Kenzie memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan milik Tyler, yang selama ini selalu mereka jadikan tempat untuk berkumpul. Pria itu berjalan masuk, dan langsung menuju ke salah satu ruangan yang selalu mereka sebut 'kabin'. Sesampainya di ruangan itu, Kenzie pun duduk di samping Leon yang tengah menatap laptopnya untuk mengurus pekerjaan. Wajah Kenzie penuh dengan kekesalan yang begitu tercetak jelas di sana, membuat siapa saja yang menatapnya akan segera terusik dan bertanya-tanya.
"Apakah ada hal yang membuatmu gusar, sehingga harus membentuk wajah seperti itu, saat baru saja, datang?" tanya Tyler, sambil menyidirkan sekaleng minuman soda pada Kenzie.
Kenzie menerima minuman tersebut. Ia membuka lalu meminum isinya untuk menyegarkan kerongkongan yang kering. Ia pun kemudian menatap ke arah Tyler.
"Ronald membuatku kesal sepanjang pagi. Dia terus saja menguntitku, dan memintaku mengatakan rahasia apa yang Russ simpan selama ini," jawab Kenzie, dengan gusar.
"Dan apa jawabanmu?" tanya Sean.
"Aku menjawab, silahkan bangunkan Russ dari kuburnya dan tanyakan sendiri!" sinis Kenzie.
HAHAHAHAHA!!!
Jessica tertawa lepas.
"Sekarang aku tahu, kenapa Cinthya memilihmu untuk menjadi bagian hidupnya. Karena kau dan Aurel adalah manusia dengan sikap yang sama persis, jadi Cinthya sangat merasa nyaman dengan hal itu," ujar Jessica.
Yang lainnya ikut tertawa mendengar penilaian Jessica. Aurel masuk tak lama kemudian ke dalam kabin itu, untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Hei Aurel, aku dengar dari Jessi kalau kau berhasil membungkam mulut tajam putri pertama keluarga Abraham, semalam. Apa itu, benar?" tanya Leon.
Aurel tersenyum miring, sambil meraih kaleng soda dari dalam kulkas. Ia berjalan menuju ke arah sofa, untuk ikut bergabung dengan para sahabatnya.
"Ya, aku memang membungkamnya dengan kenyataan mengenai kelakuannya selama ini. Berani-beraninya dia mengomentari kelakuanku, sementara kelakuannya adalah yang paling tidak masuk akal untuk diberi toleransi!" jawab Aurel.
Kini wanita dengan kecantikan yang mematikan itu menatap ke arah Kenzie, karena Kenzie menatapnya saat ia memberi jawaban tentang Miranda.
"Jangan tersinggung, itulah kenyataan yang sebenarnya mengenai putri pertama keluarga Abraham," Aurel pun meneguk kaleng soda yang baru dibukanya.
"Tenanglah, aku bahkan takkan menghalangimu untuk mencaci maki Miranda, jika hal itu memang diperlukan untuk menghentikan kegilaannya dalam berfoya-foya," sahut Kenzie.
Tyler pun kembali menatap ke arah Kenzie.
"Wah, Miranda tentunya tak bisa dihentikan oleh orang dalam rumah kalian, hah?" tanya Tyler.
Kenzie mengangkat kedua tangannya, menandakan kalau dia sudah sangat menyerah pada kelakuan Miranda.
"Hmm..., apakah karena Miranda keras kepala, atau karena Miranda menyeramkan saat berada di rumah?" tanya Sean.
"Bukan kedua-duanya. Miranda tak bisa dihentikan karena ia merasa dirinya adalah seorang, Ratu. Bayangkan..., bagaimana kami harus menghentikan seorang Ratu?" Kenzie balik melemparkan pertanyaan pada Sean.
Membuat Sean terkekeh, lalu diikuti oleh Leon dan Tyler. Aurel meletakkan kaleng soda yamg dipegangnya sejak tadu, ke atas meja. Ia kemudian menatap Jessica yang terlihat begitu santai, hari itu.
"Ada saran, Jess?" tanya Aurel.
Jessica pun tersenyum miring, sambil menatap ke arah Kenzie.
"Sebenarnya, bisa. Salah satu di antara kalian bisa menghentikan Miranda jika saja mau bersikap tegas, alias sedikit kasar padanya," menurut Jessica.
"Oh, ya? Siapakah orang yang bisa sedikit tegas alias sedikit kasar terhadap Miranda, menurutmu?" tanya Kenzie.
"Arnold!" jawab Aurel mewakili Jessica.
