WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!!
ZLEEEBBB!!!
Aura tiba kembali di sarangnya, usai menyelesaikan tugasnya mengantar Kenzie sampai ke rumah Keluarga Xavier. Ia segera masuk ke dalam sarang, karena khawatir terhadap keadaan Russel yang mungkin saja terbangun saat dirinya pergi. Wanita itu terlonjak kaget, sesaat setelah membuka pintu dan langsung mendapat tatapan tajam dari Russel yang menusuk tepat pada netranya.
"Kau darimana??? Kenapa pergi tak bilang-bilang??? Bukankah sudah kubilang kalau aku tak suka, sendirian???" tanya Russel, sangat keras.
Aura terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa saat. Ia terlihat shock di mata Russel, pada saat itu. Russel tak tahu, kalau Aura tak pernah menerima perlakuan kasar dari siapapun, selama ini, dan Russel adalah orang pertama yang berani membentaknya dengan kasar.
"Aurel dan Kenzie membutuhkan bantuan. Kau sedang tidur tadi, dan aku tidak mungkin membangunkanmu. Karena kupikir kau sedang dalam masa pemulihan, dari luka-luka di sekujur tubuhmu. Kupikir juga, kau butuh istirahat yang cukup agar bisa lebih cepat pulih," jawab Aura, jujur.
Russel pun mengalihkan tatapannya dari Aura. Ia berusaha kembali mengontrol emosinya agar tak kembali meledak.
"Ada apa dengan, Kenzie?" tanya Russel, ingin tahu.
Aura beranjak ke dapur, meninggalkan Russel yang masih berdiri di dekat pintu masuk. Ia membuka kotak persediaan tanaman obat yang ada di lemari.
"Seseorang menguncinya di dalam kamar, saat dia tertidur. Semua anggota keluargamu ada di rumah keluargaku untuk makan malam bersama, kecuali Kenzie. Aurel panik, dan memintaku menjemput Kenzie sekaligus menggantikan posisinya yang terdesak. Saat kutemukan, Kenzie hampir mati lemas karena kelaparan. Sejak pagi dia belum memakan apapun, karena begitu berduka cita atas kematianmu. Aku langsung memberinya energi seperti yang kulakukan padamu kemarin malam, dan dia pulih dengan cepat," jelas Aura, sambil membuat ramuan obat yang baru.
Russel kini benar-benar merasa tak enak hati, karena sudah membentak Aura padahal belum mendapat penjelasan yang sebenarnya dari wanita itu. Ia berjalan mendekat dengan langkahnya yang terseok-seok. Aura tahu, kalau Russel mendekat. Namun, ia berpura-pura tak tahu untuk menghindarinya.
"Hei, dengar, maafkan aku. Maaf karena aku membentakmu secara tiba-tiba. Aku..., aku hanya merasa...," ujar Russel.
"Tidak masalah, Russ. Anggap saja aku binatang, jadi kau bisa membentak aku kapanpun yang kau mau. Jangan sungkan-sungkan, karena kenyataannya aku adalah seekor binatang," potongnya, seraya memberikan sebuah gelas ke tangan Russel, "habiskan obatmu, lalu tidurlah kembali," balas Aura, dingin.
Wanita itu berhasil membuat Russel terpaku di tempatnya, dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. Aura berjalan keluar dari sarang, lalu kembali melompat untuk mengubah diri menjadi Naga.
WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!!
Suara kepakan sayap Aura membuat Russel tersadar, dan menatap ke arah luar. Ia memandangi sosok yang kini terbang menjauh dari sarang yang tengah di tempatinya. Ada yang ia rasa ikut terluka di dalam hatinya, saat kembali mengingat bagaimana caranya berbicara dengan Aura, tadi.
"Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh sehingga memperlakukannya dengan kasar???" umpatnya pada diri sendiri.
Aura menangis. Wujud Naganya tak mampu menghentikan airmata yang tiba-tiba menyeruak begitu saja, usai menerima perlakuan kasar Russel. Ia akan baik-baik saja, jika yang membentaknya adalah orang yang tak ia kenal. Tapi ini adalah Russel, pria yang dulu selalu dekat dengannya, meski dia tak tahu kalau dirinya bukanlah Aurel. Entah bagaimana, untuk pertama kalinya ia merasakan hatinya terluka, hanya karena sebuah bentakan. Apakah jiwa manusianya memang serapuh itu? Lalu mengapa selama ini ia selalu baik-baik saja, bahkan saat tahu kalau orangtuanya tak pernah mengharapkan kehadirannya? Mengapa ia harus terluka karena satu bentakan dari Russel?
