Mobil Daniella melaju menembus jalanan panjang. Pohon di kanan kiri membuat suasana makin gelap dan menakutkan.
"Mama, aku takut. Nenek pasti akan marah karena Kau merusak pintunya."
"Jangan pikirkan itu sayang. Pikirkan tempat yang akan kita kunjungi." Daniella mencoba menenangkan putrinya.
Ia mengemudi tanpa tujuan. Yang ia pikirkan saat ini hanya membawa putrinya ke tempat aman.
"Mama, apa itu papa yang ada di belakang kita?" tanya Ara. Tubuh gadis kecil itu sudah berbalik memunggungi Daniella, menatap ke arah belakang.
Daniella melirik spion, terlihat sorot lampu sebuah mobil beberapa ratus meter di belakangnya.
"Abraham? Tidak-- tidak!!"
Daniella menginjak pedal gas makin dalam. Ketika mobil di belakangnya semakin mendekat. Daniella mulai gugup. Ia tak mampu membayangkan apa yang akan suaminya lakukan padanya jika mengetahui niat kaburnya ini.
Saat mobil itu hampir sejajar dengan mobilnya, jantung Daniella makin tak menentu. Perlahan ia menginjak rem, mengamati mobil hitam yang melintasinya. Untuk sesaat ia menunggu. Ketika mobil di depannya terus melaju tanpa berhenti, Daniella menghembuskan nafas lega.
Ia menepikan mobil untuk mengatur nafasnya. Sesaat kemudian ia menoleh dan tersenyum pada putrinya.
"Ara, Kau suka pergi ke istana bintang bersama mama, Nak?"
Ara mengangguk lemah. "Tapi aku takut, Ma.."
"Jangan takut sayang. Mama bersamamu.."
Mata Ara tampak sayu, gadis kecil itu lantas mengusap perutnya.
"Mama.. Bisakah Kau membelikan ku roti?"
Daniella mencelos. Mengapa putrinya justru meminta makanan di saat-saat seperti ini?
"Ara.. Saat ini kita--"
"Aku lapar, Ma..." lirih Ara.
Hati ibu mana yang tak tersentuh mendengar hal itu. Daniella tak sanggup menolak. Mungkin sepotong roti dan beberapa jajanan akan membuat putrinya makin tenang.
"Baiklah. Ayo kita cari supermarket. Mama akan membelikannya untukmu."
Ara mengangguk pasti, senyum tersungging dari bibir mungilnya. Daniella kembali melanjutkan perjalanan. Ia harus bergegas supaya Abraham tak mampu mencapainya.
Saat melihat sebuah pom bensin, Daniella berbelok. Ia melepas sabuk pengaman kemudian meraih tas kecil di samping kursi kemudi.
"Sayang. Mama turun sebentar. Kau tunggu disini, ya?"
Ara mengangguk. Ia mengamati ibunya berlari menuju pintu supermarket. Tangan kecil gadis itu memainkan boneka bergaun pink di pangkuannya. Beberapa menit berlalu, Ara menoleh ketika mendengar pintu mobil dibuka.
"Mama, apa Kau mendapatkan rotinya?"
"Ara.."
Mata Ara terbelalak. Bukanlah sang ibu yang tengah berdiri di depan pintu mobil saat ini.
"Tenang Sayang. Akhirnya papa mendapatkan mu," Abraham mengecup dahi Ara kemudian menggendongnya.
"Mama!! Mama!!" panggil Ara.
Daniella baru saja keluar dari supermarket. Plastik di tangannya terjatuh. Ia gemetar melihat sang putri sudah berada dalam gendongan suaminya.
Daniella tak bisa berfikir jernih. Ia berlari dan bersembunyi di balik tembok.
"Mama! jangan tinggalkan aku!! Mama!!"
Abraham membuka mobilnya sendiri lalu menurunkan Ara di kursi belakang.
"Ssshh..Ssshh.. Tenang Sayang. Tunggu papa disini. Papa akan menemukan ibumu. Jangan kemana-mana. Oke?!" pesan Abraham pada putrinya.
Saat Abraham berbalik, ia melihat Daniella berlari menuju semak- semak di belakang bangunan supermarket.
"Daniella!! kembali!!" Abraham segera mengejar istrinya.
Daniella terus berlari melewati semak belukar. Pikirannya kacau. Di satu sisi Ia harus terus menjauh, tetapi di sisi lain ia ingin kembali menjemput putrinya.
"Daniella!! Dengarkan aku!!" suara Abraham kembali menggema di kesunyian.
Daniella bersembunyi di balik semak tinggi. Dadanya naik turun menahan nafas yang terus memburu. Dari tempat persembunyiannya, ia dapat melihat suaminya berbicara sambil mengedarkan pandangan ke seluruh hutan.
"Sayang!! Mari kita lupakan apa yang terjadi malam ini. Kita bisa bicara baik-baik."
Keheningan makin menyeruak. Hanya ada suara angin dan hawa dingin saja di sekitar mereka. Abraham mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Daniella!! Mari kita pulang. Lihatlah! Kau membuat Ara takut,"
Tak ada jawaban. Otak Abraham mulai mendidih menghadapi semua ini.
"Daniella! Dengar! kemanapun Kau pergi, aku pasti menemukanmu!! aku tak akan membiarkanmu meninggalkan kita!!"
Kalo ini suara Abraham berubah lebih berat, dingin, dan mengancam.
Air mata menetes di pipi Daniella. "Maafkan mama Ara. Mama berjanji akan kembali untuk menjemputmu.." Daniella berbalik, tetapi sialnya kakinya menyandung batu hingga membuatnya terjerembab di atas tanah basah.
"Ahh!!" rintihnya.
"ELLA!!" Abraham berlari ke arah suara sang istri. Dari kejauhan ia dapat melihat sosok Daniella berlari beberapa puluh meter di depannya.
"ELLA!! DANIELLA!!" panggilnya lagi menembus kegelapan.
Daniella terus berlari tanpa arah. Ia melompati semak hingga hanya ada pepohonan saja di kanan dan kirinya. Daniella berhenti di balik salah satu pohon besar. Ia mengintip dari balik pohon itu. Abraham berlari terseok-seok dari kejauhan.
"ELLA!!" teriaknya.
Saat pria itu berbelok ke arah lain, Daniella kembali berlari. Kakinya menapak di atas tanah yang semakin menurun, berkali-kali ia menoleh memastikan suaminya tak berada di belakangnya.
Hingga tiba-tiba.....
CIIITTT!!!
BRAK!!!
Sebuah mobil berhenti. Seseorang turun dengan gugup ketika melihat sosok perempuan tergeletak di depan mobilnya.
"Nona!!"
Pria itu berjongkok dan menyentuh leher Daniella. Mata Daniella sempat terbuka sebelum akhirnya tertutup lagi.
"Nona! Apa Kau bisa mendengarku?!!"
"Sial! apa yang Kau lakukan berlari-lari di tengah malam begini?!" gumamnya.
Pria itu menepuk-nepuk pipi Daniella. Ketika tak mendapatkan respon, ia segera mengangkat tubuh Daniella dan memasukkannya ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit.
Sepuluh menit kemudian, Abraham berhenti di tengah jalan. Ia menatap bergantian dari ujung ke ujung. Abraham meremas rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Kemana Kau pergi, Daniella!!" geramnya.
Next ▶️