"Tepat sekali!" balas Jessica atas jawaban Aurel.
Kenzie terkekeh ketika mendengar nama itu disebut. Mendadak, ia merasa geli dengan jawaban yang diberikan oleh kedua sahabat wanitanya tersebut.
"Arnold? Kakak tertuaku? Kalian sudah gila, karena berpikir Arnold bisa memberi ketegasan pada Miranda. Kalian tidak tahu betapa Arnold mencintai Miranda, dan tergila-gila padanya, sehingga... ."
"Sangat memungkinkan bagi Arnold untuk mendisiplinkan Miranda!" potong Aurel atas kata-kata Kenzie.
Kenzie pun terdiam beberapa saat. Ia mengerenyitkan keningnya, seakan menunjukkan kalau dirinya tengah berpikir keras, saat itu.
"Maksudmu?" Kenzie benar-benar tidak mengerti, dengan jalan pikiran Aurel dan Jessica.
Aurel kini benar-benar menatap ke arah Kenzie, begitupula dengan Jessica.
"Ayolah, mana mungkin kau tidak mengerti?" ejek Jessica, main-main.
"Aku serius. Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian berdua maksudkan, tentang Arnold, Kakak tertuaku," balas Kenzie.
Leon, Tyler, dan Sean kini ]ut menatap ke arah Aurel serta Jessica. Seakan mereka bertiga juga sedang menunggu jawaban atau penjelasan, dari kedua wanita itu.
"Begini, kau bisa memberi sedikit dorongan pada Arnold untuk mulai mengikat Miranda dengan perasaannya. Jadikan dorongan itu terlihat seperti saran untuk berkencan. Dan saat Miranda sudah masuk ke dalam ikatan itu alias Arnold sudah memiliki hak untuk mengatur hidup Miranda, mulailah memberi dorongan pada Arnold untuk membatasi kegiatan Miranda yang diluar batas. Beri dia saran untuk mendisiplinkannya secara halus," jelas Aurel.
Jessica dan Aurel saling menatap satu sama lain.
"Itu disebut ikatan manipulatif!" tegas mereka berdua.
Prokkk, Prokkk, Prokkk, Prokkk!!!
Tyler, Sean dan Leon bertepuk tangan bersama-sama.
"Untuk Aurel dan Jessica yang selalu punya ide brilian dalam mengatasi sikap manusia," Leon mengangkat kaleng pepsinya, "cheers!"
"Cheers!!!" sahut yang lainnya bersamaan.
Kenzie tertawa saat menyadari kalau dirinya benar-benar ikut merayakan apa yang Aurel dan Jessica sarankan padanya. Entah mengapa kedua wanita itu selalu memiliki daya tarik untuk membuat orang lain setuju dengan pendapat mereka, tanpa harus memikirkannya dua kali.
"Oke, baiklah. Aku akan mencoba memberi dorongan pada Arnold untuk mengikat Miranda. Semoga saja Arnold akan menerima saranku, dan tidak banyak berpikir untuk melakukan saran yang kuberi. Dengan satu permintaan bantuan, tentunya," Kenzie mengajukan syarat.
"Apa, itu?" tanya Tyler.
"Tolong jauhkan Ben dariku dan Arnold, saat aku akan memberikan dorongan. Ben adalah perusak suasana paling jitu di dalam keluarga kami, dan aku harus menjauhinya. Kalau tidak, maka tidak akan ada harapan yang baik antara Arnold dan Miranda di masa depan," jawab Kenzie, jujur.
Aurel kembali meraih kaleng sodanya dari atas meja, kemudian meminumnya dengan sangat anggun.
"Tenanglah, biar aku yang mengurus Ben. Ben akan sibuk dengan seseorang ketika kau ada bersama Arnold, nanti malam," ujar Aurel.
Jessica pun kembali tertawa meski lebih pelan, usai mendengar apa yang Aurel katakan. Ia tahu persis, siapa orang yang akan ada bersama Ben nanti malam, saat Kenzie dan Arnold berbicara.
"Jika dia sampai tahu, bahwa dirimulah yang menjebaknya agar bisa berada di satu ruangan bersama Ben, maka kujamin kalau hidupmu tidak akan berjalan dengan tenang ke depannya. Dia akan mengusikmu terus, terus, dan terus," bisik Jessica.
Aurel pun hanya membalasnya dengan seringai santai ke arah Jessica.
"Selama kau menutup mulut, maka semua akan baik-baik saja," balas Aurel.
"Memangnya kapan aku pernah membocorkan tindak-tandukmu pada orang lain?" tanya Jessica, santai.
* * *