Aura tiba tak lama kemudian di depan jendela kamar Aurel. Jessica sudah tertidur akibat terlalu kelelahan, dan Aurel membuka jendelanya agar Aura bisa masuk. Aura menyeka wajahnya agar Aurel tak melihatnya menangis. Ia tak mau membuat Aurel khawatir, ataupun marah - jika tahu Russel penyebabnya.
"Ini, makanlah sayangku," Aurel menyodorkan steak daging yang sudah ia siapkan untuk Aura, sejak.tadi.
Aura menerimanya, dan duduk sambil memakan steak tersebut pelan-pelan. Aurel tentu memperhatikan Adik kembar kesayangannya tersebut. Aura bukanlah tipikal pendiam, jadi saat dia diam, maka Aurel tahu bahwa sedang terjadi sesuatu padanya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa cemberut seperti, itu?" tanya Aurel, sambil membelai lembut rambut Adik kembarnya dengan penuh kasih sayang.
Aura menatapnya dengan pandangan nanar. Ia tak mau mengatakannya, karena takut kalau Aurel akan marah pada Russel.
"Aku baik-baik, saja," jawab Aura.
"Hmm..., kau tidak sedang baik-baik saja. Tidak perlu berbohong, Aura. Aku bisa merasakannya. Sekarang, katakan padaku, ada apa denganmu?" pinta Aurel, lembut.
Aura pun tak mau menatap ke arah Aurel, sekarang. Ia tak mau pertahanannya runtuh, karena tatapan Aurel yang begitu manis.
"Hei, apapun itu, aku janji tidak akan marah. Katakan saja, berbagilah denganku, jangan pendam sendiri," bujuk Aurel, sambil mengusap-usap pipi kanan Aura.
"Janji? Kau takkan marah?" tanya Aura.
Aurel pun mengangguk, untuk meyakinkan Aura.
"Tadi..., Russel membentakku," ungkapnya, pada Aurel.
"Apa? Kenapa bisa begitu?"
Aurel berusaha untuk tidak memperlihatkan kemarahannya di hadapan Aura, meskipun saat ini dadanya sudah begitu mendidih dan ingin meluapkannya kepada Russel.
"Aku sengaja tak membangunkannya agar dia bisa beristirahat, dan memulihkan diri seperti yang kau mau. Tapi dia membentakku saat aku tiba kembali di sarang. Entah apa salahku padanya," Aura hampir menangis.
"Kau tidak salah," suara Jessica membuat mereka berdua berbalik menatap ke arah tempat tidur, "Russel memang tak pernah diajari untuk menghormati wanita, seperti tradisi yang ada di dalam keluarga kalian. Ayahnya menikahi Ibunya hanya karena harta bukan karena cinta. Jadi dia tak pernah mendapatkan contoh memperlakukan wanita dengan baik, dari Ayahnya," jelas Jessica.
Aura meletakkan piring steaknya dan beranjak menuju tempat tidur milik Jessica. Jessica menyambutnya dengan pelukan hangat yang menenangkan.
"Oh, Aura kesayanganku, jangan diambil hati, ya. Percayalah, aku dan Aurel sudah sangat kenyang menghadapi sikap Russel yang sangat buruk terhadap wanita. Kalau kau mau, kami akan datang pagi-pagi sekali ke sarangmu dan membuatnya lebih babak belur dari yang dilakukan oleh para anak buah Kathrine," tawar Jessica, bergurau.
Aura terkekeh dalam pelukan Jessica.
"Dan aku harus menyembuhkannya, lagi? Oh ayolah, jangan lakukan itu. Aku paling tidak suka kerja dua kali," tolak Aura.
Mereka tertawa bersama. Aurel meninggalkan mereka berdua untuk keluar menuju balkon luar kamarnya. Ia menekan nomor ponsel Aura di mana ponsel itu kini ada pada Russel.
"Halo?" jawab Russel.
"Sekali lagi kau membentak Adikku, maka akan kucabut nyawamu!!!" ancam Aurel, dingin.
* * *