Pitaloka mengangkat kakinya dari atas undangan kemudian berjalan ke arah pintu. Nathalia pun mengikuti jejak sang ibu sambil menatap sinis Wulan ketika melewati gadis tersebut. Wulan meraih amplop yang sudah kotor karena ulah sang ibu mertua, lantas mengusap permukaannya dengan telapak tangan.
"Bu, apakah mengundang seseorang untuk hadir ke sebuah acara caranya begini?" Wulan perlahan bangkit dari posisinya sekarang.
Wulan kini berdiri tegap sabil menatap punggung sang ibu mertua yang masih mematung di depan pintu. Pitaloka mulai memutar tubuhnya. Dia menatap nyalang sang menantu yang mulai dirasa membangkang.
"Terima kasih atas undangan yang Ibu berikan. Aku menghargainya dan akan datang kali ini. Namun, lain kali aku akan mengabaikan undangan Ibu kalau masih melakukannya dengan cara yang sama." Wulan tersenyum, tetapi matanya terlihat sebak.
Pitaloka bungkam, begitu juga dengan Nathalia. Dia tidak menyangka sang kakak ipar berani bicara seperti itu kepada ibunya. Mereka akhirnya keluar dari unit apartemen Nathan.
Saat membuka pintu, di hadapan mereka sudah ada Mikaila dan Nathan yang menatap degan tatapan dingin. Mikaila seakan menyadari ada yang salah. Dia bergegas melepaskan tangan dari lengan sang kakak dan menyusul Wulan yang ada di dalam apartemen.
"Ada keperluan apa Ibu datang ke sini?" tanya Nathan dengan suaranya yang dingin.
"Ada urusan sedikit dengan calon mantan istrimu. Kamu sudah pulang? Maka beristirahatlah yang banyak. Jangan terlalu memforsir tenaga dan pikiran untuk sementara waktu. Dua minggu lagi ada acara besar di rumah ibu. Aku harap kamu datang tepat waktu."
Pitaloka melenggang begitu saja meninggalkan Nathan yang masih mematung di depan pintu. Lelaki itu menatap punggung sang ibu yang mulai menjauh. Lelaki tersebut mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya masuk menyusul Mikaila.
Ketika Nathan masuk, Mikaila dan Wulan tidak ada di ruang tengah. Pintu kamar sang istri sedikit terbuka dengan suara isak tangis terdengar. Lelaki itu mendekati ruangan tersebut, tetapi tidak ikut masuk.
Nathan memutuskan untuk menyadarkan punggung pada dinding bagian luar kamar Wulan. Dia menguping pembicaraan istri dan sang adik. Dari cerita Wulan, Nathan tahu bagaimana perlakuan buruk yang terima dari sang ibu.
"Mas," sapa Mikaila ketika keluar dari kamar Wulan.
Nathan berdeham, kemudian kembali menegakkan punggungnya. Dia berjalan ke arah sofa ruang tengah. Mikaila menggeleng, lantas mengikuti jejak langkah sang kakak seraya menggeleng.
Mikaila menghempaskan tubuh ke atas sofa, lalu menatap sang kakak yang kini terlihat masih sedikit pucat. Mikaila memiringkan tubuh agar bisa menatap sang kakak dengan leluasa.
"Mas, kalian sudah menikah. Tetapi, kenapa kalian tidur secara terpisah?" tanya Mikaila seraya mengerutkan dahi.
"Itu ...." Nathan menegakkan punggung kemudian mengusap wajah kasar.
"Kamu tidak akan mengerti karena tidak mengalaminya sendiri, Mika. Kami menikah dengan waktu yang sangat singkat. Kamu tahu itu. Ini terjadi karena sebuah kecelakaan. Kami sebelumnya hanya mengenal sebatas nama dan tidak sedekat itu. Pasti canggung untuk langsung hidup satu atap dengan orang asing." Nathan menggunakan jemarinya untuk membuat tanda kutip di samping kepala ketika menyebutkan kata asing.
"Terserah apa alasannya. Yang jelas, jangan terlalu lama bersikap dingin sama Wulan. Dia memiliki hati polos yang rapuh karena kerasnya kehidupan. Aku yakin masalahnya akan semakin menempa mental ketika menikah denganmu, Mas. Jadi, aku mohon jangan membuatnya semakin kacau. Setidaknya bersikap baik akan sedikit meringankan tekanan mental yang kini dia alami. Apalagi kamu tahu sendiri bagaimana ibu." Mikaila mengembuskan napas kasar, lantas beranjak dari sofa.
"Aku ulang. Setelah pesta ulang tahun ibu selesai, aku akan kembali ke Jakarta. Aku memiliki panggilan kerja di beberapa perusahaan besar!" ujar Mikaila seraya mendongak dengan jemawa.
"Ya, terima kasih." Nathan tersenyum tipis sambil melambaikan tangan ke arah Mikaila yang perlahan berjalan ke arah pintu.
"Mas, ingat pesanku! Bersikaplah sedikit lebih lembut kepada kakak iparku! Jika sampai kamu melakukan hal tidak bertanggung jawab, aku akan maju paling depan untuk membela Wulan!" ujar Mikaila sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Nathan tersenyum tipis. Lelaki tersebut menatap pintu kamar Wulan yang kini tertutup. Dia perlahan bangkit dan berjalan masuk ke kamarnya.
***
Keesokan harinya Wulan bangun seperti biasa, Hari ini dia libur kerja selama satu hari. Dia berniat untuk fokus mengikuti kelas secara daring. Jadi, perempuan tersebut mulai menyiapkan sarapan sejak bangun.
Kali ini Wulan lebih berhati-hati. Dia mendapatkan banyak catatan penting yang diberikan oleh Mikaila soal makan yang disukai dan tidak disukai oleh Nathan. Wulan mendengus ketika menatap kertas yang kini ada di genggamannya.
"Apa yang aku suka, dia tidak suka. Apa yang dia suka, aku juga tidak suka. Bagaimana ini? Sepertinya kami memang tidak ditaksirkan hidup bersama." Wulan tersenyum keciut. lantas melipat kertas dan memasukkannya ke dalam celemek.
Wulan yang sudah selesai memasak langsung menyajikannya di atas meja makan, Dia melepas celemek lalu bersiap untuk masuk ke kamar dengan satu nampan makanan untuk dirinya. Namun, ketika Wulan hendak masuk dan membuka pintu kamar, di saat yang bersamaan Nathan juga melakukan hal yang sama.
"Waduh!" ujar Wulan kalau dia telah melakukan kesalahan.
Wulan masih ingat betul kalau Nathan tidak mau dia tampak saat suaminya itu ada di rumah. Meski sudah terlambat, Wulan memutuskan untuk tetapi, ketika baru hendak melangkah masuk ke kamar, dia menghentikan langkah.
"Makan di sini saja!" ujar Nathan sambil berjalan ke arah meja makan.
Lelaki itu menarik kursi dan mulai mendaratkan p****t ke atasnya. Dia membuka tudung saji, lantas mengisi piring dengan nasi merah yang dimasak oleh Wulan. Nathan tercengang selama beberapa detik.
Lelaki tersebut menoleh ke arah Wulan dan menatapnya dengan kepala dipenuhi banyak pertanyaan. Wulan hanya mengedipkan mata dan masih mematung di depan kamarnya. Nathan menggerakkan ujung telunjuk sebagai isyarat agar sang istri mendekat.
"Ya?" Kedua alis Wulan terangkat karena masih belum memahami situasi dan maksud dari sang suami.
"Ke sini!" perintah Nathan dengan nada kesal karena Wulan yang hanya melongo layaknya sapi ompong.
"Ba-baik, Dok!" ujar Wulan.
Perempuan itu perlahan melangkah mendekati meja makan. Dia berhenti di hadapan Nathan dan menatapnya dengan tatapan polos. Hal itu membuat Nathan begitu frustrasi.
"Duduk!" perintah Nathan lagi.
Lagi-lagi Wulan mematuhinya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Wulan langsung menarik kursi dan duduk di seberang Nathan, Dia meletakkan nampan ke atas meja dan masih terdiam seakan sedang menunggu aba-aba yang diberikan oleh sang suami.
"Ya Tuhan! Kamu itu manusia apa robot, sih?" tanya Nathan sarkas.
"Saya ... manusia, Dok." Wulan menjawab pertanyaan itu dengan wajah polos.
Tunggu Wulan bukan polos, tetapi lebih ke arah bodoh. Nathan langsung menepuk dahi karena melihat tingkah sang istri yang benar-benar di luar dugaan. Nathan kini mencondongkan tubuh ke depan.
"Siapa yang menyuruhmu memasak beras merah?" tanya Nathan sambil menyipitkan mata.
"Oh, itu ... aku melakukannya karena catatan, Dok." Wulan tersenyum sambil tertawa kecil dengan jemari yang menggaruk tengkuknya.