Seminggu berlalu sejak sebuah ingatan terlintas di kepala Yasmin. Bayangan pria dalam ingatannya terus mengganggu setiap malam. Bayangan itu seperti sebuah potongan puzzle yang terpisah dari kelompoknya. Meski sempat frustasi dan hampir gila memikirkan hal tersebut, tetapi Yasmin tak ingin terlalu memaksakan diri untuk menemukan kembali memorinya.
Daripada memikirkan hal itu, Yasmin lebih memilih memikirkan cara membalas kebaikan Edgar. Ia memutuskan untuk mencari pekerjaan. Edgar tentu saja tak setuju dengan rencana tersebut, tetapi Yasmin bersikeras, kalau tidak! Yasmin mengancam akan pergi dari rumah Edgar.
Siang ini Yasmin berjalan-jalan di sekitar kota, ia mencoba mencari pekerjaan apapun yang bisa ia lakukan. Saat tengah berjalan di trotoar melewati ruko-ruko, tak jauh darinya seorang wanita paruh baya tampak akan menyeberang. Kedua tangannya menenteng keranjang penuh belanjaan. Ia berjalan timpang menahan beban di kanan kiri tubuhnya.
Wanita tersebut tak menyadari sebuah mobil melaju kencang dari arah lain. Yasmin terperangah, ia berlari dan menarik lengan wanita paruh baya tersebut.
"Nyonya!! Awass!!" teriaknya.
Yasmin berhasil menarik wanita tersebut. Keduanya jatuh di samping trotoar dan belanjaan wanita tersebut tercecer di jalanan. Yasmin segera bangkit dan membantu wanita itu untuk berdiri.
"Nyonya! Anda baik-baik saja?!" tanya Yasmin.
Masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, wanita itu mengusap dadanya beberapa kali, setelah meras tenang, ia baru mendongak pada Yasmin.
"Saya baik-baik saja, Nona. Terimakasih dan maaf Anda pun jatuh karena saya," tuturnya.
Yasmin tersenyum, ia mengambil belanjaan yang tercecer dan memasukkannya kembali ke keranjang perempuan tersebut.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kebetulan saya berada di dekat Anda, jadi reflek melakukan hal itu,"
Yasmin membantu wanita itu untuk berdiri. Tidak hanya itu, ia bahkan membantu membawakan belanjaan ke mobil yang sudah menunggu di seberang jalan.
"Siapa nama Anda Nona?" tanya si wanita paruh baya itu
"Yasmin."
"Nama yang cantik. Saya Maryam." Yasmin dan Maryam saling berjabat tangan. Sesaat kemudian, Maryam merogoh sesuatu dari sakunya.
"Nona.. Saya sangat berterimakasih."
Maryam memberikan beberapa lembar uang pada Yasmin. Yasmin terdiam, menatap uang di tangannya kemudian tersenyum.
"Maaf, Nyonya.... Saya tidak bisa menerima ini." Yasmin mengembalikan uang itu pada Maryam.
"T-tapi Nona--"
"Nyonya. Tidak semuanya harus dibayar dengan hal-hal seperti ini...." ujar Yasmin sopan.
Maryam terkesiap. Di jaman sekarang jarang sekali orang-orang berbuat tulus seperti wanita muda di depannya.
"Baiklah, saya permisi Nyonya Maryam.. Oh ya! tak ada salahnya anda periksa ke dokter, takutnya ada cidera saat Anda jatuh tadi." kata Yasmin.
Maryam masih terdiam. Bukan karena bingung, tapi kagum pada wanita muda yang terlihat sangat ramah dan ceria itu
"Nona, tunggu! Kalau Anda tak mau menerima uang ini, bagaimana kalau Saya membelikan Anda sesuatu? Apa ada sesuatu yang Anda perlukan?" tanya Maryam.
Hidup bertahun-tahun bersama keluarga Gustav mengajarkan bahwa semua hal harus dibalas sesuai dengan apa yang ia lakukan, baik itu dalam hal kebaikan maupun kesalahan. Semua akan dihadiahi ataupun dihukum dengan setimpal.
Yasmin tertawa. "Jangan khawatir, Nyonya. Saya melakukannya dengan tulus. Lagipula Anda tidak bisa memberi apa yang saya perlukan saat ini karena itu sesuatu yang... rumit,"
Maryam tampak kecewa. "Tapi Nona..."
Yasmin kembali mendekat pada Maryam. Ia meraih kedua tangan wanita yang mungkin seusia dengan ibunya (seandainya ia ingat).
"Nyonya. Jika Anda tulus ingin membalas apa yang saya lakukan tadi, maka tolong doakan saja saya..." pinta Yasmin.
Maryam terkesiap lagi. Entah mengapa ia merasa sedih, haru, dan rindu setelah melihat manik mata Yasmin. Ia teringat pada seseorang yang selama ini selalu baik padanya.
"Tentu saja , Nona.. Katakan apa yang Kau impikan.." ucapnya penuh haru.
Senyum mengembang di bibir Yasmin. "Doakan saya segera mendapatkan pekerjaan."
Maryam tercengang. "Pekerjaan?"
Yasmin mengangguk pasti. "Benar Nyonya. Meskipun nyaman dan aman, tapi Saya tak bisa terus-terusan hidup menumpang pada teman baik saya, hehe.."
Yasmin melepas tangan Maryam. Ia lantas berpamit untuk pergi. Untuk beberapa saat Maryam tampak bingung dan ragu dengan pikirannya, tetapi ia kembali memanggil Yasmin sebelum gadis itu semakin menjauh.
"Nona, tunggu! kebetulan asisten di rumah tuan Kami baru saja berhenti. Jika Anda bersedia, Saya akan membawa Anda pada Tuan saya," terang Maryam.
Yasmin menoleh. Matanya berbinar mendengar kata-kata Maryam. Sesaat kemudian senyum merekah di bibir Yasmin. Ia mengangguk senang.
***
"Edgar!! akhirnya aku mendapatkan pekerjaan!!" seru Yasmin seraya memeluk tubuh Edgar.
"Benarkah? Bagaimana bisa? Identitasmu baru jadi minggu depan," kata Edgar.
Yasmin membawa Edgar duduk di sofa. Ia terlihat sangat antusias menceritakan apa yang ia alami siang tadi, saat bertemu Maryam.
"Memangnya pekerjaan apa yang Maryam tawarkan?" tanya Edgar, masih terlihat ragu bahwa Maryam yang Yasmin ceritakan adalah wanita baik.
"Maryam mengatakan tuannya butuh..." Yasmin diam sejenak. Jika ia mengatakan bahwa pekerjaan tersebut adalah sebagai asisten rumah tangga, ia yakin Edgar akan melarangnya.
"Yasmin?" tanya Edgar.
".... Butuh staff. Maryam mengatakan tuannya butuh staff untuk menjaga salah satu gudang--" jawab Yasmin asal.
"Gudang??!" tanya Edgar, tampak semakin tak percaya.
"Iya. Staff admin di salah satu bisnisnya." Edgar menyipitkan mata penuh curiga.
"Aku juga bilang pada Maryam kalau tas ku baru saja kecopetan supaya aku bisa memberikan kartu identitasku setelah berhasil mengurusnya," terang Yasmin lagi. Kali ini ia berharap Edgar menyetujui pekerjaan yang baru saja ia dapatkan itu.
"Mengapa Kau tak menerima tawaran bekerja di klinik ku saja kalau ujungnya sama-sama menjadi admin?" tanya Edgar, mengingat tawarannya pada Yasmin beberapa waktu lalu.
Yasmin meraih tangan Edgar dan menggenggamnya lembut.
"Edgar.. Aku sudah terlalu sering membuatmu kesulitan. Jika aku bekerja di klinik itu, apa kata karyawan-karyawan mu? mereka akan mengira kita memiliki hubungan--"
"Aku tak mempermasalahkan hal itu!" potong Edgar. "Kalaupun nantinya ada hubungan antara kita berdua, itu--- aku tak akan-- menolaknya." Edgar berpaling saat mengakhiri kalimatnya.
Yasmin tersenyum. Memang sejak ciuman di pantai beberapa waktu yang lalu, hubungan keduanya bisa dibilang semakin dekat, tapi juga canggung. Apalagi Edgar, ia beberapa kali tampak menghindari Yasmin karena takut khilaf seperti saat di pantai.
Berbeda dengan Yasmin, ia menikmati kedekatan mereka. Lagipula tanpa disadari dan tanpa diketahui kapan, Yasmin sudah memberikan tempat spesial untuk Edgar di hatinya.
Yasmin menempelkan kepalanya pada bahu Edgar. Tangannya mengusap lembut genggaman keduanya.
"Edgar.. Aku tahu Kau berusaha memberikan yang terbaik untukku, tapi untuk kali ini tolong izinkan aku bekerja di luar. Dengan bertemu banyak orang, aku masih berharap ingatanku akan kembali suatu saat nanti. Lagipula, aku bisa selalu pulang setiap hari. Jadi Kau tak perlu khawatir..." Yasmin mendongak, menatap rahang tegas di atasnya.
Edgar terdiam cukup lama. Ekspresinya datar seolah tengah menimbang-nimbang sesuatu. Beberapa saat kemudian ia menunduk, menatap pada Yasmin yang masih bersandar di pundaknya.
"Kau yakin bisa menjaga diri di luar sana?" tanyanya.
Yasmin mengangguk pasti. Edgar kembali terdiam.
"Baiklah. Kau boleh bekerja."
Mata Yasmin berbinar, reflek tangannya melingkar erat pada perut Edgar. Hal ini membuat Edgar tak nyaman, jantungnya mulai berdegup dengan irama yang tak menentu.
