Masa Lalu

2420 Words
Langkah gadis itu terlihat sangat tergesa-gesa. Dia bertelanjang kaki dan terus berlari menembus dingin malam. "Gadis tidak tau diri! Aku membayarmu bukan untuk main kucing-kucingan seperti ini." Lelaki tua dengan perut buncit dan kepala botak tergopoh mengejar gadis itu. Segala u*****n keluar dari mulutnya yang menyeruakkan bau alkohol. Di tangan lelaki itu masih menggenggam botol minuman yang sesekali ditenggaknya sambil berjalan. Tempat itu berada di antara perkampungan yang cukup jauh dari jalan raya. Sebuah rumah dua tingkat berkedok salon kecantikan dan tempat laundry. Siang tadi, saat dirinya masih di sekolah, Ayah Farin memintanya untuk mengambil cucian  yang sedang di-laundry. Betapa terkejut dirinya, saat pemilik salon menyuruh naik ke lantai dua untuk mengambil pakaian, dan ada lelaki tua bangka yang siap menerkamnya. "Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah membayar mahal untuk menikmati tubuhmu. Ayahmu sudah menyerahkanmu padaku, bocah kecil." Lelaki itu berusaha menjamah Farin, menelusuri setiap lekuk wajahnya dengan tangan kotor yang menjijikkan. Farin berusaha menghindar dengan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Teriakannya sama sekali tidak digubris oleh orang-orang di lantai bawah, seakan mereka itu tuli. Lalu di sinilah Farin sekarang, di tengah jalan, berlari tanpa tahu tujuan, dengan keadaan hati yang telah robek. Ayahnya sendiri berusaha menjualnya pada laki-laki biadab. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Rasa sakit dan nyeri di ulu hati, mulai menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya limbung dan tersungkur ke aspal. "Luar biasa! Kamu benar-benar gadis yang sangat menantang. Tidak kusangka, ternyata kamu justru ingin kita melakukannya di tengah jalan seperti ini." Laki-laki itu terus mendekat. Tangannya terulur hendak meraih wajah Farin, tapi gadis dengan seragam SMA yang telah koyak itu berangsur mundur. Kakinya terasa perih karena kasarnya jalanan, tapi semua itu tidak lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa ayahnya sendiri telah menjualnya. "Berhenti! Jangan mendekatiku, atau aku akan membunuhmu!" "Ayolah, berhenti sok suci. Aku hanya akan mengajakmu bersenang-senang." Sungguh sial nasib gadis itu, karena di saat hampir tengah malam begini, jalanan sangat sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Setiap hari Farin memang kerja paruh waktu. Sepulang sekolah, dia akan langsung pergi ke salah satu swalayan untuk menjadi kasir. Karena itulah, setiap hari dia juga akan pulang malam. Dia sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang yang seakan menganggapnya wanita malam.  Dia juga sudah sering digoda oleh preman-preman. Tetapi di dalam tasnya selalu ada alat setrum yang dia dapat dari teman lelakinya di sekolah. Namun yang terjadi hari ini benar-benar di luar dugaan. Kenyataan tentang bagaimana ayahnya menganggap dia seperti barang, benar-benar sangat mengejutkan. "Pergi!" Farin melemparkan batu yang ada di dekatnya, berusaha mengusir lelaki itu agar menjauh. Tetapi dia terus mendekat, dan tangannya berusaha meraih wajah gadis itu. Tatapannya benar-benar menjijikkan, sampai membuat Farin tidak berani melihatnya lagi. Dia memejamkan mata ketakutan, ketika ujung jari lelaki itu berhasi lenyentuh kulit wajahnya. Tangannya masih berusaha mencari sesuatu untuk bisa dilemparkan. Sampai dia mendengar suara seperti sesuatu yang besar jatuh tidak jauh darinya. Seseorang telah melemparkan lelaki mabuk itu hingga tersungkur tak berdaya di aspal. Pemuda yang terlihat sangat gagah, dengan pakaian serba hitam berdiri membelakanginya. Melihat bocah sok pahlawan yang berusaha menyingkirkannya, laki-laki itu menyeringai iblis dan hendak bangit. Namun usahanya sia-sia. Dengan gerakan sangat cepat, pemuda yang barusan mengacaukan rencana percintaannya dengan gadis belia, telah membuat sebutir peluru bersarang di kepalanya yang dipenuhi hal-hal kotor. "Tidaaaaaaak!" Farin terbangun dengan napas terengah. Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat, dan ketakutan itu tergambar jelas di sana. "Nghhhhh!" Senna menggeliat kecil, dia yang masih tidur merasa terusik karena teriakkan Farin. Saat itu Farin baru menyadari kalau dirinya tengah terbaring di sebuah ruangan sempit yang sebelumnya belum pernah dia datangi. "Manusia ganteng?" Kening Farin mengernyit melihat Senna yang tidur dengan posisi tangan berada di atas pinggang rampingnya. Senna mengerjapkan mata beberapa kali. Dia masih berusaha meyakinkan diri, kalau saat ini tidak sedang bermimpi. Wajah gadis di hadapannya terlihat sangat cantik sampai Senna berpikir kalau dia tengah bermimpi bertemu bidadari. Ada cahaya terang yang menyelimuti wajah itu ketika dua bola bening Farin mengerjap. "Bidadari yang sangat polos," gumam Senna sambil tersenyum tipis. Selanjutnya, dia hanya kembali menarik tubuh Farin agar lebih mendekat. Memeluknya lebih erat lagi. Farin menyatukan tangannya di depan d**a, dia merasa kalau saat ini dirinya adalah manusia normal dengan tubuh normal dan seluruh oran yang masih sempurna melekat. Dia bisa merasakan detak jantungnya yang semakin cepat, iramanya berpacu dengan embusan napas cowok yang tengah memeluknya. Farin mendongak, membuat bibir Senna tanpa sengaja mendarat di keningnya. Lembut. "Manusia ganteng, apa kamu selalu berbuat m***m seperti ini sama manusia?" "Hmmmm," jawab Senna malas. Sisa kesadarannya menolak untuk kembali. Dia terlalu lelah karena semalam harus menggendong Farin sepanjang jalan. Dan yang lebih menyebalkan, dia juga harus pura-pura memegangi pinggang kesakitan agar orang-orang yang melihatnya tidak curiga karena Senna berjalan sambil membungkuk dengan beban tubuh Farin di punggung. Hanya dia yang bisa melihat Farin. Dan sialnya, hantu itu malah pingsan. Sekarang Senna mulai ragu tentang jati diri Farin sebenarnya. Bahkan semalam dia sempat mengira kalau orang-orang di sekitar tengah mengerjainya dengan pura-pura tidak melihat gadis itu. Kalau saja dia tidak melewati sebuah kaca besar di depan butik dan mendapati kenyataan bahwa gadis yang digendongnya tidak memiliki bayanyan, maka sampai saat ini dia pasti masih akan meyakini kalau Farin itu bukan hatu, tapi sejenis Alien yang tersesat ke bumi. Mengingat gadis itu juga punya kekuatan yang tidak biasa. "Lo!" Senna melonjak kaget saat kesadarannya telah benar-benar kembali. Dia reflek menjauhkan diri dan membuatnya hampir terjatuh. "Ngapain lo di sini? Lo mau perkosa gue, ya?" Pertanyaan tidak masuk akal itu keluar secara spontan dari mulut Senna. Farin terkekeh geli melihat ekspresi cowok bermata elang itu. "Pertanyaanmu terdengar sangat lucu. Di sini kamu yang memelukku, tapi malah menuduhku yang tidak-tidak." Farin masih menyunggingkan senyum gelinya. "Sekarang katakan, kenapa aku bisa ada di sini?" Senna baru tersadar dan mengingat semua kejadian semalam. Dia sedang marah karena Farin yang berusaha mencuri energi dari manusia, lalu tiba-tiba gadis itu malah pingsan di tengah jalan. "Harusnya gue yang introgasi elo. Lo itu makhluk apa? Mana ada hantu pingsan kayak elo. Baru kali ini gue ketemu makhluk nggak jelas statusnya gini." Senna bangkit. Dia menyingkirkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. "Kamu ngomong apa, si. Lo-gue, lo-gue ...." Farin bicara dengan bibir yang dimonyong-monyongkan bermaksud meledek Senna. Wajah gadis itu sudah terlihat lebih segar, dan bahkan saat ini dia juga merasa seolah baru bangun dari tidur panjang, dengan kekuatan super yang terus bertambah. Berbanding terbalik dengan Senna yang merasa sangat kelelahan. "Diem lo, Fin. Senna pasti kelaperan udah jam segini. Gue juga bentar lagi ada kelas, jadi gue harus cepet-cepet nganterin ini buat dia." Niina dan Fino sedang menaiki anak tangga menuju kamar kos Senna. Dan Farin bisa mendengar perbincangan mereka dengan sangat jelas, meski saat ini posisinya mereka berdua masih di lantai satu. "Fin itu siapa?" tanya Farin polos sambil menelengkan kepala, dia berusaha mempertajam pendengaran ketika mendengar nama Senna disebut. "Lo nggak usah sok mengalihkan pembicaraan, sekarang jawab pertanyaan gue, kenapa lo ambil energi dari cowok itu?" Senna masih meninggikan suara, dia benar-benar tidak habis pikir. Walau Farin adalah hantu, tapi sebelumnya dia juga pasti pernah hidup. Tidak seharusnya dia berusaha menguras energi dari Leo, cowok calon teman kerja Senna. "Mengambil energi dari manusia? Apa maksudnya? Aku ...." Suara ketukan pintu menghentikan ucapan Farin. Mereka kompak melihat ke arah pintu, dan Senna baru menyadari tentang siapa Fin yang tadi ditanyakan oleh Farin. Pasti itu Fino. Dan sialnya, Fino hampir selalu datang bersama Niina. Si cewek rempong yang bucin maksimal pada dirinya.  "Sial!" Senna mengacak rambutnya dengan kasar. Berpikir keras, tentang bagaimana reaksi dua temannya itu kalau mendapati dirinya tengah berduaan dengan seorang gadis. "Lo! Ya ampun, gimana ini?" Senna mondar-mandir tidak jelas, tapi Farin hanya melihat kelakuan remaja tanggung itu dengan tatapan polos. Ketukan di pintu terdengar semakin tidak sabaran. Sekarang, pandangan Senna tertuju pada selimut tebal yang ada di tempat tidur. Dia segera menarik tangan Fatin kasar, memaksa gadis itu untuk berbaring, dan menutupi seluruh tubuh Farin dengan selimutnya. Sebelum membuka pintu, dia mengacak-acak rambut dan menampilkan wajah khas orang bangun tidur sambil pura-pura menguap. "Ada apaan, sih. Pagi-pagi udah berisik aja." Senna kembali pura-pura menguap sambil mengucek mata. Berharap kedua temannya tidak akan curiga. "Lama amat bukain pintu doang. Gue curiga, jangan-jangan ...." Fino berbicara dengan nada meledek, lalu melongok ke dalam, berusaha mencari sesuatu. Barang kali ada yang mencurigakan di kamar kos Senna. Senna ikut memutar sendi lehernya dengan malas, dan betapa terkejut dirinya saat mendapati Farin yang menyembulkan kepalanya dari balik selimut, sambil memamerkan tampang wajah tak berdosa. Bola mata Fino membulat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. 'Sial!' umpat Senna dalam hati. "Fin ini nggak seperti yang lo ...." "Sumpah, Senn, gue nggak nyangka ternyata ...." "Ada apaan si?" Niina ikut melongok, gadis itu juga tak kalah terkejut dari temannya. "Wah, Senn, ternyata lo udah mulai dewasa, ya." "Gila, seksi pisan euy," timpal Fino yang membuat Senna mengernyitkan kening. Seksi, dilihat dari sudut mana pun, Farin itu tidak ada seksi-seksinya menurut Senna. Gadis dengan bentuk wajah bulat, bibir tipis, dan tubuh pendek. Apanya yang seksi? "Seksi?" Fino dan Niina kompak mengangguk membuat Senna makin bertanya-tanya. Cowok itu kembali menoleh, betapa terkejut dirinya saat menemukan ada majalah dewasa yang tergeletak di kasur. Senna ingat, semalam Farin menggumam tidak jelas di dalam bus, dan membuat Senna asal mengambil majalah yang ada di salah satu jok penumpang untuk menutupi wajah. Dia malu kalau sampai ada yang tahu bahwa dia kenal dengan gadis tidak waras itu. Walau dia tahu kalau Farin itu hantu, tapi entah mengapa  hantu itu membuat Senna kadang merasa kalau sebenarnya orang lain juga melihat gadis itu. Dia tidak benar-benar terlihat seperti hantu. Senna mengembuskan napas lega, saat menyadari kalau dua temannya sama sekali tidak melihat Farin. Setidaknya tuduhan itu hanya sebatas bahwa Senna suka melihat majalah dewasa. Akan sangat memalukan kalau mereka sampai berpikir, ternyata dirinya suka main-main dengan perempuan. Reputasinya akan hancur. Lebur. Walau dia juga bukan cowok suci sepenuhnya, tapi dalam hati dan pikirannya belum ada rencana untuk bermain perempuan. *** Hari ini adalah hari pertama Senna bekrrja di restoran milik Satria. Untuk memberikan kesan pertama yang baik di hadapan teman-teman dan atasannya, Senna sengaja berangkat pagi-pagi setelah menyantap makanan yang dibawakan Niina dan Fino. Sepanjang perjalanan dan mengerjakan apa pun, Farin selalu berada di dekatnya. Termasuk saat ini, ketika Senna sedang membersihkan lantai dan mengelap meja sebelum ada pengunjung. Di sana baru ada Aina yang sibuk menyiapkan segala sesuatu di dapur. Leo sepertinya masih belum berangkat, sementara Satria sebagai bos, sudah berada di ruang kerjanya sejak Senna datang. Sepertinya pria itu seorang penggila kerja. Semalam saat seluruh karyawannya pulang, dia masih berada restoran, dan sekarang sudah mulai bekerja lagi saat karyawannya bahkan belum datang semua. Farin duduk di atas meja yang sedang dibersihkan Senna. Dia mengayun-ayunkan kaki, dengan wajah yang cemberut. "Kapan kamu mau bilang iya?" Senna hanya menjawab dengan pelototan mata, lalu melihat ke sekitar, memastikan tidak ada orang lain di sana. "Lo bisa diem, nggak? Sampe kapan pun, gue nggak bakalan mau bantuin lo. Ngerti!" "Oh, jadi gitu? Oke kalau itu mau lo. Gue juga nggak bakal pernah minta bantuan dari cowok mengerikan kayak lo!" Itu bukan suara Farin, tapi Aina. Entah apa yang tadinya hendak dilakukan gadis itu, tapi dia membawa soda api di tangan. "Ai?" Senna baru menyadari keberadaan gadis itu, yang kini tengah berdiri di dekat pantry. "Ai, lo salah paham. Gue nggak lagi ngomong sama lo. Sumpah!" Senna mengacungkan dua jari membentuk huruf 'V' untuk meyakinkan lawan bicaranya. "Terserah! Lo pikir gue peduli?!" Aina hanya membalik tubuh dan kembali ke dapur. Padahal tadinya dia ingin minta tolong Senna untuk membantu membetulkan saluran air di bak pencucian piring, yang sepertinya tersumbat lemaak. "Ini gara-gara elo! Bisa nggak sih, lo nggak usah gangguin gue? Sampai kapan pun, jawaban gue tetep sama. Enggak! Titik." Farin hendak bicara lagi, tapi tiba-tiba dadanya kembali terasa nyeri. Segerombol angin dengan kurang ajarnya menerpa wajah pucat gadis itu, ketika Satria keluar dari ruang kerjanya. Mata Farin menatap nanar pada sosok tinggi dan gagah dengan pakaian serba hitam yang sekarang tersenyum ke arahnya. "Kamu ...." Farin hampir saja berpikir kalau Satria benar-benar bisa melihatnya seperti Senna, tapi pria itu melambaikan tangan ke arah pintu masuk. Saat menoleh ke belakang, Farin melihat Jia yang baru datang bersama ibunya yang menyebalkan. "Sat, seperti biasa. Tante titip Jia, ya. Tolong jaga dia. Tante percayakan anak nakal ini padamu," ucap Laura saat Satria telah berdiri di hadapannya. "Tenang saja, Tante. Dia aman di sini." Laura tersenyum menanggapi ucapan Satria. Dia memang selalu bertanggungjawab, persis seperti yang dikatakan Prasetya. "Becarefull, Sayang. Mama pergi dulu, ya." Wanita itu mengecup puncak kepala putrinya sebelum meninggalkan tempat itu. "See you, Moms." Farin melihat drama keluarga itu dengan tatapan tidak suka. Ketidaksukaan yang tumbuh begitu saja, tanpa dia sendiri tahu alasannya. Terlebih saat melihat, betapa manjanya Jia pada Satria. Rasanya ingin sekali dia menyeret gadis itu agar jauh-jauh dari sosok yang membuat dirinya merasa nyeri setiap kali melihat pria itu. Untung saja, kejadian kemarin membuat Farin mengurungkan niat. Kalau sampai Jia kenapa-kenapa, nenek sihir yang dipanggil mama oleh gadis itu pasti akan mengumpat lagi. Entah pada Senna, atau mungkin kali ini Satria. Dan Farin tidak mau hal itu terjadi. Yang ada Senna akan semakin menolak untuk membantunya. Satria dan Jia berjalan tepat di hadapan Farin. Saat itu, nyeri di dadanya semakin terasa, membuat dia memilih untuk teleportasi dan berpindah ke rooftop. Napasnya terengah-engah. Lututnya terasa sangat lemah. Dan perlahan, Farin merasa kalau fisiknya terlihat semakin kabur. "Ada apa ini?" Farin terjatuh dan merasa kalau energinya seakan benar-benar habis. Tangannya terasa semakin samar, dan wajahnya berkedut seakan hendak menghilang. "Bukannya empat puluh hariku masih lama, kenapa aku seperti ini lagi?" *** Satria hendak membuka pintu mobil ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. "Sat, aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu, Satria." Perempuan dengan cat merah menghiasi kuku-kuku panjangnya yang terkikir rapi itu terus memeluk Satria meski peria itu berusaha melepasnya. "Maaf, Anda siapa?" tanya Satria begitu berhasil melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya dan berbalik badan. "Apa saya mengenal Anda?" Bukannya menjawab, wanita itu malah menyentuh wajah Satria sebelum kembali memeluknya. Kali ini dia menangis sambil memukuli d**a bidang Satria. "Kenapa? Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini padaku? Aku sudah melakukan segalanya agar bisa kembali, tapi kamu malah tidak mengenaliku? Apa cinta dan pengorbananku sama sekali tidak berarti bagimu?" Kalimat panjang yang diucapkan wanita itu semakin membuat Satria bertanya-tanya. Cinta? Pengorbanan? Siapa sebenarnya wanita yang tiba-tiba datang dan memeluknya itu? Kenapa dia mengatakan hal-hal yang tidak bisa dipahami. "Maaf, sepertinya Anda salah orang." Satria kembali berusaha melepaskan tangan wanita itu, tapi kalimat selanjutnya yang dia katakan membuat Satria mematung. "Anniyo, Oppa. Geurae nan no hana man sarang hani-ga." Kalimat itu sangat tidak asing di telinga Satria. Kalimat menyebalkan yang sampai saat ini masih belum dia ketahui artinya. Tapi, siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia mengatakan sesuatu yang sama persis seperti Galuh? LovRegards, MandisParawansa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD