Dua puluh menit sebelumnya.
Kenzie menggeliat pelan di atas tempat tidurnya, setelah terbangun karena merasa lapar. Suasana di luar jendela telah gelap, menandakan bahwa hari sudah malam. Ia turun dari tempat tidurnya, meraba-raba dinding untuk mencari tuas lampu di tengah kegelapan kamarnya sendiri.
Ceklek!
Kamar itu pun menjadi terang, setelah semua lampunya menyala. Kenzie membuka jas yang dipakainya dengan perlahan, lalu diikuti dengan sepatu yang masih terpasang dikakinya karena ia ketiduran, tadi. Dikumpulkannya tenaga untuk kembali berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu. Ia menaik-turunkan tuasnya, namun pintu itu tak juga mau terbuka. Beberapa menit berlalu, dan Kenzie akhirnya menyadari bahwa pintu itu terkunci dari bagian luar kamar.
BRAKKK, BRAKKK, BRAKKK!!!
"Hei!!! Buka pintunya!!!" teriak Kenzie, sekuat tenaga.
Tak ada jawaban. Rumah itu telah kosong sejak beberapa jam yang lalu tanpa sepengetahuan Kenzie, yang tertidur setelah memperingatkan Ben mengenai Aurel. Ia benar-benar kelelahan, dan sangat tak bersemangat usai memakamkan Russel, siang tadi. Seluruh tenaganya seakan terkuras, hingga membuatnya sangat tak tahan untuk terus terjaga.
Kini ia sedang menduga-duga, siapakah orang yang berani menguncikannya di dalam kamar seperti ini. Kelakuan seperti itu sudah sangat keterlaluan, dan tidak bisa diberi toleransi.
"Aku tidak akan memaafkannya! Jika sampai aku menemukannya, akan kubuat kau menyesal!" geram Kenzie, lirih.
BRAKKK, BRAKKK, BRAKKK!!!
"Hei!!! Jangan main-main!!! Buka pintunya!!! Aku akan membuatmu menyesal jika tidak membuka pintu ini!!!"
Kenzie masih saja berusaha membuka pintu yang sudah jelas terkunci dari luar. Berharap ada keajaiban yang akan datang untuk membuat pintu itu terbuka.
Drrrttt!!! Drrrttt!!! Drrrttt!!!
Ponselnya bergetar. Ia segera mengeluarkan benda kotak pipih itu, dari dalam saku celananya. Nama Aurel tertera di sana, sehingga ia buru-buru mengangkatnya.
"Halo," sapa Kenzie dengan suara lemas.
"Kau di mana?" tanya Aurel, yang mendengar suara Kenzie sangat lain dari biasanya.
"Di rumah. Seseorang mengunciku dari luar, di dalam kamar saat aku tertidur. Sekarang aku tak bisa keluar sama sekali. Aku lapar," jawab Kenzie, jujur.
"Tunggulah, aku akan tiba di sana dengan cepat," ujar Aurel.
Aurel memutus sambungan telepon pada Kenzie, lalu menghubungi Aura secepat mungkin.
"Halo! Aku pikir kau sudah lupa ingatan, sehingga tak jadi menelepon seperti janjimu pada, Russ," sindir Aura.
"Apa Russ sudah, tertidur?" tanya Aurel.
"Ya, dia tertidur lelap setelah aku menceritakan dongeng, tentang petualangan kita yang sering berganti-ganti posisi," jawab Aura.
Aurel tentu sudah menduganya.
"Seberapa cepat kau bisa sampai di rumah, Keluarga Abraham?" tanya Aurel lagi.
"Secepat apa yang kau, mau? Aku punya banyak sekali jenis kecepatan."
"Secepat yang kau bisa! Kenzie terjebak di kamarnya, ada yang menguncikan dia saat dirinya tengah tertidur! Semua keluarganya yang lain ada di sini, untuk makan malam bersama keluarga kita. Dia harus hadir di sini, atau aku takkan bisa menemukan siapa sebenarnya si pengkhianat di dalam keluarga mereka. Siapapun orangnya, maka dia tidak boleh menang sebelum Russel aman untuk kembali hidup normal," jelas Aurel, panik.
Aura menatap Russel yang benar-benar sudah tertidur. Ia tak punya pilihan lain, akan terjadi apa-apa pada Kenzie jika ia tak pergi membantunya lolos dari kamar yang terkunci.
"Aku akan ke sana sekarang, juga!" jawab Aura, mengambil keputusan.
"Ingat! Berperan lah sebagai, aku!"
Aura pun meninggalkan ponselnya di atas meja, lalu berlari keluar sarang untuk melompat dan berubah menjadi Naga.
ZLEEEBBB!!!
WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!!
Dengan kecepatan penuh Aura terbang melesat dari sarangnya, menuju ke rumah Keluarga Abraham. Hanya sepersekian detik, ia pun tiba di sana dan langsung berubah kembali menjadi manusia. Agar tak menarik perhatian warga sekitar perumahan yang tak jauh dari kediaman Keluarga Abraham.
Aura segera membobol pintu belakang rumah itu, dan segera menyelinap naik ke lantai atas menuju kamar Kenzie. Tak ada satu orang pun di sana. Sepertinya benar yang Aurel katakan bahwa seluruh anggota Keluarga Abraham yang lain telah berada di kediaman Keluarga Xavier. Sialnya, Kenzie harus tertinggal sendirian karena terjebak di dalam kamar yang terkunci.
"Kenzie???" panggil Aura.
"Aurel??? Aku di sini!!!" jawabnya.
Aura pun bergegas naik ke lantai atas. Ia menggunakan sihirnya untuk membuka pintu itu dengan cepat. Saat pintunya terbuka, Kenzie menatapnya dengan wajah yang lemas. Aura pun segera memeluknya dan menyalurkan energi tak kasat mata pada tubuh Kenzie, agar pria itu bisa bertahan. Kenzie membalas pelukannya seperti biasa, karena tahu kalau Aurel akan selalu menjadi penopangnya di saat terlemah sekalipun.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aura, khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya, perutku sangat terasa lapar dan butuh diisi. Itulah kenapa aku bisa terbangun dari tidur tak disengaja siang tadi," jawab Kenzie.
Aura pun melepaskan pelukannya, lalu menatap Kenzie dengan serius.
"Dengarkan aku baik-baik. Kau harus segera ke rumah keluargaku. Semua anggota keluargamu ada di sana sekarang, untuk makan malam bersama. Segeralah berpakaian, kita berangkat sama-sama menggunakan mobilmu," jelas Aura, seakan dirinya adalah Aurel.
"Ya, aku akan segera berpakaian," ujar Kenzie, yang merasa tubuhnya kini sudah segar kembali.
Aura keluar dari kamar itu, dan menunggu di dekat tangga. Tak butuh waktu lama, Kenzie pun sudah siap dengan tuksedo dan penampilannya yang sangat rapi. Dia terlihat jauh lebih tampan dalam balutan pakaian resmi seperti itu.
"Ayo, kita bergegas," ajak Aura.
Mereka pun segera turun ke lantai bawah dan pergi ke garasi. Kenzie mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Keluarga Xavier, seperti biasanya.
"Bisakah lebih cepat lagi?" tanya Aura, yang tentu sudah sangat gemas karena harus naik mobil yang 'baginya' sangat lamban.
"Ini sudah kecepatan yang maksimal," jawab Kenzie, polos.
Aura tentu semakin gemas, dibuatnya. Namun, tak mungkin bagi wanita itu untuk menerbangkan mobil tepat di hadapan Kenzie. Bisa-bisa, pria itu akan kaget dan terkena serangan jantung. Tak lama kemudian, mereka benar-benar tiba di halaman rumah Keluarga Xavier. Kenzie segera memarkirkan mobilnya dengan cepat, di bawah kegelapan pohon besar tempat kesukaan Aurel jika ingin menyendiri di bagian depan rumah.
"Kita akan bertemu lagi di dalam. Ingat, tak ada yang boleh tahu kalau aku melarikan diri dari rumah, untuk membebaskanmu dari kamar yang terkunci," Aura mengingatkan Kenzie untuk selalu tutup mulut, meskipun semuanya terkadang janggal bagi Kenzie.
"Tentu Aurel, aku takkan pernah buka mulut," janji Kenzie.
"Berjalanlah dengan normal melalui pintu depan. Aku akan melalui jalanku sendiri," perintah Aura.
Kenzie pun mengangguk, lalu segera menuju pintu depan rumah Keluarga Xavier. Saat Kenzie akhirnya tiba di depan pintu rumah Keluarga Xavier, Aura pun segera kembali ke sarangnya di hutan, sebelum Russel terbangun dari tidurnya. Sekarang tugasnya sudah selesai, semuanya tinggal tergantung pada Aurel.
* * *
Lanjut ke episode 7 ya...