"Terimakasih Edgar. Kau memang yang terbaik!!" seru Yasmin, kini kepalanya berada di bawah dagu Edgar, menempel pada jantungnya yang berdendang seperti genderang.
"Emm-- Yasmin!! Yasmin!! bagaimana kalau kita makan malam.." Edgar sedikit bergeser menghindari sensasi panas yang mulai memenuhi ruangan. Sialnya hanya Edgar yang merasakan hal itu. Yasmin tampak sumringah dan tak menyadari bahwa pelukannya tadi hampir saja memporak porandakan pertahanan seorang pria.
***
"Ayo masuk, Yasmin. Stevy sudah menunggu."
Maryam membawa Yasmin memasuki sebuah pekarangan luas yang tampak begitu memukau. Ada taman panjang menuju mansion mewah di depan sana. Maryam tak banyak bicara, ia hanya mengatakan bahwa Stevy, kepala asisten di rumah itu bukanlah wanita yang ramah. Ia berpesan agar Yasmin tak terlalu dekat dengan hal-hal yang berhubungan dengan Stevy. Selain itu, karena Yasmin belum memiliki kartu identitas, maka dia akan berpura sebagai keponakan Maryam.
Maryam membuka pintu utama rumah besar nan mewah itu. Di depan pintu seorang wanita kurus dengan wajah tirus berdiri melipat tangannya di depan dad@.
"Stevy, ini Yasmin. Dia yang akan menggantikan Dania," kata Maryam.
Stevy mengamati Yasmin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yasmin membenarkan kata-kata Maryam tentang Stevy. Wanita yang terlihat seusia hampir 40 tahunan itu tampak angkuh dan tak menyukainya.
"Apa pengalamanmu sebelumnya?" tanya Stevy dingin.
"Saya-- emm-- maksudku.. Sebelumnya aku pernah bekerja di-- klinik."
"Klinik??!" Mata Stevy membola tajam. "Apa Maryam tak memberitahukan pekerjaan apa yang akan Kau lakukan di rumah ini?"
Maryam tampak gugup, ia lupa tak membahas tentang pengalaman kerja Yasmin.
"Ya-- tentu saja Bibi sudah menjelaskan padaku. Sebelumnya aku bekerja sebagai cleaning service di sebuah klinik kecantikan. Jadi.. Anda tak perlu khawatir tentang apa yang harus aku lakukan di rumah ini," jawab Yasmin percaya diri. Maryam pun tampak lega mendengar penjelasan Yasmin.
Stevy kembali pada ekspresi sebelumnya. Dingin dan sedikit meremehkan.
"Kau tunggu di ruang tamu. Aku akan menemui tuan Abraham terlebih dahulu. Beliau yang akan memutuskan apakah Kau diterima atau tidak," tandas Stevy.
Maryam mengantar Yasmin ke ruang tamu. Karena Stevy menyuruhnya untuk kembali bekerja, Maryam terpaksa meninggalkan Yasmin sendiri.
Yasmin menatap ke sekeliling ruangan. Rumah itu benar-benar mewah. Banyak guci-guci besar di sudut-sudut ruangan. Yasmin tak bisa membayangkan berapa harga setiap porselen yang ada di ruangan itu.
Dari sekian banyak barang-barang mewah, pandangan Yasmin terfokus pada sebuah foto keluarga super besar yang tergantung di dinding.
Yasmin mendekat dan mengamati foto tersebut. Tampak seorang pria yang begitu gagah berdiri mengenakan jas hitam. Tangan pria itu berada di pundak seorang wanita cantik yang duduk sedikit di depannya. Di pangkuan wanita yang Yasmin yakin adalah istri si pria gagah, duduk gadis kecil berusia kisaran 4 tahun. Ketiganya tak terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya, tetapi lebih seperti keluarga terhormat yang sangat disegani.
Hal itu tergambar jelas dari senyum si pria dan wanita cantik di sampingnya.
"Apa Kalian tuan dan nyonya Gustav yang diceritakan oleh Maria?" gumam Yasmin.
Tanpa disadari oleh Yasmin, Abraham baru saja masuk dan terdiam melihat wanita asing menatap foto keluarganya. Bahkan kini jari wanita itu berani menyentuh foto Ara, putrinya kesayangannya.
"Siapa Kau?" tanya Abraham. Suaranya seakan menyerap udara hangat yang ada di ruangan itu.
Yasmin menoleh pada suara di belakangnya. Mata Abraham menatap tajam padanya. Tubuh Yasmin berbalik sepenuhnya kala Abraham berjalan mendekat dengan suara sepatu yang mampu menggetarkan hati siapapun yang ada di ruangan itu. Tanpa sadar kakinya berjalan mundur dan berhenti tepat saat Abraham berada di hadapannya.
"Siapa Kau? Apa yang Kau lakukan di rumahku?"
Next ▶️