Deborah Gustav menatap layar laptop dengan wajah merah padam, tangannya mengepal penuh amarah.
"Brengs3k!! perempuan itu merekam semuanya!" desisnya mengamati Daniella dari rekaman Cctv.
Deborah meraih ponsel kemudian menghubungi seseorang.
"Stevy! datanglah ke kamarku! Ada sesuatu yang harus Kau lakukan!"
Deborah mengakhiri panggilan. Sekali lagi ia menatap layar laptop, sesaat kemudian ia menggeser jari untuk menghapus rekaman beberapa jam yang lalu.
"Aku tak akan membiarkanmu menghancurkan keluarga Gustav, apalagi kehidupan putraku Abraham. Kau akan mendapatkan pelajaran atas perbuatanmu ini, Daniella!!" kecam Deborah.
Deru mobil terdengar dari luar. Deborah mengintip dari balik tirai. Terlihat putranya keluar dari mobil, ia segera turun untuk menemuinya.
Abraham berdiri di samping mobil. Ia sedang membujuk Ara untuk turun.
"TIDAK PA!! Aku tidak mau turun tanpa mama!" teriak Ara.
Abraham berjongkok, ia menatap putrinya dengan sedih.
"Sayang. Papa tahu Kau sedih. Papa pun juga sedih. Tapi papa janji besok pagi akan membawa ibumu kembali."
Mata Ara berkaca-kaca, ia terus menepis setiap kali tangan Abraham menyentuhnya.
"Baiklah. Papa tak akan menggendong mu. Kau bisa berjalan sendiri. Tapi kita harus segera masuk. Di luar sangat dingin," Abraham mencoba berbicara lebih lembut pada putrinya.
"Ara.. Besok pagi ibumu akan marah jika Kau masuk angin," bujuk Abraham lagi. Kali ini Ara mulai bergeming. Ia tak ingin ibunya sedih jika ia sakit. Perlahan Ara menurunkan kakinya.
Abraham bergeser untuk membiarkan putrinya turun dari mobil. Di saat yang bersamaan Deborah tergopoh-gopoh bersama beberapa orang.
"Cucuku!! Kemarilah! jangan tinggalkan nenek seperti ini lagi!" Deborah memeluk Ara dan menciuminya.
"Lepaskan aku, Nenek! Aku hanya ingin mama..." isak Ara.
"Bik! bawa Ara ke kamar. Biarkan dia istirahat!" perintah Abraham pada pengasuh putrinya.
Deborah mendekat pada Abraham. "Dimana Daniella? Kau tidak membawanya pulang?"
"Aku menemukan mereka di sebuah pom bensin di pinggir hutan. Aku berhasil mendapatkan Ara, tetapi Ella berhasil melarikan diri" terang Abraham.
"Melarikan diri? Bagaimana bisa, hah?!"
Mata Abraham menyipit, menatap curiga pada ibunya.
"Bu. Ini bukan pertama kalinya Daniella mencoba kabur dari rumah. Namun, baru kali ini Kau terlihat begitu panik. Memangnya apa yang terjadi?"
Deborah menelan saliva. Ia membuang nafas kasar. Apapun yang terjadi, Abraham tak boleh tahu bahwa Daniella telah merekam apa yang terjadi di baseement.
"Bu? apa semuanya baik-baik saja? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" tanya Abraham sekali lagi.
"Tidak. Tidak ada masalah. Aku hanya tak habis pikir dengan jalan pikiran istrimu. Mengapa ia selalu membahayakan putrinya," jawab Deborah ketus.
"Ibu tak perlu khawatir. Aku sudah meminta Salim untuk mengecek semua hotel dan rumah sakit di seluruh kota."
"Semoga tak terjadi sesuatu padanya," bohong Deborah. Tentu saja ia berharap sesuatu yang buruk menimpa menantunya itu.
"Tak akan terjadi sesuatu pada Daniella. Lihat! tasnya ada disini. Barang-barang penting dan identitasnya tertinggal di mobil. Daniella tak mungkin pergi jauh. Besok pagi ia akan kembali ke rumah ini," terang Abraham sangat yakin.
Deborah mengangguk. Sekilas ia melirik pada ransel di tangan Abraham. Ia beralih menatap Stevy, memberi isyarat yang langsung dibalas anggukan oleh kepala asistennya itu.
Jauh di lubuk hatinya, Deborah sangat berharap Daniella tak kembali ke rumah. Jika perlu, Ia akan meminta Stevy menyewa seseorang untuk menemukan menantunya itu sebelum Abraham menemukannya.
Abraham membuka pintu kamar Ara. Ia berjalan perlahan kemudian duduk di tepi ranjang putrinya. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat Ara duduk memeluk boneka kecil.
"Ara.. Mengapa Kau tak kembali tidur?" tanyanya seraya mengusap lembut rambut sang putri.
"Tidak Pa! aku tak mau tidur sampai mama kembali!"
Abraham menghela nafas.
"Apa yang Kau lakukan padanya, Papa? Kau yang membuat Mama lari ke hutan!" Ara mulai terisak.
"Papa tidak tahu mengapa ibumu pergi. Kau jangan khawatir, ibumu besok pagi akan kembali bersamamu. Ayah janji."
Ara menunduk, bibirnya bergetar menahan air mata. Abraham mendekat untuk memeluk putri semata wayangnya.
"Apa Mama mengatakan sesuatu saat mengajakmu pergi?"
Ara menggeleng. "Mama hanya bilang akan membawaku ke istana bintang."
"Istana bintang? Wow!! pasti menyenangkan."
"Apa besok mama benar-benar kembali?" tanya Ara.
"Tentu saja sayang. Mamamu pasti kembali lalu kita bertiga akan pergi ke istana bintang. Oke?"
Meski tak yakin, Ara mengangguk. Ia berharap kata-kata ayahnya bukanlah kebohongan.
"Tidurlah, Sayang. Papa akan menemanimu disini." Abraham menarik selimut menutupi tubuh putrinya. Hatinya tercabik-cabik. Ia tak mengerti mengapa istrinya tega melakukan hal ini padanya.
"Apa yang Kau pikirkan Daniella? Kau telah membuat putrimu bersedih seperti ini!"
Next ▶️