Gelap dan mistis, angin yang berembus membuat Bima dan Nyai meyakini kalau seseorang yang mereka cari, pasti berada di sekitar tempat itu. Selalu ada pesan tersembunyi yang diterbangkan angin, melalui gemrisik dedaunan ketika radar mereka menangkap keberadaan target dalam radius tertentu.
"Dia di sini," ucap Bima memejamkan mata.
Dalam kepalanya, dia melihat tetesan air yang jatuh satu-satu, menciptakan bunyi yang sangat nyaring di kesunyian. Sekelompok agin membentuk kepulan asap hitam mirip ikan hiu yang memiliki sayap. Asap itu bergerak di bawah permukaan tanah, menuju saluran air dan muncul di dapur sebuah kafe.
Tidak ada seorang pun di sana, asap itu sempat menuju ke arah jendela dan hendak keluar lewat lubang angin. Namun saat seseorang masuk membawa nampan berisi piring kotor, asap hitam itu turun dan berputar di sekitar kran air. Tiba-tiba saja kran itu menyala dengan sendirinya, membuat Leo membatalkan niat untuk segera keluar dari sana.
Sebenarnya sudah beberapa hari ini dia sering merasa ada yang aneh, dan janggal di kafe. Terutama di dapur mereka. Setiap memasuki ruangan yang dipenuhi bahan makanan dan peralatan makan , Leo selalu merasa ada yang mengawasinya dari suatu tempat yang entah di mana.
"Na?"
Leo mencoba meyakinkan diri sendiri, bahwa kran yang menyala itu hanyalah keteledoran Aina yang sering kali lupa mematikannya. Tangannya terulur dan mematikan aliran air, meski sebensanya dia merinding karena kejadian ini. Leo tidak yakin kalau keteledoran Aina sampai separah itu. Terlebih lagi saat kompor menyala dengan sendirinya. Dia bukan penakut yang akan lari hanya karena hal seperti itu, meski tidak yakin, dia masih sempat memanggil Aina dan mencurigai, kalau teman kerjanya itu sedang mengerjainya dengan menyalakan kompor lewat saklar jarak jauh.
Baru saja Leo hendak pergi karena semakin yakin bahwa Aina tidak di sana, sebuah tangan mencengkeram kakinya, dan menarik tubuh cowok itu dalam satu entakkan.
Leo terjatuh dengan posisi tengkurap. Dia merasakan seolah darahnya sedang dikuras habis saat tangan dingin itu berusaha menarik tubuhnya. Tangan Leo mencoba menggapai sesuatu untuk pegangan ketika merasakan seolah tubuhnya ditarik ke belakang dengan sangat kencang. Tidak, bukan tubuhnya, ternyata yang dilakukan hantu itu hanyalah mencengkeram kaki Leo, yang membuatnya merasakan lemas luar biasa dan mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Berkali-kali dia hendak berteriak minta tolong, tapi suaranya mendadak hilang entah ke mana.
Terakhir kali, yang bisa dia ingat adalah sesosok perempuan yang perlahan berubah wujud. Dari wanita mengerikan dengan sebelah mata yang mengalirkan darah kehitaman, berganti wajah cantik lengkap dengan polesan merah di bibir yang menyempurnakan penampilannya. Leo seakan melihat wanita itu berjalan menembus dinding, tepat sebelum kesadarannya benar-benar terurai.
"Tepat seperti dugaanku, dia mencuri energi dari manusia untuk bisa mengubah wujud."
Bima membuka mata. Tangannya masih bersedekap, dengan tali-tali yang mengikat di beberapa bagian tubuhnya. Sesuatu yang membuat Bima kadang harus meloncat-loncat saat berjalan. Walau sebenarnya dia lebih suka teleportasi, tapi ada kalanya dia juga meloncat seperti yang diyakini manusia, meski tidak selalu begitu.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Kalau kita mendatanginya secara terang-terangan, dia pasti akan melarikan diri lagi." Nyai melebarkan kipasnya, lalu menutupnya lagi.
Perempuan dengan sanggul dan hiasan bunga kantil yang tergantung cantik di belakang telinganya itu terlihat sedang berpikir. Dia kembali merentangkan kipas, tidak ada mantra khusus yang dia katakan, tapi dalam sekejap, permukaan kipas itu menampilkan sebuah gambar bergerak mirip video. Di sana dia melihat Senna yang tengah memapah tubuh Leo dan membawanya ke ruangan yang berada di dekat dapur. Di ruangan itu ada sebuah sofa abu-abu yang segera digunakan Senna untuk membaringkan tubuh Leo.
Senna dengan cekatan mengecek keadaan Leo yang kulitnya semakin membiru, tapi anak itu masih bernapas. Jelas sekali dia masih hidup, walau Senna tidak yakin apakah jiwa Leo masih ada di tempat, karena kulitnya benar-benar terasa dingin.
Bukan mencari bantuan, Senna hanya meraih pergelangan tangan Leo, dia terlihat sedang mencari sesuatu dari calon teman kerjanya. Mata Senna terpejam, dia mencoba merasakan sesuatu yang lain, jika dugaannya benar maka energi Leo pasti baru saja diserap oleh makhluk lain.
Tangan Senna bergarak perlahan di sekujur tubuh Leo, gerakannya berhenti ketika sampai di ujung kaki. Tempat di mana tadi makhluk mengerikan itu mencengkeram. Di sana, Senna merasakan kalau tubuhnya seperti tersengat listrik, dan dalam kepalanya, Senna melihat sosok yang membuat Leo tak sadarkan diri.
"Hantu itu. Pasti ini perbuatannya. Sialan! Kenapa gue mesti berhubungan dengan hal seperti ini lagi?"
"Le..."
Aina yang baru saja masuk, tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat keadaan Leo yang terbaring tak berdaya di sofa. Dia mundur selangkah saat mendapati tangan Senna yang tengah mencengkeram kuat-kuat sebelah kaki Leo. Aina berpikir kalau apa yang terjadi pada Leo adalah karena ulah Senna.
"Ap—apa yang sedang kamu lakukan?"
Senna segera melepaskan tangannya dari kaki Leo. Dia gelagapan sendiri, bingung harus mengatakan apa, karena sebagian energinya juga baru saja dia lepaskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Leo, jadi dia masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan diri dari pengaruh energi asing yang barusan menyerang Leo.
"Gue... Ay, gue nemuin dia dalam keadaan nggak sadarkan diri di lantai dapur tadi."
Aina menggeleng pelan, dia semakin mundur dan tidak percaya dengan ucapan Senna.
"Nggak mungkin, lo pasti bohong. Tadi dia baik-baik aja, kenapa sekarang dia seperyi mayat begitu? Apa yang sebenernya lo lakuin sama dia?"
"Udah gue bilang, gue nemuin dia udah nggak sadarkan diri pas tadi gue masuk ke dapur." Senna melirik kaki Leo yang bekas dia pegang. Tangannya sendiri mendadak terasa nyeri, seolah ada kekuatan aneh yang mempengaruhinya.
"Kita bisa bahas ini nanti, yang terpenting sekarang lebih baik lo urus temen lo ini. Kompres dia pakek air hangat, dan usahakan suhu tubuhnya naik segera, atau dia bisa nggak tertolong. Gue harus cabut, ada yang perlu gue lakuin sekarang juga."
Tidak menunggu jawaban, Senna langsung pergi dari sana. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah memberi peringatan pada hantu usil yang sejak tadi merecokinya. Dia sangat yakin, kalau apa yang terjadi pada Leo adalah kelakuan hantu iseng itu.
"Sepertinya, takdir yang sudah digariskan pada mereka akan segera terjadi."
Nyai menutup kembali kipasnya, saat melihat kilat amarah di wajah Senna. Langkah kaki cowok itu lebar-lebar, dan penuh dengan kekesalan.
"Yang harus terjadi, akan segera terjadi. Sepertinya penantian panjang Farin akan segera berakhir."
"Sayangnya, jalan menuju hari itu begitu banyak rintangan. Semoga saja, mereka berhasil menemukan ingatannya sebelum empat puluh hari."
Di sebuah ruangan yang gelap, ada jam pasir yang mengalirkan cahaya biru, dari satu sisi ke sisi yang lain.
Mengingat hal itu Nyai menyeringai penuh arti.
"Kali ini, dia tidak akan bisa lagi dikendalikan oleh waktu."
"Lalu bagaimana dengan tugas kita, Nyai?" Bima melayang dan mendarat tepat di hadapan Nyai, membuat perempuan itu melonjak kaget.
"Kamu ini! Dasar, Pocong i***t. Kenapa mengagetkanku begitu, tidak bisa ya kamu bertingkah sedikit saja lebih normal?"
Nyai kembali dibuat mengumpat dan berusaha memukul Bima, tapi kali ini Bima segera menghindar dengan menghilang dari tempat itu.
***
Farin berjalan mondar-mandir di depan pintu Kfe. Terkadang dia melayang, terkadang berjalan persis manusia yang masih hidup dan bernapas. Pandangannya berkali-kali terarah pada pintu kafe, berharap Senna segera muncul.
Benar saja, saat Farin baru saja berbalik, dia mendapati Senna keluar dari pintu itu. Farin tersenyum lebar saat melihat Senna sedang berjalan ke arahnya. Yang lebih membuatnya bahagia adalah tatapan Senna yang kali ini benar-benar tertuju pada bola matanya. Setidaknya, meski hal itu terlihat sedikit aneh , tapi kenyataan bahwa Senna sudah tidak lagi mengingkari keberadaannya membuat Farin benar-benar bahagia.
"Selamat untuk pekerjaan barumu. Kamu bisa berterima kasih padaku karena menyingkirkan orang di jalan tadi, dengan membbelikanku es krim. Atau mungkin baju baru untukku juga bukan ide yang buruk."
Farin mengucapkan kalimatnya dengan nada bicara yang terdengar sangat bahagia. Namun saat Senna sudah berada tepat di hadapannya, tiba-tiba dia merasa kesulitan bernapas. Bola mata Senna yang menatapnya, seakan dipenuhi api yang mendendam.
"Hei, manusia ganteng, ada apa? Kenapa kamu melihatku dengan cara seperti itu?" Kali ini suara Farin terdengar sedikit ragu.
Senna tidak menjawab, sekarang pandangannya tertuju ke arah pergelangan tangan Farin. Dan tanpa mengucapkan satu kata pun, tiba-tiba Senna menarik tangan Farin dan berjalan dengan langkah cepat. Keduanya masih hening. Pandangan Farin lagi-lagi bergantian dari pergelangan tangannya yang sedang digandeng Sena, dan ke arah cowok itu yang membelakanginya, dia terus berjalan dengan ekspresi wajah sulit diartikan.
Keduanya berhenti ketika mereka sudah berada di atas jembatan, tempat yang sama saat sebelumnya Senna pertama kali melihat Farin.
"Kenapa kamu mengajakku ..."
"Diem, atau gue bakalan lemparin lo ke sungai."
Mendengar kalimat Senna, bukannya takut, Farin malah cekikikan.
"Sepertinya manusia ganteng punya hobi marah-marah dan mengancam, ya?" ledeknya tanpa rasa takut sama sekali, meski jelas-jelas Sena sedang menunjukkan amarahnya.
"Lo itu ... kenapa lo tega ngelakuin hal seperti itu sama manusia? Gue udah pernah liat banyak hantu, tapi lo satu-satunya yang nggak punya perasaan!"
Okke, sebenarnya Senna sendiri ragu kalau ucapannya akan mempengaruhi kelakuan gadis itu atau tidak. Dia juga ragu, apakah hantu juga punya perasaan seperti manusia. Bahkan sekarang dia merasa aneh sendiri setelah mengatakan hal itu.
"Apa maksudmu? memangnya apa yang kulakukan? Aku hanya menendang motor mereka agar kamu bisa lewat. Tadi kamu baik-baiksaja, kenapa sekarang marah-marah?"
Farin sama sekali tidak tahu tentang apa yang terjadi pada Leo, jadi saat Senna marah-marah padanya, dia berpikir kalau itu karena apa yang telah dilakukannya pada dua sejoli tadi.
"Berhenti sok polos di depan gue. Gue tahu, lo yang udah nyerap energi dari anak itu, kan?"
"Hah? Enargi apa? Kamu ini bicara apa si? Dasar aneh. Kupikir aku bisa berharap padamu untuk membantuku, ternyata kamu sama saja dengan manusia lain. Suka berpikir semau sendiri, dan menganggap semua yang ada di pikiranmu adalah kebenaran. Aku menyesal sempat berharap padamu."
Farin hendak pergi dari tempat itu, tapi baru membalikkan tubuh, dia melihat cahaya yang sangat terang dari lampu kendaraan yang sedang melaju cepat ke arahnya. Seketika itu juga, tubuhnya seakan membeku. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, cahaya itu seolah menyihir seluruh alat geraknya menjadi batu.
Mobil itu terus melaju, tapi Farin masih membeku. Kali ini, ada air mata yang menetes seiring pendengarannya yang menangkap suara gaduh entah dari mana. Dia mendengar deru motor dan suara tembakkan, juga kilatan-kilatan tentang seorang pengendara motor yang sedang dikejar-kejar oleh sekelompok pengendara lain. Semua kenangan itu muncul secara acak, seperti kumpulan snap shoot yang diputar sangat cepat pada sebuah layar. Detik berikutnya, saat mobil itu semakin dekat, Farin masih belum bergerak, membuat Senna terpaksa menarik tubuh gadis itu agar segera menyingkir dari jalan.
"Lo mau mati , ya!" bentak Senna panik setelah berhasil menarik tubuh Farin.
Sebuah tindakan dan pertanyaan yang langsung disesalinya, karena merasa bodoh sendiri. Bukankah hantu itu manusia yang sudah mati, kenapa dia harus khawatir kalau Farin akan mati? Otaknya pasti sudah mengalami disfungsi gara-gara sederet kejadian aneh yang sejak tadi dialaminya.
Bukanhya menjawab, Farin malah ambruk di pelukan Senna. Hantu itu pingsan. Sesuatu yang terasa sangat aneh menurut Senna. Dia merasa, kalau Farin itu bukan hantu biasa. Dia lebih mirip manusia ketimbang hantu. Karena seumur hidup, sejak Senna bisa berkomunikasi dengan makhluk-makkhluk seperti Farin, baru kali ini dia melihat hantu yang bisa pingsan.
BestRegards,
MandisParawansa