"Maaf Tuan, saya belum mendapatkan kabar apapun tentang nyonya Daniella. Saya sudah mengunjungi rumah orangtuanya, tapi mereka tak mengetahui apapun."
Abraham menatap asisten pribadinya dengan tenang seakan tak mengkhawatirkan apa yang Salim katakan.
"Bagus Salim. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Tenang saja, Daniella pasti akan datang pada acara amal malam ini. Kau cukup mengawasi tamu-tamu yang hadir, saat Kau melihat pergerakannya segera hubungi aku."
"Baik, Tuan."
Abraham tersenyum simpul. Ia yakin Daniella tak akan pergi kemana-mana apalagi tanpa Ara. Saat ini pikiran istrinya mungkin sedang kacau setelah mendengar rumor yang beredar tentang dirinya. Saat Daniella kembali, Abraham berjanji akan berbicara baik-baik padanya.
Sementara itu, di tempat lain Daniella mencoba menghindar dari pria yang mengawasinya. Dari ekor matanya, Daniella yakin saat ini pria itu benar-benar mengejarnya. Ketika Daniella mulai berlari, tiba-tiba lengannya ditarik dari belakang.
"Husshh!! husshh!! Tenang nona cantik. Jangan berteriak agar aku tak perlu menyakitimu!" kata pria asing tersebut seraya membekap tubuh Daniella.
"Lepaskan aku!! Siapa Kau--berani-beraninya menyentuhku!!" sergah Daniella.
Pria itu terbahak. Tanpa peduli, Ia menyeret Daniella menuju mobil yang dikendarai rekannya.
"Lepp--pass!! TOLONG!!" Daniella mencoba berteriak, tetapi jalanan terlalu ramai untuk mendengar suaranya. Daniella terus memberontak, tepat saat pintu mobil terbuka, Daniella menggigit lengan pria itu.
"Aaaarghh!! KURANG AJAR!!!!"
Tak ingin membuang-buang waktu, Daniella segera kabur. Ia berlari tanpa arah. Kakinya terus melangkah hingga tak sadar makin ke tengah jalanan. Daniella tak sempat menoleh saat sebuah truk melaju cepat dari arah lain.
BRAKK!!
Belum genap 24 jam sejak terakhir kali Daniella tertabrak mobil dan kini ia kembali tergeletak di jalanan. Pria yang mengejar Daniella berhenti seketika. Ia terbelalak melihat targetnya bersimbah darah.
"Si--sial!! Sial!! Apa yang harus aku lakukan sekarang!!"
Kaki pria asing itu menendang udara. Ia berniat pergi, tetapi langkahnya terhenti saat teringat pesan seseorang yang menyuruhnya.
"Tangkap dan bawa wanita itu padaku! Aku sendiri yang akan membereskannya. Ingat!! Kau tak punya hak untuk menyakitinya. Bawa dia dalam keadaan hidup!"
Apapun keadaannya, ia harus segera membawa buronannya. Kalau tidak, ia tak akan mendapatkan bayaran yang dijanjikan. Dengan langkah besar pria itu kembali mendekati tubuh Daniella.
"HEI!! APA YANG KAU LAKUKAN?!!"
Pria itu tersentak mendengar seseorang berteriak di belakangnya. Gugup melihat orang-orang di sekitar mulai mendekat karena penasaran dengan apa yang terjadi, pria itu pun memilih kabur.
Edgar berlari. Jantungnya bergemuruh melihat sosok yang tergeletak di aspal.
"Yasmin?!" teriaknya. Edgar mendekat lalu menyentuh leher Daniella.
"Panggil ambulance!!" teriaknya pada orang-orang yang berkerumun.
Tangan Edgar gemetar. Ia tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Bertahanlah.. Kumohon.." lirih Edgar seraya memangku kepala Daniella.
Bola mata Daniella bergerak, perlahan matanya terbuka. Tangan Daniella terangkat menarik kerah Edgar untuk lebih dekat.
"Tolong.. Bawa aku pergi d--diam--diamm. Sem-- bu--nyikan ak-ku.. jangan-- biarkan mereka memba--waku per--gi. Mer-rreka-- akan-- mem-- bunuh--ku," pinta Daniella terbata.
Cengkeraman Daniella melemah sedang Edgar terperangah.
"Apa yang terjadi padamu, Yasmin? Mengapa-- mengapa mereka ingin membunuhmu?" suara Edgar terdengar lebih seperti sebuah desisan.
Air mata Daniella menetes bersamaan dengan matanya yang kembali tertutup. Ia ingin berbicara lagi, tetapi mulutnya tak mampu terbuka.
"Tuhan.. Biarkan aku hidup. Aku ingin bertemu putriku... Aku rela melakukan apapun untuk kebahagiaan Ara.
Aku tak akan diam dalam keheningan lagi. Aku berjanji akan membayar berapapun untuk mengungkap kejahatan mereka dan membawa putriku pergi. Aku berjanji dengan seluruh nyawaku!!
***
Edgar berdiri mematung di depan sebuah brankar. Suara alat-alat kesehatan di ruangan itu bersahutan silih berganti. Hati Edgar sedang berperang, sebelumnya ia tak pernah seragu ini dalam mengambil keputusan.
"Siapa Kau sebenarnya? Aku sama sekali tidak mengenalmu, tapi mengapa aku harus peduli padamu??!"
"Dokter? Apa yang harus kita lakukan pada pasien ini? Apa Anda sudah menghubungi keluarganya?" suara perawat membuat Edgar tersadar dari lamunan.
"Keluarganya tidak akan datang, Hannah," jawab Edgar datar. Hannah terbelalak.
"Lalu--- pada siapa kita bertanya, Dok? pasien ini masih kritis. Apalagi wajahnya.." Hannah menelan saliva, ia tak tahu lagi harus bagaimana menggambarkan kondisi pasien di hadapannya saat ini.
Edgar menarik nafas panjang. Akhirnya ia sudah mengambil keputusan dan siap dengan segala konsekuensinya.
"Pindahkan dia ke klinik ku. Kita akan mengoperasinya secara privat."
Hannah mengangguk patuh. Tak lupa Edgar berpesan agar rumah sakit tidak mendaftarkan registrasinya. Edgar masih terngiang dengan ucapan Yasmin tentang seseorang yang berniat membunuhnya.
"Kau tak boleh mati, Yasmin!! Kau masih berhutang penjelasan padaku!!" gumam Edgar.
***
__________ 3 Minggu kemudian ________
"Dokter!! Dokter!! Nona Yasmin sadar!!"
Edgar melempar papan klip dari tangannya. Ia berlari mengikuti Hannah menuju salah satu bangsal yang ada di klinik pribadinya.
Edgar terhenti di ambang pintu yang terbuka. Ia terkesiap menatap brankar kosong dengan tiang infus tergeletak di lantai. Edgar mengedarkan pandangan ke seluruh ruang. Sesaat kemudian terdengar suara keributan dari toilet bangsal itu.
Seakan menjawab pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, Edgar dan Hannah berlari mendekat.
"Nona? Apa anda baik-baik saja?" tanya Hannah. Suara barang-barang dibanting ke lantai semakin keras diiringi teriakan histeris.
Tak mau mengambil resiko, Edgar segera membuka pintu toilet. Pemandangan di dalamnya membuat Edgar terbelalak.
Yasmin berdiri di depan cermin menyentuh wajahnya yang tertutup perban dan hanya menyisakan bagian mata, lubang hidung dan bibir saja yang terbuka.
"Wa--jahku??? Apa yang terjadi dengan wajahku??!!" tangan Yasmin semakin menekan, mencengkeram bersiap untuk menarik perban yang menutupi wajahnya.
"Yasmin, Tunggu!!"
Edgar mendekat, berusaha menahan agar Yasmin tak merusak perban di wajahnya. Yasmin menoleh pada Edgar dengan sorot mata ketakutan sekaligus penuh amarah.
"Apa yang terjadi padaku?! mengapa wajahku dipenuhi perban!" tanya Yasmin.
"Tenang Yasmin. Saya tahu ini sedikit menakutkan. Tapi jangan khawatir, seiring berjalannya waktu, wajahmu akan terlihat lebih baik," terang Edgar.
Mata Yasmin berkaca-kaca. Kakinya berjalan mundur menjauhi Edgar. Tangannya meraba tembok seakan mencari tambatan. Edgar mendekat ke arahnya.
"Yasmin. Kau tak perlu takut. Tak akan ada lagi yang mengejarmu,"
Yasmin menggeleng dengan bingung. Matanya menatap kesana kemari dengan waspada.
"Apa maksudmu?" suara Yasmin bergetar, ia terus berjalan mundur seolah menghindari predator yang hendak memangsanya. Yasmin baru berhenti ketika punggung dan lengannya menyentuh tembok kamar mandi yang dingin.
"Yasmin, Kau mengalami kecelakaan dan aku terpaksa melakukan serangkaian operasi padamu," Edgar kembali mencoba menjelaskan.
Yasmin mendongak. Manik matanya mengecil.
"Kecelakaan? Operasi? Ap--Apa maksudmu? dan S-siapa Kau?"
Edgar terperangah. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. "Apa Kau bercanda? Kau-- tak mengingat apapun?"
Yasmin menggeleng, tubuhnya bergetar, sorot matanya masih menunjukkan rasa takut dan bingung. Edgar mencoba mendekat.
"Yasmin! Aku akan tunjukkan--"
"Jangan mendekat!! Kau melakukan sesuatu padaku, kan?! Kau-- Kau yang merusak wajahku!!" sergah Yasmin saat Edgar menyentuh kedua bahunya.
"Jangan berteriak, Nona! Suaramu akan habis kalau Kau terus begini." Edgar mengangkat kedua telapak tangannya demi menenangkan Yasmin.
"Aku Edgar. Aku dokter yang menangani mu. Kumohon tenanglah. Biarkan aku menjelaskan apa yang terjadi padamu,"
Bukannya menjadi tenang, Yasmin meraih kotak tisu, sabun, pasta gigi dan apapun yang ada di dekatnya kemudian melemparkannya ke arah Edgar.
"Jangan mendekat!! Keluar Kau!! Keluar!!" teriak Yasmin histeris. Yasmin kembali mencengkeram wajahnya, mencoba menarik kain perban yang menutupi.
Edgar bergerak cepat membekap tubuh Yasmin, menahan lengan wanita itu.
"Jangan sentuh aku! jangan!! biarkan aku pergi!!" tangis pecah membuat tubuh Yasmin bergetar hebat.
"Hannah!! ambil obat penenang! CEPAT!!" perintah Edgar.
Hannah berlari mengambil jarum suntik dari kotak obat di samping brankar, ia lantas kembali dan menyuntikkan pada lengan Yasmin. Perlahan tubuh wanita itu mulai lemas, tangisnya makin lirih dan kemudian hilang, menyisakan suara hembusan nafasnya saja.
Edgar membopong tubuh Yasmin dan membaringkannya di atas kasur. Edgar merapikan rambut Yasmin yang berantakan.
Edgar menghembuskan nafas berat menatap sosok di hadapannya. Ia cukup shock dengan apa yang baru saja terjadi.
Hilang ingatan??
Edgar membuka laci nakas, ia meraih tas kecil dan mengeluarkan ponsel dari dalam. Ia membuka ponsel tersebut menggunakan jari Yasmin.
Edgar mengecek kontak, register panggilan, pesan, bahkan galeri ponsel tersebut, tetapi ia tak menemukan apapun. Kepala Edgar kembali dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Ia semakin penasaran dengan kehidupan wanita asing yang ia selamatkan itu.
"Dokter, bagaimana ini? Dia hilang ingatan dan Anda pun tidak mengenalnya?" tanya Hannah.
Edgar terdiam. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Bagaimana kalau keluarganya mencarinya? Bukankah lebih baik Anda melaporkan hal ini pada polisi---"
"Hannah!" potong Edgar. Ia menoleh dan menatap tajam perawatnya itu. "Hentikan ocehanmu! Aku yakin ingatan gadis ini akan kembali. Selain itu ada hal penting yang harus aku ketahui darinya. Sampai ia mendapatkan ingatannya kembali, Kau tak boleh mengatakan hal-hal seperti itu! Paham?!"
Sebenarnya Hannah hanya memberikan saran untuk kebaikan dokter Edgar. Ia tak ingin atasannya menemui masalah akibat wanita asing tersebut. Namun, Hannah hanya bisa mengangguk patuh. Ia tak berani menyanggah perintah atasannya.
***
Di sebuah ruangan gelap tanpa penerangan, seorang pria duduk mengamati rekaman sebuah video di layar televisi. Ia duduk di kursi kerjanya dengan kaki terlipat.
Wajahnya sendu, garis-garis halus tampak samar di sudut matanya. Rambut pria itu kusut dengan kumis dan jambang tebal menutupi bibir dan dagunya. Sesekali ia menenggak wine dari botol yang ia pegang.
Tak ada lagi gairah kehidupan dalam dirinya. Amarah, obsesi, keyakinan telah hilang sejak kejadian beberapa waktu yang lalu.
Derit pintu yang terbuka sama sekali tak membuat pandangannya beralih dari layar televisi. Ia tak ingin melewatkan senyum itu. Senyum bahagia wanita yang ia nikahi 5 tahun lalu. Abraham mem- pause video demi menatap senyum manis Daniella.
"Aku merindukanmu, Sayang..."
Suara sepatu menapak lantai dingin memenuhi keheningan ruang kerja Abraham Gustav. Deborah berdiri di samping putranya, sejenak ia ikut menyaksikan apa yang ada di layar televisi.
"Pernikahan yang indah. Semua orang bahagia disana.." katanya.
Abraham tersenyum kecut. "Kecuali Kau...."
Deborah menoleh, sesaat kemudian ia mangguk-mangguk lalu duduk di salah satu sofa tak jauh dari putranya.
"Ya. Dari awal ibu memang tak menyetujui hubungan kalian. Kau tahu mengapa? Dia bukan wanita yang dibesarkan dalam kehidupan yang sama denganmu, Abraham. Ibu pikir dia akan kesulitan untuk mengimbangi mu."
Abraham kembali tersenyum getir. Matanya tak beralih dari layar 75 inc di hadapannya.
"Tapi ibu salah. Wanita itu bisa memberikan peri kecil seperti Ara. Kau lihat betapa cantiknya putrimu, Nak..."
Deborah mengubah posisi duduknya sedikit maju untuk lebih dekat dengan putranya.
"Abraham. Kau harus bangkit demi putrimu. Kau bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi Ara," tutur Deborah.
Abraham menarik nafas panjang. Ia menurunkan kakinya kemudian menatap lekat-lekat pada sang ibu.
"Daniella akan pulang. Dia yang akan menjadi ibu untuk Ara," jawabnya dingin.
Deborah membuang nafas kasar. "Abraham! dua bulan sudah berlalu. Ibu mana yang tega meninggalkan putrinya selama itu, ha?!"
Abraham tak menjawab.
"Kita sudah mengerahkan segalanya untuk mencari istrimu. Tapi tak ada hasil. Tak ada jejak sama sekali. Menurut ibu--- Kau harus bersiap-siap seandainya--- seandainya ada kabar tentang-- " Deborah berhenti sejenak.
"__Kau harus bersiap seandainya ada kabar buruk tentangnya-- mungkin saja Daniella sudah mat--"
"Diam! Jangan teruskan kata-katamu, Bu!" kecam Abraham. Ia berdiri menjulang membelakangi televisi, tubuhnya hampir menutupi satu-satunya cahaya di ruangan itu.
"Abraham, ibu hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Nak. Suatu saat Kau harus membuka hati untuk--"
"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi di depanku, Bu. Jika bukan Daniella, aku tidak akan memberikan hatiku pada siapapun!" tegas Abraham. Ia menaruh kasar botol wine di atas meja kemudian keluar meninggalkan Deborah seorang diri.
Next▶️