first day of school

1068 Words
3 tahun kemudian..... "Abang jam berapa ini" ujar gadis kecil yang langsung terduduk dari tidurnya karena dipikirnya sudah telat untuk sekolah. "jam 6, mandi gih la ini kan hari pertama kamu sekolah biar Abang antar kelas nanti" ujar abangnya dengan nada lembut seperti biasa sambil memakai seragam sekolahnya. gadis bernama Lala itu langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. sedangkan dikamar sebelah ada dua tempat tidur yang satu ditempati seorang gadis yang akan tamat SMP tahun ini ya g ditempuhnya dengan homeschooling, tapi dia memutuskan untuk bersekolah normal saat SMA nanti. satu tempat tidur lagi ditempati oleh anak laki-laki yang sekarang duduk di bangku kelas 3 makanya dia masih terlelap karena masuk siang. pukul 7 pagi semuanya sudah berkumpul dimeja makan. "ma, Adit mau pakai ayam" ujar anak laki-laki berusia tiga tahun dengan bahasa celatnya, Adit tumbuh menjadi anak yang aktif dan juga paling dekat dengan Milan, bahkan pipi chubby itu masih melekat diwajahnya yang membuat anak tersebut tampak menggemaskan sekali. sang ibu langsung menaruh sepotong ayam dipiring Adit. "Abang nanti kita main mobil damkar lagi ya" ujar Adit sambil mengunyah kepada abangnya yang masih dengan muka bantalnya sarapan di pagi ini. Milan yang diajak bermain oleh Adit hanya mengangguk kan kepala pasrah karena jujur dia sekarang masih mengantuk. "Bun, nanti Abang aja yang ngantar Lala ke kelasnya" ujar Hary kepada sang ibu. "ooh gitu ya, memang sih semua urusan pendaftaran telah selesai tinggal mengantar kekelasnya saja, yaudah kalau gitu nanti disekolah jangan nakal ya la" ujar sang ibu sambil menatap kedua anak nya yang berseragam sekolah itu bergantian. kedua anak itu mengangguk patuh, dan tak lama mereka berdua dengan sang bunda berangkat bersama mengendarai mobil. sedangkan Maryam memulai homeschooling nya, dan Milan menemani Adit bermain dikamarnya. setelah perawatan dari sang ibu selama seminggu waktu itu berhasil membuat Hary mau bersekolah lagi dan mencoba berbaur walaupun seadanya tapi itu lebih baik daripada membisu. saat sampai disekolah..... "La nanti uang jajannya minta sama bang Hary ya" ujar sang ibu sambil memberikan uang pada Hary. anggukan dari Lala mengiyakan pertanyaan tersebut. setelah mereka berdua menyalimi sang ibu, wanita itu langsung menancapkan gas mobil ke restoran dekat dengan sekolah tersebut, tempat dimana dia bekerja. walaupun Mina berumur 35 tahun ternyata banyak yang ingin menikahi janda dengan 5 anak tersebut, mulai dari duda kaya raya dan laki-laki muda yang belum menikah berkisar 27-30 tahun, tapi wanita itu menolaknya karena didalam pikirannya hanyalah masa depan kelima anaknya. Hary dan Lala sedang menyusuri koridor yang terdiri dari 5 kelas yaitu kelas 1A-1E. karena sang ibu memberitahu bahwa Lala kelas 1B membuat mereka cepat mendapatkan kelas tersebut. "Abang, Lala takut" ujar sang adik sambil memeluk erat lengan abangnya itu. "jangan takut mereka bukan hantu la" ujar Hary dengan tersenyum lembut sambil membungkukkan badan dan mengacak pelan rambut adiknya. "tapi Lala tidak tahu mereka semua siapa" ujar gadis itu dengan mata berkaca-kaca didepan abangnya. "yaudah ayo Abang antar kedalam" ujar Hary berusaha untuk membuat adiknya tidak menangis, dan benar saja mata berkaca-kaca itu hilang seketika digantikan senyuman lebar. Hary memilihkan adiknya bangku kosong yang hanya ada di bangku Ketiga di barisan keempat. "Lala duduk disini ya" ujar Hary dengan lembut, dia pun duduk disamping adiknya sambil menenangkannya dengan kata-kata yang bagus agar tidak menakuti gadis kecil itu tentang lingkungan sekolah. anak murid didalam kelas tersebut memiliki tingkah masing-masing, dari yang menangis digendongan orangtua, ada yang enggan melepaskan pelukan ibunya, ada juga menangis dengan sesenggukan terlihat sang ayah menghiburnya dengan wajah lelah, ada juga anak yang santai saja tanpa ditemani kedua orangtuanya, bahkan anak yang ketiduran kini sedang dibanguni oleh sang kakak. melihat itu semua membuat Hary menghela napas lega karena adiknya biasa saja walaupun ada rasa takut ditinggal olehnya. bel berbunyi, dan Hary harus kekelasnya. "Abang pergi kekelas ya la" ujar Hary sambil mengelus lembut puncak kepala adiknya itu. raut cemas terlihat diwajah sang adik, "ih Abang, Lala takut loh" ujar adiknya sambil melihat 30 anak murid lainnya dikelas tersebut. "loh bukannya lala tadi malam senang banget hari ini sekolah" ujar Hary mengingat kan adiknya tentang antusias nya sang adik tadi malam. "iya tapi tapi tapi..." ujar Lala kebanyakan tapi karena bingung melanjutkannya dengan kata-kata apa lagi. "Lala nanti ada hal menyenangkan loh" ujar sang Abang merayu adiknya agar tidak takut lagi. "haa, betulan bang?" tanya sang adik senang dengan hal yang menyenangkan tersebut. Hary mengangguk antusias lalu pamit pergi pada sang adik yang kini tidak menahannya lagi. Lala ingat hal-hal menyenangkan yang dibilang Abang Milannya tadi malam tentang sekolah yang masih kelas 1 SD. bermain bersama banyak anak lainnya, guru akan bercerita banyak dongeng, banyak mendapat teman baru, senam bersama, bermain tebakan bersama dan masih banyak lagi. setidaknya itulah yang diingat Lala dari Abang Milan nya. tak lama seorang guru muda dan cantik masuk ke kelas Lala sambil membawa beberapa buku ditangannya. 31 siswa yang sudah ditinggalkan para keluarganya dikelas tersebut pun memerhatikan guru yang akan menjadi wali kelas mereka. "selamat pagi anak-anak, saya Bu Kanaya yang akan menjadi wali kelas kalian" sapa guru tersebut membuat para siswanya menatapnya dengan bingung. kebanyakan dari mereka berpikir 'apa itu wali kelas' . sebelum guru tersebut berbicara lagi ada seorang pria tampan mungkin berumur 35 sedang mengetuk pintu kelas tersebut, didepan pria itu ada seorang anak laki-laki dengan tatapan datar. "maaf Bu anak saya terlambat" ujar pria tersebut. "oh tidak apa-apa pak silahkan masuk" ujar guru tersebut dengan ramah menghampiri mereka berdua kedepan pintu. "yaudah Bu saya balik ya, terimakasih" ujar pria tersebut saat anaknya memasuki kelas, Bu Kanaya pun mengangguk sopan. "baiklah sekarang kamu duduk dimana ya" ujar guru tersebut sambil memperhatikan beberapa kursi yang sudah diisi, dia sedang mencari yang kosong untuk anak itu. ternyata saat melihat kursi disamping Lala masih kosong.. "ha, kamu duduk disana ya nak" ujar Kanaya sambil menunjuk kursi kosong tersebut, anak laki-laki tersebut langsung saja menuju kursi itu dan duduk dengan rapi tanpa menoleh kearah Lala yang menatapnya penasaran. lalu mereka melanjutkan perkenalan, saat sudah tiba giliran Lala, gadis kecil itu pun berdiri seperti yang dilakukan oleh murid lainnya saat perkenalan. "nama Lala, Aqeela Andrata" ujarnya dengan senyuman ceria membuat sang guru gemas dan menularkan senyuman itu kesetiap murid yang menatapnya. hanya orang disampingnya yang tak menatapnya bahkan mungkin tak mendengarkan semua perkenalan diri seisi kelas. saat tiba giliran anak itu, dia berdiri "Aaron Revaldo" setelah mengucapkan dua kalimat itu dia langsung duduk kembali. suasana hening tapi sang guru memecahkan keheningan tersebut dengan menyuruh untuk anak yang belum perkenalan melanjutkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD