The Return of Love

1595 Words
Mata Galuh berkilat penuh amarah ketika melihat gadis kecil bernama Jia, dengan sangat lancang berani mencium lelakinya. Yang lebih membuatnya murka, adalah karena Satria diam saja. Tidak membalas, tapi juga tidak menolak. Perdebatan di antara dua manusia itu membuat Galuh menyeringai. Dia merasa telah menang, ketika mendengar bahwa Satria hanya menganggap bocah perempuan itu sebagai seorang adik. "Dasar bocah sialan! Seharusnya aku sudah menghabisimu sejak lama," gumam Galuh kesal. Ketika Jia berlari menjauh dari Satria, saat itu ada sebuah mobil bak terbuka yang tengah melintas di atas jembatan. Dengan kekuatannya, Galuh membuat mobil tersebut berbelok dan menabrak tubuh Jia hingga gadis itu nyaris terjatuh ke bawah jembatan. "Sudah terlalu lama aku membiarkanmu bergelayut manja pada lelakiku. Sekarang, sudah saatnya kamu mati, Jia. Kamu harus disingkirkan sekarang juga." *** Farin duduk bersila dengan wajah cemberut ketika Senna sedang menikmati mi instan cup yang dia seduh untuk makan malam. Gadis itu bersedekap, dengan kedua mata yang terus mengawasi gerakan tangan Senna. "Lo kenapa?" tanya Senna sambil menyuapkan mi yang masih terlihat masih mengepulkan asap. Farin tidak menjawab, dia hanya memegangi perutnya sambil meringis tipis. Dia sudah berjanji akan menjadi hantu yang manis di hadapan Senna, agar pemuda itu mau membantunya. Dia tidak akan berbuat onar apa pun lagi. Itu janjinya pada diri sendiri dan juga Senna. "Laper?" Gadis itu mengangguk cepat ketika mendengar pertanyaan Senna. Namun, detik berikutnya Farin menggeleng lemah. Tidak, dia tidak mau membuat hidup Senna lebih sulit lagi. Jadi dia akan mencari makanannya sendiri, tanpa mengganggu rekan barunya itu. "Gue udah liat lo ngangguk. Kalo lo mau, bikin sendiri aja. Masih ada dua cup di lemari." Mendengar perkataan Senna, membuat Farin kembali meringis. Kali ini dengan tampang miris. "Aku hanya bisa makan sesuatu yang diberikan oleh manusia, atau mengambil yang tidak mereka selimuti dengan mantra." Senna nyaris tersedak mendengar ucapan gadis itu. "Mantra? Maksud, Lo?" "Yang mereka baca sebelum menyimpan makanan. Walau hanya ditutup dengan sehelai benang sekalipun, aku tidak bisa mengambilnya kalau mereka membaca mantra. Kulihat, tempat-tempat makananmu diselimuti mantra semua." Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Ada cahaya biru yang membentengi lemari tempat menyimpan mi instan. Di atas tempat minum, juga di dekat penanak nasi berukuran mini yang ada di sampingnya. "Maksud lo bismillah?" "Mungkin." Suara aneh dari perut Farin kembali terdengar, membuat Senna kembali tertawa. Ditambah wajah polos gadis itu, yang sejak tadi terus-terusan memegagi perut sambil tak melepaskan pandangan dari makanan Senna. "Lo mau ini?" Senna mendorong makanannya lebih dekat ke arah Farin. Gadis itu melongok sedikit, lalu menggeleng lemah dengan wajah yang terlihat kecewa. "Kenapa?" "Tinggal dikit, aku nggak kenyang makan segitu. Buatin yang baru aja, ya. Please...." Matanya berkedip-kedip cepat, berusaha membujuk. Sekali ini saja, dia benar-benar merasa sangat lapar, jadi tak apa, kan, merepotkan Senna? "Dasar hantu manja," cibir Senna. Namun tetap saja dia menuruti kemauan Farin dan menyeduh satu lagi mi instan cup untuk si hantu. "Nih, gue kasih buat lo. Bisa makan sendiri, kan?" "Makasih." Gadis itu tersenyum semringah, lalu segera mengambil cup yang disodorkan Senna. "Aw!" Tanpa sengaja, jemari tangannya bersentuhan dengan Senna yang masih memegang cup itu. Ada seauatu seperti sengatan listrik yang dia rasakan, dan lagi ... Farin melihat sesuatu tadi. Sesuatu yang tidak terasa asing baginya, dan suara seseorang, yang sepertinya sangat dia rindukan. "Aku pasti akan melindungimu." "Aku pasti akan melindungimu." "Aku pasti akan melindungimu." Suara itu seolah diputar berulang-ulang di dalam kepala. Entah siapa yang mengucapkannya. Saat Farin mencoba memejamkan mata dan mengingat tentang hal itu, dadanya mendadak terasa nyeri dan sesak. "Hey! Lo kenapa?" Sentuhan tangan Senna di kedua pundak Farin membuat gadis itu kembali tersentak. Dia seakan baru kembali dari perjalanan waktu yang sangat panjang, tapi ingatannya masih terasa hampa dan kopong. "Ak–aku ... apa yang terjadi padaku?" Gadis itu seperti orang linglung. Dia menoleh ke arah tangan Senna yang masih berada di pundaknya. "Apa yang akan kamu lakukan?" Senna mundur ketika menyadari dengan apa yang sedang dia lakukan. Jarak mereka terlalu dekat. "Lo yang ngapain? Kenapa mendadak kayak patung gitu. Bikin orang khawatir aja!" Otak centil Farin segera bereaksi ketika mendengar ucapan Senna. Dia sudah lupa dengan rasa nyeri, juga rasa penasaran tentang sepotong ingatan yang sempat muncul. Gadis itu mencondongkan wajah ke depan Senna, yang membuat pemuda itu otomatis mundur dan hampir terjengkang. "Tadi kamu bilang apa? Khawatir? Aku tidak salah dengar, kan?" Senna memandangi wajah Farin yang begitu dekat dengannya. Gadis itu memiliki bentuk bibir yang tipis dan terlihat manis, juga bola mata besar yang bersinar. Kalau saja dia manusia, mungkin Senna tidak akan berpikir dua kali untuk menjadikannya pacar. Tentu saja kalau itu juga tanpa sifat reseknya. "Lo apa-apaan, si!" Jari telunjuk Senna menempel di kening Farin, lalu mendorong gadis itu agar menjauh. "Makan makanan lo, atau gue habisin lagi itu mi." Setelahnya Senna bangkit dan naik ke tempat tidur. Hari ini cukup melelahkan baginya, sebagai hari pertama kerja. Besok dia harus bekerja lebih keras lagi, untuk bisa mendapat kepercayaan dari bos dan juga teman-temannya. Ah, ya, Naina masih menganggapnya sebagai penyebab Leo sakit. Gadis itu juga selalu bersikap judes padanya. Senna harus memikirkan cara untuk berbaikan dengan gadis itu. Biar bagaimana pun, mereka adalah rekan. Akan sangat tidak baik bagi urusan pekerjaan, kalau mereka tetap tidak akur. Itu juga pasti akan berbahaya baginya. Bisa-bisa Satria memecatnya kalau sampai dianggap menyebabkan ketidaknyamanan karyawan lain dalam bekerja. "Eh, lo ngapain ke sini?" Saat Senna masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Farin sudah naik ke tempat didurnya dan ikut memberingkan tubuh. "Tidur. Memangnya apa lagi?" jawab gadis itu denan tampang wajah yang seolah tak berdosa. "Siapa bilang lo boleh tidur di sini?" "Memangnya di mana lagi? Di sini hanya punya satu tempat tidur, kan?" Dengan kurang ajarnya, Farin mengambil bantal yang digunakan Senna, lalu menarik selimut dan tidur dengan membelakangi pemuda itu. Senna hanya bisa mengembuskan napas malas. Mau bagaimana pun, bicara dengan hantu model Farin tidak akan berguna. Hantu itu terlalu keras kepala dan susah diatur. Pada akhirnya, Senna hanya bisa mengambil posisi menghadap tembok, dengan bantal tangannya sendiri, dan menggunakan jaket untuk menutupi kakinya. Mendebat pun percuma, hanya akan membuat malam terasa semakin panjang gara-gara gadis itu. *** Kacau. Kata itu saja mungkin tak bisa menggambarkan keadaan hati Satria saat ini. Dia setengah berlari mengikuti pergerakan brangkar rumah sakit yang didorong oleh beberapa orang berseragam putih. Kemeja yang dikenakan Satria penuh dengan bercak merah. Pria itu terus berusaha memegangi tangan Jia yang kini terbaring tak berdaya, sampai tubuh penuh luka itu masuk ke UGD, dan suster melarangnya ikut masuk. "Ya, Tuhan, Jia ... maafkan aku." Pria itu terduduk lemah di depan ruang UGD. Rasa bersalah menyerbu seluruh sudut hatinya tanpa ampun. Apa yang harus dia katakan pada Dokter Laura kalau sampai hal buruk terjadi pada putri kesayangannya? "Maafkan aku, Jia. Maaf ...." Satria tidak pernah merasa dirinya begitu tak berdaya, melebihi saat ini. Saat dia merasa telah gagal menjalankan tugasnya melindungi Jia. Gadis itu ada bersamanya, tapi dengan bodohnya Satria bahkan tidak melihat bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi hingga membuat Jia dalam keadaan seperti sekarang. "Aku mohon kamu bertahan. Aku akan melakukan apa pun untukmu nanti. Asal kamu tetap hidup." Derap langkah sepasang heels merah bergerak mendekat ke arah Satria. Nada khawatir terdengar begitu kentara dari setiap ketukannya. Laura, wanita itu berjalan setengah berlari dengan wajah yang sudah banjir air mata. Dia segera menuju rumah sakit, saat Satria mengabari bahwa putri kesayangan semata wayangnya mengalami kecelakaan. "Sat, apa yang terjadi, bagaimana Jia bisa ...." Kata-kata dari bibir perempuan itu tak berhasil terangkai sempurna. Dia mengguncang-guncangkan bahu Satria yang masih bergeming dan bersimpuh di lantai. "Apa yang kamu lakukan! Kenapa putriku bisa sampai mengalami kecelakaan seperti itu? Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Pria itu masih bergeming. Sesal di hatinya semakin menumpuk setelah mendengar ucapan Laura barusan. "Jia, kumohon bertahanlah," gumam Satria lirih di antara tangisan Laura yang semakin menjadi. "Dasar tidak berguna!" Tamparan itu begitu keras meninggalkan rasa panas di wajah Satria. "Kupikir Prasetya benar, ternyata kamu tidak lebih dari bonekanya yang sudah tidak berguna!" Mendengar kata-kata Laura tak lantas membuat Satria terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ekspresinya terlihat sangat hancur, dia tidak punya apa-apa di dalam hati melainkan hanya perasaan bersalah, dan janji bahwa dia akan melakukan apa pun untuk Jia. Nanti. Pintu ruang UGD terbuka setelah mereka menunggu cukup lama. Laura masih menangis, dan Satria masih pada posisinya yang bersimpuh di depan pintu. "Bagaimana keadaan putriku, Dok?" Laura segera menghambur ke arah Dokter Indira yang baru saja keluar. Satria ikut bangkit dan mencoba mencari tahu tebtang keadaan Jia. "Jia mengalami banyak pendarahan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ...." "Tapi apa, Dok? Jia baik-baik saja, kan?" "Dokter Indira, tolong katakan kalau putri baik-baik saja. Aku oercaya sepenuhnya padamu." Indira mengembuskan napas pelan, lalu menunduk. Dia meraih kedua tangan Laura, lalu memeluk sahabatnya itu. "Dokter Laura, aku benar-benar minta maaf." "Apa maksudmu, Dir?!" "Laura, aku tidak bisa menyelamatkan—" "Satria." Gadis yang sedang mereka bicarakan, kini tengah berdiri di belakang mereka. Tanpa luka yang berarti. Hanya sedikit memar di bagian wajah, dan lecet di siku kirinya. Jia tersenyum dengan pendaran mata penuh kebahagiaan, laku segera memeluk Satria. "Sat, aku tau kamu pasti di sini." "Ji, kamu baik-baik saja, kan?" Meski merasa heran dengan keadaan Nia, Satria kali ini balas memeluk gadis itu. Dia sudah berjanji pada diri sendiri, bahwa dirinya akan melakukan apa saja untu Jia, kalau gadis itu tetap hidup. "Aku akan selalu baik-baik saja untukmu," ucapnya sambil menenggelamkan wajah di d**a Satria. "Bagaimana mungkin," gumam Indira lirih sambil menggeleng perlahan. Dia melihat sendiri, kalau Jia sudah tiada tadi. Dia dan tim dokter juga sudah berusaha keras untuk kehidupan, Jia, tapi gadis itu tetap mengembuskan napas terakhirnya. Lalu, bagaimana sekarang Jia terlihat baik-baik saja? Pasti ada yang tidak beres. Ada yang salah di sini. Indira yakin itu. "Sayang...." Laura berusaha menyentuh putrinya, yang masih memeluk Satria. Namun gadis itu malah mendorongnya sampai nyaris terjatuh kalau saja tidak ditolong oleh Indira. "Ini mama, Sayang. Kamu kenapa?" LovRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD