamu menjaga rumah ini dengan baik! Aku kan menambahkan gaji ekstra untukmu! Jaga anakku baik-baik sampai dia menemukan istri baru yang cocok dan setara dengan keluarga kami!" Pitaloka terkekeh kemudian mengambil sesuatu dari tangan Nathalia.
Perempuan itu berjalan ke arah Wulan, lantas menyodorkan sebuah amplop berwarna keemasan kepada sang menantu. Ketika Wulan hendak menerima amplop tersebut, Pitaloka dengan sengaja melepaskan genggamannya. Amplop tersebut pun melayang-layang di udara sebelum akhirnya jatuh ke atas lantai.
Wulan akhirnya menunduk untuk meraih amplop itu. Akan tetapi, Pitaloka kembali berulah. Dia menginjak amplop itu dan menekannya dengan alas kaki yang dia kenakan. Wulan hanya bisa mematung sambil menatap nanar kertas yang kini ada di bawah kaki sang ibu mertua.
"Datang sesuai jam yang ada di undangan! Buktikan kalau kamu pantas masuk ke dalam keluarga kami!"