Bab 10. Kekacauan di Pesta

1035 Words
"Catatan?" tanya Nathan sambil mengerutkan dahinya. Wulan mengangguk cepat dengan mata berbinar. Tak lama kemudian dia beranjak dari meja makan. Perempuan itu berjalan ke arah celemek yang dia gantung di dekat kulkas dan merogoh sakunya. Setelah menemukan kertas berisi catatan makanan kesukaan Nathan dia kembali menemui sang suami. "Ini catatan yang diberikan sama Mika, Dok." Wulan menyodorkan catatan pada secarik kertas yang dia terima dari Mikaila. Nathan pun langsung mengambil kertas tersebut dari genggaman Wulan. Dia mengerutkan dahi ketika membaca tulisan yang ada di dalamnya. Setelah itu, Nathan mengembalikannya kepada sang istri. "Kenapa nggak tanya langsung sama aku?" "Ya?" Kini kedua alis Wulan terangkat dengan pupil mata yang melebar. "Maksud Dokter?" "Ya, langsung tanyakan saja kepadaku tentang apa pun yang kamu mau ketahui. Nggak usah melibatkan orang lain dalam rumah tangga kita." Nathan menatap sang istri dengan tatapan dingin dengan sebuah kehangatan tersembunyi di dalamnya. Wulan mengedipkan matanya beberapa kali ketika menatap Nathan. Otak gadis tersebut memang kelewat lemot. Dia masih terdiam untuk menerima penjelasan lebih lanjut dari Nathan. "Lan, maafkan atas sikap burukku kepadamu. Aku masih sulit menerima pernikahan yang justru aku paksakan kepadamu ini. Bukankah aku aneh?" Nathan tersenyum kecut dan menatap Wulan sekilas, lalu menunduk. "Nggak apa-apa, Dok. Aku juga masih belajar menerima pernikahan kita. Ini semua terlalu cepat dan mendadak. Jika ...." Wulan menggantung ucapannya di udara kemudian menunduk dan memainkan jemari di atas celana. "Jika ternyata aku tidak hamil karena hubungan malam itu, apakah Dokter akan menceraikan aku?" Suara Wulan bergetar seakan menyembunyikan kepahitan. Nathan mengangkat wajah dan kini menatap sendu Wulan yang masih tertunduk lesu. Lelaki tersebut sudah bertekad untuk mempertahankan pernikahan itu apa pun yang terjadi. Dia yang telah memulai semuanya menjadi kacau, maka dia harus bertanggung jawab hingga akhir. "Aku tidak akan melakukannya. Mari kita jalani pernikahan ini bersama. Jika memang belum bisa saling mencintai sekarang, kita menjalani pertemanan dulu. Gimana?" Nathan mengulurkan tangan ke arah Wulan yang perlahan mulai mendongak. Wulan menatap tangan Nathan yang masih menggantung di udara. Dia mengalihkan pandangan dari sana ke sepasang mata Nathan yang kini sedikit lebih teduh. Sebuah senyum kini terukir di bibir Wulan. Perlahan wanita tersebut mengangkat lengannya. Dia menyambut tangan Nathan dan bersalaman selama beberapa detik. Ada getaran aneh yang kini dirasakan oleh Wulan sehingga dia bergegas menarik tangannya. "Aduh, aku kesetrum!" ujar Wulan. "Hah?" Nathan mengerutkan dahi seraya memiringkan kepala ketika mendengar sang istri yang sedikit berteriak. "Itu, kayak kesetrum pas jabat tangan sama Dokter Nathan." Wulan tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nathan terkekeh berkat kepolosan Wulan. Melihat senyuman Nathan yang sudah lama tak terlihat membuat hati Wulan semakin berdebar. Dia terpukau dengan lelaki yang biasanya hanya mengobrol saat Nathan menanyakan soal Nadira. *** Hubungan keduanya perlahan membaik sejak hari itu. Wulan jadi lebih banyak tersenyum karena perubahan sikap Nathan yang menjadi lebih lembut. Walau jarang, keduanya akan meluangkan waktu untuk mengobrol dan bercengkerama. "Nanti malam aku pulang sedikit terlambat. aku akan meminta Mikaila untuk menjemputmu. Nggak apa-apa, kan?" tanya Nathan sambil beranjak dari meja makan. "Iya, nggak apa-apa, Dok." Wulan tersenyum lembut dan mengikuti langkah sang suami yang berjalan ke arah pintu. "Aku berangkat dulu." Nathan mengulurkan tangan dan disambut oleh Wulan. Perempuan itu mencium punggung tangan sang suami takzim. Setelah itu Nathan keluar dari apartemen dan Wulan bersiap untuk berangkat ke kafe, hari itu berjalan sangat lancar hingga malam tiba. Malam itu adalah hari ulang tahun Pitaloka. Wulan sudah siap dalam balutan gaun berbahan katun dengan motif batik. Dia juga merias dirinya dengan sangat sederhana. Wulan memang tidak pandai mengulaskan riasan pada wajahnya. Setelah siap, Wulan menunggu kedatangan Mikaila di ruang tengah. Namun, sudah satu jam berlalu adik iparnya itu tak kunjung datang. Wulan mencoba menghubungi Mikaila, tetapi panggilannya selalu dialihkan. "Aku kayaknya harus datang sendiri." Wulan tersenyum tipis, kemudian mengambil tas kertas berisi kado yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Wulan langsung memesan taksi secara daring dan bergegas datang ke rumah sang mertua. Sesampainya di sana Wulan dibuat terpukau oleh kemeriahan pesta ulang tahun ibu mertuanya. Tidak hanya warga lokal yang datang. Wulan justru lebih banyak melihat warga asing yang datang ke acara sang ibu. Memang ibu mertuanya itu memiliki banyak kolega dari warga negara asing. Terlebih karena bisnis modenya yang mulai merambah ke mancanegara. Wulan berjalan memasuki rumah sambil melemparkan senyuman kepada para tamu undangan yang hadir. Dia masih menyusuri pandangannya ke sekitar untuk mencari Mikaila. Hanya gadis itu yang bisa diandalkan di tengah pesta ulang tahun ibu mertuanya. "Mika di mana, sih?" gumam Wulan sambil merogoh ponsel yang ada di tasnya. Wulan kembali mencoba untuk menghubungi Mikaila, tetapi dia gagal. Dia terus mengulangi panggilannya meski tahu akan gagal. Dia berhenti melakukan panggilan saat mendapati Mikaila ada di sudut ruangan bersama seorang pria. Mikaila seperti menatap ke arah Wulan. Wulan berusaha melambaikan tangan agar terlihat oleh sang adik ipar. Akan tetapi, usahanya kembali gagal. Akhirnya mau tidak mau Wulan berjalan membelah kerumunan. Dia berusaha untuk mendekati Mikaila yang jaraknya tidak begitu jauh. Namun, tiba-tiba dia merasa ada yang menghalangi kakinya. "Astaga!" Wulan terbelalak karena keseimbangannya goyah. Perempuan tersebut terjun ke arah meja. Wulan sontak meraih meja di depannya agar tidak membentur tubuhnya. Namun, usahanya gagal. Wulan malah menarik taplak meja dengan banyak makanan dan minuman di atasnya. Kekacauan pun terjadi. Semua yang ada di atas meja kini terjun bebas ke lantai. Suara gelas dan piring pecah langsung menggema di ruangan tersebut. Kini semua mata tertuju pada Wulan. Begitu juga dengan Mikaila. Dia langsung berlari menghampiri sang kakak ipar. "Mbak Wulan, kamu nggak apa-apa?" tanya Mikaila sambil membantu kakak iparnya itu berdiri. Ketika keduanya berdiri, Wulan langsung terbelalak. Kini di depannya sudah ada wanita seksi yang tampak tidak asing. Ya, sekarang Jessica sedang menatapnya sinis sambil memegang gelas berisi anggur. "Bu, Anda sengaja menjegal kakiku?" Wulan menatap Jessica dengan mata berkaca-kaca. "Nggak, mana ada? Aku nggak sengaja." Jessica hanya tersenyum miring. Dia menggoyangkan gelas dan kembali menyesap cairan berwarna burgundi dari gelasnya. Mikaila mengepalkan jemari dan merebut gelas dari genggaman Jessica. Sontak Mikaila menumpahkan minuman itu ke wajah Jessica hingga basah kuyup. Dia sampai gelagapan karena ulah Mikaila. Dari kejauhan terdengar langkah kaki mendekat. Kini semua orang menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Mikaila dan Wulan. Pitaloka menatap Wulan sambil tersenyum sinis. "Apa yang sudah kalian lakukan kepada menantuku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD