"Mama, mengapa Kau memasukkan ponselmu ke dalam tubuh princess?" tanya Ara, gadis kecil berusia lima tahun yang terlihat bingung melihat tingkah ibunya.
Daniella tak mengindahkan pertanyaan Ara sampai ia menutup resleting pada bagian belakang boneka kecil putrinya.
"Ara.. apapun yang terjadi kamu tak akan pernah memberitahukan hal ini pada siapapun. Ini akan menjadi rahasia kecil untuk kita berdua. Kau bisa berjanji??!"
Daniella mengangkat jari kelingking yang segera disambut oleh putrinya. Tak menunggu waktu lama, Daniella memakaikan mantel untuk Ara, ia memasukkan beberapa stel pakaian ke dalam ransel kecil lantas menggendong putrinya.
"Mama, kita mau kemana? aku masih ngantuk," rengek sang putri seraya mengucek mata.
"Sayang.. Malam ini mama akan membawamu ke istana bintang. Apa Kamu suka?"
"Istana bintang??!" mulut Ara menganga mendengar hal itu. "HORE!!" serunya kemudian.
"Ssstt!! jangan keras-keras sayang. Kita akan pergi diam-diam. Oke?"
"Apa papa tidak ikut?"
"Tidak Sayang. papa akan menyusul."
Ara mengangguk. Mendatangi istana dalam dongeng yang sering ia dengar dari ibunya membuatnya tak sabar untuk melihat tempat itu.
Daniella berjalan menuruni tangga tanpa menimbulkan suara. Beberapa kali ia mencoba membuka pintu utama rumah megah itu, tapi gagal. Ia berlari ke ruang belakang, berharap bisa menemukan celah untuk pergi.
"Aku tak bisa lagi tinggal di dalam dinding terkutuk ini. Pria yang selama ini ku sebut suami telah menyembunyikan sisi gelap di ruang rahasianya."
Saat Daniella melintas di depan tangga, seorang pria bertubuh tegap terlihat keluar dari lift. Sorot matanya mampu membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Ia berjalan sambil menggulung lengan kemejanya. Apa yang ia hadapi di bawah sana membuat jantungnya tak berhenti berdegup kencang. Darahnya mendidih.
"Tak seorangpun boleh mengetahui hal ini!!" gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Daniella berusaha keluar melalui pintu dapur.
"Mama Aku tadi melihat papa. Mengapa dia tidak pergi bareng kita?"
"Ssst!! Diam sayang. Papa masih ada pekerjaan. Dia akan menyusul." Daniella segera membekap mulut putrinya. Ia tak ingin seseorang terlebih Abraham Gustav mendengar hal itu.
Abraham berjalan menaiki tangga. Di saat yang bersamaan seorang wanita terlihat keluar dari ruangannya. Dia adalah Stevy, kepala asisten kediaman keluarga Gustav.
"Tuan Abraham. Apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya. Abraham terperangah. Ia tak menyangka seseorang masih terjaga di jam-jam ini.
"Tuan, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Stevy lagi saat menyadari ada sesuatu yang lain dari ekspresi tuannya.
"Tidak ada," jawab Abraham singkat. "Stevy, apa semua orang tidur?"
"Ya. Tuan. Semua orang sudah tidur."
"Lalu mengapa Kau bangun? Apa yang Kau lakukan?" Abraham menatap dengan curiga.
"Oh, saya haus. Saya lupa tidak menyiapkan air minum tadi."
"Hum." Abraham berlalu dari Stevy. Meski merasa janggal, Stevy mengabaikannya. Ia berjalan menuruni tangga menuju dapur. Saat ia menuang air ke dalam gelas, tangannya terhenti. Dari balik kaca, ia melihat seorang wanita berlari menggendong gadis kecil di pelukannya.
"Nyonya Daniella," desisnya. Segera ia meletakkan kembali gelas dan teko kaca di atas meja. Stevy berlari sambil berteriak berharap seseorang mendengarnya.
"Tuan Abraham!! Tuan Abraham!!"
Stevy berlari menaiki tangga. Ia terhenti saar menyadari Abraham sudah berdiri di depannya dengan wajah masam.
"Mengapa Kau ribut-ribut Stevy?!" kecamnya.
"Tuan! Saya melihat istri dan putri Anda kabur!"
Tatapan Abraham berubah liar. Ia berlari menuruni tangga untuk membuka pintu depan yang terkunci.
"Berikan kuncinya padaku!!" teriaknya pada Stevy. Darahnya semakin mendidih melihat kekacauan malam ini.
Sementara itu Daniella sudah duduk di belakang kemudi. Ia melajukan mobilnya menuju pintu gerbang.
"Nyonya? kemana Anda pergi malam-malam begini?" tanya satpam penjaga.
"Buka gerbangnya!" perintah Daniella.
"Tidak Nyonya. Saya tidak berani tanpa persetujuan Tuan."
"Apa??! Aku juga Tuanmu!"
"Maaf Nyonya. Saya takut Tuan Abraham marah."
"ARRGHH!!" Daniella memukul keras kemudinya. Ia tak punya pilihan lain. Ia harus pergi sebelum semakin banyak orang melihatnya.
"Ara! tutup matamu, Sayang!"
Daniella tak punya pilihan lain. Ia memejamkan mata sedangkan kakinya menginjak pedal gas dengan kencang.
DUARR!!
Pintu gerbang jebol saat mobil yang Daniella kemudikan menabraknya.
"ELLA!!! DANIELLA!!" teriak Abraham, berlari mengejar dari belakang. Tangannya mengepal melihat mobil istrinya makin menjauh.
"BAWA MOBILKU!! SEKARANG!!" bentaknya.
Next ▶️