Reborn

2027 Words
Lengkingan panjang dari mesin EKG terdengar nyaring di sebuah unit gawat darurat. Saat itu juga, tulang-tulang Indira serasa dilolosi satu-satu. Dia telah gagal menyelamatkan putri semata wayang dari sahabatnya, Laura. Semua terjadi begitu cepat, ditambah keadaan Jia yang memang berbeda membuat kemungkinannya untuk selamat semakin kecil. "Kita sudah melakukan yang terbaik." Seorang dokter menepuk pundak Indira yang tengah jatuh bersimpuh di dekat tubuh Jia. Air matanya benar-benar berkhianat kali ini. Sebagai seorang dokter, menyaksikan kematian seseorang bukan hal baru baginya, tapi kali ini rasanya sangat berbeda. Indira tau persis betapa Jia sangat berharga bagi Laura, dan bagaimana gadis itu mampu membuat sahabatnya bertahan dan bangkit setelah keterpurukannya bertahun-tahun lalu saat berpisah dengan suaminya. Di sudut ruangan yang sunyi itu, Galuh menyeringai penuh kemenangan. Menatap tubuh Jia yang berlumuran darah, dan tak lagi menunjukkan adanya kehidupan. "Pergi dan beristirahatlah dengan tenang. Mulai sekarang, aku yang akan menggantikan tugas-tugasmu." Tangan Galuh menyentuh puncak kepala Jia, seketika mesin EKG kembali menunjukkan adanya detak jantung, membuat suster yang sebelumnya hendak melepas peralatan medis dari tubuh Jia mengurungkan niatnya. Jia membuka mata dan segera duduk. Pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan, mengusap wajah, dan menyentuh tangannya sendiri. "Tidak mungkin. Dokter! Pasien—" Belum sempat suster itu melanjutkan kalimatnya, Jia mengacungkan tangan dan melakukan telekinesis yang membuat tubuh suster itu melayang ke arahnya. Dalam sekejap, tangan Jia sudah mencekik leher suster malang yang kini bahkan kesulitan untuk bernapas. "Kamu terlalu berisik," ucapnya saat melepaskan tangan dan membiarkan tubuh tak bernyawa itu terkulai di lantai. Samar-samar, Jia mendengar teriakan Laura di luar kamar. Tapi bukan itu yang membuatnya kini tersenyum lebar. Dari sekian banyak suara yang ia dengar, Jia bisa menemukan suara detak jantung orang yang sangat ingin ditemuinya selama ini. Satria. Irama yang sangat dia rindukan, kini beradu dengan embusan napas putus asa. "Satria." Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Jia segera berlari keluar, bahkan saking semangatnya dia sampai menubruk tubuh Indira yang tengah berbicara dengan Laura. *** "Ini Mama, Sayang. Kamu kenapa?" Laura tidak mengerti dengan penolakan Jia. Bagaimana bisa gadis manja yang selama ini selalu bergantung kepadanya, tiba-tiba bersikap seolah tidak mengenalnya. "Mama?" "Iya, Mama. Kamu...." Laura melihat ke arah Indira, menagih sebuah penjelasan, tapi Indira juga masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Jia?" Indira berusaha mendekat, tapi Jia segera mengacungkan tangan ke arahnya, memberikan isyarat agar perempuan itu tetap di tempat. "Satria." Matanya berkaca-kaca ketika kembali memandangi wajah Satria. Tangannya bergerak perlahan, hendak menyentuh wajah pria tinggi itu, tapi hanya menggantung di udara sesaat dan kesedihan di wajah itu berubah menjadi senyum penuh kebahagiaan. "Bogoshippoyeo, Oppa. Jeongmal bogoshippoyo," ucapnya kemudian seraya menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria di hadapannya. Kening Satria berkerut, masih belum bisa memahami yang sedang terjadi. Kalimat yang barusan diucapkan Jia terasa tidak asing bagi pendengarannya, tapi dia sendiri tidak yakin, karena entah kenapa ingatannya kini memutar ulang beberapa kejadian yang pernah terjadi belasan tahun lalu. Setiap kali Satria baru pulang dari menjalankan tugas yang diberikan oleh ayah angkatnya, Galuh akan berlari memeluknya dan mengucapkan kalimat yang sama seperti yang Jia katakan. Tapi bagaimanapun, Satria berayukur. Setidaknya saat ini Jia masih hidup. Dia bisa menebus rasa bersalahnya dengan menjaga gadis itu lebih hati-hati lagi. Perlahan, tangannya bergerak membalas pelukan Jia. "Jia ... sayang...." Laura kembali berusaha mendekat. "Sayang, are you oke?" Jia melepaskan diri dari pelukan Satria. Sekali lagi tangannya mengisyaratkan agar Laura tetap di tempat, dan hampir saja menggunakan kekuatannya untuk membuat perempuan itu menjauh, tapi dia segera mendunduk dan menyembunyikan tangannya yang sudah mengepal. "Sat?" Jia mendongak dan menampilkan wajah seperti anak kecil yang ketakutan karena orang asing terus berusaha mendekatinya. "Ji, Tante Laura, dia mama kamu. Apa kamu ...." Satria memiringkan kepala, memikirkan beberapa kemungkinan yang mungkin sedang terjadi pada adik kecilnya, lalu pandangannya beralih ke Indira dan Laura bergantian. "Sat, kepalaku, rasanya sakit sekali," rintih Jia sembari memegangi kepala. Detik berikutnya, tubuh Jia sudah lunglai dan hampir terjatuh kalau Satria tidak segera menangkapnya. "Jiaaa!" teriak Laura khawatir. "Tolong, bawa dia kembali ke dalam," pinta Indira. "Baik, Dok." Satria membopong Jia dan membawanya masuk seperti yang dikatakan Indira, sementara gadis itu menyeringai sambil menyembunyikan wajah di pelukan pria tercintanya. Betapa terkejut mereka saat mendapati tubuh seorang suster yang telah membiru di lantai. *** "Jia mengalami gegar otak ringan. Kasus seperti ini biasa terjadi pada korban kecelakaan." Indira mengamati hasil pemeriksaan terhadap keadaan Jia yang menimbulkan begitu banyak pertanyaan di benaknya. "Dari hasil pemeriksaan, semuanya normal, dan bahkan tidak ada cedera berarti di bagian dalam. Hanya beberapa luka fisik yang akan segera membaik." "Tapi, Dok, berapa lama kira-kira dia bisa mendapatkan ingatannya kembali?" "Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Tetapi jika dilihat dari hasil pemeriksaan ini, saya yakin tidak akan membutuhkan waktu yang lama." "Baiklah, terima kasih, Dok. Saya benar-benar sangat berterima kasih karena Dokter sudah menyelamatkan anak saya." Laura hendak beranjak dari duduknya, tapi Indira menghentikan. Perempuan dengan rambut pendek di atas bahu itu memberikan isyarat agar seorang perawat yang ada di ruangan itu memberinya waktu untuk bicara berdua saja dengan sahabatnya. "Ada apa, Dok?" Sebelum menjawab, Indira melepaskan jas dokter yang melekat di tubuhnya, juga kacamata yang membingkai wajah putih perempuan itu. "Laura, kita sama-sama seorang dokter," ucapnya hati-hati. Kali ini, dia sedang memposisikan diri sebagai seorang sahabat, jadi bicaranya juga menggunakan bahasa santai. "Kita juga sama-sama tau, kalau dalam keadaan Jia, mustahil seseorang bisa selamat dari kematian. Aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi ... aku merasa ada yang aneh dengan putrimu." "Aneh?Maksudmu?" Laura kembali duduk dan mencoba memahami perkataan sahabatnya. "Maaf sebelumnya, tapi, aku  benar-benar tidak bisa memahami semua ini. Aku merasa ada yang tidak beres dengan Jia." "Apa maksudmu ada yang tidak beres? Apa menurutmu seharusnya Jia mati dan aku kembali merasakan kehilangan? Indira, kamu ... aku tidak percaya hal seperti itu keluar dari mulutmu." "Bukan begitu, Laura. Tapi, bagaimana seseorang yang sudah mati bisa hidup kembali begitu saja, dan ... suster itu juga, jangan lupakan keadaan suster yang ada di ruangan itu saat kita membawa Jia kembali." "Kita sudah sepakat bahwa dia mendapat serangan jantung saat melihat apa yang terjadi pada Jia." "Dengar kata-katamu itu, Laura. Kita sudah sepakat. Hanya kesepakatan kita dan kamu mengakui itu. Artinya, jauh di lubuk hatimu, kamu juga menyimpan pertanyaan yang sama denganku, tentang bagaimana bisa dia meninggal dalam keadaan seperti itu." Indira masih belum menyerah. Apa pun yang terjadi, dia harus bisa menemukan kebenarnan tentang Jia. "Cukup, Indira. Aku bisa memahami kenapa kamu menolak untuk membantu proyek penelitianku tentang rekayasa genetik, tapi—" "Benar," Indira bangkit dari tempat duduknya, berjalan memutari meja dan menghapiri Laura. "Kamu pernah memintaku untuk membantu proyek itu, apa mungkin, semua ini ada hubungannya dengan penelitianmu? Mungkinkah, kamu benar-benar menanamkan DNA lain dalam tubuhnya?" Laura berdecih kesal. Mereka sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA. Indira adalah seseorang yang tidak pernah meninggalkan Laura dalam keadaan apa pun. Bahkan ketika perempuan itu berada di titik paling menyedihkan, Indira ada untuk merangkulnya. Dia adalah wujud nyata dari kata sahabat sejati yang selalu digemakan oleh dunia. Namun sekarang, tuduhan yang baru saja keluar dari mulut wanita itu sangat melukai Laura. Benar, sebagai seorang ibu dia rela melakukan apa pun untuk kesembuhan anaknya, termasuk diam-diam menjalankan proyek ilegal yang bisa saja membahayakan dirinya. Tapi bukan berarti Laura akan benar-benar menanamkan DNA binatang ke dalam tubuh anaknya, saat dia sendiri belum tau apakah hal itu akan mengubah keadaan. "Aku harap putramu selalu baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu menjadi monster yang mengerikan sepertiku." Mungkin jika itu bukan Indira, Laura tidak akan pernah merasa sesakit itu. Orang yang dia percaya akan selalu menjadi sahabat, hari ini benar-benar menghancurkan hatinya. "Laura, aku minta maaf, aku tidak bermaksud—" Terlambat, Laura sudah beranjak keluar tanpa berniat mendengarkan apa pun yang ingin dikatakan sahabatnya. "Kamu benar, aku bukan seorang dokter atau ibu yang baik," ucap Laura tanpa menoleh ke belakang, saat dia hendak membuka pintu. "Aku tidak bisa menjaga putriku dengan baik, aku juga melakukan sebuah proyek di bawah tangan, bahkan menjadi w***********g demi kucuran dana untuk penelitianku. Tapi percayalah, semuanya hanya untuk kehidupan putriku. Aku yakin, kamu juga pasti rela melanggar aturan apa pun jika itu untuk putramu." *** "Manusia ganteng, kita mau ke mana?" Farin mengekori langkah Senna yang berbelok ke sebuah perumahan elite. Beberapa kali Senna melirik jam tangannya. Sudah jam tujuh pagi, dia harus segera menyelesaikan urusannya dan pergi ke kafe atau dia akan terlambat. "Hei, aku berbicara denganmu. Kenapa kamu selalu berubah-ubah. Kadang sangat perhatian dan baik, kadang mirip balok es. Sebenarnya kamu itu setuju untuk membantuku atau tidak? Kenapa kamu terus mengabaikanku?!" "Diem!" Hanya itu jawaban yang diberikan Senna unguk ocehan panjang Farin. Gadis itu terus membuntutinya seperti kucing. Kadang suaranya terdengar di belakang, kadang muncul tiba-tiba di depannya. Benar-benar hantu yang menguji kesabaran seorang Arsenna. "Ya, tapi kan kamu harus membantuku." "Kalok gitu, lo bisa bantuin gue nggak sekarang?" "Apa pun akan kulakukan asal kamu mau membantuku." "Bagus." "Jadi, apa yang bisa kubantu? Apa aku harus menyingkirkan sesuatu dari jalanmu lagi, atau membalaskan dendam pada seseorang yang menyakitimu? Katakan." "Nggak serumit itu. Lo cuma perlu diem. Itu udah sangat membantu," jawab Senna jemawa sembari berlalu. Mereka berhenti di depan sebuah rumah megah dengan cat abu-abu memdominasi, dan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Senna melambaikan tangan pada seorang satpam yang tengah duduk sambil menikmati secankir kopi dan gorengan pisang di pos jaga. "Bang!" Pria dengan seragam hitam putih itu segera meletakkan gelas di tangannya dan setengah berlari menghampiri Senna. "Den Senna. Ada perlu apa, Den? Tumben mampir ke sini?" tanyanya sambil membuka gerbang. "Nggak papa, Bang. Mau ngambil sesuatu yang ketinggalan. Dokter Indira ada?" "Bu Dokter dari kemarin belum pulang, Den." "Nggak pulang?" Senna terlihat berpikir sejenak. Meski gila kerja, perempuan itu tidak pernah sampai tidak pulag kecuali karena seauatu yang sangat mendesak. "Gozi?" Bukan menjawab, satpam itu hanya melihat ke arah lantai dua dengan wajah prihatin. Di lantai dua, tepatnya pada bagian ruang perpustakaan keluarga, seorang pemuda seumuran Senna terlihat sedang tekun membaca buku. "Yaudah, gue masuk dulu ya, Bang." Setelah berpamitan, Senna segera menuju kamar yang pernah ditempatinya dulu. Tempat itu masih sama, hanya terlihat lebih bersih dan rapi dari saat terakhir kali Senna meninggalkannya. Seprei dengan gambar Kapten Amerika kesukaan Senna, sofa mirip telur yang diletakkan di dekat jendela, juga tatanan meja dan kursi yang sama sekali tidak berubah. Gitar putih kesayangannya juga masih menempel di dinding. "Kamu bisa main alat musik?" Farin tiba-tiba muncul di hadapannya saat pikiran Senna tengah berkelana menelusuri sisa-sisa masa lalunya di tempat itu. "Aku suka musik. Nyai kadang juga—" Gadis itu auto mingkem saat Senna menguncupkan jemari tangannya tepat di depan wajah. "Lo nggak lupa, kan?" Farin menggeleng lemah dengan bibir yang mengatup sempurna. Anehnya, wajah hantu itu mirip orang yang sedang menahan buang hajat saking dia berusaha keras untuk diam. "Good job!" puji Senna tanpa ketulusan sambil tersenyum meledek. Setelah itu Farin benar-benar diam. Mulutnya seperti direkatkan oleh lem super kuat, tapi sayang, kaki mungilnya masih usil. Dia terus saja membuntuti Senna, mengikuti ke mana pun pemuda itu bergerak. Termasuk saat Senna masuk ke ruang pakaian. Senna sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia cari, tapi dia yakin, setidaknya pasti ada petunjuk lain yang ditinggalkan nenek tentang orang tua kandungnya. "Aaa! Dasar gila! Kenapa kamu membuka pakaianmu!" Farin menjerit sambil menutupi wajah, lalu segera keluar dari ruangan itu saat melihat Senna bersiap membuka bajunya. "Buat ngusir lo, Setan!" umpat Senna kesal. "Aku bisa mendengarmu dari sini. Tolong dicatat, aku bukan setan, tapi arwah." Senna memutar bola mata malas sambil menirukan omongan Farin tanpa suara saat mendengar protes gadis itu. "Benar, aku adalah arwah. Mungkin itu alasan kenapa Nyai selalu bilang kalau aku ini berbeda," gumam Farin saat menyadari ucapannya barusan. "Manusia Ganteng, sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Aku ada sedikit urusan, jadi aku akan pergi sekarang. Oke?" Senna tidak menjawab, dia tengah sibuk mencari sesuatu dari tumpukan baju almarhum neneknya. "Aku pergi sekarang!" teriak Farin sekali lagi. Tidak kunjung mendapatkan jawaban, dia memutuskan untuk pergi menemui Nyai dan Bima dengan cara teleport. Di ruangan khusus tempat menyimpan pakaian, Senna duduk bersimpuh. Di tangannya, ada sebuah foto keluarga kecil yang terdiri dari tiga orang. Wanita di dalam foto itu jelas bukan ibunya. Anak kecil yang digendong itu juga bukan dirinya, tapi lelaki di dalam foto adalah orang yang sama, yang nenek tunjukkan sebagai ayah kandungnya. "Jadi ini, alasan kenapa Mama harus menjadi ibu sekaligus ayah buat gue?" Senna tersenyum getir saat dilihatnya satu foto lagi dengan wajah ibunya yang tengah mengandung. Wanita itu tersenyum bahagia di samping seorang lelaki. Lelaki yang sama, yang juga ada di foto keluarga itu.  LovRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD