selection and fans

1161 Words
setengah tahun sudah Maryam menjadi murid kelas 10, saat ini pemilihan calon OSIS yang baru dilaksanakan, dari kelas gadis itu yang terpilih adalah dia sendiri karena guru melihat prestasi dan kefasihan Maryam berbahasa Inggris, walaupun terlihat dingin tapi gadis itu tak pernah melanggar aturan apapun dan otak cerdasnya sangat pantas untuk menjadi calon wakil ketua OSIS. gadis itu terpilih dengan pasangan yang ada di kelas 11 yaitu pemuda bernama Revaldo, ia tak jauh berbeda dari Maryam laki-laki itu berprestasi dan tak pernah melanggar aturan hanya saja tidak secuek Maryam, pemuda itu berteman dengan anak laki-laki lainnya walaupun tetap dingin pada lawan jenis. karena wali kelas mereka saling mengetahui pasangan calon pengurus OSIS itu belum saling mengenal maka dilakukan lah pertemuan saat istirahat di ruang guru. sekarang ruangan itu sudah terisi kedua wali kelas mereka beserta Revaldo dan Maryam. "kalian akan menjadi calon ketua dan wakil OSIS, maka mulai sekarang kalian akan melakukan banyak hal bersama jadi mulai sekarang saling berkenalan ya, untuk Revaldo bukankah kau wakil OSIS tahun lalu beritahu Maryam bagaimana tugas-tugasnya nanti ya dan kalian juga harus persiapkan visi misi untuk melawan kandidat lain" ujar wali kelas Revaldo dengan serius. memang mereka akan melawan 2 pasangan kandidat lainnya, maka dari itu pemilihan suara dilakukan dengan mempertimbangkan visi misi yang akan mereka Buat. "baik Bu, saya akan melakukan yang terbaik, kalau begitu saya permisi keluar untuk membicarakan ini pada Maryam" ujar pemuda itu sopan. "silahkan, saya harap kamu akan melakukan yang terbaik juga Maryam" ujar wali kelas gadis itu penuh harap. gadis itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala lalu ia dan Revaldo beranjak dari tempat duduk dan melangkah keluar setelah permisi pada kedua guru tersebut. saat di luar ruangan guru mereka melangkah menuju kelas masing-masing, keheningan yang menemani perjalanan itu tapi setelah sampai di depan kelas Maryam... "hm, kapan kita akan mendiskusikan visi misi nya" pertanyaan Revaldo membuat gadis itu tertahan masuk ke dalam kelas. "besok" jawab singkat gadis itu sambil berjalan masuk, Revaldo yang sudah tahu jawabannya langsung saja melangkah cepat ke kelasnya juga. sedangkan Hary yang menjadi ketua kelas sedang membuat nama di buku absen atas perintah wali kelasnya, sebenarnya itu tugas Eylen tapi gadis itu sedang kurang sehat menundukkan kepalanya di atas meja. "Hary maaf ya jadi kamu yang melakukan tugasku" ujar gadis itu merasa bersalah menatap Hary dengan wajah pucatnya. "tidak masalah, kamu tidak mau pulang atau ke UKS saja? wajahmu sangat pucat Len" ujar Hary dengan seadanya karena memang seperti itu dihapadannya sekarang. gadis itu hanya menggelengkan kepalanya lemah dengan senyuman tipis di bibir pucatnya. tak lama bel istirahat berbunyi, untung saja Hary telah menyelesaikan tugasnya dan kini anak laki-laki itu bergegas keluar kelas ingin menemui kakaknya yang sudah diluar kelas, seperti biasa mereka akan memakan bekal di kantin. tapi Hary sangat tidak tega melihat Eylen yang pucat itu. "Len, kamu sudah makan? ikut makan ke kantin yuk" ajak Hary membuat Eylen langsung mendongakkan kepalanya menatap Hary yang sudah berdiri. "aku bawa bekal kok ry, aku makan dikelas aja" jawab gadis itu dengan senyuman tipisnya. Hary pun mengangguk mengerti, ia teringat pada Lala jika berada di posisi Eylen pasti sangat menyedihkan jika tak ada yang memperdulikan adiknya itu. akhirnya Hary dan Maryam berjalan ke kantin dengan obrolan singkat di sepanjang perjalanan, saat sesampainya dikantin mereka langsung memakan bekal buatan bunda mereka. "kakak terpilih menjadi calon wakil ketua OSIS ry bagaimana menurutmu?" tanya Maryam yang sedikit bimbang dengan hal itu. "bagus dong kak, Hary yakin kakak pasti terpilih" ujar Hary dengan senyum antusias yang ditujukannya pada sang kakak saja. "baiklah kakak akan coba" ujar Maryam ia ingin mencoba apa salahnya. tak lama banyak yang mendatangi meja mereka mungkin sekitar 7-10 orang dan semuanya gadis seumuran Hary. "Hary, bisakah kamu ajarin aku materi tentang himpunan ini?" tanya salah satu gadis sambil mengambil tempat duduk disampingnya. "aku juga tidak mengerti" ujar gadis lainnya duduk disisi lain Hary. sebenarnya itu adalah penggemar Hary yang memenangkan olimpiade matematika bulan lalu, semenjak kemenangannya laki-laki itu memiliki banyak fans bahkan alasan utamanya adalah karena ketampanan haru tentunya. "Diam" sentak Maryam dengan datar, gadis itu sangat terganggu dengan fans Hary yang membludak. "lebih baik pelajaran itu kita bahas dikelas saja nanti akan kuajari" ujar Hary dengan sopan pada fans nya, seperti terkena hipnotis mata tajam laki-laki itu akhirnya mereka mengangguk patuh dan kembali ke kelas. "Hary bagaimana perasaanmu saat mereka menganggu kita makan" tanya Maryam kesal. "tentu saja Hary tidak suka kak, tapi bagaimana lagi wali kelas juga menunjuk Hary menjadi ketua kelas yang harus mengajari anggota kelas dengan kemampuan yang Hary punya" ujar Hary dengan lembut tapi terdengar pasrah. "jika tidak suka laporkan ke guru kalau hal itu mengganggumu" ujar Maryam dengan datar. "tidak papa kok kak, Eylen juga selalu membantu Hary jadi ya tidak terlalu berat tugasnya" ujar Hary dengan tersenyum tulus pada kakaknya. "Eylen sekertaris kelasmu? oh iya tadi dia kenapa hanya menundukkan kepala di meja?" tanya Maryam Yang sempat melihat ketidakberdayaan Eylen di dalam kelas. "iya, dia kurang sehat" jawab Hary seadanya. "baguslah ada satu gadis yang tidak menggila di kelasmu dan untung juga dia mau membantumu" ujar Maryam dengan senyuman kecilnya membuat Hary terkekeh pelan. "mereka tidak menggila kak, hanya terlalu bersemangat untuk belajar" ujar Hary masih dengan kekehan kecilnya. "sama saja" ucapan datar dari Maryam penutup percakapan mereka karena bel masuk sudah berbunyi. disisi lain Milan dan Lala tidak pernah makan bekal bersama lagi saat istirahat karena gadis itu akan selalu memakan bekalnya dengan Aaron. sebenarnya Milan pun tak mempermasalahkan hal itu lagi tapi sekarang ia seperti tidak diperhatikan adiknya lagi makanya ia menarik Lala kekelasnya untuk makan bekal bersama. "Abang, Lala mau makan bersama Aaron" ujar gadis itu memelas dihadapan abangnya, ia sangat tidak enak dengan Aaron yang menatapnya pasrah saat ditarik Milan kemari. "Lala lebih sayang sama Aaron ya daripada Abang?" tanya Milan tidak suka. "bukan begitu Abang, tapi kan Abang punya bang varo untuk makan bekal bersama, sedangkan Aaron hanya sendirian" ujar gadis itu dengan lirih. varo yang ada disebelah Milan pun hanya menggelengkan kepala melihat kecemburuan laki-laki itu sambil melanjutkan memakan bekalnya. "sudahlah Milan jangan membuat Lala bingung" ujar varo menatap gadis itu iba. "Abang, kita kan selalu makan bersama dirumah cuman disekolah Lala makan sama Aaron bang" ujar gadis itu memelas lagi. Milan benci saat adiknya itu mengasihani Aaron yang mungkin hanya kaperlek terhadap adik polosnya. "yasudah pergi sana" usir Milan dengan ketus. "Abang jangan marah dong" bujuk gadis itu sambil memegang pergelangan tangan abangnya tapi Milan menghindar. "yasudah sana makan bersama Aaron" ujar Milan dengan ketus dan dingin. Lala pun bingung bahkan matanya sudah berkaca-kaca, varo yang melihatnya langsung mengambil tindakan.. "yaudah la balik aja ke kelas sebelum bel nanti gak sempat pula Lala makan bekalnya" ujar varo lembut sambil mengantarkan lala sampai pintu kelasnya. "yaudah bang varo bujuk ya bang Milan" ujar gadis itu dengan lesu setelah itu ia pergi melangkah menuju kelasnya. "Milan, jangan buat Lala sedih dong kau kan abangnya" ujar varo sedikit kesal sambil membereskan bekalnya yang sudah habis. Milan hanya diam melamun menatap bukunya di meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD