hari ini tepat sebulan Lala sudah bersekolah dan sebulan juga ia sebangku dengan anak laki-laki pendiam bernama Aaron.
setiap hari Lala selalu mengajak anak itu untuk bicara tapi tak pernah ditanggapi Aaron.
pagi ini Lala tetap mengajak Aaron mengobrol.
"Aaron, semalam didekat rumah Lala ada badut loh sebenarnya wajahnya seram tapi karena om badutnya gendut Lala suka" ujar gadis itu dengan wajah ceria dan antusias.
seperti biasa Aaron hanya diam saja
"Aaron! Aaron!" panggil gadis itu sambil menggoyangkan lengan anak laki-laki itu sekuat tenaga agar ia berbicara.
anak laki-laki itu mulai terganggu dari tidurnya karena tangannya digoyangkan secara paksa oleh gadis hiperaktif tersebut.
Aaron langsung bangun dan menatap gadis itu lekat dan tajam karena kesal.
"hehe, Aaron kok bobok di sekolah?" tanya gadis itu dengan cengiran polosnya.
tanpa menjawab Aaron mengalihkan pandangannya ke arah pintu kelas setelah mendengar suara ketukan bersamaan dengan bel yang berbunyi.
pelajaran di dalam kelas itu pun di mulai, Lala tersenyum lebar disaat pelajaran awalnya adalah menggambar karena itu adalah hobi dia juga keahliannya.
"hore menggambar" ujar gadis itu pelan dengan senang di kursinya.
Aaron yang disampingnya malas menanggapi hanya mengerjakan tugas menggambar yang diberikan oleh guru mereka.
setelah setengah jam para murid dikelas diberi waktu untuk menggambar, guru kesenian itu mulai mengatakan sesuatu..
"anak-anak menggambarnya sudah selesai, silahkan kumpulkan satu persatu mulai dari kursi paling depan" ujar guru yang berusia sekitar 40an tahun tersebut.
Lala yang sudah selesai pun tersenyum melihat hasil kerjanya.
"Yeay, sekarang Lala bisa menggambar Aaron" ujar gadis itu sambil menunjukkan gambarnya pada anak laki-laki disebelahnya yang terkejut saat gadis itu mengatakan bahwa ia menggambarnya.
saat melihat gambaran itu Aaron terpukau dalam hati, walaupun masih berumur sebaya dengannya tapi gadis itu sangat ahli menggambar daripada dia, dan ini lah pertama kali nya Aaron menanggapi Lala.
"bagus" puji laki-laki itu dengan wajah yang masih terpukau.
mendengar suara Aaron sang gadis langsung mengalihkan pandangan dari gambarnya ke arah wajah Aaron.
"Aaron gak diam lagi?" tanya polos gadis itu dengan senyuman lebar, kini Aaron melihat wajah gadis itu yang baru disadarinya sangat menggemaskan ketika tersenyum.
tanpa disadarinya senyuman tipis pun muncul di wajahnya.
sekarang waktunya giliran mereka berdua untuk mengumpulkan tugasnya, guru pun terkagum melihat gambaran Lala yang sangat detail walaupun tak sedetail orang besar pada umumnya, tapi gambaran Lala termasuk paling bagus di kelas.
karena dapat tanggapan dari Aaron hari ini, membuat Lala merasa senang di hatinya seharian sehingga membuat Hary dan Milan terheran.
"la, kenapa dari tadi senyum sendiri tiba-tiba, enggak kesurupan kan dek?" tanya Milan sambil mengernyitkan dahinya heran melihat adik perempuan satu-satunya dari tadi senyum sendiri padahal mereka lagi mengerjakan PR bersama di ruang tengah.
"ha apa bang?" tanya gadis itu sadar dari senyumannya lalu bertanya dengan polos pada abangnya, jujur saja ia tak tahu apa yang disebutkan Abang kedua nya itu.
Hary yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Lala lagi senang ya?" tanya Hary lembut.
"eh iya bang, soalnya Aaron gak diam lagi" ujar gadis itu dengan cengiran polosnya.
tentu saja kedua abangnya sudah tahu tentang Aaron karena dari pertama kali gadis itu sekolah ia selalu menceritakan laki-laki pendiam di sebelahnya.
karena sang bunda yang sibuk mengurus Adit dan Maryam mulai belajar serius untuk daftar ke sekolah normal. jadi hanya Milan dan Hary yang selalu setia mendengarkan keluh kesah adiknya dia sekolah.
"ha, kok bisa ? dia marah pastikan karena Lala cerewet kali?" tanya Milan memicingkan matanya curiga jika teman adiknya itu sangat terganggu dengan segala tingkah Lala.
"Aaron gak marah loh bang" ujar gadis itu kesal karena Milan sangat menyebalkan malam ini.
"jadi?" tanya Hary yang mulai penasaran.
mendengar ucapan Hary gadis itu langsung mengeluarkan tugas menggambar nya yang sudah dinilai tadi dari tas dan menunjukkan nya pada dua abangnya sambil menjelaskan.
"tadi Aaron senang lihat gambarnya Lala, Aaron bilang gambar Lala bagus" ujar gadis itu tersenyum ceria.
Hary mengambil gambaran itu dengan terperangah begitu juga dengan Milan yang di sebelahnya, mereka berdua sangat kagum dengan keahlian Lala dari kecil yaitu menggambar.
"ini Lala gambar siapa?" tanya Hary masih betah memandang gambaran gadis itu.
"itu Aaron setiap hari" ujar gadis itu.
kedua abangnya pun menjadi tahu tentang apa yang dilihat Lala setiap hari selama di sekolah, yaitu Aaron tertidur meletakkan kepala di meja.
Hary pun mengacak kepala Lala dengan lembut sambil memuji gadis menakjubkan tersebut, sedangkan Milan menunjukkan senyuman lebar Sakin kagumnya pada Lala.
"tapi bang kenapa Aaron suka diam ya?" tanya gadis itu dengan polos.
"itu berarti dia aneh la, gangguin aja dia terus sampai pingsan Sakin tidak kuatnya mendengar ocehanmu" ujar Milan disusul tawa nya.
"ish Abang kok gitu" ujar gadis itu memberengut kesal.
"jangan di dengarkan bang Milan, jika Aaron diam saja berarti ada sesuatu yang dipikirkannya kebanyakan yang seperti itu memiliki sebuah masalah, jadi jangan diganggu ya" ujar lembut Hary sambil mengelus pelan rambut adiknya itu.
"hm kalau begitu Lala mau membantu Aaron, besok Lala mau tanya Aaron ada masalah apa deh" ujar gadis itu dengan semangat lain dengan Hary yang sudah tersenyum miris tahu nasib Aaron besok akan bertambah buruk sedangkan Milan semakin tertawa keras.
dan betul saja keesokan harinya nasib Aaron bertambah buruk tapi entah kenapa ia sangat tahan padahal bisa saja ia meminta guru memisahkan dia dari Lala atau memarahi gadis itu agar diam tapi itu semua tak dilakukannya karena walaupun terganggu setidaknya kehidupan buruk sebelumnya sedikit terasa lebih baik semenjak bertemu gadis itu.
bukannya tidak mau menyahuti gadis itu tapi benar apa yang dibilang Hary bahwa laki-laki itu memikirkan tentang masalah nya dirumah yang sangat rumit itu, membuat Aaron selalu memikirkannya.
"la, terimakasih" ujar Aaron dalam hati sambil berpura-pura tidur di samping gadis yang sedang mengoceh tanpa kenal lelah di sebelahnya.
"iya sama-sama" jawab gadis itu dengan senyuman tulus tentu saja hal itu membuat Aaron langsung terbangun dan menatap gadis disebelahnya dengan terkejut.
"kamu dengar" tanya Aaron tergagap.
gadis itu mengangguk polos membuat Aaron tambah terkejut lagi.
"kok bisa?" tanya anak laki-laki itu penasaran.
"karena Lala mendengar nya" ujar gadis itu tersenyum ceria dan polos.
"mana bisa, aku mengucapkannya dalam hati" ujar Aaron dengan nada tak percaya.
"tapi Lala memang mendengar nya kok" ujar gadis itu meyakinkan.
"apa yang kamu dengar?" tanya nya.
"tidak tahu hehe, sebenarnya Lala pun tidak tahu kenapa Lala mengucapkan itu" Jawa. gadis itu dengan kurang jelas karena kata-kata nya yang berbelit.
Aaron pun hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya, sebenarnya gadis ini dengar atau tidak yang di ucapkan ya dalam hati tadi ya?.