yang benar saja keesokan paginya sang ibu mengambil cuti 1 Minggu untuk lebih mengawasi mental anak-anaknya.
"loh bunda kenapa tidak ke restoran?" tanya Maryam melihat ibunya kembali lagi setelah mengantar Milan.
"bunda akan cuti seminggu kak untuk menemani anak-anak bunda ini dong" ujar Mina dengan senyuman manisnya sambil mengelus kepala Maryam yang sedang menggendong Adit.
Mina pun mengambil Adit dari gendongan anaknya.
"kak, beresin rumah aja ya biar bunda yang jaga adik-adik" perintah sang ibu dengan lembut.
"oke Bun" Maryam mengangguk patuh.
sang ibu berjalan menuju kamar dimana Hary dan Lala bermain sambil belajar.
"halo kak Lala" sapa sang bunda memasuki kamar yang pintunya terbuka setengah.
Lala terkejut
"Adit, bundaaaa" teriaknya dengan senang karena sang bunda dirumah saat ini.
Mina pun meletakkan Adit diatas ranjang lalu membiarkannya bermain dengan Lala, sedangkan Hary daritadi juga hanya memperhatikan kedua adiknya itu sedang bermain Boneka dan mobil mainan Adit.
"bang bagaimana kalau kita main puzzle" ajak Mina dengan ceria pada Hary.
tentu saja Hary sangat senang dia pun mengangguk antusias lalu mengambil mainan puzzle nya.
ibu dan anak itu bermain dengan bahagia padahal disaat itu Mina ingin sekaligus membuat anaknya itu lupa dengan kejadian kelam tersebut.
bersenang-senang sambil mengobati ingatan anaknya yang takkan terlupakan oleh mereka terutama bagi Hary dan Lala.
Lala yang tampak mulai menunjukkan kerinduan dengan ayahnya saat demam kemarin dan sekarang hary yang mentalnya terganggu.
sang ibu berusaha seharian itu untuk memperhatikan anaknya dan ternyata anak-anaknya saling perhatian, menjaga dan melindungi satu sama lain membuatnya bangga menjadi ibu mereka, tidak ada pertengkaran hanya usilan kecil dari Milan kepada Lala tapi setelah itu mereka akrab lagi.
Hary juga libur seminggu membuat Lala heran.
"Abang kok gak sekolah?" tanya gadis itu dengan polos karena siang ini Abang nya itu belum berangkat kesekolah.
"Abang libur juga dong biar Lala ada yang nemenin" jawab sang ibu membuat Lala memeluknya erat Sakin bahagianya.
keesokan harinya Mina berencana pergi kesebuah taman dan piknik disana bersama anak-anaknya.
"Lala Abang bawa buku cerita menggambar loh" ujar Milan membuat Lala tersenyum senang saat mau berangkat piknik, hari ini semuanya libur sekolah agar bisa piknik bersama-sama.
sang ibu menyiapkan banyak barang seperti tikar dan juga makanan beserta peralatan makan.
Maryam sibuk mengurus adik- adiknya kecuali Adit karena sang ibu lah yang sudah mengurus Adit dan sambil menggendong sang ibu pun menyiapkan makanan dan memasukkannya ke mobil bagian belakang.
setelah sampai ditaman yang ramai dikunjungi orang ingin piknik itu, sang ibu mulai menggelar tikar dan meletakkan semua jenis makanan, cemilan dan minuman disana.
"hm seru banget" ucap Lala sambil menatap sekitar.
"rame sekali" gumam Milan dalam hati karena dia tidak suka keramaian.
"la ayo kita lihat buku ceritanya seru juga loh ada gambarnya" aja Milan yang sekarang tengkurap ditikar tersebut disusul gadis kecil tersebut.
Mina mulai menyulangi cemilan pada Adit yang ada dipangkuannya.
Maryam pun sambil makan menatap beberapa keluarga yang sedang piknik juga.
Hary ikut membaca cerita adiknya karena Milan belum lancar membaca, wajar saja karena Milan masih kelas 1 SD.
mereka mulai menikmati piknik tersebut dengan kegiatan masing-masing.
"Abang Milan pinjam dong" ucap Lala kesal tapi masih celat jadi terdengar menggemaskan membuat Milan tertawa.
"ambil lah sini" ucap Milan yang mulai menjauh dari Lala sambil mengangkat tangannya yang memegang pensil warna kuning.
aksi kejar-kejaran pun terjadi pelakunya tentu saja Milan dan Lala, mereka berlarian mengelilingi tikar mereka yang lumayan luas itu.
akhirnya Lala capek mengejar abangnya yang sangat lincah itu, dia pun berhenti sambil mengatur napas yang sudah ngos ngosan, dia pun duduk disamping Hary yang menatapnya iba dengan senyuman lembutnya Hary menawarkan minuman lalu langsung diteguk habis minuman itu.
"Abang, pinjamin pensil warnanya napaaa" ucap gadis itu memelas pada Abangnya yang sangat lembut padanya selama ini.
"eh curang gak boleh minta bantuan bang Hary ya Lala " peringat Milan berdiri didepan Lala yang nyengir polos.
"bund, kakak tidak tau mengapa tapi kakak merasa tidak suka diluar seperti ini saling menatap dengan orang asing" ujar Maryam pada Mina.
"itu karena kakak sudah terbiasa dirumah seharian" ujar bunda dengan lembut, Adit tertidur dipangkuannya.
"tapi Kakak memang lebih senang hanya bersama bunda dan adik-adik saja" ujar Maryam mengutarakan isi hatinya.
"kalau begitu jagalah ikatan persaudaraan kalian sampai dewasa, jangan ada yang saling membenci dan saling berdiaman, jika itu terjadi kakak harus mengalah kalau bisa perbaiki ya" ujar Mina dengan penuh kasih sayang.
"iya bund, kakak janji akan selalu menjaga mereka" ucapan Maryam menyentuh hati sang ibu membuatnya bahagia memiliki anak-anak yang saling menyayangi satu sama lain.
Lala dan Milan yang tadi bertengkar sekarang terlihat tidur berpelukan selalu saja seperti itu, membuat senyuman sang ibu mengembang diwajahnya.
sedangkan maryam sedang memandang wajah Adit yang tertidur pulas disampingnya, Hary sedang makan karena memang dia yang belum makan daritadi katanya belum selera.
"bang, senang tidak?" tanya Mina pelan pada Hary.
Hary mengangguk
"hal apa yang paling buat Abang senang" tanya sang ibu lagi.
"berkumpul seperti ini, adalah kebahagiaan yang sangat Abang inginkan" ucapan Hary menyentuh hati Mina dia pun mengacak pelan rambut anaknya itu lalu ikut makan bersama Hary sambil bersenda gurau.
sore pun tiba langit mulai mendung, mereka bergegas membereskan barang-barang dan pulang kerumah dengan selamat.
malam harinya mereka juga masih berkumpul tapi Maryam dan Milan kekamar terlebih dahulu karena besok sekolah sedangkan Hary dan Lala masih diruang tengah dengan sang ibu yang membacakan cerita dongeng.
tak lama Lala dan Adit tertidur, sedangkan Hary masih mendengar dongeng itu sampai habis.
"tamat" ucap sang ibu sambil menutup buku tersebut.
"ceritanya sangat singkat tapi bahagia diakhir apa sesingkat itu juga" tanya Hary pada Mina yang terkejut dengan pertanyaan anaknya itu.
"jika kita mudah menerima takdir kita akan mendapatkan bahagia yang tak berujung" jawab sang ibu dengan lembut.
akhirnya Hary pun memutuskan masuk kamar karena sudah mengantuk, sang ibu juga menggendong Lala sampai kekamarnya.
setelah itu sang ibu menggendong Adit kekamarnya lalu tidur dengan nyenyak.