Bab 4

1213 Words
Daniella membuka mata. Cahaya lampu yang cukup terang membuat kepalanya berdenyut. Sontak ia menyentuh keningnya. "Nona? Anda sudah sadar?" Suara seseorang membuat Daniella menoleh. Matanya menatap ke kanan dan kiri. Selambu berwarna hijau tua menutupi sisi kanan dan kirinya. Daniella teringat pada Abraham dan Ara. Ia harus segera pergi untuk mendapatkan kembali putrinya. "Siapa namamu, Nona?" tanya pria di depannya. "Dan--" Daniella tak melanjutkan kalimatnya. Tak ada yang boleh tahu siapa dirinya. Saat ini pasti Abraham sudah mengerahkan orang-orang untuk menemukannya. "Yasmin." "Nona Yasmin, saya Edgar. Apakah Anda ingat ini hari apa?" Daniella terdiam sejenak. "Rabu," jawabnya kemudian. Pria bernama Edgar mengangguk. "Baiklah. Apa Anda merasakan sakit di bagian lain selain lutut?" Daniella menggeleng. "Emm.. Apa Kau dokter?" tebak Daniella mengamati penampilan Edgar. "Ya. Tapi saya tidak bekerja di rumah sakit ini." "Oh ya. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Anda melintas begitu saja saat saya mengemudi. Saya sudah berusaha mengerem, tapi tubuh Anda membentur mobil," terang Edgar. Daniella tak peduli. Ia memaksa tubuhnya untuk bangun. Saat kedua kakinya turun, Edgar menahan kedua lengannya. "Anda mau kemana Nona?" Daniella mendongak. Wajah Edgar begitu dekat di hadapannya. "Aku-- aku harus kembali. Aku meninggalkan mobilku--" "Apa Anda punya hobby berlarian di hutan pada waktu tengah malam?" potong Edgar penasaran. "Bu-- bukan begitu. Hanya saja-- mobilku mogok dan aku mencoba mencari bantuan," terang Daniella asal. "Berbaringlah. Saya akan meminta dokter untuk memeriksa keadaan Anda terlebih dahulu. Sebaiknya Anda menghubungi keluarga." Daniella mengangguk. Setelah pria itu keluar, Daniella melepas jarum infus di tangannya. Ia mengenakan sepatu kemudian mengendap-endap keluar dari bilik. "Tuan, bukankah nona itu yang datang bersama Anda?" tanya seorang perawat. Edgar menoleh, Ia tak menyangka perempuan yang baru saja ia tabrak tengah berlari pergi meninggalkan rumah sakit Edgar membiarkan hal itu. Setidaknya dia sudah berusaha bertanggung jawab atas kesalahan yang sebenarnya bukan disebabkan olehnya. Esok harinya keadaan sedikit berbeda di kediaman Gustav. Ara menolak memakan apapun. Hingga ayahnya turun untuk sarapan, Ara tak mau bergabung di meja makan, Ia duduk di taman ditemani Maryam pengasuhnya. Abraham mencoba membujuk Ara supaya mau mengisi perutnya. Ia tahu satu-satunya cara agar putrinya kembali tersenyum adalah membawa Daniella pulang. "Ara. Hari ini papa yang akan menjemputmu ke sekolah. Kita akan mampir ke mall untuk membeli gaun." "Gaun?" tanya Ara bingung. "Hem. Gaun yang akan kau kenakan nanti malam. Apa Kau mau menemani papa ?" Ara tampak menimbang tawaran ayahnya. "Apa mama ada disana?" tanyanya polos. "Tentu saja sayang. Ini adalah acara besar. Mamamu tak mungkin melewatkannya," terang Abraham begitu yakin. Mendengar penjelasan sang ayah, Ara kembali bersemangat. Ia bersedia untuk sarapan dan pergi ke sekolah. Pada waktu siang di hari yang sama, Daniella keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. Ia baru saja membeli pakaian dan juga ponsel baru. Ia sedang berfikir keras agar bisa membawa Ara sekaligus mengambil kembali ponsel yang ada pada putrinya. Daniella turun tak jauh dari sekolah Ara. Ia mengenakan mantel dan kacamata hitam agar tak seorangpun mengenalinya. Dari kejauhan, ia melihat Maryam dan seorang pria menunggu di taman sekolah. "Sial! bahkan Kau menempatkan seorang pengawal untuk putrimu! Apa yang Kau takutkan Abraham?! Apa Kau takut dengan seorang ibu yang akan menemui putrinya?! Sialan!!" kesal Daniella. Daniella mengambil ponsel kemudian menghubungi seseorang. "Hallo?" "Bik Maryam?" sapa Daniella. "Nyonya?" "Sstt.. Jangan keras-keras Bik. Kumohon bersikaplah normal seakan-akan aku tak sedang menghubungimu." "Baik Nyonya. Anda dimana? Kasihan Non Ara, dia tak henti-hentinya menanyakan Anda." Daniella tak ingin membuang-buang waktu. Ia meminta Maryam untuk mengalihkan perhatian si pengawal agar ia bisa menemui putrinya. Beberapa menit kemudian bel berbunyi, anak- anak mulai berhamburan keluar kelas. Daniella melongok kesana kemari mencari sosok putrinya. Dadanya terasa sesak antara sedih dan bahagia melihat Ara berjalan dengan muka masam. Gadis kecilnya sama sekali tak bersemangat. "Ara!! Sayang, kemarilah! ini Mama!" panggil Daniella. Ara mendongak, mencari-cari sosok yang memanggilnya. Daniella melambaikan tangan dari taman. Ia melepas kacamata hitam supaya Ara mengenalinya. "Mama? Mama!!!" Ara berlari menuju Daniella. Keduanya berpelukan. Daniella mendekap erat putri semata wayangnya itu. Ia bersyukur tak terjadi sesuatu padanya. Rasanya tak ada puasnya mendekap tubuh sang putri, tetapi Daniella tak punya banyak waktu, pengawal Ara sebentar lagi kembali. "Sayang, dimana bonekamu?" tanya Daniella. "Ada di mobil, Ma." Daniella mencelos. Sial!! Benar-benar sial!! "Ma. Apa Kau ingin mengambil ponselmu?" tanya Ara membuat Daniella kembali tersadar. "Hem. Sampai mama kembali menemui mu lagi, Kau harus tetap menyimpannya, Ara." Daniella mengusap bahu putrinya dengan lembut. Sesaat kemudian ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Maryam. Hal ini menandakan ia harus segera pergi. "Ara. Kembali bersama teman-temanmu, Sayang.. Cepat kembali!!" "Apa mama akan pergi? Mama akan meninggalkanku lagi?" rengek Ara, raut wajahnya berubah sendu. "Kukira mama akan pergi ke acara amal bersama kami seperti apa yang papa katakan tadi." Dad@ Daniella terasa sesak. "Seandainya boneka itu tak berada di mobil. Aku tak akan meninggalkanmu lagi Sayang.." batinnya. "Dengar Ara. Mama tak pernah meninggalkanmu. Mama hanya perlu menyelesaikan sesuatu." Daniella kembali meyakinkan putrinya. "Jadi, nanti malam Kau akan pergi bersama papa?" Ara mengangguk. "Oke. Nanti malam Mama akan datang sayang. Tapi bisakah Kau berjanji satu hal?" Ara kembali mengangguk. "Jangan ceritakan pada siapapun tentang kedatangan mama ini. Nanti malam, bawa bonekamu. Mama berjanji akan menjemputmu disana." Daniella mengangkat jari kelingking dan Ara menyambutnya. Ia kembali mengenakan kacamata kemudian pergi sebelum pengawal Ara memergokinya. Daniella pergi tanpa menoleh, ia tak kuasa melihat putrinya bersedih. Sesampainya di balik tembok, Daniella terduduk meremas dadanya yang terasa begitu sakit. "Maafkan mama Ara.. Bersabarlah.. Semuanya akan segera berakhir, Sayang.." Daniella mengusap air mata di wajahnya. Ia harus bergegas mencari penginapan untuknya dan Ara malam ini. Daniella sengaja memilih jalanan sepi. Baru berjalan beberapa langkah, ia merasa ada seseorang yang membuntutinya. Daniella berjalan makin cepat. "Siall!" umpatnya. Daniella mulai berlari tanpa peduli rasa sakit di lututnya, walau bagaimanapun dirinya tak boleh tertangkap. Ia tahu hidupnya tak lagi sama setelah apa yang ia lihat semalam. Ia tak bisa lagi berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa di depan Abraham. Apapun yang terjadi, kebenaran ini harus diungkap! BUG! "Hai, apa Kau bisa lebih berhati-hati?" sergah seseorang ketika Daniella menabrak tubuhnya. Botol mineral dan sebuah ponsel berhamburan di trotoar. "Kamu??" ucap Edgar, pria yang semalam membawa Daniella ke rumah sakit. Daniella terkesiap. Entah kebetulan macam apa yang membuat ia harus kembali berurusan dengan pria asing tersebut. Daniella menoleh, pria yang tadi mengejarnya berhenti di antara orang-orang. Dan masih terus mengawasinya. Daniella tak mengenal pria tersebut, tetapi instingnya mengatakan bahwa dia adalah pria suruhan Abraham. "Aku harus pergi!" Daniella bergegas untuk pergi, tetapi Edgar menahan lengannya. Wajah pria itu terlihat kesal. "Nona! Jika Kau tak mengenal kata terimakasih, setidaknya Kau harus mengerti apa itu kata maaf!" sindir Edgar tajam. "Lepas! Berdoalah agar aku tak terbunuh dan kembali untuk mengucapkan hal itu padamu!" sembur Daniella. "Hei?! Apa maksudmu?" "Lepas!! Kau tak mengerti! Seseorang berusaha menangkap ku," Daniella menepis tangan Edgar kemudian berlari menjauh. Ditengah kebingungan dan rasa kesal yang semakin menjadi, Edgar lagi-lagi hanya bisa membiarkan wanita itu pergi. "Permisi!!" Seseorang tiba-tiba menerobos Edgar. Ia berlari ke arah yang sama dengan Daniella. Saat Daniella berbelok, pria itu pun mengikutinya. Edgar mengamati dengan penuh tanda tanya. "Apa dia tidak main-main? mungkinkah semalam ia menghindari orang yang sama?" "Jadi, wanita itu benar-benar dalam bahaya?" Tanpa pikir panjang, Edgar berlari mengikuti pria yang baru saja menerobosnya. Ia tak mengenal Daniella, tetapi entah mengapa nalurinya mengatakan untuk mengikuti wanita itu. Next ▶️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD