sekarang adalah hari ke lima sang ibu dan Hary libur.
bertepatan juga dengan ulang tahun Aqeela nama asli dari Lala, mereka mempunyai nama panggilan masing-masing dirumah itu, makanya sekarang mereka sekeluarga berkumpul diruang tengah walaupun setiap hari begitu tapi kini ruang tengah dihiasi balon dan pita-pita berwarna-warni, bolu dan makanan kesukaan gadis kecil itu tertata rapi di meja yang diletakkan untuk sementara diruangan tersebut.
tentu saja Mina dan Hary yang paling banyak ikut andil dalam menghias ruangan tersebut, Milan dan Maryam membantu sedikit setelah selesai sekolah mereka.
"Bun, kue bolu nya sudah dibeli?" tanya Hary sambil mengikat beberapa balon menjadi satu.
"belum, lagian masih panas nanti sore saja" ujar sang ibu sambil meniup balon.
Hary pun mengangguk mengerti memang jam 12 siang adalah saat dimana matahari akan sangat terik.
Adit dan Maryam tertidur dikamar sang ibu, sedangkan Milan mengerjakan pr dikamar Lala.
gadis kecil yang sekarang sedang berulang tahun sedang tidur pulas setelah makan siang tadi.
sebenarnya Milan juga bertugas menemani sang adik seharian dikamar agar nanti malam diruang tengah akan menjadi sebuah kejutan.
Lala yang masih polos dan naif tentu saja mudah dialihkan dengan banyak permainan yang dimainkannya bersama Milan, dari mewarnai, bermain tebak gambar, petak umpet juga sering dimainkan oleh mereka berdua dikamar, jangan lupakan Milan yang sangat suka bermain Boneka jika itu bersama dengan Lala.
"Abang, Lala mau main sama Adit" ujar gadis kecil yang tengah duduk dari tengkurapnya.
Milan melihat ke jendela hari sudah sore mungkin sang ibu sedang membeli kue, dia harus berusaha membuat Lala tetap dikamar sempai malam tiba.
"nanti saja, Lala bosen ya" ujar Milan dapat anggukan dari sang adik.
"bagaimana kita main petak umpet, tapi Latso dan Ruby ikut juga" ajak Milan sambil menyebutkan boneka beruang coklat yang diberi nama Latso dan boneka kelinci bernama Ruby, ayah mereka yang memberi nama itu saat menghadiahkan Lala boneka tersebut.
"ayo!!" jawab Lala antusias kini sudah memegang 2 boneka itu di masing-masing tangannya.
"tapi Sena ikut juga ya bang" ucap gadis itu sambil menatap boneka Barbie nya yang diberi nama Sena, lagi-lagi nama itu dari sang ayah agar gadis kecilnya mudah menyebutkan nama Barbie tersebut.
Milan hanya mengangguk menurut.
"yaudah pertama Abang dulu jaga" ujar Milan.
"oke" ujar adiknya antusias sambil melihat sekitar untuk menetapkan tempat persembunyian, gadis polos itu membuat Milan tahu akan dimana dia bersembunyi, anak laki-laki itu pun tersenyum geli lalu berbalik kearah dinding menutup matanya, menyandarkan keningnya ditembok dan mulai menghitung.
"1..2..3...." hitungan itu membuat sang gadis buru-buru menyembunyikan teman-teman bonekanya terlebih dahulu, Latso dilemari pakaian bunyi 'gedebrakkk' berasal dari Lala yang sedang menutup lemari membuat Milan tertawa karena mudah sekali mengetahui persembunyian boneka itu.
lalu sena diletakkan gadis itu disela sela buku paket Hary yang kini mulai tak tertata rapi karena perbuatan gadis itu 'brukk' bunyi buku terjatuh membuat Milan lagi-lagi tertawa tapi menahannya.
boneka yang diberi nama Ruby itu diletakkan sang gadis dibawah bantal, bunyi tempat tidur yang ada disamping tempat Milan berjaga pun terdengar jelas.
dan terakhir adalah Lala bersembunyi dibawah kolong tempat tidur yang selalu dibersihkan Hary karena tahu adiknya suka bermain dimana saja. tapi kali ini Milan tidak mendengar apapun.
"8...9...10, siapa atau tidak Abang datang" ujar Milan mulai mencari keberadaan boneka dan sang adik.
"Sena, ketemu" ucap Milan setengah teriak sambil melempar Sena ke ranjang setelah mengambilnya diantara buku Hary.
"Latso, ketemu" ujar Milan lagi mengambil boneka beruang itu di lemari pakaian yang sudah tak terbentuk rapi.
lalu Milan naik ketempat tidur untuk mengambil Ruby dibawah bantal "Ruby ketemu" ujar lelaki itu dengan tawa ceria karena sangat mudah menemukan boneka-boneka itu atau adiknya yang tidak pandai mengendap tanpa mengeluarkan suara.
"sekarang tinggal Lala" gumam Milan pelan.
laki-laki itu mulai mencari ditirai jendela yang panjangnya menyentuh lantai, dikamar mandi, juga disudut-sudut ruangan yang tertutup beberapa lemari kecil.
tapi setelah mencari dia tetap tak menemukan sang adik.
kini matanya mulai menatap kolong tempat tidur, dan benar saja adiknya bersembunyi disana.
lebih parahnya lagi bukan hanya bersembunyi tapi juga tertidur pulas dengan dengkuran halus, hal itu membuat Milan tertawa puas tapi suaranya dikecilkan ya.
"Lala, ketemu" ujarnya berbisik dan ikut berbaring disamping Lala.
sekarang waktu menunjukkan pukul 7 malam, sang ibu pun menyuruh Hary untuk menghampiri kedua adiknya yang sedang tidak diketahui lagi ngapain.
saat Hary masuk kekamarnya....
helaan napas panjang terdengar dari laki-laki berumur 9 tahun itu alasannya tentu saja kamar yang berserakkan, tapi dia tetap sabar sambil membereskan kekacauan karya kedua adiknya itu.
"Milan!! Lala!!" panggil Hary karena kamar begitu sunyi, dia pun memeriksa kamar mandi dan ternyata kosong juga.
lalu melihat ada kaki keluar dari kolong tempat tidur, dia pun sudah menebak kalau mereka bersembunyi dibawah sana.
saat ingin mengejutkan kedua adiknya, dia terdiam melihat ternyata adik-adiknya itu sedang tertidur dibawah sana, Hary menggelengkan kepalanya tidak percaya.
lalu dengan pelan membangunkan kedua adiknya.
"hei ayo bangun makan malam sudah siap" ujar hary sambil menggoyangkan tubuh Milan pelan.
Milan pun terbangun setengah sadar dan dengan merangkak dia keluar dari kolong tempat tidur.
Lala belum terbangun
"la, ayo bangun" ujar Milan sambil menguap membuat suaranya menjadi besar dan mengejutkan Lala.
Lala langsung terbangun dengan posisi duduk membuat kepalanya terkena bawah tempat tidur, dan itu lumayan sakit karena Lala menangis kuat setelah kejedot.
Milan tentu saja langsung panik dan cemas.
Hary pun langsung menarik pelan Lala dan melihat dahi adiknya itu memerah "makanya Lala jangan tidur dibawah kolong" ujarnya sambil mengelus pelan dahi adiknya untung saja tidak benjol atau bocor.
Milan juga dengan panik menggenggam tangan adiknya yang sedang menangis kuat.
"abaaaang hiks sakit hiks sakit hiks gak berdarah kan" ujar gadis itu sambil menangis dan dengan nada celat.
sang ibu dan Maryam yang mendengar lala menangis langsung menyusul kekamar "kak jaga Adit dulu ya, bunda mau melihat mereka" sang ibu langsung bergegas menuju kamar.
"ada apa bang?" tanya Mina sambil menghampiri ketiga anaknya dilantai, yang satu menangis dengan satu tangan memegang kepalanya, dan satu lagi membujuk dan mengelus dahi yang memerah itu, sedangkan satu lagi menggenggam tangan adiknya sambil menatap dengan mata berkaca-kaca, Mina tahu kalau Milan melihat Lala menangis dia juga akan ikut menangis.
"mereka tidur dikolong" jawab Hary menatap ibunya yang berlutut dilantai melihat keadaan Lala juga.
"Oalah jadi ini kejedot tempat tidur?" tanya sang ibu sambil melihat dahi anaknya itu dengan serius.
anggukan Hary mengiyakan pertanyaan sang ibu.
"yaudah sini biar mama gendong, ayo kita makan malam" ujar sang ibu sambil menggendong Lala dan beranjak keluar kamar.
Milan pun merasa bersalah dan dia menunduk terus saat berjalan keruang tengah.
Hary tentu saja mengetahui adiknya sedang dilanda merasa bersalah, juga takut Lala kenapa-napa.
"Milan, dia akan baik-baik saja kok" ujar hary menenangkan nya sambil merangkulnya dan jalan berbarengan ke ruang tengah.
senyuman lebar muncul diwajah Milan, abangnya selalu seperti ini, sabar dan rajin juga tak emosian, dia melihat kamar yang berantakan sudah rapi pasti abangnya inilah yang membereskannya.
Diruang tengah......
"Bun, kok banyak balon dan makanan" tanya gadis kecil yang sedang digendong oleh ibunya, dengan wajah menggemaskan karena habis menangis dan bahasa masih celatnya.
"Lala hari ini ulang tahun sayang" ujar Mina sambil duduk dikarpet berbulu menghadap meja yang penuh dengan makanan dan ada bolu ulang tahun juga.
Lala duduk dipangkuan ibunya, Hary dan Milan duduk disebrang mereka sedangkan maryam memangku adit disisi sebelah kanan.
"pakai topinya" ujar sang ibu sambil memakaikan topi ulang tahun dikepala Lala.
lalu mereka bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk gadis kecil itu.
meniup lilin dan memotong kue yang bertuliskan Aqeela dengan lilin angka 4 menandakan usia gadis kecil itu bertambah menjadi 4 tahun.
malam ini adalah pesta ulang tahun pertama keluarga itu tanpa sang ayah, tapi mereka tetap bahagia karena bagaimanapun larut dalam kesedihan akan membuat kebahagiaan menjauh terus-menerus.