"Geu-rae nan neo ha-na-man sa-rang-ha-ni-gga."
Satria merasa ada yang aneh dengan wanita yang tiba-tiba datang dan memeluknya. Satu hal lagi yang membuatnya semakin merasa aneh, adalah ketika wanita itu mengucapkan kalimat panjang yang membuatnya teringat pada sosok Galuh.
Mungkinkah, wanita cantik di hadapannya itu adalah seseorang dengan kemampuan seperti Venus, dan saat ini jiwa Galuh sedang berada di dalam tubuhnya?
Satria mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang paling mungkin, tapi belum sampai otaknya mengambil kesimpulan, wanita itu membuatnya semakin terkejut. Dia berjinjit, meraih wajah Satria dengan kedua tangannya, lalu menyatukan bibir mereka.
Ada rasa panas yang seakan merambat ke seluruh tubuh, ketika Satria merasakan sentuhan wanita itu. Bukan panas karena hasrat, tapi sesuatu yang lain, yang bahkan membuatnya kehilangan energi sekadar untuk mendorong tubuh ramping wanita yang sedang menciumnya.
"Dasar hantu jalang!" umpat Bima saat melihat adegan menggelikan itu dari atas pohon.
"Ini sudah keterlaluan, kita harus menghentikannya, Nyai. Manusia itu bisa kehabisan energi kalau terus dibiarkan."
Nyai yang sedang melayang di dekat Bima, segera mendarat dan mengubah wujud menjadi sesosok perempuan setengah baya dengan pakaian yang tak kalah gelamour dari Galuh.
Bima ikut mendarat dan mengubah wujud menjadi pria tampan dan gagah, yang mengenakan jas hitam dengan kaos hitam dan tatanan rambut klimis yang membuatnya terlihat mirip Seo Kang Joon di drama Are You Human.
Mereka saling melempar senyum penuh arti sebelum bergegas ke arah Galuh dan Satria berada.
"Sayaaang, apa yang sedang kamu lakukan?"
Nyai menarik tubuh Galuh yang masih mencium Satria dengan penuh kerinduan. Sementara Satria, tubuhnya terhuyung dan dadanya serasa terbakar begitu Galuh berhasil dijauhkan darinya.
"Nak, maafkan putri saya. Dia baru saja kehilangan suaminya dan belum bisa merelakan kepergiannya, makanya dia bersikap seperti ini," ucap Nyai dengan sorot mata penuh penyesalan dan suara keibuan yang sangat khas.
"Lepaskan! Apa yang kalian lakukan!" Galuh berteriak histeris sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Bima dan Nyai. "Suami apa? Kalian siapa? Sialan!"
"Sekali lagi, maafkan putri saya, Nak."
Satria yang merasa seluruh tubuhnya mendadak lemah, hanya mengangguk sambil tersenyum. Tangan kanannya masih memegangi d**a yang terasa sesak.
Bima mengangguk sopan pada Satria sebelum memyeret Galuh dari tempat itu bersama Nyai.
"Arrraggghhh! Siapa kalian? Berani-beraninya mengacaukan seluruh rencanaku!"
Galuh berhasil melepaskan diri setelah jarak mereka cukup jauh dari Satria. Saat ini, Nyai sudah membawa gadis itu kembali ke dimensi yang seharusnya, sehingga apa pun yang mereka lakukan akan luput dari penglihatan manusia normal.
Nyai kembali pada wujud semula dengan kipas di tangan kanannya, tapi kali ini Bima tidak kembali menjadi lemper. Sepertinya dia sudah kapok dengan pukulan-pukulan dari Nyai yang terus menyalahkannya karena memilih wujud sebagai Hantu Poci.
"Apa pun yang kamu lakukan, tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu atau masa depan. Kehidupan kalian sudah berbeda, kembalilah ke tempatmu, Galuh. Ini hanya akan membuatmu semakin terluka," bujuk Bima. Pria itu mencoba mendekati galuh yang terlihat penuh amarah. Dia mengincar titik kelemahan gadis itu yang tersembunyi di balik surai hitam rambutnya. Tanda hitam di balik tengkuk, yang merupakan kelemahan terbesar seorang hantu jika disentuh dengan mantra.
"Berhenti ikut campur urusanku! Kalian tidak perlu repot-repot menyuruhku pulang, karena itu tidak akan terjadi sebelum aku mendapatkannya."
Galuh mundur selangkah. Nyai bersiap menangkapnya, tapi wanita itu menghilang dalam sekejap, membuat Nyai dan Bima merasa frustrasi karena tugas menyebalkan yang diberikan pada mereka.
"Dia semakin kuat."
"Benar, itu pasti karena dia terus menyerap energi dari manusia. kalau ini terus dibiarkan, akan sangat berbahaya bagi mereka."
***
Satria masih memegangi dadanya yang terasa sesak, dia berusaha masuk mobil dengan sisa tenaga yang ada. Makhluk apa sebenarnya yang menciumnya tadi? Kenapa efeknya bisa separah itu?
"Kak, Kakak kenapa?"
Jia yang baru keluar dari kaffe membantu Satria masuk mobil dan mendudukkannya di kursi kemudi.
"Aku baik-baik aja, Ji."
Satria menyandarkan punggung dan menarik napas dalam-dalam, berharap nyeri di dadanya sedikit berkurang.
"Tadi Tante Laura bilang hari ini tidak bisa menjemputmu, jadi masuklah. Aku akan mengantarmu."
"Iya, Kak, mama juga baru saja menelpon, tapi ... Apa Kakak yakin bisa menyetir dalam keadaan seperti ini?"
Satria tersenyum sekilas. Rasa panas dan nyari itu sudah sidikit berkurang sekarang.
"Aku tidak apa-apa, Ji. Hanya sedikit sesak napas tadi. Sekarang sudah lebih baik." Satria meyakinkan. Wajah pria dewasa itu juga sudah tidak seperti tadi yang terlihat pucat tidak bertenaga.
Melihat hal itu, dengan senang hati Jia segera masuk dan duduk di samping Satria. Ini adalah momment yang paling dia sukai. Saat dirinya hanya berdua saja dengan Satria, di dalam mobil, tanpa ada orang lain yang akan mengganggu mereka.
Asal tahu saja, Laura bukan seorang ibu yang akan mengabaikan anaknya hanya demi pekerjaan. Dhilaziya adalah gadis kecilnya yang paling berharga. Andai gadis itu tidak merengek dan memimnta mamanya untuk tidak menjemput agar bisa diantarkan oleh Satria, Laura pasti sudah menjemputnya bahkan sebelum kaffe tutup.
Sepanjang perjalanan, Satria lebih banyak diam. Pikirannya masih terganggu oleh sosok yang mengingatkannya pada Galuh. Meski dua orang tadi mengatakan kalau wanita itu adalah seorang yang tengah depresi, tapi kata-kata yang diucapkannya membuat Satria ragu. Hanya Galuh, seorang yang sangat dia kenal dan selalu mengucapkan kalimat itu meski Satria sangat membencinya.
"Ji ...."
Panggilan Satria membuat Jia tergagap. Dia tengah sibuk mengagumi kesempurnaan yang terselip dalam wajah Satria, yang membuatnya yakin bahwa Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakan sosok itu. Rahangnya yang tegas, hidung mancung, kulit putih bersih dan bentuk bibir yang ... tidak, Jia bahkan tidak berani menyebutkan fantasinya walau hanya dalam angan. Penilaiannya terhadap Satria kadang memang sedikit berlebihan sehingga membuatnya berpikir sesuatu yang seperti orang dewasa pikirkan. Tetapi gadis tujuh belas tahun itu tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Dia selalu menepisnya ketika fantasi itu berjubel di kepala.
"Ya, Kak? Ada apa?"
"Apa kamu suka lagu Korea?"
"Ngggh?"
Pertanyaan itu membuat Jia mengernyitkan kening. Kenapa tiba-tiba Satria menanyakan hal semacam itu?
"Su-suk-suka, Kak. Kenapa?"
"Kamu tahu arti dari kata-kata dalam bahasa korea?"
Mobil Satria berbelok ke arah jembatan. Tempat yang sering kali Satria pandangi dari seberang sungai sejak beberapa tahun lalu. Jembatan yang sama, tempat dulu dia berpisah dengan kekasih hatinya. Dan jembatan yang juga membuatnya memutuskan untuk membuka kaffe tidak jauh dari sana, karena harapan bahwa Farin akan muncul suatu saat nanti. Dia percaya kalau gadis tercintanya masih hidup, dan mereka akan bertemu lagi seperti janji yang pernah mereka katakan. Dulu.
"Tergantung, kalau lagu yang aku suka biasanya aku cari terjemahannya di gugel." Jia tersenyum konyol di akhir kalimat.
Mobil mereka melaju pelan ketika berada tepat di atas jembatan. Dalam kepala Satria, semua kejadian itu terasa masih sangat segar, seolah baru kemarin terjadi. Meski sepuluh tahun sudah berlalu. Dia masih bisa mendengar suara deru motor dan tembakan yang berkali-kali dilepaskan, seakan semuanya sedang terjadi saat ini. Pikirannya kacau, tapi dia tidak ingin menghindari jalan itu. Dia yakin, tempat ini akan menjadi tempat dia menemukan kembali kekasihnya.
Sekelebat bayangan gadis dengan dress putih tanpa lengan lewat di depan mobil mereka, membuat Satria menginjak rem mendadak.
"Ada apa, Kak?"
"Ada orang di depan mobil kita tadi." Satria melepaskan sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil.
"Ya, Tuhan, apa aku baru saja menabrak seseorang?"
LovRegards,
MandisParawansa