Aurel dan Jessica menuruni tangga dengan begitu anggun. Pelayan yang tadi diperintahnya mengantar Kenzie, masuk tak lama kemudian. Jessica memeluk Kenzie lebih dulu, lalu disusul oleh Aurel yang memeluknya sangat lama, disertai sebuah kecupan hangat di pipi pria itu. Kenzie membalas dengan merangkulkan lengannya di pinggang ramping milik Aurel. Masih seperti tadi pagi, seluruh anggota Keluarga Abraham menatap ke arah Aurel dengan penuh ketertarikan.
"Kau hampir saja, terlambat!" tegur Aurel, sangat hangat.
HAHAHAHAHA!!!
Ben pun tertawa melihat bagaimana sikap Aurel, yang sangat berbeda jika sedang bersama dengan Kenzie. Ia pun menatap ke arah Arhoz.
"Kau yakin dia akan marah besar pada, Kenzie?" tanya Ben, setengah mengejek.
"Tolong jangan tertipu dengan betapa lemah lembutnya dia pada, Adikmu. Dia bisa membuatmu tak mampu berdiri hanya dalam waktu, sepersekian detik," balas Arhoz - lebih tepatnya memperingatkan.
Kenzie berjalan menuju salah satu kursi kosong yang memang biasa ia tempati di samping Cinthya - putri keempat keluarga Xavier. Aurel sendiri berjalan bersama dengan Jessica, dan menarik kursi kosong agar Jessica bisa duduk dengan nyaman di sampingnya.
Miranda menatap ke arah Aurel dengan penuh rasa bingung. Sikap Aurel begitu misterius di matanya. Sangat berbeda. Hanya hangat pada orang-orang tertentu, dan begitu dingin pada sisanya. Miranda memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak sempurna, agar terlihat tak kalah anggun dari Aurel.
"Katakan Aurel, kenapa kau memperlakukan Jessi seakan dia adalah bagian dari keluarga Xavier, alias seakan dia adalah saudarimu sendiri?" tanya Miranda.
Cinthya menatap ke arah Miranda dengan santai, sambil tersenyum miring.
"Wah, itu adalah pertanyaan yang sangat tak perlu untuk ditanyakan, kepada Aurel. Bukan begitu, Kenzie sayang?" tanya Cinthya, pada Kenzie.
"Ya sayang, kau benar sekali. Itu adalah pertanyaan yang sangat tak perlu, ditanyakan," jawab Kenzie, sambil mengusap rambut Cinthya dengan mesra.
Arnold dan Ben melotot ke arah Kenzie, saat melihat serta mendengar semua kemesraan di tengah-tengah acara makan malam itu.
"Sayang??? Tunggu dulu..., kalian sepasang kekasih???" tanya Ben, yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Benar sekali calon Kakak Iparku, aku adalah kekasih Adik bungsumu," jawab Cinthya, sambil tersenyum penuh ejekan.
"Apa kau sudah, gila??? Kau lihat sendiri bagaimana mesranya Kenzie dengan Aurel, tadi!!! Dan kau tidak cemburu dengan apa yang kau, lihat???" Ben terlihat seakan ingin meledak.
HAHAHAHAHA!!!
"Dasar Serigala, bodoh! Aurel memang selalu seperti itu pada semua sahabat prianya. Bukankah aku sudah mengingatkanmu mengenai lingkaran yang menjadi pilihan, Aurel? Apa kau masih tidak mengerti, juga?" ejek Adriana, tanpa belas kasih.
Mitha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh ya ampun..., bersabarlah Cinthya, kau mungkin akan mendapat cobaan besar saat menikahi Kenzie, nantinya. Karena kau akan menghadapi Kakak Ipar paling bodoh yang tak bisa diberi pengertian," ujar Mitha, sambil mencibir ke arah Ben secara terang-terangan.
Aurel mengiris steak daging di piringnya menjadi ukuran kecil-kecil agar mudah dimakan. Setelah selesai, ia menukar piringnya pada piring Annalise yang duduk di seberangnya. Annalise sampai menatap lama ke arah Aurel saat hal itu terjadi. Aurel hanya tersenyum anggun ke arah gadis itu.
"Russ tidak akan suka, kalau Adik bungsunya kesulitan ketika makan. Jadi, silahkan makan, Anna," ujar Aurel, dengan kehangatan yang sama persis, seperti yang ia berikan pada Jessi dan Kenzie.
Gadis itu tersenyum.
"Terima kasih," ucap Annalise, pelan dan sopan.
"Sama-sama, sayang. Kau boleh tambah jika masih merasa lapar," balas Aurel.
Wanita itu kembali mengiris-iris daging yang baru di atas piringnya, lalu menukarnya lagi dengan piring milik Jessica. Miranda menatap sinis pada Aurel saat itu juga.
"Cih! Kelakuan macam apa yang kau pelihara di dalam dirimu itu, hah?" ejeknya, terang-terangan.
Aurel pun menatap ke arah Miranda.
"Kelakuan apa yang kau pelihara di dalam dirimu, sehingga kau tak tahu kalau Adikmu sendiri diincar oleh orang dari luar lingkup, keluargamu?" balas Aurel dengan cepat.
Meja makan itu kini menjadi pusat luapan emosional, bagi beberapa orang yang ada di sana. Semakin lama, hati seseorang semakin memanas.
"Setiap hari yang kau lakukan hanya jalan-jalan, shopping, update di i********: dan instastory. Lalu kau dengan berani menanyakan padaku mengenai kelakuan apa yang kupelihara? Tidakkah seharusnya kau merasa malu, sebelum menanyakan hal itu padaku?" Aurel mengatakannya dengan sangat dingin.
Ia mengeluarkan sebuah berkas dari bawah meja, dan melemparnya ke hadapan Miranda. Aurel kembali duduk, lalu mulai memakan steak di piringnya dengan gestur yang sangat tenang.
"Namanya Kathrine, orang yang mengincar Russel hingga memanggangnya menjadi arang. Dia adalah mantan kekasih Ayahmu yang merasa dikhianati, karena Ayahmu lebih memilih mencampakkannya demi menikahi Ibumu yang kaya raya. Sekarang dia punya banyak kekuatan, punya banyak pendukung, jadi dia sudah memulai pembalasan dendamnya terhadap keluargamu. Teruslah bersantai dan lakukan semua kegiatanmu yang biasanya, tapi jangan lupa untuk tetap terjaga saat malam hari. Karena Kathrine tidak akan memberi aba-aba apapun jika ingin menyerang Keluargamu," tutur Aurel, sangat menggambarkan sesuatu yang mengerikan.
Semua anggota keluarga Abraham membaca berkas itu satu persatu, kecuali Kenzie yang sudah tahu lebih awal mengenai apa yang Aurel bicarakan.
"Teruslah pelihara kelakuanmu Miranda, maka kau akan melihat mereka semua binasa satu persatu. Kecuali Kenzie tentunya, dia akan ada di bawah pengawasan Keluarga Xavier mulai sekarang," tusuk Aurel, tepat pada sasarannya.
Joseph - yang tak pernah peduli dengan kehadiran seseorang - kini tak melepas pandangannya dari Aurel. Sementara wanita itu hanya melanjutkan makan malamnya dengan tenang, tanpa peduli pada siapa yang sedang menatapnya.
Joe menuruni tangga, lalu bergabung di meja makan bersama yang lainnya. Aurel berdiri untuk menyajikan steak di piring Ayahnya.
"Maaf karena aku terlambat turun dan begabung. Ada pekerjaan mendesak yang harus ku kerjakan, beberapa saat yang lalu," ujar Joe, memberi penjelasan.
"Tidak masalah, Tuan Xavier. Putra dan putri anda sudah mewakili untuk menemani kami makan malam," balas Arnold, sopan.
Joe tersenyum, lalu mulai mengiris steak yang telah dihidangkan oleh Aurel. Aurel pun kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan makan malamnya yang tertunda. Joseph masih memperhatikannya, meski secara diam-diam agar tak ketahuan oleh siapapun.
"Russel adalah anak yang baik. Selama dia bersahabat dengan Aurel, aku belum pernah mendengar bahwa dia berbuat sesuatu yang tidak pantas ataupun mencoreng nama baik Keluarga Abraham. Aku sangat terkejut mendengar berita kematiannya," Joe mengatakan hal itu dengan tulus.
Aurel meraih gelas berisi red wine dan meminumnya perlahan. Ia kembali meletakkan gelasnya, lalu menatap ke arah Ayahnya dengan santai.
"Tenang saja, Ayah. Russel pasti sedang bersenang-senang di surga, saat ini," ucap Aurel, sangat dingin.
* * *