Bab 12. Ayo, Bercerai, Dok!

1051 Words
Malam itu Wulan pulang dengan kondisi hati yang kacau. Nathan seolah melupakan janji untuk terus melindunginya. Dia baru saja mengucap untuk tidak membuatnya menangis, tetapi dalam hitungan menit justru Nathan menghadirkan duka dalam hati gadis lugu tersebut. Wulan melangkah gontai memasuki kamarnya. Dia merebahkan tubuh yang terlalu lelah ke atas ranjang. Perempuan tersebut menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Ternyata Jesica lebih dikenal oleh Bu Pita daripada aku. Aku memang nggak pantas buat Dokter Nathan." Perempuan tersebut mengusap mata yang basah hingga menyisakan punggung tangan lembap dan berair. Malam itu Wulan terlelap dengan kondisi hati yang sangat sedih. Ujung matanya basah karena sisa tangis. Dalam tidur sesekali gadis itu mengeluarkan isak tangis. Pagi membangunkan Wulan. Dia beranjak dari ranjang dan mendapati noda darah di atas kasur. Entah mengapa ada rasa kecewa yang kini menghantam hati gadis tersebut. "Memang seharusnya nggak usah terlalu lebai. Seharusnya kami memang nggak menikah." Wulan mendengus kemudian turun dari ranjang. Perempuan tersebut menarik seprai yang membalut kasur dan membawanya keluar dari kamar. Namun, ketika hendak melangkah keluar tiba-tiba kakinya menyandung sesuatu. Perempuan tersebut tersungkur ke atas lantai dengan wajah mendarat di atas seprai. Saat menoleh, Wulan mendapati Nathan yang sudah duduk di depan kamarnya dengan mata terbelalak. Wulan menyusuri arah pandang lelaki itu. Ternyata Nathan sedang menatap bagian roknya yang terdapat noda darah. "Tutup matamu, Dok! Jangan lihat apa pun!" teriak Wulan sambil beranjak dari atas lantai dan menutupi bokongnya dengan seprai. Wulan langsung berlari masuk ke kamar mandi. Dia merendam seprai ke dalam ember dan memilih untuk mencucinya secara manual. Begitu juga dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Usai mencuci, Wulan langsung membersihkan diri. Namun, sialnya dia melupakan sesuatu. Ya, perempuan itu tidak membawa baju ganti. Hal yang lebih buruk pun kembali terjadi. Di dalam kamar mandi itu tidak ada handuk atau benda lain yang bisa menutupi tubuh polosnya saat keluar dari ruangan tersebut. Wulan terdiam seketika sambil menggigit bibirnya. "Ya Tuhan, aku lupa! Aku benar-benar lupa! Bagaimana ini?" tanya Wulan sambil terus memutar otak bagaimana agar bisa keluar dari kamar mandi tanpa malu. Wulan menatap cucian yang masih basah di dalam ember. Dia berpikir untuk memakainya sementara hingga masuk ke kamar. Namun, sedetik kemudian Wulan menggeleng. "Nggak, bisa diketawain dokter Nathan kalau memakai pakaian basah. Tampak kali kalau IQ-ku juga parah! Nggak! Nggak cuma jongkok! Tapi rebahan!" Wulan berperang dengan otaknya sendiri ketika mencari cara untuk keluar dari ruangan itu. "Apa aku intip situasinya saja? Kalau dokter Nathan nggak ada di luar, aku lari dan masuk ke kamar dengan kondisi bvgil?" Wulan membuka sedikit pintu kamar mandi. Kepala keluar dan melongok untuk memantau situasi di luar kamar mandi. Benar saja, suasana di luar sana sunyi. Tindakan Wulan kali ini benar-benar nekat dan di luar prediksi siapa pun. Dia keluar dari kamar mandi dalam kondisi polos tanpa sehelai benang pun. Wulan mempercepat langkah dan langsung berlari ke arah kamarnya. Sialnya, di saat yang bersamaan, Nathan membuka pintu kamar dan bisa menatap dengan jelas tubuh mulus Wulan tanpa halangan apa pun. Dia terbelalak, kemudian berteriak. Hal itu tentu saja membuat Wulan menghentikan langkah dan ikut berteriak. "Apa yang kamu lakukan! Tutup matamu, Dok!" teriak Wulan panik sambil menutupi bagian tubuh sensitif menggunakan kedua lengannya. Sontak Nathan menutup matanya dan memutar tubuh. Kini dia memunggungi Wulan . Lelaki itu mulai mengibaskan tangan sambil terus berteriak meminta Wulan masuk ke kamarnya. "Masuk sana! Aku nggak akan mengintip!" teriak Nathan sambil terus menggerakkan lengannya. Wulan pun bergegas masuk. Akan tetapi, ketika tinggal satu langkah lagi memasuki kamar, Wulan terpeleset. Kini dia terjerembap dengan hidung membentur lantai cukup kuat. Nathan tersentak. Dia ingin sekali membantu Wulan, tetapi mengingat kondisi Wulan yang polos tentu saja membuat Nathan mengurungkan Niat. Akhirnya Wulan merayap sambil menahan hidung yang terasa berdenyut untuk masuk ke kamarnya. Wulan membanting pintu kemudian menguncinya rapat dari dalam. Setelah mendengar suara dentuman pintu , Nathan mengembuskan napas lega. Dia balik kanan lantas menatap kamar Wulan yang ini tertutup rapat. "Astaga! Bisa ya ada wanita seperti dia di muka bumi ini? Dia itu bodoh apa gimana?" gerutu Nathan. Mendadak perut Nathan bergejolak. Semalam dia memang minum bersama Rama dan mencurahkan isi hatinya kepada sang sahabat. Saat pulang sebenarnya Nathan ingin meminta maaf kepada Wulan. Akan tetapi, ketika pada pintu kamar sang istri tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya tadi malam Nathan tidur di depan kamar Wulan dengan kondisi mabuk, sehingga menghalangi jalan Wulan sebelum insiden luar biasa pagi itu terjadi. Nathan langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Setelah merasa perutnya sedikit lega, Nathan memutuskan untuk membuatkan sarapan. Mengingat Wulan yang sedang haid, membuat Nathan memilih untuk membuatkan sop brokoli ikan salmon. Dia juga membuatkan minuman jahe hangat untuk Wulan. "Lan, keluar. Ayo kita sarapan dulu!" ujar Nathan sambil mengetuk pintu kamar Wulan. Nathan mengulanginya hingga tiga kali. Barulah Wulan mau membukakan pintu. Awalnya Wulan hanya membuka sedikit celah dan mengintip dari balik pintu karena malu. Akan tetapi, Nathan yang melihat hidung Wulan terlihat merah dan disumpal dengan kapas, langsung mendorong pintu kamarnya. Nathan menarik lengan Wulan dan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu bergegas mengambil koyak P3K untuk membantu pendarahan pada hidung Wulan berhenti. "Duduk tegak, tapi sedikit condongkan tubuhmu ke depan! Jangan menunduk atau membungkuk!" ujar Nathan. Wulan pun melakukan semuanya dengan patuh. Nathan berjalan ke arah lemari es dan mengeluarkan sebotol air es. Dia mengambil kapas yang digunakan wulan untuk menyumpal hidung, lalu membersihkan darah yang masih mengalir. "Maaf, bilang, ya kalau sakit!" pesan Nathan. Lelaki tersebut mulai mengecek hidung untuk mengetahui apakah ada gumpalan darah atau tidak. Setelah memastikan semuanya bersih, Nathan mengompres sebentar hidung Wulan. Setelah itu lelaki tersebut menyemprotkan dekongestan agar hidung Wulan tidak tersumbat. "Sudah selesai," kata Nathan sambil merapikan kembali kotak obat. Wulan menatap lelaki yang kini ada di hadapannya itu. Kini rasa ragu mendadak menyergap hati Wulan. Dia kembali terlibat kejadian dan sikap Nathan kepadanya semalam. "Dok, ayo kita bercerai saja. Toh, aku tidak hamil. Bukankah Dokter juga menyaksikannya sendiri?" Suara Wulan bergetar ketika mengatakan kalimat itu. Hati Wulan justru terasa begitu sakit setelah mengatakannya. Sebut saja dia wanita munafik yang tidak ingin berpisah, tetapi mengajak cerai. Ya, Wulan mulai menyukai Nathan dalam kondisi dan situasi yang begitu sulit ini. Nathan menatap Wulan sekilas, kemudian kembali menatap kotak obat. Dia menjinjing kotak tersebut, kemudian berdiri. Nathan Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Baiklah, jika itu maumu." "Ya?" Wulan menaikkan kedua alisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD