Bukan Cinta yang Salah

1741 Words
Satria berjalan ke depan mobil, membungkuk dan mencari-cari sosok yang tadi dilihatnya, tapi nihil. Tidak ada siapa-siapa di sana. "Kak, sepertinya Kakak terlalu lelah jadi berhalusinasi. Aku tidak melihat apa-apa dari tadi." Jia ikut turun dan memeriksa keadaan. Dia menunduk mencari sesuatu di bawah mobil, barangkali Satria benar bahwa mereka menabrak seseorang, tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada siapa pun di sana. Dan sosok yang mereka cari, berada di belakang mobil. Farin memegangi dadanya yang mendadak terasa nyeri bukan main. Tubuhnya terlihat semakin kabur dan membayang. Sudut matanya melirik ke arah Satria yang masih berusaha menemukan sesuatu. "Manusia ganteng, kamu di mana?" Ingatanya tertuju pada Senna. Farin memutuskan untuk pergi dari sana dengan cara teleport. Satu-satunya tujuan yang ada di kepalanya adalah kamar kos Senna. Si manusia ganteng yang masih dia harapkan untuk bisa membantunya menemukan masa lalu dan ingatan sempurna. "Sepertinya Kak Satria terlalu lelah. Bagaimana kalau kita istirahat dulu sebentar?" Tanpa menunggu jawaban, Jia sudah berjalan ke tepi jembatan. Sudah hampir jam sebelas malam, jalanan di sana sudah tidak terlalu ramai, dan mobil Satria juga berada di tepi jalan. Jadi Jia pikir tidak apa-apa kalau mereka beristirahat sebentar, sekadar menikmati suara gemercik air sungai di bawah sana. "Ji, ini sudah malam. Kamu harus segera pulang." Satria menyusul dengan langkah lebar-lebar. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada gadis kecil yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dan sudah menjadi tanggung jawab menjaganya, karena kepercayaan yang diberikan oleh Laura padanya. "Sebentar saja, Kak. Menikmati hal seperti ini, bagiku adalah hal yang mewah. Kakak tahu kan, bagaimana mama memperlakukanku selama ini?" Tatapan Jia yang memohon, membuat Satria akhirnya tidak tega dan menuruti keinginan gadis itu. Dia melepaskan jaket dan memakaikannya di pundak Jia. "Pakai ini, angin malam tidak baik untukmu." Jia membeku di tempat. Apa yang dilakukan Satria justru membuatnya merasa tidak sehat, terutama di bagian jantung yang seakan mau loncat. Pandangan gadis itu tertuju pada tangan Satria yang masih berada di pundaknya. Ini adalah hal paling romantis yang selalu dia inginkan untuk dijalani bersama Satria. Dia bahkan menuliskannya berulang-ulang dalam novel yang sedang dia kerjakan, momment-momment romantis yang dia harapkan untuk bisa dijalani hanya bersama Satria. Meski pria itu lebih cocok menjadi kakak, atau bahkan om-nya, karena perbedaan usia keduanya yang cukup jauh, tapi bagi Jia, Satria adalah satu-satunya sosok yang dia idamkan untuk menjadi pacar, atau kalau boleh berharap lebih jauh, dia ingin menjadi istrinya. "Saranghae ...." Kata itu meluncur begitu saja saat Jia masih sibuk memikirkan banyak hal romantis di kepalanya. "Ya?" Jia terkesiap ketika menyadari apa yang barusan dia katakan. Matanya bergerak-gerak, berusaha menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab kebingungan Satria yang kini menatapnya. Gadis itu mengembuskan napas kasar. Pada akhirnya, perasaan bernama cinta tidak pernah bisa disembunyikan. Dia meraih tangan Satria dan menatap tepat ke dalam manik mata pria pujaan hatinya. "Kak, aku ...." Sekali lagi, Jia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Detik berikutnya, dia memilih satu langkah lebih dekat. Mengambil langkah yang menghapus jarak antara teman, ataupun kakak. Dia ingin menunjukkan pada pria itu, bahwa dia menyimpan rasa yang lebih untuk Satria. Kini giliran Satria yang membeku, ketika Jia menempelkan bibirnya tepat di bibir pria itu. Tidak ada yang dia rasakan selain hanya rasa terkejut. Untuk kedua kalinya dalam sehari, dia dicium oleh seorang wanita tanpa permisi. Air mata Jia menetes ketika menyadari Satria hanya diam, tidak membalas sedikit pun apa yang dia lakukan. Pria itu seperti patung tanpa perasaan. Hatinya seakan tidak bisa diraih, atau sekadar disentuh. "Aku mencintaimu, Kak," ucap Jia setelah melepaskan diri. Dia menyatakan perasaannya dengan terus menunduk. Telinga ataupun hatinya tidak siap mendengar penolakan, tapi dia tetap ingin mendengar jawaban dari Satria. Satria melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sudah hampir tengah malam. "Sebaiknya kita segera pulang. Aku tidak mau mamamu khawatir karena kamu belum pulang jam segini." Kata-kata Satria membuat Jia mengangkat wajah dan menatap Satria tidak percaya. Dia sudah menanggalkan seluruh rasa malu dan melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan sebagai perempuan, tapi respons Satria benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa barusan? Apa benar Satria itu manusia? Kenapa dia seperti tidak memiliki hati sama sekali? "Kak? Apa Kakak marah?" Satria hanya tersenyum. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Jia dan mengacak rambutnya lembut. "Untuk apa aku marah? Kamu sudah seperti adik kandung bagiku, jadi ...." "Adik? Kak, tidak ada seorang adik yang akan mencium bibir kakak laki-lakinya. Aku-aku mencintaimu sebagai seorang gadis yang mencintai lawan jenis, bukan perasaan seorang adik pada kakaknya. Aku ...." Jia membuag napas kasar. Air matanya semakin deras keluar. Sesak rasanya ketika dia menyadari bahwa perasaan itu hanya miliknya sendiri. Bahwa perhatian Satria selama ini, ternyata tidak lebih hanya rasa karena menganggapnya seorang adik. Atau, lebih buruk dari itu, mungkin Satria hanya kasihan padanya karena dia berbeda dengan remaja lain. "Ahh, benar, Kakak tidak mungkin menyukaiku karena aku hanya bocah penyakitan yang hidupnya terganyung pada obat-obatan. Seorang yang bahkan tidak bisa terluka sedikit saja, kakak pasti tidak akan menyukai seorang yang sekarat sep-" "Jia, ayo kita pulang. Kamu harus istirahat. Tidurlah dan besok semuanya pasti akan lebih baik." Jia menggeleng lemah. Tatapannya semakin terluka. Satria pikir perasaannya semudah itu? "Apa Kakak bilang? Apa kakak pikir rasa cinta itu seperti keinginan seorang bocah untuk memiliki mainan baru, lalu akan lupa begitu saja saat bangun tidur? Aku benar-benar tidak percaya." Jia memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Mendengar kata-kata Satria hanya membuatnya semakin nelangsa. Cintanya baru saja dianggap remeh oleh orang yang sangat dia cintai, dan berada di dekat pria itu hanya akan membuat sakitnya semakin mengimpit. Jia berlari sambil menyeka air mata yang terus menderas seiring rasa sakit yang semakin menjalar ke seluruh tubuh. Sakitnya terbentur sesuatu, masih bisa dia tahan dan sembuh dengan bantuan obat-obatan. Tetapi sakit hati karena penolakan Satria membuat harapan hidupnya seakan habis. Satria menarik napas dalam-dalam, pandangan matanya tertuju pada langit malam yang tanpa dihiasi bintang-bintang. Dia paham apa yang dirasakan Jia, tetapi dia juga tidak bisa memaksa hatinya untuk menyediakan satu tempat lagi bagi orang lain. Singgasananya telah ditempati oleh gadis bernama Farin. Mana mungkin ada orang lain yang bisa masuk, selagi nama itu terus bertahta di sana. Sedangkan Galuh yang telah mengorbankan nyawanya demi kehidupan Satria, dia tidak bisa membalas perasaan gadis itu. Apalagi Jia, seorang gadis yang baru saja hadir dalam kehidupannya, dan telah dia pilihkan tempat sebagai adik untuk meletakkan nama hubungan mereka. Dia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, sampai terdengar suara gaduh dari kendaraan dan jeritan dari Jia. Saat Satria menoleh, dia mendapati tubuh Jia telah terkapar di aspal dengan darah yang terus mengalir dari bagian kepala. Sebuah mobil bak terbuka berwarna putih, baru saja menerobos jalanan dan terjatuh ke sungai bersamaan dengan sopirnya. "Jiaaaaa!" Satria segera berlari ke arah gadis itu dan merengkuh tubuhnya ke dalam pangkuan. "Ji, aku mohon bertahanlah." Satria berusaha mencari bantuan dengan berteriak minta tolong, tapi keadaan jalan itu terlalu sepi. Tidak ada lagi kendaraan lain yang melintas, percuma saja jika dia hanya berteriak. Tangannya bergerak mencari keberadaan ponsel dan segera mendial nomor darurat. Dia memanggil ambulance untuk segera datang ke sana, juga melaporkan apa yang terjadi ke kantor polisi. "Ji, buka matamu. Kamu harus tetap sadar." Satria meraih tangan Jia dan meletakkannya di wajah. "Kak, aku tahu ini adalah akhir segalanya. Aku tidak-akan-bi-sa bertahan la-gi. Ja-di ... Bisakah aku mend-dengar ka-ta cin-ta darimu. Se-ka-li-sa-ja." Jia mengucapkan kata-katanya dengan tenaga yang tersisa, berharap dongeng itu akan menjadi kenyataan. Bahwa Satria akan menyatakan cinta padanya, di akhir hidup Jia. "Tidak, Ji. Kamu harus bertahan. Kamu pasti bisa." Jia tersenyum samar. Rasa sakit di sekujur tubuhnya sama sekali tidak seberapa dibandingkan sakit hatinya karena penolakan Satria, bahkan ketika dirinya berada di ambang kematian. Jia mengembuskan napas lemah, lalu kepalanya terkulai, tepat saat Satria mendengar sirine ambulance yang terdengar semakin dekat. "Tidak! Jiaaaaaaaa!" *** Senna baru selesai mandi dan hendak mengambil pakaian. Namun ketika membuka lemari, seorang gadis tiba-tiba ambruk di dadanya yang masih basah. Farin muncul dari lemari seperti seorang yang sudah terkurung di tempat itu tanpa pasokan udara. Farin bergerak-gerak mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang sempat terurai, rambut panjangnya yang menyapu permukaan kulit Senna membuat pikiran anak muda itu meremang. "Wangi apa ini?" Farin mengendus-endus seperti seekor kucing yang mencium aroma ikan teri, selanjutnya dia menarik napas dalam-dalam menghirup aroma sabun yang menempel di tubuh Senna. Senna masih belum sanggup bergerak, dia mulai khawatir kalau handuk yang melilit di pinggang terlepas karena ulah Farin. Tiba-tiba saja gadis itu melingkarkan tangan di pinggang, dan membenamkan wajah di ceruk leher. Tuhan, hantu macam apa yang Engkau kirimkan padaku kali ini? bisik Senna dalam hati. Sementara Farin? Dia terlihat begitu nyaman memeluk tubuh Senna yang terasa mengalirkan energi positif. "Heh! Cewek m***m! Lepasin nggak?" Farin mendongak melihat wajah kesal Senna yang melotot tajam ke arahnya. Cowok itu cukup tinggi, jadi saat Farin memeluknya seperti sekarang, dan melihat wajah Senna dari bawah, dia merasa tubuh itu menjulang begitu tinggi. Siluet wajahnya yang berjarak beberapa senti di atas wajah Farin, terlihat seperti pemandangan yang indah bagi gadis itu. Bukan menjawab, Farin malah menggeleng-gelengkan kepalanya manja. Dia semakin mempererat pelukan, membuat Senna semakin khawatir pada dirinya sendiri. Dia normal, dan wujud hantu yang kini memeluknya adalah wanita. Sungguh, Senna tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan tergoda oleh hantu. Tidak mau. Dan tidak akan pernah. Otaknya masih cukup waras untuk tidak melakukan hal nyleneh dengan makhluk astral, tapi apa yang dilakukan Farin saat ini benar-benar menyebalkan. "Mundur, b**o!" "Enng-gak!" tolak Farin penuh kesongongan. "Lepasin atau gue nggak bakal pernah mau bantuin lo!" Kalimat itu adalah pilihan kata yang paling disesali Senna sedetik setelah mengucapkannya. Meski sekarang Farin sudah melepaskan pelukan, tapi Senna bersumpah, tatapan gadis itu benar-benar membuatnya muak. "Aku nggak salah denger, kan? Dengan melepaskanmu, artinya aku baru saja mendapat persetujuan darimu untuk membantuku? Bilang iya, please," pinta Farin dengan sorot mata penuh harapan. "Hmmmm." Senna enggan membahas hal itu. Dia kembali pada niat awal untuk mencari baju. "Hmmmmm apa?" Dengan amat sangat kurang ajar, Farin tiba-tiba sudah menyentuh handuknya dan menatap Senna dengan mata jahil. Tatapan itu diartikan Senna sebagai ancaman kalau Farin akan menarik kain itu jika dia tidak memberikan jawaban. Sial! "Oke, oke, jauhin tangan lo dari sana. Dan gue bakal bantuin lo. Puas!" Farin mengangguk penuh semangat. Gadis itu memamerkan senyum semringah yang tanpa Senna sadari, dia ikut tersenyum melihat keceriaan di wajah itu. Anjir! Gue kenapa? Ngapain gue malah liatin muka tuh hantu! Sena mengumpat dalam hati ketika menyadari lompatan emosinya yang benar-benar labil. Beberapa menit lalu dia begitu membenci keberadaan Farin, lalu sekarang, dia merasa tempat tinggalnya menjadi hangat karena kehadiran hantu itu. Tuhan, selametin kewarasan gue, please. Jangan sampe gue kesemsem ama makhkuk astral tidak waras dan m***m ini.  LovRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD